Chapter 1
Istriku Sang Terapis - 29 Mei 2026 - 1.535 kata
Bagi seorang Pegawai Negeri Sipil sepertiku, hidup adalah tentang ketepatan kelola dan kepatuhan pada jam kerja. Jam tujuh pagi menstempel absensi di kantor dinas, jam empat sore merapikan seragam cokelat, dan setengah jam kemudian aku sudah menjumpai pagar rumah minimalis kami di pinggiran kota. Rumah ini adalah benteng kedamaianku. Setidaknya, sampai tiga bulan yang lalu.
Sore itu, hal pertama yang menyambutku saat membuka pintu bukanlah aroma tumis kangkung atau wangi detergen dari baju yang baru dijemur. Melainkan aroma minyak cendana yang pekat, hangat, dan asing.
Di sudut ruang tamu yang kini disekat menggunakan lemari kayu besar dan tirai linen tebal, papan nama kuningan kecil berkilau diterpa cahaya lampu warm white.
"Sekar Ayu – Traditional Spa & Therapy (Khusus Reservasi)"
Aku menghela napas pelan, melonggarkan kancing teratas seragam PNS-ku. Aku melangkah ke dapur, mencoba mengabaikan keheningan yang terasa "berisik" dari balik tirai penyekat itu. Di sana, di dalam ruang praktik mandiri yang dulunya adalah ruang keluarga kami, istriku sedang bekerja.
Lintang GelapSekar Ayu, istriku yang biasa kupanggil Ayu, bukan lagi terapis di gerai spa bintang lima pusat kota. Potongan komisi tempat lamanya yang mencekik membuat Ayu nekat mundur dan membawa modal keterampilannya ke rumah. Aku awalnya mendukung penuh. Toh, Ayu adalah wanita yang sangat profesional. Bertahun-tahun di industri itu, dia selalu memegang teguh etika kerja. Tidak ada layanan "plus-plus", tidak ada ruang untuk kompromi moral.
Aku menuang air dingin ke dalam gelas, lalu duduk di meja makan yang posisinya lurus dengan ruang tengah. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat siluet dari balik kain tirai yang agak menerawang karena lampu di dalam ruang praktik menyala jauh lebih terang.
Terdengar suara gumaman rendah seorang pria, disusul suara kekehan kecil.
"aduh, Mbak Ayu... tanganmu ini kok makin ajaib aja… pas di bagian belikat situ, ahh... pas banget… enakk," ujar suara pria itu. Aku mengenali suaranya. Itu suara Pak Danang, salah satu pelanggan kaya yang dulu sering menjadwalkan sesi dengan Ayu di spa lama, dan kini ikut pindah menjadi klien mandiri di rumah kami.
"ini karena Pak Danang kurang istirahat, makanya ototnya tegang semua... tahan sebentar ya, Pak, saya tekan sedikit," terdengar suara Ayu. Lembut, tenang, dan sangat santun khas perempuan Jawa.
Aku meminum air di gelasku perlahan. Mataku terpaku pada tirai. Di spa tempat Ayu bekerja dulu, ada aturan ketat: tirai tidak boleh ditutup rapat penuh, ada CCTV di koridor, dan manajer selalu berlalu-lalang. Di sini? Di rumah kami sendiri, aturan-aturan itu menguap. Hanya ada Ayu, kliennya, dan pintu rumah yang dikunci dari dalam demi kenyamanan privasi.
"Mbak Ayu kalau di rumah gini kok kelihatan beda ya? lebih... seger... suamimu beruntung banget punya istri telaten begini… tiap hari dipijit ya?" goda Pak Danang lagi. Nada bicaranya jelas memancing. Ada selipan tawa nakal yang sengaja diulur untuk melihat respons istriku.
Aku menengguk air sampai habis. Jantungku tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Anehnya, itu bukan detak jantung karena amarah, panas, atau cemburu. Ada sengatan listrik aneh yang merambat di balik tengkukku, membuat bulu kudukku meremang.
Dari balik tirai, aku bisa melihat bayangan siluet Ayu yang membungkuk di atas ranjang pijat, melakukan teknik effleurage pada punggung Pak Danang. Ayu hanya mengenakan kain kemben batik dan kaus polos ketat agar bebas bergerak.
"ahhh, Pak Danang bisa aja... saya sama suami biasa aja, Pak," jawab Ayu. Nadanya tetap berusaha profesional, namun tidak ada teguran keras atau sikap dingin seperti yang biasa ia ceritakan dulu jika ada klien nakal di spa lama. Di rumah sendiri, Ayu tampaknya sadar ia harus menjaga hubungan baik dengan pelanggan agar modalnya tidak mati.
"halah, biasa saja gimana toh…. kalau saya punya istri kayak Mbak Ayu, nggak bakal saya bolehin kerja, saya kurung terus di kamar," sahut Pak Danang, kali ini terdekan suara gesekan kain, seolah pria itu sedikit menorehkan pandangannya atau menggeser posisi tubuh untuk menatap Ayu yang berdiri di sampingnya.
"kulitnya halus banget, Mbak... pakai lulur apa toh?"
Lintang GelapAku meremas gelas kaca di tanganku. Mataku melebar, menatap lekat-lekat siluet di balik tirai linen itu. Pikiranku mulai liar melompat ke mana-mana. Pria lain sedang mengagumi tubuh istriku, merayu istriku secara terang-terangan di bawah atap rumahku sendiri, hanya berjarak beberapa meter dari tempatku duduk sebagai seorang suami.
Dan yang membuatku merinding pada diriku sendiri adalah: aku sama sekali tidak memiliki hasrat untuk melangkah ke sana dan menghentikannya.
Sebaliknya, aku justru memajukan posisi dudukku, menopang dagu, dan mendengarkan dengan napas yang mulai memburu. Aku menikmati setiap jengkal godaan pria lain yang diarahkan kepada Ayu, istriku tercinta.
…
Pukul lima lebih lima belas menit. Suara deru mobil SUV milik Pak Danang yang perlahan menjauh dari halaman depan menyadarkanku dari lamunan panjang di meja makan. Pintu kayu depan berderit terbuka, lalu tertutup kembali disertai bunyi klik kunci yang diputar dari dalam. Langkah kaki yang ringan dan lambat mendekat ke arah dapur.
Ayu berjalan melepas ketegangan otot-otot bahunya sendiri. Kain kemben batik bermotif parang yang ia kenakan tampak sedikit bergeser di bagian dadas, sementara beberapa anak rambutnya yang basah oleh keringat menempel di pelipis. Aroma minyak cendana yang menguap dari tubuhnya berbaur dengan sesuatu yang lain—aroma asing yang tajam, pekat, dan maskulin. Parfum mahal milik Pak Danang.
"eh, Mas udah pulang rupanya... kok nggak kedengaran?" tanya Ayu, intonasinya yang lembut khas perempuan Jawa mengalun di udara dapur yang pengap. Ia berjalan menuju wastafel, menyalakan keran, dan mulai membasuh tangannya dengan sabun antiseptik hingga berbusa.
"ini baru aja, yang… tadi lihat di depan masih ada mobil Pak Danang, jadi mas langsung ke dapur biar nggak ganggu," jawabku, merapikan kembali posisi dudukku di atas kursi kayu. Aku berusaha menjaga agar suaraku terdengar sedatar mungkin, seolah-olah penalaranku barusan adalah prosedur logis dari seorang pegawai negeri yang menghormati privasi bisnis istrinya.
Ayu mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan kain lap bersih yang menggantung di dinding. "iya, Mas. Pak Danang tadi minta dilebihkan lima belas menit di bagian paha sama betis... katanya kram karena terlalu lama menyetir luar kota... capek banget sepertinya."
Aku memperhatikan cara Ayu berbicara. Nada suaranya tetap tenang, namun ada sedikit jeda di antara kalimatnya. Mataku turun, mengamati jemari tangannya yang bergerak merapikan ikatan kemben di bagian dada atas. Saat kain itu ditarik, sudut mataku menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ada lipatan kertas merah merah muda yang menyembul tipis dari balik belahan kain batik yang membungkus payudaranya. Uang seratus ribuan. Lebih dari satu lembar.
itu pasti uang tips tunai dari Danang. kenapa dia harus menyelipkannya di sana? kenapa Ayu tidak langsung memasukkannya ke dalam kotak kas kecil di ruang praktik?
"capek ya, yang? pelanggan lamamu itu memang paling royal kalau kasih jam tambahan," ujarku memancing, berpura-pura mengambil gelas kosong untuk dibawa ke wastafel, sengaja berjalan mendekatinya agar jarak di antara kami mengikis.
"nggak kok, Mas... udah biasa, toh kerjanya juga di rumah sendiri sekarang... lebih santai," sahut Ayu sembari membalikkan tubuh, memberikan senyuman hangat yang biasa ia berikan setiap kali aku pulang dinas. Ia melangkah menuju kamar mandi dalam untuk membersihkan diri, meninggalkan aroma cendana dan sisa parfum Danang yang masih menggantung di udara koridor rumah kami.
Aku tidak langsung menyusulnya. Aku melangkah pelan menuju ruang tamu yang kini beralih fungsi menjadi ruang terapi. Di balik tirai linen tebal yang masih menyisakan kehangatan suhu ruangan, aku melihat sekeliling. Ranjang pijat yang tertutup seprei putih tampak sedikit kusut di bagian tengah. Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, sebuah botol minyak esensial yang terbuka diletakkan terbalik tutupnya.
Aku mendekati ranjang itu, membungkuk kecil, dan menghirup udara di atas permukaan bantal wajah. Bau keringat pria matang berbaur minyak pijat langsung menusuk indra penciumanku. Di sinilah, beberapa puluh menit yang lalu, seorang pria asing menikmati sentuhan tangan istriku, merayunya di bawah atap rumahku sendiri, sementara aku duduk pasif di luar, membiarkan batas-batas moralitas pernikahanku luluh demi sekeranjang gairah yang tak semestinya.
…
Malam harinya, keheningan kamar tidur kami terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Ayu berbaring di sampingku, hanya mengenakan daster satin tipis berwarna cream. Rambutnya yang hitam panjang digerai bebas di atas bantal, menyebarkan wangi sampo yang gagal sepenuhnya mengubur memori aroma sore tadi.
Aku membalikkan tubuhku, menatap siluet wajahnya dari samping. Kegelapan menyamarkan ekspresinya, namun keintiman ruang tidur ini justru memperkuat gema percakapan yang kudengar sore tadi. Tanganku perlahan bergerak, menyusuri lekuk pinggangnya yang tertutup daster tipis.
Ayu berbalik menghadapku, matanya yang sayu menatapku dalam temaram lampu tidur. "belum tidur, Mas? capek ya kerjanya hari ini?" bisiknya, tangannya yang halus menyentuh dadaku, jemari yang sama yang beberapa jam lalu meredakan ketegangan otot pria lain.
harusnya aku mendobrak tirai itu dan mengusir bajingan itu dari rumahku. tapi kenapa melihat bayangan tangan pria itu di pinggang Ayu justru membuatku tidak bisa berpaling?
"nggak begitu capek kok, yang… cuma kepikiran aja," jawabku lirih, membiarkan jemariku menelusuri pundaknya, merasakan kelembutan kulitnya yang sore tadi dipuji habis-habisan oleh Pak Danang. Ada desakan aneh yang menuntut untuk dilepaskan, sebuah gairah yang lahir bukan dari rasa kepemilikan, melainkan dari kepasrahan bahwa milikku sedang digila-gilai oleh orang lain.
Ayu tersenyum kecil, merapatkan tubuhnya padaku. Ketika napasnya yang hangat mulai menerpa leherku, yang terbayang di benakku bukanlah wajah manis istriku, melainkan siluet tubuhnya yang membungkuk di atas ranjang pijat, menerima setiap kata godaan dengan kepatuhan transaksional yang memabukkan. Aku memeluknya lebih erat, menenggelamkan diriku dalam labirin fantasi yang kubangun sendiri, menjadi arsitek bagi keruntuhan harga diriku yang perlahan mulai kunikmati.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.