Chapter 5
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 2.446 kata
Ada alasan kenapa aku menyukai hari Jumat.
Bukan karena akhir pekan.
Bukan juga karena pekerjaan biasanya lebih longgar.
Melainkan karena di hari seperti ini, terkadang aku bisa pulang lebih cepat dan melihat Ayu sebelum sore benar-benar habis.
Jarum jam menunjukkan pukul 13.05. Semua pekerjaanku sudah selesai—laporan triwulan diparaf, surat keluar terkirim, dan kepala seksi sedang rapat di luar kantor.
“Pulang cepet.. terus tidur siang…”
Ide itu terdengar masuk akal. Seperti pegawai negeri yang pandai mengelola waktu.
Aku memacu motor melewati jalan kompleks yang mulai sepi. Pohon ketapang membentang bayangan panjang di aspal. Angin sore terasa hangat di wajah. Tapi begitu belokan terakhir terlihat, jantungku langsung berdegup lebih kencang.
Mobil SUV hitam Pak Danang sudah terparkir rapi di depan rumah kami. Ban depannya mengkilap di bawah sinar matahari.
“Lhoo… bukanya jam empat? kok jam segini udah ada disini?”
Aku memperlambat laju motor, memarkirnya agak jauh di pinggir jalan, di bawah pohon. Tangan kananku masih memegang helm saat aku berjalan pelan menuju pintu samping yang langsung ke dapur. Aku tidak ingin Ayu tahu aku sudah pulang.
Pintu samping terbuka tanpa suara.
Aroma cendana langsung menyambutku, pekat dan hangat, bercampur tipis dengan wangi kopi yang baru diseduh. Dari arah ruang tamu yang kini menjadi ruang praktik, terdengar tawa kecil Ayu. Ringan. Pecah. Namun tetap lembut.
Bukan tawa lelah yang biasa ia berikan padaku setelah sesi panjang.
Aku berhenti di ambang dapur.
Tirai pemisah di dekat meja makan tidak tertutup rapat. Ada celah sempit di sisi kanan, cukup untuk memperlihatkan sebagian ruang terapi tanpa membuat keberadaanku terlihat dari dalam. Aku tidak langsung berniat mengintip. Setidaknya, itulah alasan yang kuberikan pada diriku sendiri.
Namun mataku sudah lebih dulu bergerak ke sana.
Pak Danang duduk di kursi tunggu kecil di sudut ruangan. Kemeja biru mudanya masih rapi, lengan bajunya tergulung sampai siku. Ia tampak terlalu santai untuk seseorang yang datang lebih awal tanpa pemberitahuan panjang.
Di depannya, Ayu membelakangi pintu dapur, sibuk merapikan seprai putih di atas ranjang terapi. Sesekali tubuhnya membungkuk untuk mengambil botol minyak dari rak kecil di bawah meja. Gerakannya biasa saja. Terlatih. Profesional.
Lintang Gelap"Maaf ya, Mbak Ayu. Saya datang lebih awal," kata Pak Danang sambil tersenyum santai. Suaranya rendah, tenang, seolah ia sudah cukup sering berada di ruangan itu. "Habis salat Jumat di masjid dekat sini, saya baru ingat sore nanti ada acara keluarga jam setengah enam. Daripada nanti batal, saya pikir mampir sekarang aja. Ngga ganggu jadwalkan?"
Ayu menoleh sebentar sambil tetap merapikan seprai putih di atas ranjang terapi.
"Ngga kok, Pak. Kebetulan memang belum ada reservasi lain. Saya siapin dulu ya."
"Makasih, Mbak. Untung masih kosong."
"Kalau jam segini biasanya memang agak sepi, Pak. Pelanggan lebih sering ambil pagi atau sore."
Pak Danang mengangguk, pandangannya bergerak pelan menyusuri ruangan, lalu berhenti sebentar pada Ayu yang masih membelakanginya.
"Rumahnya adem juga ya. Pantesan enak kalau terapi di sini."
Ayu terkekeh kecil.
"Alhamdulillah kalau Bapak nyaman."
"Nyaman sih." Pak Danang tersenyum tipis. "Mas Wawan belum pulang?"
Tanganku refleks menegang di balik tirai.
Pertanyaan itu terdengar ringan, hampir seperti basa-basi. Tapi caranya menyelipkannya setelah memuji rumah kami membuat dadaku terasa sedikit sesak.
Ayu menoleh sekilas.
"Belum Pak. Kalau Jumat ngga nentu. Kadang pulang cepat, kadang menjelang sore."
"Oh..." Pak Danang mengangguk pelan. "Saya kira udah di rumah."
"Belum kok, Pak."
"Kerja kantoran memang susah ditebak ya."
"Iya Pak. Apalagi kalau lagi banyak kerjaan."
Pak Danang tersenyum kecil. Senyum yang tidak cukup lebar untuk disebut mencurigakan, tapi cukup lama untuk membuatku terus memperhatikannya.
"Mas Wawan beruntung juga ya."
Ayu tertawa pelan.
"Loh, kok Mas Wawan yang dibilang beruntung, Pak?"
"Lha gimana. Pulang kerja ada Mbak Ayu, rumah rapi, masih sempat bantu cari rezeki juga."
Ayu menggeleng sambil tersenyum.
"Ah, biasa aja Pak. Namanya juga sama-sama usaha."
"Kalau semua orang mikirnya kayak Mbak Ayu, dunia damai."
"Haduh... Bapak bisa aja."
Pak Danang ikut tertawa, lalu berdiri dari kursinya.
"Nah, saya siap disuruh-suruh sekarang."
"Sudah Pak," kata Ayu sambil menunjuk ranjang terapi. "Ranjangnya sudah siap. Boleh ganti pakaian dulu. Handuknya saya taruh di sini ya."
"Siap, Mbak."
Pak Danang berjalan menuju sekat lipat di sudut ruangan. Beberapa saat kemudian ia keluar sambil merapikan handuk yang melilit pinggangnya.
"Begini sudah bener kan, Mbak?"
Ayu melirik sekilas lalu mengangguk.
"Sudah Pak. Baring di sini ya. Nanti saya mulai dari bagian bahu dulu seperti biasa."
Pak Danang mengangguk lalu naik ke atas ranjang terapi dengan gerakan yang terlihat sangat familiar. Seolah ia sudah berkali-kali melakukan rutinitas yang sama di ruangan itu.
Aku menahan napas dari balik tirai dapur.
Dari celah sempit itu, ruang terapi terlihat samar, terbelah oleh kain linen dan cahaya warm white yang membuat semua gerakan di dalamnya tampak seperti bayangan yang sengaja disembunyikan. Pak Danang berbaring telungkup di atas ranjang. Punggungnya yang lebar tampak jelas dalam siluet, sementara handuk putih menutup bagian pinggangnya.
Ayu berdiri di sisi ranjang, menuang minyak cendana ke telapak tangannya. Suara minyak yang kental jatuh perlahan terdengar pelan, hampir tenggelam oleh dengung AC dan napas berat Pak Danang yang mulai rileks.
Jemari kiriku mencengkeram ujung tirai dapur.
Aku sadar seharusnya aku mundur.
Seharusnya aku masuk lewat pintu depan dan memanggil Ayu seperti suami yang baru pulang kerja.
Namun mataku tetap tertahan di sana.
Ayu mulai bekerja. Kedua tangannya menyentuh punggung Pak Danang, bergerak lambat dari bawah ke atas dengan teknik yang kukenal. Gerakan yang dulu sering ia lakukan padaku saat badanku pegal setelah pulang dinas, tetapi kini terasa berbeda ketika kulihat dari tempat tersembunyi seperti ini.
Kain kemben batiknya bergeser sedikit setiap kali ia menekan lebih dalam. Bahunya tampak berkilau tipis oleh keringat. Wajahnya tetap tenang, fokus, profesional.
Justru ketenangan itulah yang membuatku sulit berpaling.
Tidak ada yang salah.
Ayu hanya bekerja.
Pak Danang hanya berbaring sebagai pelanggan.
Aku hanya berdiri di balik tirai dapur.
Namun semakin lama aku melihat, semakin sulit bagiku mempercayai kata “hanya” itu.
Lintang Gelap"oohhh..." Pak Danang mengembuskan napas panjang saat tekanan tangan Ayu turun ke bahunya. "nah, ini... ini yang saya cari, Mbak."
Ayu tertawa kecil.
"Baru juga mulai, Pak."
"Justru itu. Baru mulai aja udah kerasa bedanya."
"Ah, Bapak ini kalau muji suka kelewatan."
"Serius saya. Di tempat lama dulu banyak terapis, tapi yang tangannya enak ya cuma Mbak Ayu."
Ayu menekan bagian bahu kanannya perlahan.
"Ini karena otot Bapak tegang banget. Kelamaan duduk ya?"
"Nyetir, rapat, duduk terus... ya begitulah. Tapi kalau tahu nanti ending-nya dipijat Mbak Ayu, capeknya jadi ngga terlalu rugi."
Ayu terkekeh pelan.
"Pak Danang ini ada-ada aja. Saya jadi susah bedain mana pegal beneran, mana yang cuma alasan biar bisa pijat sama saya."
"Dua-duanya boleh ngga?"
"Boleh aja, asal bayarnya double."
Pak Danang tertawa rendah.
"Nah, kalau soal itu saya paling nurut sama Mbak Ayu."
"Harus, Pak. Di sini yang galak buku kasnya, bukan saya."
Pak Danang tertawa lagi. Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lebih pelan.
"Jujur ya, Mbak. Saya lebih suka suasana di sini."
"Di sini?"
"Iya. Di rumah gini. Lebih tenang. Lebih privat."
Tangan Ayu berhenti sepersekian detik, lalu bergerak lagi.
"Kalau di rumah memang lebih sederhana, Pak. Tapi saya tetap kerja seperti biasa."
"Saya tahu. Justru itu yang saya suka."
Ayu tidak langsung menjawab. Hanya suara minyak yang bergesek pelan di kulit Pak Danang yang terdengar dari balik tirai.
"Kalau pelanggan merasa nyaman, saya juga ikut seneng, Pak," katanya akhirnya.
Pak Danang mengembuskan napas panjang saat Ayu menekan bagian bahunya.
"Tangan Mbak Ayu ini memang beda ya," gumamnya. "pantesan saya ketagihan balik ke sini."
Ayu tertawa kecil.
"ahhh, Bapak bisa aja. Ini karena otot Bapak tegang.. kaku begini."
"Kalau cuma otot tegang, saya bisa pijat di mana aja, Mbak."
"lhaaa.. terus kenapa baliknya ke sini terus, Pak?"
Pak Danang tertawa pelan.
"Karena yang mijat Mbak Ayu…. hehehehee"
Ayu hanya terkekeh, tidak menjawab langsung. Tangannya tetap bergerak teratur, menjaga tekanan di punggung Pak Danang seperti biasa.
Beberapa saat ruangan itu hanya diisi suara minyak yang bergesek pelan di kulit.
Lalu Pak Danang kembali bersuara, lebih rendah dari sebelumnya.
"Mbak..."
"Iyaaa, Pak?"
"Dari dulu saya penasaran..."
Ayu menghela napas kecil, tapi ada senyum dalam suaranya.
"kalau Bapak sudah bilang penasaran, biasanya pertanyaannya mulai bahaya nih…."
Pak Danang terkekeh.
"Saya belum nanya lho padahal… kok udah dibilang bahaya."
"Soalnya saya sudah hafal, Pak."
"Kalau begitu Mbak Ayu pasti tahu saya mau tanya apa."
Ayu tertawa kecil. "waduh, jangan-jangan soal kebun mangga lagi nihh?"
Pak Danang tertawa lebih lepas.
"nahhh, berarti Mbak Ayu ingat."
"Gimana ngga ingat. Bapak nanyanya pasti itu terus."
"Karena saya belum dapat jawaban."
"Kan dulu udah pernah saya jawab."
"Jawaban Mbak itu belum jelas. Belum bisa, belum mau, atau belum ketemu tangganya?"
Ayu langsung terkekeh, sedikit menunduk sambil tetap memijat.
Lintang Gelap"Ya ampun…., Pak Danang. Bapak ini kalau bikin istilah bisa…. aja."
"lhoooo, saya mah ngikut istilah Mbak Ayu."
"Saya ngga pernah bilang lhoo… kalau saya mau manjat."
"Gimana kalau tangganya saya siapin?"
"Nanti kalau saya jatuh gimana???"
"Saya tanggung."
Ayu tertawa lagi, lebih ringan kali ini.
"nahhhh, mulai deh. Bapak kalau udah nawarin tanggung jawab, ujung-ujungnya pasti uang."
Pak Danang tertawa rendah.
"ya saya memang ngga mau merepotkan. Kalau Mbak Ayu mau coba, saya bayar pantas."
"Pak..." Ayu menekan bahunya sedikit lebih kuat, seperti sengaja mengembalikan pembicaraan ke pijatan. "hari ini kita urus pegalnya dulu ya. Jangan bikin saya ikut pegal mikirin jawaban."
"Berarti dipikirin nih?"
"Bukan begitu juga."
"Tapi ngga langsung ditolak."
Ayu diam sesaat.
Aku yang berdiri di balik tirai ikut menahan napas.
Lalu Ayu menjawab dengan nada yang tetap lembut, tetap ramah, seperti sedang menutup pintu tanpa membantingnya.
Lintang Gelap"Saya cuma ngga mau bikin Bapak kecewa. Bapak pelanggan yang baik. Tapi saya juga harus hati-hati. Kerja di rumah beda sama di tempat lama."
Pak Danang tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia terkekeh puas.
"Berarti saya harus sabar?"
"Kalau Bapak bisa sabar, saya lebih seneng."
"Kalau saya tetap penasaran?"
Ayu tertawa kecil.
"Ya sudah, simpan dulu penasarannya. Jangan dipetik semua hari ini."
Lintang GelapPak Danang tertawa lebih lepas.
Aku berdiri kaku di balik tirai.
Petik.
Kata itu terdengar ringan dari mulut Ayu.
Seperti candaan.
Seperti cara halus untuk menghindar.
Tapi justru karena ia mengatakannya sambil tertawa, kata itu menempel lebih kuat di kepalaku.
Petik mangga.
Petik mangga.
Petik mangga.
Ayu belum setuju.
Ayu juga belum benar-benar membuka pintu.
Tapi ia tidak menutupnya dengan keras.
Dan entah kenapa, bagian itulah yang membuatku tetap berdiri di sana, mendengar, melihat, dan tidak melakukan apa-apa.
…
Pak Danang mendesah puas saat Ayu menyelesaikan pijatan di betisnya. Derit ranjang terdengar pelan untuk terakhir kali. Dari balik tirai dapur, aku melihat siluetnya bangkit perlahan, lalu mengenakan kembali kemeja batiknya di balik sekat lipat.
Tak lama kemudian, ia keluar dengan rambut sedikit acak-acakan dan senyum lebar yang khas. Ayu berdiri di dekat meja kecil, merapikan botol minyak dan handuk yang baru saja dipakai.
"Makasih ya, Mbak Ayu. Hari ini enak banget seperti biasa," kata Pak Danang sambil merapikan lengan kemejanya.
Ayu tersenyum lembut. "Alhamdulillah kalau Bapak cocok. Berarti pegalnya agak mendingan ya, Pak?"
"Iya udah enak sekarang... enteng." Pak Danang terkekeh pelan, lalu mengambil dompet dari saku celananya. Ia menaruh beberapa lembar uang di atas meja kecil. Tidak langsung memberikannya ke tangan Ayu. Hanya diletakkan begitu saja, seolah uang itu bagian dari pembicaraan yang belum selesai.
Ayu melirik uang itu sebentar.
"Pak, ini kebanyakan."
"Engga. Itu buat tambahan waktu tadi." Senyum Pak Danang melebar sedikit. "Sekalian biar Mbak Ayu tahu, saya ini orangnya ngga hitung-hitungan kalau pelayanannya cocok."
Ayu tertawa kecil, tapi senyumnya tidak selebar biasanya.
"Bapak ini kalau ngomong bikin saya serba salah."
"Serba salah atau kepikiran?"
"nah kan..." Ayu menggeleng pelan. "Mulai lagi."
Pak Danang tertawa rendah.
"Saya cuma bilang, kalau suatu hari Mbak Ayu mau nrima yang tadi kita obrolin, saya siap. Ngga harus sekarang. Ngga harus besok. Kapan Mbak Ayu bisa aja."
Ayu diam beberapa detik.
Aku ikut menahan napas di balik tirai.
Ayu akhirnya tersenyum kecil, lalu mengambil uang itu dan menyusunnya rapi di atas buku kas.
"Yang ini saya catat sebagai tambahan waktu aja ya, Pak. Biar jelas."
Pak Danang mengangguk pelan. "Terserah Mbak Ayu. Yang penting saya masih boleh datang."
Ayu menatapnya sebentar, lalu tersenyum sopan.
"Kalau untuk pijat, pintu saya masih terbuka, Pak."
Pak Danang tersenyum puas.
"Sementara untuk pijat dulu."
Ayu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, lalu berjalan mengantar Pak Danang ke pintu depan.
Begitu langkah mereka menjauh, aku langsung bergerak cepat. Tanpa suara, aku keluar lewat pintu samping dapur dan menutupnya pelan-pelan. Udara luar menampar wajahku. Bau tanah basah dan daun ketapang bercampur dengan aroma cendana yang masih menempel di bajuku.
Aku bersembunyi di balik pagar tanaman samping rumah.
Tak lama kemudian, suara mesin SUV Pak Danang menyala. Mobil hitam itu mundur perlahan, lalu menghilang di ujung gang.
Aku menunggu beberapa detik lagi, baru berjalan cepat menuju motor yang kutinggalkan di bawah pohon. Aku naik, menghidupkan mesin, dan mengendarainya seolah-olah baru saja pulang dari kantor. Debu jalan kompleks menempel di ban motor saat aku memasuki halaman.
Aku membuka pintu depan dengan suara biasa.
"Sayaang?" panggilku dari ruang depan, pura-pura baru datang.
Ayu muncul dari ruang praktik sambil membawa handuk bekas pakai yang sudah dilipat. Pelipisnya sedikit berkeringat, dan aroma minyak cendana masih kuat menempel di tangannya. Wajahnya tampak lelah, tapi senyumnya tetap hangat seperti biasa.
"eh, Mas sudah pulang? Kok cepet hari ini?"
"Iya, biasa Jumat ngga banyak kerjaan. Eh, tadi aku lihat mobil Pak Danang di depan pas aku masuk gang. Kok jam segini? Jadwalnya kan sore kan?"
Ayu mengangguk sambil merapikan kembennya. "iya Mas. Tadi Pak Danang chat mendadak habis salat Jumat. Katanya sore ada acara keluarga, jadi minta dimajukan. Aku kasih iya soalnya nggak ada reservasi lain."
Nada suaranya jujur, tenang, dan biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan di wajahnya. Aku mengangguk pelan, berjalan mendekat dan mencium aroma cendana yang masih kuat di tubuhnya bercampur parfum mahal Pak Danang.
"Oh gitu..." kataku sambil tersenyum kecil. Tanganku menyentuh pinggangnya sekilas, seolah semua ini memang hanya sore Jumat biasa. "Kamu capek ya? Istirahat dulu. Nanti mas bantu siapin makan malam."
Ayu tersenyum lega.
"Makasih, Mas."
Ia berbalik menuju dapur. Dari tempatku berdiri, aku melihat punggungnya yang masih sedikit berkeringat, ujung kemben yang sudah ia rapikan, dan langkahnya yang tetap ringan seperti tidak ada apa pun yang tertinggal di ruang praktik.
Memang tidak ada yang tertinggal.
Pak Danang sudah pulang.
Uangnya sudah masuk buku kas.
Ayu masih istriku.
Rumah ini masih rumah kami.
Namun di kepalaku, suara Ayu dari balik tirai tadi kembali terdengar pelan.
"Kalau untuk pijat, pintu saya masih terbuka, Pak."
Aku menatap tirai ruang praktik yang kini tertutup rapi.
Seharusnya kalimat itu membuatku tenang.
Tapi entah kenapa, yang kuingat justru senyum Pak Danang setelah mendengarnya.
Dari dapur terdengar suara keran menyala. Ayu mencuci tangannya seperti biasa, membersihkan sisa minyak cendana dari jemarinya.
Aku berdiri diam di ruang makan, masih dengan seragam cokelat yang belum kulepas.
Semua tampak normal.
Terlalu normal.
Dan untuk alasan yang tidak ingin kuakui, aku tidak benar-benar ingin sore itu berakhir di sana.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.