Chapter 44
Istriku Sang Terapis - 23 September 2026 - 2.274 kata
Sudah beberapa hari tirai ruang terapi itu menggantung tanpa pernah benar-benar kami sentuh. Tiap kali lewat menuju dapur, sudut mataku masih menangkap sebagian dipan dari ruang tengah. Malam setelah kejadian itu aku cuma sanggup mengangkat handuk kotor, mencopot seprai, dan membersihkan bekas ludah Pak Danang dari lantai. Setelahnya, ruangan itu kubiarkan begitu saja. Ayu juga tidak pernah menginjakkan kaki ke sana lagi. Ia mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Pagi-pagi, suara spatula beradu dengan wajan kembali terdengar dari dapur. Gelasku yang tertinggal di meja mulai mendapat teguran kecil. Kemarin sore ia bahkan sempat bertanya soal seragam cokelatku yang belum disetrika karena aku bilang ada rapat. Hal-hal kecil yang dulu begitu lumrah, sampai tak pernah kupikirkan. Namun di sela-sela rutinitas itu, ritme kami kerap tersendat di tempat yang canggung. Ayu bisa mendadak membeku di depan wastafel cuci piring begitu mendengar deru mobil melambat di depan pagar. Malam-malam pun, saat aku tak sengaja terbangun, kudapati matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar dengan napas tenang—berpura-pura lelap agar tidak perlu ditanya. Dan aku memilih tidak bertanya. Dulu, mungkin rasa penasaranku sudah memburu, mendesaknya dengan tumpukan kalimat sampai mendapat jawaban yang memuaskan kepalaku. Sekarang, aku mulai belajar membiarkan sebagian diam tetap menjadi diam. Siang itu, langkahku
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.