Chapter 2
Istriku Sang Terapis - 1 Juni 2026 - 1.383 kata
Pagi itu, bahkan sebelum matahari benar-benar terangkat dari balik atap-atap rumah kompleks, ponselku sudah bergetar di atas meja makan. Layarnya menyala sebentar, menampilkan satu pesan dari bank. Pendek. Rapi. Dingin. Pendebetan angsuran KPR berhasil. Aku duduk dengan seragam cokelat PNS yang belum terkancing sempurna. Kainnya masih terasa kaku di bahu, baru disetrika Ayu semalam sambil menahan kantuk. Di depanku, secangkir kopi hitam mulai kehilangan panas. Di sampingnya, slip gaji bulan ini terlipat dua, dengan bekas kusut yang membentuk garis keras seperti kerutan di dahi orang yang terlalu sering memikirkan hal yang sama. Aku membuka slip itu pelan-pelan. Kertasnya terasa kaku di ujung jari. Ada sesuatu yang ganjil dari kertas resmi; ia selalu tampak bersih, padahal bisa menyimpan kekalahan paling sunyi di dalam angka-angkanya. Gaji pokok. Tunjangan istri. Tunjangan beras. Tunjangan jabatan yang namanya terdengar lebih gagah daripada nilainya. Lalu deretan potongan turun satu per satu seperti hujan yang tidak memberi kesempatan berteduh. Iuran. Koperasi. Potongan rutin. Cicilan. Angsuran KPR. Di bagian paling bawah, angka bersih yang tersisa menatapku tanpa rasa bersalah. Aku menghitungnya lagi menggunakan kalkulator di ponsel, meski mataku sudah tahu hasilnya. Jempolku menekan layar dengan gerakan teratur, seperti sedang menginput data laporan bulanan di kantor. Satu angka masuk,
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.