Chapter 3
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 2.401 kata
“Mppphh… Mbak Ayu ini kalau mijit telaten bener…. Pantes pelanggan lamanya pada nyari sampai ke rumah.”
“Kalau nggak telaten, nanti Bapak protes lagi,” jawab Ayu dari balik tirai. “Kemarin bilang bahunya kurang lama, sekarang betisnya. Minggu depan apa lagi?”
Pak Danang tertawa rendah.
“Lho, namanya juga udah cocok….”
“Cocok boleh, Pak…. Manja jangan...”
“Kalau sama Mbak Ayu susah… kalau nggak manja.”
Lintang GelapTawa Ayu menyusul. Pendek, ringan, lalu kembali tenggelam oleh suara telapak tangannya yang bergesek dengan kulit berminyak.
Aku masih berdiri di dekat meja makan dengan helm di tangan.
Seharusnya aku masuk kamar, mengganti pakaian, lalu mandi seperti biasa. Namun aku justru meletakkan helm di lantai dan menarik kursi pelan-pelan.
Dari tempatku duduk, yang terlihat hanya tirai linen dengan dua bayangan di belakangnya. Ayu berdiri. Pak Danang berbaring. Sesekali bayangan istriku membungkuk, lalu kembali tegak.
Aku menuang air dari teko.
Gelasnya dingin. Tanganku tidak.
“Tarik napas dulu, Pak,” kata Ayu. “Bagian sini keras banget.”
Pak Danang mengembuskan napas panjang.
“Nah... kalau begini baru terasa hidup lagi.”
“Bapak abis perjalanan jauh apa habis dikejar debt collector?”
“Kalau debt collector-nya Mbak Ayumah…, saya nggak bakalan lari.”
“Iiihhh…, jangan begitu pak... nanti saya tagih beneran lhoo...”
“Boleh… kalau yang nagih Mbak Ayumah….”
Mereka tertawa lagi.
Aku mengangkat gelas ke bibir, tetapi tidak langsung minum.
Tidak ada yang salah dari percakapan itu. Ayu memang ramah kepada pelanggan. Di tempat lamanya, keramahan bahkan masuk penilaian kerja. Pelanggan yang nyaman akan datang lagi. Pelanggan yang datang lagi akan membawa uang.
Sesederhana itu.
Aku akhirnya minum.
Beberapa menit kemudian, suara gerakan dari balik tirai berkurang. Ranjang pijat berderit saat Pak Danang bangkit. Ayu memintanya duduk sebentar agar tidak pusing, lalu terdengar bunyi botol minyak ditutup.
Aku merapikan posisi duduk tepat ketika tirai terbuka.
Pak Danang keluar lebih dulu. Kemejanya sudah dikenakan kembali, meski dua kancing bagian atas masih terbuka. Wajahnya tampak segar. Rambutnya sedikit berantakan di bagian belakang.
“Wuiihh…, Mas Wawan sudah pulang.”
Aku berdiri dan menyambut uluran tangannya.
“Baru sebentar, Pak.”
“Maaf ya, saya pinjam istrinya.. kelamaan.”
Kalimat itu disampaikan sambil tertawa.
Aku sempat melihat Ayu yang berdiri di belakangnya. Ia membawa dua lembar handuk kotor di lengan dan sedang menahan senyum.
“Kalau dari sini badan jadi seger... terus bayarnya lengkapmah.., saya nggak bisa protes, Pak,” jawabku.
Pak Danang tertawa lebih lepas.
“Nah, suami begini yang saya suka… pengertian.”
Ayu mendecak pelan.
“Mas malah ikut-ikutan iishh….”
“Lho, mas cuma mendukung pelanggan loyal.”
“Belain siapa sebenarnya?”
“Belain usaha.”
“Usahanya siapa?”
“Ya punya kita.”
Jawaban itu membuat Ayu tersenyum. Tidak lebar, tetapi hangat.
Pak Danang memandang kami bergantian.
“Sampeyan beruntung, Mas Wawan. Istrinya telaten, pinter pegang usaha juga.”
Aku mengangguk.
“Alhamdulillah, Pak. Kalau nggak ada Ayu, mungkin tiap akhir bulan saya makan mi instan terus.”
“Mas...” Ayu menatapku sambil menahan tawa. “Jangan buka rahasia dapur...”
“Biar Pak Danang tahu pentingnya datang rutin.”
Pak Danang tertawa lagi.
Aku ikut tertawa bersama mereka.
Entah kenapa, rasanya lebih mudah begitu.
Pak Danang mengeluarkan dompet. Ia mengambil beberapa lembar uang, menghitungnya sebentar, lalu menyerahkannya kepada Ayu.
“Ini tarifnya… sama tambahan waktunya.”
Ayu menerimanya, lalu menghitung sekilas.
“Pak, ini kebanyakan.”
“Gapapa Mbak Ayu… Buat beli minyak.”
“Minyaknya nggak semahal ini.”
“Ya buat yang lain toh…. Masa saya harus minta kembaliannya?”
Ayu masih memegang uang itu, tampak ragu.
Pak Danang menoleh kepadaku.
“Gimana, Mas Wawan? Boleh diterima, kan?”
Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu diarahkan kepadaku. Itu uang untuk pekerjaan Ayu. Namun karena semua mata sedang menunggu, aku tersenyum.
“Diterima aja, Yang…. Nanti Pak Danang tersinggung.”
“Nahhh ini….” Pak Danang menepuk lenganku pelan. “Suami pengertian.”
Ayu menatapku sesaat. Tatapannya seperti sedang bertanya apakah aku sungguh-sungguh atau hanya menjaga suasana.
Aku mengangguk kecil.
Ayu akhirnya melipat uang itu. “Yaudah... Makasih banyak ya, Pak.”
“Sama-sama. Pelayanan bagus harus dihargai.”
“Kalau begini terus, nanti Bapak saya kasih kartu anggota.” jawab Ayu sambil tertawa.
“Boleh…. yang ada fotonya Mbak Ayu, ya.”
Ayu terkekeh. “Waduh, mulai lagi.”
Pak Danang mengenakan sepatunya di dekat pintu. Sebelum keluar, ia kembali menoleh.
“Minggu depan saya kabari lagi, Mbak.”
“Iya, Pak. Tapi lihat jadwal dulu.”
“Kalau penuh, saya tunggu.”
“Jangan…. nanti Bapak malah tiduran di teras.”
“Asal dibawakan bantal.”
Ayu menggeleng sambil tertawa, lalu membukakan pintu.
Aku berdiri di belakang mereka ketika Pak Danang berjalan menuju mobilnya. Sebelum masuk, pria itu mengangkat tangan kepadaku.
“Pamit dulu, Mas Wawan.”
“Hati-hati, Pak.”
Mobil hitamnya bergerak meninggalkan halaman.
Ayu menutup pintu, memutar kunci, lalu menyandarkan punggung sebentar pada daun pintu.
Aku memperhatikannya.
“Capek?”
“Huufftt… banget.”
“Tadi katanya cuma pelanggan manja.”
“Pelanggan manja itu yang bikin capek.”
Aku mengambil handuk dari lengannya. “Besok kalau mas pegel, masih dapat jatah ngga?”
Ayu menatapku dari atas ke bawah, seolah sedang menilai calon pelanggan.
“Reservasi dulu.”
“Suami sendiri pake reservasi?”
“Justru suami paling sering minta mendadak.”
“Tarif keluarga ada?”
“Ada.”
“Lebih murah?”
“Lebih mahal.”
Aku mengangkat alis. “Kok lebih mahal?”
Ayu berjalan menuju ruang praktik sambil menahan senyum. “BAYARNYA SEUMUR HIDUP!!”
Aku tertawa dan mengikutinya.
Ranjang pijat masih berantakan. Sprei putih mengerut di bagian tengah. Sebuah botol minyak terbuka di atas meja kecil. Di lantai, ada bercak licin dekat kaki ranjang.
Ayu menunjuk bercak itu.
“Hati-hati… Jangan sampai kepleset.”
“Kalau kepleset, diterapi gratis?”
“Enggak... Aku ketawain dulu baru aku urut….”
“Pelayanannya kurang ramah… Aku kasih bintang satu loh…”
“Maskan bukan pelanggan.”
Kami kembali tertawa.
Aku membawa ember handuk ke belakang, sementara Ayu mengganti seprai. Gerakannya lebih lambat daripada ketika bekerja tadi. Sesekali ia memutar bahu dan menekuk jemarinya sendiri.
Aku melihat telapak tangannya memerah.
“Beneran nggak apa-apa?”
Ayu menoleh.
“Apanya?”
“Tanganmu.”
Ia membuka dan menutup jemarinya beberapa kali.
“Cuma pegel... Pak Danang badannya keras semua.”
Aku terkekeh.
Ayu melemparkan ujung handuk kecil ke arahku.
“Ketawa mulu...”
Aku menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
Di permukaan, semuanya terasa biasa. Kami masih bisa saling menggoda. Ayu masih mengomel karena aku salah menaruh handuk. Aku masih pura-pura tidak tahu cara memasang sprei agar ia mengambil alih.
Namun dua lembar uang tambahan tadi sudah masuk ke saku dasternya.
Dan aku masih mengingat bahwa akulah yang menyuruhnya menerima.
...
Malamnya, Ayu duduk di depan meja rias dengan buku kas terbuka di pangkuan.
Aku bersandar pada kepala ranjang sambil memperhatikannya menghitung uang.
“Srek. Srek.”
Lembaran seratus ribu berpindah dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu diletakkan dalam beberapa tumpukan kecil.
“Dapat berapa hari ini?” tanyaku.
Ayu tidak langsung menjawab.
“Jangan langsung seneng dulu.”
“Mas belum senang.”
“Matanya udah...”
“Matanya cuma ikut ngitung...”
Ayu tersenyum kecil.
“Bu Ratna seratus. Pak Danang tarif lengkap dua ratus lima puluh. Tambahan waktunya lima puluh.”
Ia berhenti sebentar, lalu mengangkat dua lembar uang.
“Terus tips dua ratus.”
“Dua ratus?”
“Iya.”
“Dia habis dapat warisan?”
Ayu tertawa.
“Katanya karena aku mau terima jam sore, padahal udah hampir tutup.”
“Kalau gitu besok mas booking malam.”
“Kamu mah bayarnya pakai janji.”
“Bisa dicicil?”
“Sudah tiga tahun dicicil, belum lunas juga.”
Aku ikut tertawa, meski ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat senyumku tidak bertahan lama.
Ayu memasukkan beberapa lembar ke amplop bertuliskan listrik. Dua lembar lain masuk ke amplop dapur. Setelah itu ia menekan kalkulator.
Lintang Gelap“Di tempat lama, uang segini belum tentu kebawa pulang separuhnya,” katanya. “Komisinya empat puluh persen, belum potongan admin, belum kalau pelanggan pakai voucher.”
“Iya…”
“Kadang pelanggan bayar mahal, tapi yang mijat cuma dapat capeknya.”
“Sekarang capeknya dapat berapa?”
Ayu melirikku lewat cermin.
“Mas mau bantuin apa cuma mau ganggu?”
“Dua-duanya.”
Ia mendecak, tetapi sudut bibirnya terangkat.
“Sekarang lebih jelas… Uang masuk berapa, modal keluar berapa. Nggak perlu nunggu akhir bulan baru tahu.”
“Lebih enak kerja di rumah?”
Ayu memiringkan kepala, berpikir.
“Lebih bebas.”
“Bebas gimana?”
“Kalau laper bisa langsung makan. Kalau capek bisa langsung tidur. Kalau pelanggan telat, aku bisa sambil nyapu.”
“Kalau pelanggannya banyak omong?”
“Ya aku dengerin.”
“Pak Danang banyak omongkan?”
Ayu terkekeh.
“Banget.”
“Kamu keganggu ngga?”
“Nggak sampai terganggu.” Ia menyusun uang agar sejajar. “Kadang cuma bingung jawabnya. Orangnya memang kaya gitu.. dari dulu.”
“Dari dulu suka godain kamu?”
“Mas kok kepo?”
“Lagi pendataan pelanggan.”
“Siap sipaling PNS.”
“Perlu formulirnya?”
“Percuma isi formulir kalau ngga di urus.” Ia mengatakannya sambil bercanda.
Aku tersenyum, aku tau maksudnya.
Tetap saja, aku terlalu cepat membayangkan Pak Danang duduk di ruang depan setiap minggu, menunggu Ayu menyiapkan handuknya.
Ayu meletakkan kalkulator, lalu berbalik menghadapku.
“Mas…”
“Hmmm?”
“Aku mau nanya serius.”
“Kenapa mukanya begitu?”
“Begitu gimana?”
“Kayak mau minta izin beli seblak.”
“Isshh.. beneran ini.. kamu mah bercanda mulu diajak ngomong.. sebeelll.”
“Iyaa.. iyaa.. mas.. minta maaf ya.. lagian kamunya gemesin.. hehehe”
“Isshh….”
Aku mengubah posisi duduk.
Ayu merapikan ujung dasternya sebelum bicara.
“Mas beneran nggak keberatan aku nerima pelanggan laki-laki di rumah?”
Aku menatapnya.
“Baru nanya sekarang? Uangnya udah dibagi-bagi.”
Ayu tertawa pelan.
“Ya makanya. Kalau Mas keberatan, uangnya udah aku simpen.”
“Licik!”
“Belajar dari kamu.”
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“Enggak tiba-tiba.” Ayu menunduk melihat jemarinya. “Tadi Pak Danang kan banyak bercandanya. Aku takut Mas dengar terus jadi nggak enak.”
“Mas memang dengar.”
“Naaaahhh!.”
“Tapi mas juga dengar kamu tetap kerja.”
Ayu mengangguk kecil.
“Kalau di tempat lama, ada supervisor. Ada orang lalu-lalang. Kalau di rumah, cuma aku sama pelanggan. Jadi aku juga harus lebih hati-hati.”
“Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang.”
“Pasti.”
“Jangan cuma karena dia pelanggan bagus, terus kamu diem aja...”
Ayu mengangkat wajah.
“Mas ngomong gitu, tapi tadi waktu aku mau balikin tipsnya malah disuruh terima.”
Aku kehilangan jawaban selama satu detik.
Ayu tidak mengatakannya dengan nada menuduh. Ia bahkan masih tersenyum sedikit.
Itu justru membuatnya terasa lebih tepat sasaran.
“Tipsnya beda,” kataku.
“Bedanya?”
“Itu penghargaan kerja.”
“Hmm.”
“Kenapa ‘hmm’?”
“Gapapa... Aku cuma suka kalau Mas udah bicara kayak orang rapat.”
“Mas serius.”
“Aku juga serius.”
Ayu bergeser dan duduk di tepi kasur, tepat di sampingku.
“Aku tahu batas, Mas,” katanya. “Kalau cuma goda-goda receh, aku masih bisa jawab. Dulu di hotel juga banyak yang begitu. Tapi kalau sudah aneh, aku pasti bilang.”
“Pak Danang masih receh?”
Ayu menahan tawa.
“Godanya receh.”
“Tipsnya?”
“Nggak.”
Kami tertawa bersama.
Namun setelah tawa itu hilang, tak satu pun dari kami segera bicara.
Aku menatap uang yang sudah dipisahkan di atas meja rias. Dua lembar dari Pak Danang berada paling dekat dengan tangan Ayu.
“Selama kamu nyaman, mas nggak keberatan,” kataku akhirnya. “Kamu yang paling tahu cara ngadepin pelanggan.”
Ayu memandangku beberapa detik.
“Bener?”
“Iya.”
“Bukan jawaban aman?”
“Memangnya mas pejabat?”
“Gayanya sih… udah kaya pejabat.”
Ia menyandarkan bahu ke lenganku.
“Makasih.”
“Buat apa?”
“Udah percaya sama aku mas….”
Tangannya mencari tanganku di atas kasur. Jemarinya masih hangat dan sedikit kasar di bagian pangkal ibu jari.
Aku membalas genggamannya.
Ayu kembali menatap uang di meja.
“Yang ini buat listrik,” katanya. “Yang ini buat dapur. Yang ini buat beli minyak sama handuk.”
Ia mengambil satu lembar seratus ribu yang tersisa.
“Terus ini...”
“Buat apa?”
Ayu membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop kosong.
Ia mencari pulpen, lalu menulis satu kata di bagian depannya.
Anak.
Dadaku langsung menegang.
Ayu melirik reaksiku dan tertawa kecil. “Jangan lihatin aku begitu.”
“Terus.. gimana dong?”.
“Aku cuma bikin amplop, Mas... Bukan bikin anak malam ini.”
“Mas belum bilang apa-apa.”
“Mukanya udah.. tuhkan genit banget...”
“Gaboleh tah??”
“Nggaakkk” Jawabnya sambil memasukkan satu lembar uang ke dalam amplop itu, lalu mengangkatnya ke arah lampu.
“Isinya baru segini.”
“Udah mulai?”
“Ya mulai nabung aja. Nggak berarti harus sekarang.”
Aku menatap tulisan tangan Ayu pada amplop tersebut. Hurufnya besar dan sedikit miring, berbeda dari label listrik dan dapur yang sudah kusam karena lama dipakai.
Ayu menyenggol lenganku dengan bahunya.
“Mas masih takut?”
“Bukan takut.”
“Terus?”
“Belum siap.”
Ayu mengangguk. Tidak kecewa, setidaknya tidak terang-terangan. “Aku juga belum siap.”
“Tapi udah bikin tabungan.”
“Kalau nunggu siap dulu baru nabung, anak kita keburu manggil kita Mbah.”
Aku tertawa.
“Ishh.. Mas masih muda.”
“Mas iya... Aku nanti yang ubanan duluan.”
“Kalau ubanan tetap cantik kok….”
Ayu mendelik.
“Gombal.”
“Serius.”
“Gombalan PNS cuma berani keluar pas tanggal tua.”
“Soalnya tanggal muda sibuk bayar cicilan.”
Ayu tertawa lagi, kali ini sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Beberapa saat kami hanya duduk begitu.
“Kadang aku pengen, Mas,” katanya kemudian.
Suaranya masih lembut. Tidak berubah menjadi murung. Hanya lebih pelan.
“Pengen apa?”
“Punya anak.”
Aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
“Tapi kadang aku juga takut,” lanjutnya. “Takut nanti pas dia butuh susu, kita malah saling lihat karena uangnya nggak ada. Takut aku capek terus gampang marah. Takut dia tumbuh dengerin kita ngomongin duit tiap malem.”
“Kita nggak pernah ribut soal uang.”
“Karena kita terlalu capek buat ribut.”
Aku menoleh kepadanya.
Ayu tersenyum tipis, lalu mencubit lenganku.
“Bercanda.”
Aku tahu ia tidak sepenuhnya bercanda.
“Kalau punya anak nanti,” kataku, “kita atur.”
“Mas selalu bilang begitu.”
“Karena mas memang bisa ngatur.”
“Terakhir Mas ngatur belanja, sabun cuci lupa dibeli.”
“Mmmm…. Itu kelalaian teknis.”
“Terus beras hampir habis.”
“Mmm…. Kesalahan data.”
“Terus beli kopi dua bungkus.”
“Mmm.. Itu kebutuhan dinas.”
Ayu tertawa sampai bahunya bergerak di lenganku.
“Kasihan anak kita nanti. Kalau minta mainan, disuruh bikin proposal.”
“Minimal dua rangkap.”
“Kalau minta uang jajan?”
“Harus ada laporan pertanggungjawaban.”
Ayu mengangkat kepala dan menatapku.
“Jangan begitu, Mas.”
“Kenapa?”
“Nanti dia lebih sayang sama aku.”
“Memangnya sekarang belum ada orang yang lebih sayang sama kamu?”
Ayu terdiam sepersekian detik, lalu mencubitku lebih keras.
“Mulai deh.. aneh.”
Aku tertawa untuk menutupi sesuatu yang barusan bergerak di dadaku.
“Yaudah,” katanya. “Kita ngga usah buru-buru. Tapi tabungan harus tetap ada.”
“Sampai kapan nunggunya?” tanyaku iseng.
“Sampai isinya cukup.”
“Cukup itu berapa?”
Ayu mengangkat bahu.
“Nggak tahu. Pokoknya sampai kalau lihat harganya popok, Mas nggak langsung buka kalkulator.”
“Waduuh.. Berarti masih lama dong.”
“Makanya…. nabung!”
Kami tertawa lagi.
Keputusan itu tidak terdengar seperti keputusan besar. Tidak ada tangisan. Tidak ada pertengkaran. Kami hanya duduk di atas kasur sambil bercanda tentang popok, susu, dan laporan pertanggungjawaban.
Mungkin begitulah cara kami menjaga percakapan tetap ringan.
Kalau terlalu serius, kami akan sama-sama sadar betapa takutnya kami.
Ayu bangkit untuk menyimpan semua amplop ke laci. Listrik di sebelah kiri. Dapur di tengah. Darurat di belakang. Amplop baru bertuliskan Anak ia letakkan paling depan.
“Sudah,” katanya. “Beres.”
Ia kembali ke kasur dan menarik selimut.
“Tidur, Pak Bendahara.”
“Yang bendahara kan kamu.”
“Mas bagian pengawasan.”
“Mas nggak dapat jabatan lebih tinggi?”
Ayu mematikan lampu tidur.
“Dapat.”
“Apa?”
“Suami.”
Aku tersenyum dalam gelap.
“Gajinya?”
“Pelukan.”
“Cuma pelukan??? Dikit banget….”
“Kalau protes, aku potong.”
Aku mendekat dan memeluknya dari belakang. Ayu tertawa kecil, lalu meletakkan tangannya di atas tanganku.
Dalam beberapa menit, napasnya mulai teratur.
Aku belum tidur.
Mataku tertuju ke arah meja rias yang kini hanya berupa bentuk gelap. Di dalam lacinya, satu lembar uang tip dari Pak Danang tersimpan di dalam amplop bertuliskan anak.
Aku tahu uang tidak menyimpan nama orang yang memberikannya.
Namun malam itu, aku masih tahu lembar itu berasal dari siapa.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.