Chapter 38
Istriku Sang Terapis - 14 September 2026 - 3.688 kata
Aku baru sadar betapa mudahnya menepati janji untuk tidak melihat, dan betapa mustahilnya menghentikan kepalaku memutar ulang apa yang sudah terlanjur kulihat. Dua minggu telah berlalu sejak Pak Heru keluar dari rumah kami dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Ayu yang berdiri kaku di bilik terapi dengan gunting mengarah ke depan. Sejak sore itu, aku berhenti menyentuh buku catatan reservasi Ayu. Aku tidak lagi memutar motorku kembali ke rumah setelah berpamitan berangkat dinas. Bahkan ketika dua kali aku terpaksa pulang lebih awal dan mendengar sayup suara laki-laki dari ruang depan, aku memilih menyelinap lewat pintu samping dapur, masuk ke kamar belakang, menyalakan pendingin ruangan, lalu menyumbat kedua telingaku rapat-rapat dengan earphone tanpa memutar musik apa pun. Aku memaksa diriku tidak melihat. Aku menolak mendengar. Tapi kepalaku tetap bekerja sesukanya. Di kantor, saat menandatangani berkas, kadang yang muncul malah wajah Pak Heru ketika mundur dari ujung gunting Ayu. Saat makan siang, aku bisa tiba-tiba teringat suara istriku menyuruh laki-laki itu melepaskan tangannya. Tegas, tanpa tertawa, tanpa basa-basi, dan tanpa memberi celah sedikit pun. Ayu bisa bilang tidak. Sesederhana itu. Selama ini aku masih punya jawaban untuk Pak Danang. Dia tidak pernah datang seperti Pak Heru. Tidak pernah memaksa dengan tangan kasar atau suara
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.