Chapter 40
Istriku Sang Terapis - 17 September 2026 - 4.362 kata
Sejak Rudi menertawakan kancing seragamku yang meleset miring tempo hari, aku mulai berdiri sedikit lebih lama di depan cermin lemari setiap pagi. Memeriksa kerah kemejaku. Mengurutkan kancingnya satu per satu dari atas ke bawah. Menarik kedua sisi kain agar terselip rapi ke dalam celana dinas. Semua itu hal sepele yang bertahun-tahun tak pernah benar-benar kupikirkan, semata karena selalu ada tangan halus yang lebih dulu mengurusnya sebelum aku sempat melangkah keluar pintu. Ayu tidak pernah berhenti menyiapkan sarapan. Secangkir kopi hitam panas tetap tersaji di meja makan. Pakaian dinasku yang sudah disetrika rapi tetap tergantung di tempat biasa. Rumah kami tidak mendadak berantakan hanya karena hubungan kami sedang retak di dalam. Justru hal itulah yang terasa paling mencekik. Segalanya di rumah ini masih berfungsi dengan sempurna, kecuali kami berdua. Beberapa hari terakhir kami memang sudah mulai bertukar kata. Tidak banyak, tidak hangat, dan tanpa tatapan mata yang bertahan lebih dari sedetik. Hanya percakapan-percakapan fungsional yang diperlukan agar dua orang bisa bernapas di bawah atap yang sama tanpa saling bertubrukan. Namun tak ada lagi kaki Ayu yang diam-diam menyelinap ke bawah pahaku saat kami duduk di sofa. Tak ada kepalanya yang bersandar berat di bahuku saat televisi menyala menampilkan siaran yang bahkan
Chapter ini membutuhkan 3 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.