Chapter 2
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 1.906 kata
Ponselku bergetar di atas meja makan.
Layarnya menyala, menampilkan satu pesan pendek dari bank.
Pendebetan berhasil.
“Ettdah… Cepat banget…,” gumamku.
Dari dapur, Ayu menjawab, “Siapa, Mas?”
“Bank.”
“Ohhh….” Suara spatula kembali beradu dengan wajan. “Pagi-pagi udah perhatian aja tuh….”
“Perhatian banget… belum sempet aku pegang, duitnya udah pergi duluan...”
Ayu terkekeh kecil. Aku meletakkan ponsel di samping slip gaji yang baru kubuka. Seragam cokelatku belum terkancing sempurna. Bagian bahunya masih kaku karena baru disetrika Ayu semalam. Di depanku, kopi hitam mulai kehilangan uap.
Aku membaca deretan angka pada slip itu untuk kedua kalinya.
Gaji pokok.
Tunjangan istri.
Tunjangan beras.
Tunjangan jabatan.
Setelah itu, bagian yang jauh lebih rajin muncul setiap bulan.
Iuran.
Koperasi.
Potongan rutin.
Cicilan.
Angsuran KPR.
Aku membuka kalkulator di ponsel dan memasukkan angkanya lagi. Hasilnya sama. Tentu saja sama. Aku hanya berharap mesin hitung bisa merasa kasihan dan memberikan hasil yang berbeda.
Ayu keluar dari dapur membawa sepiring nasi, telur dadar tipis, dan sambal bawang. Rambutnya digulung asal di belakang kepala. Ia masih mengenakan daster biru pudar yang sudah berkali-kali masuk mesin cuci, tetapi belum juga mau ia pensiunkan.
“Mas.”
“Hm?”
“Sarapan dulu… Dari tadi liatin angka terus… Nanti telurnya ikut kepotong lhooo.”
Aku menatap telur di piring.
“Ini udah kepotong...”
“Ya dibagi dua, Mas.” Ayu duduk di kursi seberang.
“Bendahara negara kalah ama kamu.”
“Bendahara negara mah… anggarannya banyak.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Ayu yang begitu pahit, lalu menarik piring lebih dekat. Mata Ayu jatuh pada slip gaji di samping cangkir.
“Udah masuk?”
“Udah… duit cuma numpang lewat doang...”
Ayu meraih slip itu. Di dinding dekat lemari es, kalender bergambar gunung tergantung dengan dua paku kecil. Tanggal dua puluh lima dilingkari tinta merah. Di bawahnya, Ayu menulis satu kata dengan huruf cukup besar untuk dibaca dari meja makan.
KPR.
“Masih lama ya?” tanyanya.
“Lumayan.”
“berapa tahun?”
“10 tahun lagi….”
Ia menurunkan pandangan ke bagian bawah slip gaji. Ujung jarinya berhenti tepat pada jumlah bersih yang tersisa. Senyumnya perlahan hilang.
“Ini belum listrik,” katanya.
“Belum.”
“Beras.”
“Belum.”
“Internet.”
“Belum.”
“Bensin.”
“Belum.”
“Iuran keamanan... kemarin Pak RT udah titip pesan.”
Aku menyuap nasi. “Kalau Pak RT datang lagi, bilang kalau aku lagi dinas luar.”
“Dinas luar ke mana?”
“Ke belakang rumah.”
Ayu tertawa pendek, lalu menendang ujung sandalku di bawah meja.
“Belum kalau motor rusak, beli obat, sama kondangan,” lanjutnya.
“Kondangan bisa dikurangi.”
“Caranya?”
“Kita pura-pura berantem ama semua teman.”
“Terus nanti kalau kita nikahan lagi, nggak ada yang datang dong?”
Aku menatapnya. “Memangnya kamu ada rencana nikah lagi?”
Ayu mengangkat alis.
“Kalau Mas masih banyak nanya, bisa aja….”
Aku tertawa kecil. Ia ikut tersenyum, tetapi matanya kembali turun pada slip gaji.
Telur dadar di antara kami hanya berasal dari satu butir. Ayu membaginya rapi menjadi dua bagian, lalu memberiku potongan yang sedikit lebih besar. Dulu aku selalu menganggap kebiasaan itu sebagai bentuk perhatian sederhana. Sekarang aku tahu, ia sudah terlalu pandai membuat sesuatu yang sedikit terlihat cukup.
“Nanti aku atur lagi,” kataku.
Ayu melipat slip gaji itu.
“Diatur gimana lagi, Mas? Angkanya emang segitu.”
“Bisa ngurangin yang ngga begitu penting.”
“Yang dikurangi apa?”
Aku menatap meja.
Kopi.
Telur.
Sabun.
Bensin.
Semuanya udah pernah masuk pembahasan.
Ayu menyandarkan punggung pada kursi.
“Bukan karena Mas nggak pintar ngatur,” katanya. “Memang sisa gajinya ngga cukup mas.”
Aku tertawa kecil meski bagian dalam dadaku terasa berat. Di mata tetangga, pekerjaanku terlihat mapan. Setiap pagi aku berangkat mengenakan seragam, pulang menjelang sore, dan menerima gaji pada tanggal yang sama. Beberapa orang di kompleks bahkan masih menyebutku orang kantor dengan nada yang membuat pekerjaanku terdengar lebih tinggi daripada meja kayu tua dan tumpukan map yang kutemui setiap hari.
Namun slip di depan kami tidak peduli pada seragam. Angka tetaplah angka. Rumah yang kami huni saat ini belum sepenuhnya sah menjadi milik kami. Tiap bulan, bank selalu memotong bagiannya terlebih dahulu sebelum kami bisa memilah kebutuhan mana yang paling mendesak untuk dipenuhi.
Ayu meletakkan slip gaji di samping kalkulator kecil.
Aku mengambil sambal dengan ujung sendok.
“Sore ini ada reservasi?”
“Ada dua.” Ayu mulai makan. “Bu Ratna jam dua.”
“Terus?”
“Pak Danang jam empat.”
Sendokku berhenti sebelum menyentuh nasi.
Ayu melirikku.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Bo’ong….”
“Pak Danang lagi?”
“Iyaaa...” Ayu menahan senyum. “Kok nadanya kayak gitu?”
“Ahh.. biasa aja.” Aku menunduk, pura-pura sibuk mengaduk sambal.
“Oh…..”
“Kenapa ‘oh’-nya begitu?” sahutku cepat, menatapnya tajam.
“Begitu gimana?”
“Panjang… kaya ngremehin.”
“Cuma dua huruf, Mas….” Ayu tertawa kecil, sengaja memancing.
“Dua huruf, tapi kaya ada yang disembunyiin….” gumamku sambil menahan senyum yang nyaris pecah.
Ayu tak membalas, ia justru meraih kerupuk dari toples, memecah kesunyian dengan bunyi krak yang renyah. “Jadi, pulangnya jam berapa hari ini?” tanyanya, mengalihkan topik dengan santai.
“Seperti biasa.”
“Jam setengah lima?” tanya Ayu, alisnya terangkat.
“Tergantung... Pak Hendra ngasih kerjaan apa engga….”
“Jangan pulang cepet-cepet.”
Aku menatapnya tajam.
Ayu tertawa kecil. “Bukan karena Pak Danang, kok. Aku cuma belum sempat belanja, takutnya keburu sore.”
“Oh, kirain aku dilarang pulang biar nggak ganggu pelanggan unggulan.”
“Lho, bukannya kemarin bilang takut gangguin?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
Lintang GelapDi atas meja, kalkulator berada di antara slip gajiku dan buku catatan usaha Ayu. Buku bersampul cokelat itu terbuka pada halaman pemasukan minggu ini. Tulisan tangan Ayu memenuhi beberapa baris dengan nominal yang tidak besar, tetapi nyata.
Namaku tercetak kaku di slip resmi, berbanding terbalik dengan daftar pelanggan Ayu yang tertulis luwes dengan pulpen. Aneh rasanya melihat angka-angka dari ruang terapi itu bergerak lebih lincah daripada gajiku sendiri.
Di salah satu baris, aku melihat nama Pak Danang dengan catatan kecil di sampingnya: Tambah 15 menit.
Ingatanku seketika melayang pada lembaran uang yang kemarin menyembul dari lipatan kemben Ayu.
"Tips kemarin udah masuk kas?" tanyaku, jemariku mengetuk pelan sampul buku cokelat itu.
Ayu melirik buku yang kutunjuk, lalu beralih menatapku. Senyumnya tipis, lebih ke arah menahan diri. "udah… dong"
“Berapa?”
Ia menyipitkan mata. “Kok sekarang Mas rajin sekali auditnya?”
“Transparansi anggaran...”
“Dua ratus.”
Aku mengangkat alis. “Di luar tarif?”
“Iya...”
“Lumayan.”
“Lumayan banget.” sahutnya enteng. Ayu meraih kalkulator, jemarinya menari di atas tombol plastik dengan bunyi klik-klik yang repetitif. "Bisa buat bayar listrik, plus sedikit tambahan belanja minggu ini."
Aku hanya mengangguk, tapi pikiranku tertahan di angka itu. Tambahan lima belas menit. Lulur punggung. Uang dua ratus ribu yang berpindah tangan begitu saja. Semuanya terdengar seperti transaksi jasa yang wajar, tapi di kepalaku, angka-angka itu mulai membentuk gambaran yang berbeda. Seolah setiap rupiah adalah penanda waktu yang dihabiskan Ayu di balik tirai itu, waktu yang entah kenapa terasa jauh lebih berharga daripada gajiku sendiri.
Ayu kemudian menutup buku catatan.
“Mas.”
“Hm?”
"Jangan bengong... Nanti telat," bisik Ayu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan jemarinya menahan ujung kemejaku, membuatku tetap berdiri di tempat.
Aku melihat jam dinding. “Waduh….”
Aku kembali menoleh ke Ayu, menatap ke arah matanya yang tajam, menelusuri wajahku. "Nahkan... dari tadi pikiranmu cuma Pak Danang, sih?" godanya, suaranya kini sedikit lebih rendah, lebih menggoda.
"Lho, kamunya yang dari tadi jawab panjang lebar," sahutku, mencoba tetap tenang meski jarak kami sekarang cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang samar.
“Lagian… kamunya nanya terus….” Ayu mendekat. Ia meraih kerah seragamku, merapikannya dengan sangat pelan, seolah sedang memastikan tidak ada satu pun lipatan yang salah. Tangannya menyentuh leherku, jari-jarinya yang hangat memberikan sensasi menggelitik yang membuatku menahan napas sejenak.
“Akukan cuma pendataan….”
“Pendataan apaan sampai lulur juga ditanya?”
“Detail layanan.”
“Kepengen juga?” tantangnya. Tatapannya kini turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku.
“Boleh.”
“Bayar.”
Aku tersenyum miring, memangkas jarak di antara kami hingga dahi kami hampir bersentuhan. “Ternyata bener, suami bukan pelanggan prioritas ya….”
Ayu terkekeh, napasnya yang hangat menerpa kulit wajahku. Jemarinya turun perlahan, mengusap dada seragamku dengan sengaja. “Suami itu pemilik saham…”
“Dapat dividen?”
Ayu menepuk pelan dadaku. “Banyak nanya… udah sana keburu telat.”
Aku tidak langsung pergi. Tanganku melingkar di pinggangnya, menariknya rapat hingga tak ada lagi ruang di antara kami. Aroma sabun dan sisa wangi dapur yang samar menguar dari kulitnya, membuatku enggan beranjak. Tanpa sepatah kata, aku menunduk, memangkas jarak yang tersisa, dan memagut bibirnya. Bukan lagi sekadar kecupan, melainkan satu tuntutan kasih sayang yang tertahan.
Ayu terkesiap, jemarinya meremas lengan kemejaku, seolah mencoba menahan waktu sebelum ia melepaskan diri dengan napas yang memburu. Wajahnya merona, dan ada tatapan lembut yang ia simpan rapat-rapat.
"Jangan lupa beli beras," bisiknya parau, mencoba mengembalikan situasi.
"Aman, Nyonya... Aku berangkat ya."
Ia menatapku lekat sebelum menyambar dengan nada yang khas. "Hati-hati di jalan… jangan ngebut…. aku belum siap jadi janda…"
Aku tertawa lebar, merasakan sisa kehangatan ciuman itu masih tertinggal, lalu melangkah menuju pintu dengan hati yang jauh lebih ringan.
…
Layar mesin absensi menyala hijau tepat saat jariku menyentuh sensor.
Berhasil.
Setidaknya disini, hidupku jelas. Datang sebelum jam tujuh berarti disiplin, sementara terlambat berarti merah. Semuanya serba pasti, tak ada ruang untuk tafsir, seperti di ruang terapi Ayu.
Aku duduk dibalik meja kayu yang salah satu sudutnya mulai mengelupas, menghadap tumpukan map kuning dan berkas yang harus segera diperiksa.
Pagi berjalan monoton; suara keyboard dan bunyi stempel bersahutan, diselingi deru dispenser yang sesekali berdeguk. Di belakang, dua rekan kerjaku sibuk memperdebatkan harga beras, sementara yang lain mengeluh soal tunjangan yang tak kunjung naik. Aku hanya bisa ikut tertawa saat mereka mulai menghitung sisa gaji untuk makan siang di warung.
Meski begitu, pikiranku sering melayang. Mataku berkali-kali mencuri pandang ke jam di pojok layar komputer. Pukul sepuluh lewat dua belas. Bu Ratna baru akan datang jam dua, dan Pak Danang jam empat.
Saat tanganku sibuk memilah nomor agenda dan tujuan disposisi, otakku justru sibuk menyusun jadwal lain: dua pelanggan, satu ruang terapi, tarif dasar, hingga tambahan waktu.
“Selama semuanya berjalan sesuai aturan, seharusnya tidak ada masalah, bukan?”
“Wan, makan yok…” rekan kerjaku menepuk meja saat jam makan siang mendekat.
Aku menggeleng pelan. “Bentar, nanggung.”
“Kerja terus, gaji juga tetep segitu.” Mereka tertawa. Aku hanya ikut tersenyum tipis, lalu kembali menunduk ke arah berkas.
Pikiranku justru melayang ke rumah.
Pukul tiga lewat, kepala bagian pergi rapat. Suasana kantor melonggar. Berkas-berkas sudah beres. Aku melirik jam dinding: 3:20. Pak Danang dijadwalkan datang pukul empat.
Aku membereskan meja dengan tenang. Monitor mati, pulpen masuk laci, map ditumpuk sejajar. Saat beranjak keluar, aku meyakinkan diriku sendiri: aku memang sudah tidak ada pekerjaan. Bukan karena ingin pulang sebelum sesi selesai. Bukan pula untuk memastikan apakah celah tirai itu masih terbuka seperti kemarin.
Aku hanya ingin pulang lebih cepat. Itu saja.
…
Jalan kompleks lebih lengang daripada biasanya.
Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Matahari masih cukup tinggi, tetapi bayangan pohon ketapang sudah memanjang ke aspal.
Begitu melewati belokan terakhir, aku melihat SUV hitam itu.
Mobil Pak Danang terparkir sudah terparkir di depan rumah.
Aku menurunkan gas.
Kendaraan itu bersih, gelap, dan terlihat terlalu besar untuk halaman rumah tipe tiga puluh enam. Kaca depannya memantulkan atap-atap kompleks. Sebuah jas hitam tergantung di jok belakang.
Sepatu kulit Pak Danang berada di dekat teras.
Diletakkan rapi.
Seolah ia sudah tahu bagian mana dari rumah kami yang boleh ia tempati.
Aku terus melaju melewati pagar.
Baru beberapa meter kemudian motor kuhentikan di bawah pohon, sedikit lebih jauh daripada tempat biasanya.
Aku melepas helm, tetapi tidak langsung turun.
Jam di ponsel menunjukkan pukul empat lewat delapan.
Sesi baru dimulai.
Tidak ada alasan untuk berdiri di luar terlalu lama.
Aku turun, mengunci setang, lalu berjalan ke samping rumah.
Pintu samping dapur tidak terkunci.
Begitu kubuka, aroma minyak cendana menyambut dari ruang tengah. Lebih pekat daripada kemarin. Udara di dalam rumah terasa hangat meskipun AC ruang terapi pasti menyala.
Aku menutup pintu pelan-pelan.
Dari balik tirai linen, terdengar suara Pak Danang tertawa rendah.
Beberapa detik kemudian, suara Ayu menyusul.
“Pak Danang bisa aja...”
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.