Chapter 4
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 4.058 kata
Ponsel Ayu yang tergeletak di atas meja kayu kecil di samping ranjang tiba-tiba bergetar pelan.
drrtt.
Hanya sekali. Namun di tengah keheningan kamar yang pekat, bunyi gesekan casing plastik dengan permukaan kayu itu terdengar begitu nyaring. Selang beberapa detik kemudian, layarnya menyala kembali, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang langsung memotong kegelapan kamar tidur kami.
Aku belum tidur. Jam di dinding sayup-sayup terdengar berdetak, menunjukkan pukul 23.48. Di sebelahku, Ayu sudah meringkuk membelakangi tubuhku. Selimut krem menutup tubuhnya rapat sampai ke batas pinggang, naik-turun seiring dengan tarikan napasnya yang lambat dan teratur.
Mataku tertahan pada pendar cahaya di atas nakas. Nama yang muncul di pusat sistem notifikasi layar kunci membuat tenggorokanku mendadak terasa kesat.
Pak Danang.
Cahaya digital itu cukup terang untuk membuat sebagian baris pesannya terbaca dari posisiku berbaring.
"maaf ganggu malam-malam, Mbak Ayu. besok sore masih ada slot?"
Aku menahan napas, membiarkan tubuhku membeku di atas kasur, menunggu sampai cahaya layar itu meredup dan mati sepenuhnya. Kamar kembali gelap gulita selama beberapa detik. Namun, sebelum detak jantungku kembali tenang, getaran kedua kembali merayap di atas meja nakas.
drrtt.
Layar ponsel kembali menyala terang.
"kalau jam empat penuh, saya bisa nyesuain, yang penting sama Mbak Ayu."
Aku membaca baris kalimat terakhir itu dua kali dalam hati.
yang penting sama Mbak Ayu.
Sebenarnya tidak ada yang aneh. Pelanggan yang sudah cocok memang biasanya meminta terapis yang sama. Ayu juga pernah bercerita bahwa di tempat lamanya, pelanggan sering rela mengubah jadwal hanya agar ditangani orang tertentu.
Tetap aja, waktunya hampir tengah malam.
Aku menggeser tubuh sedikit, membuat kasur bergerak. Ayu menggumam tanpa membuka mata.
"Mmppphh… Mas belum tidur?" gumamnya lirih, suaranya parau dan berat oleh kantuk yang pekat.
"belum."
"kenapa?"
"belum ngantuk aja," jawabku, sengaja melunakkan intonasi suaraku sedatar mungkin.
Ayu membetulkan posisi bantalnya, menarik selimutnya hingga menutupi pundak. "besok susah dibangunin lagi lho, Mas..."
"kemarin mas bangun sendiri kok."
"iya... alarmnya bunyi sampai empat kali."
"yang penting kan mas tetep bangun sendiri."
Ayu terkekeh pelan di balik selimut. Suara tawa kecilnya terdengar sangat halus di kegelapan kamar. Tangannya yang hangat merayap keluar dari balik selimut, mencari pergelangan lenganku yang dingin di atas kasur, lalu menepuknya sekali dengan gerakan manja yang malas.
"tidur Mas..."
"iya."
Ia kembali diam.
Ponselnya masih menyala di meja. Nama Pak Danang terlihat beberapa detik lagi sebelum layarnya padam.
Aku bisa membangunkan Ayu dan memberitahunya.
Aku juga bisa mengambil ponsel itu, menyerahkannya, lalu mengatakan bahwa salah satu pelanggannya sedang mencari jadwal.
Namun aku tidak melakukan keduanya.
Aku hanya menatap ponsel yang sudah gelap.
Ayu sudah tertidur lagi.
Aku belum.
…
"Mas lihat chat Pak Danang semalem?"
Pertanyaan Ayu membuatku mengangkat wajah dari piring.
Ia duduk di seberangku dengan rambut digulung asal. Daster kremnya sedikit kusut di bagian bahu. Di depannya ada teh hangat yang belum disentuh dan sepiring nasi dengan tumis kangkung.
Ponselnya berada di tangan.
"Kelihatan pas layarnya nyala semalem," jawabku, berpura-pura tenang sembari kembali menyuap nasi dingin ke dalam mulut.
Ayu mengangkat sebelah alisnya, matanya menyipit tipis mencoba membaca ekspresi wajahku. "cuma kelihatan aja?"
"Mas… ngga buka kok."
"beneran…?" tanyanya, sorot matanya menatapku lekat-lekat dari balik sela jemarinya yang menopang dagu.
"Mas kan ngga tahu PIN kamu, yang..."
Ayu mendecak pelan, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang usil. "PIN-ku kan tanggal ulang tahun Mas…."
"pantesan... gampang banget dibobol."
"laaaaah, itu tahu!"
"ya mas baru tahu sekarang."
Ayu menatapku selama beberapa detik, lalu tawa kecilnya pecah. Ia menggelengkan kepala pelan sebelum meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke atas meja kayu makan kami.
"dasar..."
"jadi... dia mau reservasi?" tanyaku, sengaja merendahkan intonasi suaraku agar tidak terdengar terlalu menuntut.
"iyaa..." Ayu meraih gelas tehnya, mengusap pinggiran kaca yang hangat dengan ibu jarinya yang memerah. "minta jadwal sore besok."
Aku menyendok sisa tumis kangkung di pinggir piring. "pelanggan fleksibel yaaa…."
"fleksibel apanya? dia yang minta slot dadakan, aku yang harus putar otak cari jam kosong di buku reservasi," gerutu Ayu, dahi halusnya berkerut tipis mengekspresikan rasa kesalnya yang tertahan.
"berarti... tipe pelanggan yang ngerepotin."
"ngerepotin... tapi royal," sahut Ayu lirih.
"bener emang, lu punya duit lu punya kuasa," jawabku kaku.
Ayu menahan senyumnya, matanya berkerlip geli mendengar kalimat kasualku yang jarang keluar di meja makan. Ia menatapku dengan kepala sedikit miring.
"Mas Wawan ini ya..."
"apaaaaaaa?"
"kemarin nyuruh terima tipsnya… terus sekarang malah ngeledek."
Aku tertawa kecil, menyembunyikan getaran tipis di dadaku yang mendadak kembali memompa darah panas ke pelipis.
Ayu meraih kembali ponselnya, membaca baris demi baris obrolan semalam dengan sorot mata yang perlahan meredup. Senyum di bibirnya berkurang satu ketukan. Aku memperhatikannya dengan saksama—cara ibu jarinya bergerak sangat lambat, mengusap-usap sisi casing ponselnya berulang kali, sebuah gestur kecil yang selalu ia lakukan setiap kali pikirannya dilingkupi keraguan.
"kamu mau terima?" tanyaku pelan.
"jadwal sore ini sebenernya kosong sih, Mas..."
"tapi?"
Ayu mendongak, matanya menatapku lurus-lurus. "kok tahu ada 'tapi'-nya?"
"mas udah lama kenal kamu, yang…. kalau jawabannya jelas, kamu ngga akan megang hp sambil dielus-elus kayak gitu dari tadi."
Ayu tersentak kecil, menyadari gerak-gerik tangannya sendiri. Ia buru-buru meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja makan dengan gerakan agak terburu-buru, mencoba menyembunyikan rona merah tipis yang mendadak muncul di tulang pipinya.
"aku ngga ngelus kok!"
"itu tadi apa namanya?"
"biasa aja ihhh…."
"iya, biasa…."
"Mas jangan ganggu dulu deh," desis Ayu cemberut, meskipun matanya ngga bisa menyembunyikan binar geli.
Aku menahan senyum, kembali menundukkan kepala untuk menghabiskan sisa makanan di piringku. Di hadapanku, Ayu meraih gelas teh hangatnya dengan kedua telapak tangan, hanya mendekatkan permukaannya ke bibir tanpa benar-benar meminumnya. Sorot matanya kembali turun menatap permukaan meja makan yang kusam.
"Pak Danang itu..." Ayu menjeda kalimatnya sebentar, menatapku seolah sedang menguji reaksimu. "...sebenernya baik banget orangnya."
"kalau kalimat pembukanya kayak gitu, biasanya habis ini ada yang ngga enak..."
Ayu tertawa pendek, bahunya bergoyang pelan. "bukan gitu, Mas…."
"terus?"
"kadang... suka bikin aku bingung aja."
"bingung gimana?"
Ayu menatapku selama beberapa detik, bibirnya berkedut ragu sebelum akhirnya ia mengeluarkan helaan napas pendek.
"dia sering nanya hal yang ngga ada hubungannya sama pijat."
"contohnya?"
"nanyain Mas pulang jam berapa."
Gerakan jemariku yang sedang memutar gelas kopi langsung membeku seketika. Aku tidak menjawab, membiarkan tatapanku terkunci pada wajah istriku.
Ayu melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang kian merendah, meremas kain lap kusam di pangkuannya. "terus... nanya kalau siang aku di rumah sendirian atau ngga… pelanggan terakhir biasanya jam berapa…. hari Jumat Mas Wawan sering pulang cepat atau ngga…."
"wiiiih..." Aku mengangguk pelan, memaksakan senyum luwes yang terasa hambar di bibirku. "mas ternyata menarik juga ya... dicariin terus ama klien kamu."
Ayu langsung menjulurkan kaki kirinya di bawah kolong meja, menendang tulang keringku pelan dengan ujung sandalnya. "bukan begitu, ih... o’on!"
"apa dia mau pijat sama mas juga?"
"diih... jangan ge'er ya…. yang ada badan orang malah pegel semua kamu siksa."
"siapa tahu... kan dicoba aja belum."
Aku mengulas senyuman lebar untuk menutupi gemuruh liar yang mendadak meledak di dalam perutku. Namun kali ini, Ayu tidak ikut tertawa. Ia menurunkan gelas tehnya ke atas meja dengan gerakan perlahan, matanya menatapku dengan keseriusan yang dingin.
"menurut Mas... itu masih wajar ngga?"
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan sensitif itu.
"dia nanyanya pas kapan?" tanyaku datar, mencoba menetralisasi atmosfer.
"kadang pas lagi aku pijit... kadang pas udah kelar…."
"kamu jawab apa?"
"ya... aku jawab seadanya aja."
"seadanya gimana?"
"kalau ditanya Mas Wawan pulang jam berapa, aku bilang jamnya ngga tentu… kalau ditanya aku sendirian atau ngga di rumah, aku jawab tetangga kompleks sini rame banget bisingnya."
Aku mengangguk-angguk kecil, membenarkan keputusannya. "bagus..."
Ayu memiringkan kepalanya sedikit, menatapku heran. "bagus apanya?"
"jawaban kamu udah bener..."
"tapi aku takut... kesannya terlalu jutek, Mas."
"kenapa harus takut?"
"dia pelanggan lama, Mas... aku ngga mau dia tersinggung terus ngga mau datang lagi kesini..."
"pelanggan kan banyak, yang."
Ayu menurunkan pandangannya, menatap buku kas cokelat di sudut meja dengan helaan napas yang berat. "yang sering kasih tips tebel kayak Pak Danang ngga banyak, Mas…"
Kalimat itu meluncur dari bibirnya disertai dengan senyuman kecil yang dipaksakan, seolah-olah ia sedang melontarkan lelucon biasa tentang kerasnya ekonomi rumah tangga kami. Namun, di bawah pendar lampu dapur yang hemat watt, kami berdua tahu persis bahwa kalimat itu sama sekali bukan sebuah gurauan hambar.
"terus... semalam dia chat jam segitu," lanjut Ayu, suaranya kian lirih. "aku tahu mungkin dia baru sempat pegang HP, tapi kok... malam banget ya, Mas."
"kamu udah pernah bilang jam operasional kita kan?"
"pernah."
"jam berapa?"
"sampai jam enam aja."
Ayu menggeser ponselnya secara perlahan ke tengah meja makan, membiarkan layarnya menyala menampilkan seluruh baris percakapannya dengan Pak Danang semalam agar aku bisa membacanya secara utuh.
Tidak ada baris kalimat vulgar atau pelecehan di sana. Semuanya hanya berisi koordinasi jadwal, konfirmasi durasi terapi sembilan puluh menit, serta permintaan khusus agar Ayu menyiapkan minyak aromatertentu.
Aku menggeser kembali ponsel itu ke arahnya dengan ujung jemari yang sedikit dingin.
"kalau kamu merasa ngga nyaman, jangan diterima jadwalnya, yang," kataku datar, mencoba memposisikan diriku sebagai suami yang protektif di atas kertas.
Ayu mengamatiku lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah ada riak cemburu yang nyata di balik raut wajah PNS-ku yang kaku.
"Mas... beneran?"
"beneran."
"nanti kalau aku tolak, Mas Wawan ngga bakal nyesel kan? ngga bakal bilang aku buang-buang pelanggan bagus?"
"mas pernah bilang gitu?"
"ngga sih..."
"naaahh..."
“Tapi.. tatapan Mas, kadang ngomong sendiri…”
“Tatapan Mas ngomong apaan emangnya?”.
Ayu menyipitkan matanya, memiringkan wajahnya ke depan meja makan sembari menirukan raut wajah kaku milikku dengan gerakan yang sangat usil.
"dua ratus ribu, yang... token listrik rumah kita udah bunyi bip-bip, yang... beras dapur hampir habis, yang..."
Aku langsung tertawa lepas, debaran tegang di dadaku seketika mencair oleh kelakuannya yang menggemaskan.
"mas ngga pernah ngomong kayak gitu ya!"
"mulut Mas emang ngga ngomong…. tapi mata Mas Wawan bisa aku baca," ejek Ayu sambil tertawa renyah, wajah lelahnya seketika memudar sepenuhnya.
"kamu sekarang bisa baca mata orang ya?"
"bisa dong…."
"coba baca yang ini."
Aku mencondongkan tubuhku ke depan meja, menatap sepasang mata sayunya lekat-lekat dengan sengaja selama beberapa detik tanpa berkedip sedikit pun. Ayu menahan senyumnya, matanya bergerak gelisah sebelum akhirnya ia menunjuk piring kosongku dengan ujung telunjuknya yang memerah sisa cuci piring.
"tambah nasi."
"salah."
"terus apa?"
"mas sayang kamu…."
Ayu mendecak pelan, buru-buru menundukkan wajahnya ke meja makan untuk menyembunyikan rona merah merona yang mendadak muncul di pipinya. Bibirnya melengkung hangat.
"pagi-pagi udah gombal aja ih..."
"katanya tadi bisa baca..."
"aku belum sarapan, masih belum konsen…," sahut Ayu merajuk halus, mempermainkan sendok tehnya di atas meja.
Suasana di meja makan kami kembali terasa ringan dan hangat selama beberapa saat. Ayu meraih kembali ponselnya dari meja, jemarinya memilin ujung casing plastik hitamnya dengan ragu-ragu.
“Jadi aku tolak aja?”
Pertanyaannya membuat senyumku hilang.
Ia benar-benar sedang menungguku mengambil keputusan. Bukan sebagai pemilik usaha. Bukan sebagai terapis. Tetapi sebagai istriku.
Aku bisa mengatakan “iya”.
Aku bisa menyuruhnya tidak menerima pelanggan laki-laki yang mulai terlalu sering bertanya hal-hal aneh. Namun entah kenapa hatiku berkata lain.
"belum perlu ditolak kok, yang," jawabku pelan, suaranya terdengar begitu datar di telingaku sendiri.
Ayu tidak langsung membalas kalimatku. Jemarinya berhenti memilin casing ponsel. "Mas... yakin?"
"dia belum pernah ngomong kasar sama aneh-aneh kan?"
"belum pernah sih... cuma banyak omong aja."
"ya sudah kalau gitu..."
"tapi nanya-nanya soal Mas pulang jam berapa itu lho..."
"kalau dia nanya yang aneh-aneh, kamu ngga harus jawab kok... alihin aja ke urusan pijatan."
Ayu mengangguk pelan, kepalanya menunduk tipis menyetujui logikaku yang kaku. "iya juga sih, Mas."
"terus... kalau dia chat malam-malam lagi kayak semalem?"
"balasnya pagi hari aja pas kamu baru bangun… biar dia tahu batas jamnya."
"kalau dia tersinggung gimana?"
“Kalau gara-gara dibalas pagi aja tersinggung, berarti masalahnya bukan di jadwal."
Ayu tersenyum tipis, matanya menatapku dengan binar kehangatan yang tulus. "nah... kalau ngomongnya tegas begitu baru kedengaran kayak suami idaman."
"memangnya dari tadi mas kelihatan kayak apa?"
"kayak bahlil!."
Aku tertawa lepas, ketegangan kotor di dadaku seolah tersamarkan dengan sempurna oleh tawa renyahnya. Ayu membuka aplikasi WhatsApp di HPnya, mengetuk kolom balasan obrolan Pak Danang.
"aku balas apa nih, Mas?"
"kenapa nanya mas? kan itu usaha kamu..."
"biar aku ngga salah ketik."
"balas biasa aja."
Jemari Ayu mulai bergerak lincah di atas papan ketik digital layar ponselnya, lalu berhenti sesaat dengan dahi berkerut.
"biasa aja itu gimana kalimatnya?"
"ya... bilang aja kalau besok jam empat sore masih ada slot kosong."
"terus?"
"terus bilang silakan datang."
Ayu kembali mengetik cepat, tatapannya lekat pada layar digital yang memantulkan cahaya di wajah polosnya.
"udah?" tanyaku.
"belum."
"kenapa?"
"takut kependekan, Mas."
"pelanggan mau reservasi jadwal pijat, yang…. bukan mau baca surat disposisi dari dinas."
"iya, tapi kalau kependekan nanti kesannya jutek banget."
"tambahin kalimat terima kasih aja di ujungnya."
Ayu melirikku dengan senyuman jahil yang mengembang di sudut bibirnya. "terima kasih buat apa?"
"sudah memilih istri saya..."
Begitu kalimat lancang itu meluncur dari mulutku secara spontan, Ayu langsung mendongak menatapku dengan sepasang alis terangkat tinggi. Tatapannya bercampur antara terkejut dan geli.
Aku buru-buru mengulas senyum lebar untuk menutupi kesalahan kalimatku. "pilih tempat terapi maksudnya, yang."
"hampir aja..."
"hampir apa?"
"hampir piring ini aku lempar ke mukamu, Mas!" ancam Ayu sambil tertawa renyah, pipinya kembali merona merah. Ia kembali menatap layar ponselnya, membaca baris kalimat yang baru saja ia susun dengan suara lirih.
"selamat pagi, Pak Danang... maaf baru balas semalam saya sudah tidur... besok jam empat sore slotnya masih kosong kok, Pak.. kalau cocok, saya catat jadwalnya ya..."
"bagus…. itu udah pas."
"terlalu formal ngga?"
"ngga kok."
"kurang ramah?"
"tambahin emoji senyum aja di ujung kalimat terima kasihnya."
Ayu menoleh cepat ke arahku, matanya menyipit penuh selidik. "Mas Wawan yang nyuruh lho ya?"
"iya..."
"nanti jangan cemburu ya kalau beliau kege'erran."
"cuma emoji senyum doang kok, gapapa..."
"aku cuma mastiin aja..."
Ia menambahkan satu emoji kecil, lalu menunjukkan layar kepadaku.
Aku mengangguk.
Ayu menekan kirim.
Pesan itu langsung mendapat dua centang biru.
Balasan Pak Danang muncul bahkan sebelum Ayu sempat meletakkan ponsel.
"cocok, Mbak Ayu. catat aja... kalau ada jadwal yang kosong lebih awal sore ini, kabari saya langsung ya... saya bisa nyesuain jamnya kok."
Ayu menunjukkan baris balasan kilat itu di depan mataku dengan senyuman tipis yang canggung.
"cepat banget balesnya, Mas..."
"berarti... emang udah ditungguin dari semalem..."
"orang kaya kayak beliau ini ngga tidur apa ya?"
"mungkin baru bisa tidur nyenyak setelah dapet kepastian jadwal dari Mbak Ayu," ledekku kaku.
Ayu terkekeh pelan, menekan tombol kunci layar hingga layarnya padam kembali, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku daster daster kremnya.
"ya sudah... besok sore jam empat."
Aku mengangguk pelan, kembali menatap cangkir kopi kosongku di atas meja makan.
Keputusan kotor itu resmi disepakati pagi ini. Pak Danang akan kembali mengetuk pintu depan rumah kami.
…
"Mas…, bukan gitu cara nglipet handuknya..."
Aku menatap selembar handuk putih tebal di tanganku yang sudah kulipat menjadi bentuk persegi panjang yang kaku.
"ini kan udah kotak, yang."
"kotak dari mana? miring gitu ujung-ujungnya ngga sejajar," omel Ayu sembari merebut handuk itu dari genggamanku dengan gerakan yang lincah. Ia menggelar kembali kain putih itu di atas tikar ruang tengah, lalu melipatnya kembali dengan gerakan tangan yang sangat cepat, presisi, dan telaten.
"begini lho lipatnya, Mas."
"hasilnya kan sama aja, yang…."
Ayu meletakkan dua lipatan handuk itu berdampingan di atas karpet tipis kami. Hasil lipatannya tampak sangat rapi, sejajar, dan padat. Sementara hasil lipatanku terlihat lebih tebal di satu sisi dan tidak beraturan ujungnya.
"sama dari mana? coba lihat nih."
"fungsinya kan tetap sama buat ngelap badan pelanggan yang licin, yang..."
Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, matanya menatapku dengan binar kehangatan yang usil.
"Mas Wawan ini ya... kalau kerja di hotel tempatku dulu, hari pertama kerja pasti udah dipanggil supervisor."
"ya kalau kamu kerja di kantor dinas mas, hari pertama kamu pasti udah langsung berantem ama tumpukan map kuning laporan anggaran," sahutku terkekeh pelan.
"aku bisa kok belajar nyusun berkas map."
"mas juga bisa belajar lipat handuk..."
"sudah diajarin tiga kali lho ini..."
"berarti gurunya yang kurang sabar, ngajarinnya…."
Ayu mendelik gemas ke arahku, lalu mengambil selembar handuk kecil dari dalam keranjang anyaman bambu di antara kami dan melemparkannya tepat ke arah wajahku. Aku menangkap lemparan kain lembut itu sembari tertawa lepas.
Kami berdua duduk bersila di atas lantai karpet tipis ruang tengah, dikelilingi oleh sekeranjang handuk putih bersih yang baru saja kering dari jemuran belakang. Di samping ruang tamu kami yang beralih fungsi menjadi ruang spa, ranjang pijat sudah dipasangi dengan seprei putih baru yang rapi tanpa kerutan. Botol-botol minyak esensial aroma cendana dan lavender tersusun berjejer lurus di atas rak kayu kecil.
Ayu menarik buku reservasi bersampul cokelat miliknya ke pangkuan, membukanya perlahan pada halaman jadwal untuk hari esok. Nama Pak Danang sudah tercatat dengan rapi pada pukul empat sore. Di samping nama pria itu, Ayu menggambar sebuah simbol lingkaran kecil menggunakan pulpen tinta biru.
"itu simbol apa, yang?" tanyaku sambil melipat handuk berikutnya.
"penanda kalau jadwalnya udah konfirmasi."
"kenapa pelanggan yang lain pakai simbol tanda centang biasa?"
Ayu tersentak kecil, lalu buru-buru menutup sebagian halaman buku dengan telapak tangannya sembari tertawa kecil yang canggung. "yang ini... aku salah gambar aja kok, Mas."
"bohong..."
"ya udah, biar ada bedanya aja dikit ihhh…."
"pelanggan istimewa yaaa?" godaku, menajamkan pandangan menatap matanya yang berkedip gelisah.
"pelanggan paling cerewet yang pernah aku handle!," elak Ayu cepat, menyembunyikan wajahnya di balik lembaran halaman buku.
"tipsnya juga paling istimewa kan?"
Ayu langsung melempar pulpen hitamnya pelan ke arahku sembari menahan tawa malunya yang merona merah. "nah... ketahuan kan! ujung-ujungnya tetep mikirin duit!."
Aku mengambil kembali satu handuk kaku dari dalam keranjang bambu.
"mas kan cuma bantu analisis usaha istri, yang…."
Ayu menundukkan wajahnya kembali ke atas lembaran kertas bergaris buku reservasi, lalu menuliskan sebaris kalimat kecil menggunakan pensil di bagian kolom paling bawah halaman.
“pelanggan suka datang mendadak.”
Aku membaca tulisan tangannya dari samping. "itu catatan apa, yang?"
"kadang ada pelanggan reguler yang batal mendadak di jam-jam sore. sayang banget kan kalau slot jamnya kosong terbuang gitu aja."
"terus?"
"aku mau bikin daftar khusus pelanggan yang fleksibel waktunya, yang bisa dikabari lewat WhatsApp kalau ada slot kosong dadakan di hari biasa."
"bagus itu idenya."
"Bu Ratna biasanya susah kalau dadakan, harus atur waktu dulu. Mbak Siska juga sibuk urusin anaknya sekolah."
Ayu menjeda gerakannya, melirik sekilas ke arahku dengan sepasang alis berkerut tipis.
"Pak Danang?" tanyaku pelan, sengaja memancing responnya.
Ayu menatapku lekat-lekat selama beberapa detik. "kemarin... beliau bilang bisa nyesuain jam operasionalnya kapan aja asal sama aku."
"masukin aja nama dia di urutan pertama."
Ayu memegang pensilnya kaku, ngga langsung menulis. "Mas Wawan... beneran?"
"iya…. daripada jam spamu kosong ngga menghasilkan modal tambahan kan."
"Mas yang nyuruh lho ya," bisik Ayu, menatapku seolah ingin memastikan kembali batas toleransi suaminya.
"kenapa ngomongnya kayak gitu?"
"biar nanti kalau beliau sering datang dadakan ke rumah kita, Mas Wawan ngga protes!."
"mas ngga pernah protes kok selama ini…"
"belum aja..." sahut Ayu lirih, lalu kembali menundukkan wajahnya menatap kertas buku. Pensilnya bergerak lambat menggoreskan baris kalimat pertama di kolom daftar pelanggan.
"Pak Danang itu paling gampang dipanggil mendadak kalau ada slot kosong," gumam Ayu pelan, matanya lekat menatap goresan pensilnya sendiri. "beliau juga selalu bayar lunas di depan tanpa pernah nawar tarif."
"sama tipsnya juga royal kan?"
"Mas..." Ayu tertawa tertahan, menepuk lenganku dengan buku reservasi cokelatnya. "kalau Mas Wawan mau bahas soal duit terus dari tadi, sekalian aja sana tidur meluk buku kas!"
"buku kas kan ngga bisa mas peluk anget kayak kamu, yang..."
"bisa kok... nanti aku gulung buku kasnya biar anget," canda Ayu dengan wajah cemberutnya yang manis.
Aku terkekeh pelan. Ayu akhirnya menuliskan baris nama pertama di bawah kolom tersebut dengan tulisan tangan kecilnya yang rapi.
1. Pak Danang — fleksibel, bisa dikabari kalau ada slot kosong.
Aku membaca deretan huruf namanya dari samping bahu Ayu.
"tambahin catatan kecil di bawah namanya, yang... jangan malam-malam datangnya."
Ayu tertawa renyah, tubuhnya bergoyang merapat ke arahku. "kasihan... baru juga jadi pelanggan prioritas, udah dikasih larangan."
"jadi... dia pelanggan prioritas sekarang?"
"panggilan darurat maksudnya, Mas..."
"sama aja itu mah."
"beda ih."
"bedanya apa?"
Ayu menutup buku reservasi cokelat itu dengan suara ketukan pelan, lalu menepuk sampulnya dengan telapak tangan yang memerah.
"kalau pelanggan prioritas, dia didahulukan jadwalnya... kalau panggilan darurat, dia baru dihubungi kalau ada orang lain yang mendadak batal sesinya."
"terus kalau dia mau datang?"
"ya dia datang ke rumahlah…."
"kalau dia ngga bisa?"
Ayu mengangkat kedua bahunya santai. "ya aku tidur di kamar."
"dihh enak betul.." sahutku tersenyum kaku.
Ayu menyandarkan sisi kepalanya sebentar di atas bahu seragam cokelatku yang kaku. Napasnya terdengar lambat di dekat leherku.
"Mas Wawan... beneran ngga keberatan kan soal Pak Danang?"
"kan udah ditanya tadi pagi di meja makan, yang."
"aku cuma mau mastiin lagi aja."
"kenapa kok ditanya berulang kali?"
"karena Mas Wawan kalau jawab pertanyaan sensitif, kadang baru dipikirin akibatnya belakangan."
Aku tertawa kecil, melingkarkan lengan kiriku di bahunya yang terasa hangat. "Mas beneran ngga keberatan kok."
"beneran?"
"iya, yang..."
"kalau beliau banyak omong?"
"ya kamu balas seperlunya aja..."
"kalau beliau kasih uang tips lagi?"
"terima aja buat tambahan cicilan rumah kita... ye nggak?."
Ayu langsung menegakkan kembali posisi duduknya, menatap wajahku dengan mata membesar jenaka.
"nah... keluar kan aslinya! dasar suami mata duitan!"
Aku tertawa lepas, lalu meraih pinggang rampingnya dengan kedua belah tanganku, menarik tubuhnya yang montok tanpa aba-aba hingga ia jatuh terduduk di atas pangkuanku. Ayu terkesiap kecil, membelalakkan matanya yang bulat jenaka saat wajah kami mendadak hanya berjarak beberapa jengkal saja. Aroma manis tubuhnya yang bercampur dengan sisa sabun mandi langsung menyerbu pernapasanku, memicu rasa lapar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nasi dingin pagi tadi.
"ih, Mas... lepasin ihhhhh, lipet handuknya belum kelar ini," protesnya manja, meski kedua tangannya justru refleks berpegangan pada bahu kemeja cokelatku, menahan dadanya agar tidak terlalu menempel kencang ke tubuhku.
"besok sore aja dilanjut lipatnya, yang," bisikku, sengaja merendahkan intonasi suaraku tepat di dekat daun telinganya. Tanganku merayap turun dari pinggangnya, mengusap pelan lekuk pinggulnya di balik daster krem yang tipis itu. Kulitnya terasa sangat hangat dan lembut.
Ayu mendesah pelan, bahunya merinding tipis saat merasakan sapuan jariku. "besok kan mau langsung dipakai, Mas..."
"besok pagi kan masih bisa…. mas bantu kok..."
"memangnya Mas mau bangun pagi-pagi buta? paling nanti harus disiram air seember dulu baru melek," ejeknya dengan mata berkedip jenaka, namun dadanya yang kencang kini mulai naik turun dengan ritme yang lebih cepat.
Aku tersenyum miring, memangkas sisa jarak di antara kami hingga dahi kami bersentuhan. "kalau dibanguninnya pakai cara yang enak... mas pasti langsung bangun kok."
"yang enak tuh yang kaya gimana emang?" tanyanya genit, sudut bibirnya terangkat usil sembari menantang tatapanku.
"pake dicium... dicubit dikit..." tanganku merayap naik, menyelusup ke balik helaian rambutnya di tengkuk, menekan kepalanya lembut agar mendekat. "atau... langsung dipijat punya mas....."
Wajah Ayu seketika merona merah padam, ia memukul dadaku pelan dengan daster kremnya yang sedikit tersingkap di bagian paha karena posisi duduknya yang menyamping di atas pangkuanku. "pagi-pagi gombal, sore-sore mesum ya sekarang..."
"mesumnya kan sama istri sendiri," bisikku serak. Aku menundukkan kepala, memagut bibir tipisnya yang hangat. Sentuhan bibir kami awalnya terasa santai dan bercanda, namun dengan cepat berubah menjadi sebuah tuntutan yang panas dan dalam. Ayu membalas ciumanku, jemarinya meremas kencang kerah kemeja cokelatku, membiarkan tubuhnya meluruh pasrah di dalam pelukanku.
Ketika napas kami mulai memburu dan ciuman kami semakin menuntut, Ayu dengan sisa tenaganya melepaskan tautan bibir kami, meskipun ia tetap menyandarkan keningnya di pundakku dengan napas terengah-engah.
"Mas... lipet handuk dulu... nanti keburu magrib," bisiknya parau, jemari lenturnya membelai rahangku lembut.
"mandi bareng yuk," godaku genit, tanganku sengaja mengusap paha mulusnya yang tersingkap bebas dari balik daster.
"diih... ogah, ntar mandinya ngga kelar-kelar…." Ayu mendecak pelan, namun ia tidak menolak saat aku kembali merengkuh tubuhnya erat, menikmati sisa-sisa gairah panas yang menggelitik selangkanganku sebelum akhirnya kami melanjutkan sisa pekerjaan sore itu dengan tawa-tawa kecil yang intim.
Kami berdua melanjutkan aktivitas melipat handuk hangat itu di tengah keheningan ruang tengah, sesekali saling mencuri kecupan kecil dan gangguan nakal yang panas. Di bawah pendar cahaya lampu warm white, kami tampak persis seperti sepasang suami istri bahagia yang sedang saling mendukung usaha kecil mandiri di rumah mereka sendiri.
Aku bahkan merasa diriku sudah menjadi sosok suami yang sangat pengertian dan baik.
Sampai malam harinya, ketika kami sudah menyelesaikan pergulatan panas di atas ranjang tidur kami, dan Ayu sudah tertidur lelap dengan napas teratur di sampingku, ponselnya yang tergeletak di atas nakas kembali menyala terang memotong kegelapan kamar tidur kami.
drrtt.
Satu getaran pendek yang sunyi.
Nama Pak Danang kembali muncul di layar digital yang berkedip. Hanya ada satu baris kalimat pendek di bawah namanya yang terbaca dengan sangat jelas oleh sepasang mataku yang menjaga kesunyian kamar.
"Mbak Ayu... kalau besok hari Jumat siang ada pelanggan yang batal sesinya, kabari saya langsung aja lewat WA ya…"
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.