Chapter 2
Di Antara Jarak Dan Dosa - 31 Mei 2026 - 2.891 kata
Pagi itu datang dengan kabut tipis yang merayap sunyi di atas sawah. Aku berdiri kaku di ambang pintu kayu rumah, cangkul sudah bertengger di bahu, tapi kedua kakiku terasa berat seperti dipaku ke bumi. Sudah berhari-hari kata-kata Ratih berputar di kepalaku, menciptakan kebisingan yang tak kunjung reda. Malam-malam belakangan ini pun terasa jauh lebih panjang; aku hanya bisa terbaring diam di sampingnya, menghitung helaan napasnya yang pelan sembari mencoba merekam kehangatan tubuhnya yang mungkin takkan lagi ada di sini.
Aku mencintainya. Sungguh. Melebihi apa pun yang pernah aku miliki.
Namun, membayangkan rumah ini tanpanya membuat nyaliku menciut. Aku membayangkan dinding reyot yang makin sunyi, atap bocor yang tak lagi diurus, dan lantai pasir yang akan terasa jauh lebih dingin tanpa kehadirannya. Bagas yang menangis di tengah malam karena lapar, sawah yang harus kuurus sendirian, hingga urusan dapur yang tak pernah kupahami—semuanya terasa mencekik jika tanpa tangan lembut Ratih yang biasanya merapikan segalanya. Aku takut. Takut pulang ke rumah yang hanya berisi kekosongan, takut memejamkan mata tanpa merasakan tubuhnya yang hangat di pelukanku.
Tetapi, setiap kali aku melihat wajah Bagas yang makin tirus, tangisnya saat kaleng susu benar-benar kosong, dan melihat dinding rumah kami yang kian miring dimakan usia, dadaku sesak dengan cara yang berbeda. Hidup kami seolah jalan di tempat. Tak ada perubahan yang berarti, hanya delapan puluh ribu rupiah sehari yang langsung menguap begitu saja untuk bertahan hidup.
Ratih keluar dari dalam, menyodorkan segelas air teh hangat untukku. Rambutnya hanya terikat asal-asalan, baju daster longgarnya sedikit tersingkap di leher, memperlihatkan kulit putih langsatnya yang selalu sanggup membuatku diam-diam menelan ludah.
Aku menarik napas dalam, mencoba membuang segala keraguanku. “Dek.”
Ia menatapku, matanya yang sayu menyimpan harapan yang begitu besar.
“Kamu boleh pergi,” kataku pelan, suaraku terdengar serak di antara kabut pagi.
Sebuah senyum merekah di bibirnya—binar yang sudah lama sekali absen dari wajahnya. Wajah Ratih seketika bercahaya, seolah matahari pagi baru saja benar-benar terbit tepat di depan mataku. Ia melangkah cepat, lalu menghambur ke pelukanku dengan erat. Tubuhnya menempel pas di dadaku; kurasakan napasnya yang memburu, lekuk pinggangnya yang ramping, dan aroma rambutnya yang berbau sabun kampung segera memenuhi indra penciumanku.
"Makasih, Mas," bisiknya tepat di dadaku. "Makasih banyak."
Aku membalas pelukannya, menekankan telapak tanganku ke punggungnya, mencoba menghafal setiap jengkal tubuh yang sebentar lagi akan berada di luar jangkauanku. Aku ingin waktu berhenti berputar di detik ini saja. Aku ingin ia tetap berada di sini, dalam dekapanku, selamanya. Namun, jauh di lubuk hati, aku sadar bahwa aku baru saja melepaskan jangkar yang selama ini menahan kewarasanku.
"Besok kita ke kantor bank yang ada di kecamatan," gumamku di atas kepalanya, mencium puncak rambutnya yang masih lembap. "Ms coba cari pinjaman pake sertifikat tanah."
Ratih mengangguk tanpa melepaskan pelukannya. "Nanti aku siapin semua berkasnya, Mas."
Aku melepaskan pelukan itu dengan berat hati, seolah sedang memisahkan dua bagian tubuh yang sudah menyatu. Ia mundur selangkah, namun sisa-sisa senyum itu masih tertinggal di bibirnya. Kupandang wajahnya sekali lagi—merekam setiap garis lelah yang kini tertutup gairah baru—lalu aku berbalik menuju sawah. Langkahku terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Cangkul di bahuku terasa lebih dingin, seolah ikut merasakan kebekuan yang mulai merayap di hatiku.
Di belakangku, pintu kayu itu tertutup pelan. Rumah kecil kami masih berdiri di sana, reyot dan membisu. Namun entah mengapa, pagi ini rasanya hunian itu sudah mulai kehilangan nyawanya.
…
Malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Angin menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang mulai lapuk, membuat nyala lampu minyak di sudut ruangan bergoyang gelisah. Di sudut kasur, Bagas sudah tertidur lelap; tubuh kecilnya terbungkus selimut tipis yang tak seberapa hangat. Di atas meja kayu dekat jendela, tumpukan berkas telah tersusun rapi oleh tangan Ratih. Surat tanah, fotokopi KTP, hingga akta nikah kami tergeletak di sana—tampak seperti kontrak bisu yang tak mungkin lagi aku hindari.
Aku duduk di pinggir kasur yang berderit, sementara Ratih berada tepat di sampingku. Kami hanya terdiam, menatap tumpukan kertas itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Esok, jika pinjaman itu disetujui, maka waktu kami hanya tinggal menghitung hari. Jarak ribuan kilometer akan segera membentang, membelah hidup kami menjadi dua bagian yang berbeda.
Aku menarik tubuhnya ke dalam dekapanku. Lenganku melingkar erat di pinggangnya, membiarkan dadaku menempel pada punggungnya yang hangat. Aku menghirup aroma rambutnya dalam-dalam, mencoba menyimpannya di dalam memori seolah aroma itu bisa menjadi bekal untuk bulan-bulan sepi yang akan datang. Telapak tanganku menyusuri lekuk pinggulnya, merasakan kelembutan kulit di balik daster tipisnya—sebuah kelembutan yang sebentar lagi hanya akan menjadi ingatan.
“Jangan pergi terlalu lama, dek,” bisikku tepat di telinganya. Suaraku terdengar serak, hampir pecah. “Aku ngga bisa kalo harus hidup sendiri terus...”
Ratih membalas pelukanku, menyandarkan kepalanya di dadaku dengan pasrah. “Aku bakal pulang secepatnya, Mas. Ini semua demi kita bertiga.”
Kami tetap seperti itu untuk waktu yang lama, hingga napas kami mulai memberat karena kantuk. Dekapanku tidak melonggar sedikit pun, seolah-olah jika aku melepaskannya sedikit saja, ia akan menguap hilang malam itu juga. Akhirnya, aku tertidur dalam posisi itu—dengan tangan yang masih melingkar protektif di tubuhnya, mencoba menahan waktu agar tidak pernah sampai ke hari esok.
Kokok ayam yang bersahutan di kejauhan merobek sisa keheningan subuh, memaksaku terjaga dari tidur yang tak pernah benar-benar nyenyak. Pagi masih dibalut kegelapan yang pekat. Aku bangkit dengan raga yang terasa kaku, lalu membasuh diri dengan air sumur yang dinginnya menusuk hingga ke tulang, membuat sekujur tubuhku menggigil hebat. Aku mengenakan celana kain hitam dan kemeja lengan panjang yang paling bersih—satu-satunya pakaian yang kurasa cukup layak untuk menghadap orang-orang di kantor bank nanti. Di sudut lain, Ratih sudah bersiap dengan baju kurung sederhana yang rapi, sementara Bagas terlelap dalam gendongan di punggungnya.
Kami menumpang angkot pagi itu. Jalanan desa yang berdebu terasa semakin sesak oleh penumpang yang berdesakan, membawa aroma keringat dan asap knalpot yang pekat. Berkas-berkas berharga itu disimpan Ratih di dalam tas plastik bening yang ia dekap erat di pangkuan, seolah itu adalah nyawa kami yang baru. Bagas hanya terdiam, matanya yang masih mengantuk menatap kosong ke luar jendela. Sepanjang perjalanan, aku tidak melepaskan tangan Ratih; jari-jemari kami saling bertautan erat, seolah-olah pegangan itu bisa menahan waktu agar tidak berjalan terlalu cepat.
Akhirnya kami tiba di depan kantor bank BUMN di kecamatan. Bangunan itu berdiri pongah dengan pintu-pintu kaca yang mengkilap, memantulkan langit kelabu di atasnya—kontras sekali dengan rumah kayu kami yang sudah mulai melapuk. Kami melangkah masuk, mengambil nomor antrean, dan duduk di kursi tunggu yang keras. Udara dari mesin pendingin terasa begitu dingin dan asing di kulit kami yang terbiasa terpanggang matahari sawah. Kami menunggu lama, sangat lama, hingga suara mesin pemanggil akhirnya menyebutkan nomor kami.
Aku duduk dengan punggung tegang di samping Ratih di dalam ruangan kecil yang kedap suara. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh petugas dengan nada yang datar dan prosedural. Untuk apa pinjamannya, berapa lama kontrak kerja Ratih di Malaysia, jaminan tanah yang dibawa, hingga rincian penghasilan bulananku yang tak seberapa. Ratih menjawab semuanya dengan tenang; suaranya pelan namun menyimpan ketegasan yang tak kuduga. Aku hanya bisa mengangguk sesekali, sementara tanganku mengepal kuat di atas pangkuan, menahan rasa rendah diri yang membuncah.
Setelah hampir satu jam yang menyiksa, petugas itu akhirnya mengangguk. “Pinjaman disetujui secara prinsip. Namun, kami harus melakukan cek lapangan ke rumah dan sawah Bapak terlebih dahulu. Jika semua data sesuai, dana akan cair ke rekening Ibu Ratih dalam satu sampai dua minggu ke depan.”
Ratih seketika tersenyum. Senyum itu merekah lebar, membuat matanya yang sayu kini berbinar penuh harapan. Ia meraih tanganku dan meremasnya pelan di bawah meja, sebuah gestur kemenangan yang ia bagi denganku. Aku membalas senyumnya, namun di saat yang sama, dadaku terasa semakin berat. Senyum itu terlalu indah untuk kulepaskan begitu saja ke negeri orang.
Kami keluar dari gedung bank dengan langkah yang sangat berbeda. Langkah Ratih terasa ringan, seolah beban hidupnya baru saja diangkat sebagian. Sedangkan langkahku justru terasa semakin berat, menyeret ketakutan yang kian nyata. Angkot kembali membawa kami pulang melalui jalanan yang sama, namun rasanya perjalanan ini telah membawa kami menuju sebuah titik yang tak mungkin lagi bisa kembali ke semula.
Angkot kembali membawa kami pulang melalui jalanan berdebu yang sama, namun rasanya perjalanan ini telah mengantar kami menuju sebuah titik yang tak mungkin lagi bisa kembali ke titik semula. Ruang tunggu yang dingin dan pintu kaca bank yang mengkilap tertinggal di belakang, menyisakan kecemasan yang perlahan mulai mengendap di dasar hati.
Tiga hari berlalu dalam penantian yang menyesakkan.
Hari itu panas menyengat. Aku masih membungkuk di sawah, lumpur kering menempel di kaki, keringat mengalir deras di punggung. Cangkul terasa berat di tangan. Tiba-tiba suara Ratih memanggil dari pinggir pematang, napasnya agak tersengal karena berlari sambil menggendong Bagas.
"Mas! Petugas bank sudah datang! cepat pulang sebentar!"
Aku mengangkat kepala, dadaku langsung berdegup tidak keruan. Aku mengusap keringat di dahi dengan lengan yang berlumur tanah kotor, lalu berjalan cepat meniti pematang. Bau matahari dan aroma tanah basah menempel kuat di tubuhku; kemeja lusuhku basah kuyup oleh peluh, sementara celana pendekku penuh dengan percikan lumpur sawah. Begitu sampai di depan pintu kayu rumah, langkahku tertahan melihat dua pria berpakaian rapi berdiri di sana dengan tas kamera dan map tebal di tangan mereka.
Ratih menyambutku di teras dengan wajah gelisah yang dipaksakan ceria. "Mas, ini petugasnya. Mereka mau cek lapangan sekarang."
Aku hanya mengangguk kaku. Di hadapan kemeja mereka yang licin, tubuhku terasa sangat lengket, kecil, dan tidak berharga. Aku meletakkan cangkul di sudut teras, lalu mengambil Bagas dari gendongan Ratih. Anakku langsung menempelkan pipinya di dadaku yang basah dan bau keringat.
Tanpa banyak bicara, kedua petugas itu masuk ke dalam rumah. Kamera mereka berbunyi klik-klik, sebuah suara yang terasa seperti vonis. Mereka memotret atap yang bolong, dinding kayu yang miring ke kiri, hingga lantai pasir yang tidak rata. Bahkan dapur kecil kami yang hanya beralaskan tanah keras tak luput dari bidikan lensa mereka. Setiap sudut yang selama ini aku coba tambal dengan paku karatan dan kayu bekas, kini diabadikan sebagai "risiko kredit".
Aku berdiri di pojok ruangan, memeluk Bagas erat-erat seolah dia adalah satu-satunya harga diri yang tersisa. Rasanya seperti sedang disidang di rumah sendiri. Salah satu petugas mengukur lebar ruangan, sementara yang lain sibuk menulis di map. Aku hanya diam, merasa rumah reyot ini semakin lama semakin mengecil.
Petugas yang memegang map itu berhenti sejenak. Ia menatapku dengan kening berkerut, seolah sedang mencoba menyingkap lapisan lumpur dan kelelahan di wajahku untuk mencari sesuatu yang ia kenal.
"Maaf, Pak... namanya Aris, ya?" tanyanya ragu.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang bersih dan terawat. Aku tidak mengenalinya. Pria di depanku ini terlihat seperti orang yang mapan. "Iya, saya Aris."
Pria itu tiba-tiba tersenyum lebar, sebuah senyum yang terasa asing di rumah tua ini. "Ya ampun, Ris! Ini beneran kamu? Aris yang dulu sering bolos bareng pas SMP? Ini aku, Dani!"
Aku terpaku. Aku menatapnya lebih lekat, mencoba mencari jejak bocah ingusan yang dulu sama-sama bolos sekolah bersamaku. Butuh beberapa detik sampai aku menyadari bahwa pria dengan sepatu pantofel mengkilap ini adalah Dani.
"Dani?" suaraku serak, hampir tidak keluar. "Pangling aku, Dan. Sudah beda sekarang ya."
Dani tertawa, lalu menepuk pundakku—sebuah gerakan yang membuat kemeja putihnya yang wangi terkena noda lumpur dari bajuku. "Wajarlah, Ris. Sudah belasan tahun ngga ketemu. Aku sekarang tinggal di kecamatan sama istriku…"
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu kami yang sempit, lalu menghela napas pendek. "Aku denger kamu masih di desa, tapi ngga nyangka kalau rumahmu yang ini. Dulu aku pikir kamu sudah sukses di kota."
Kalimatnya terasa seperti tamparan halus. Dani sekarang adalah orang kecamatan, punya posisi di bank, dan tinggal di lingkungan yang jauh lebih terhormat, sementara aku masih bergulat dengan tanah yang sama sejak aku kecil.
"Ya... begitulah, Dan. Jaga tanah warisan," kataku pelan.
Dani manggut-manggut, lalu matanya beralih ke arah Ratih yang sedang menyuguhkan segelas air putih di atas meja kayu. Ratih membungkuk sedikit, membuat baju kurungnya tertarik dan memperlihatkan lekuk pinggang serta pinggulnya yang masih kencang di balik kain batik tipis.
Mata Dani tertuju ke sana—lama sekali. Ia menatap leher Ratih yang sedikit berkeringat, lalu turun ke arah tubuh istrinya yang tercetak jelas. Ada binar lapar di matanya yang coba ia sembunyikan di balik senyum ramah.
"Beruntung kamu punya istri yang mau berjuang demi bantu ekonomi keluarga. Istriku... yah, dia tahunya belanja… ngabisin duit hahahaa"
Ratih tersenyum malu, menunduk tanpa menyadari tatapan Dani yang seolah sedang menguliti tubuhnya. Aku mengepalkan tangan di balik tubuh Bagas. Ada mual yang mulai naik ke kerongkonganku—rasa malu karena kemiskinanku yang dipamerkan, dan rasa takut karena menyadari bahwa teman lamaku sedang menaksir "harta" terakhir yang aku miliki.
Dani menoleh ke arah temannya yang sejak tadi sibuk di area dapur yang gelap. "Sudah semua, Yud? Foto juga itu bagian tiang penyangga yang sudah keropos. Pastikan sudut miring dindingnya terlihat jelas buat data pendukung," perintahnya dengan nada otoriter yang dibuat-buat.
Pria bernama Yuda itu mengangguk tanpa ekspresi. Klik. Klik. Suara kamera ponselnya berbunyi berulang kali, setiap bunyinya terasa seperti tembakan yang menguliti satu per satu rahasia kemiskinan yang selama ini kututupi dengan rapat. Ia membidik tumpukan kayu bekas di pojok ruangan, langit-langit yang menghitam karena asap tungku, hingga retakan di lantai semen yang sudah kembali menjadi tanah. Di mata mereka, itu hanyalah variabel untuk menentukan angka risiko. Bagiku, itu adalah bukti fisik dari kegagalanku sebagai laki-laki.
Dani kembali menatap map tebal di tangannya, dahinya berkerut seolah sedang memecahkan teka-teki rumit. Ia membolak-balik berkas sertifikat tanahku dengan jari-jarinya yang bersih.
"Jujur saja ya, Ris," Dani memulai, suaranya kini terdengar seperti seorang guru yang sedang mengasihi murid bodohnya. "Kalau mengikuti prosedur kaku di kantor, data ini pasti langsung mental. Kondisi fisik bangunanmu... yah, kamu lihat sendiri. Nilai agunannya sangat rendah kalau dibandingkan dengan plafon tiga puluh juta yang kamu ajukan."
Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. Ratih di sampingku tampak menahan napas, tangannya meremas pinggiran daster dengan cemas.
"Tapi tenang aja," Dani tiba-tiba menutup map itu dengan bunyi plak yang mantap. Ia menatapku, lalu beralih menatap Ratih dengan senyum yang dipaksakan ramah. "Karena kita teman lama, dan aku paling tidak bisa lihat teman susah, nanti laporannya biar aku yang 'perhalus'. Data teknisnya aku sesuaikan sedikit supaya skor kreditnya masuk. Anggap saja ini bantuan dariku karena dulu kita pernah sama-sama susah."
Ratih seketika mengembuskan napas lega, wajahnya yang tadi tegang kini berubah cerah. "Ya Allah, terima kasih banyak ya, Pak Dani. Benar-benar penolong keluarga kami. Kalau bukan karena Pak Dani, mungkin kami sudah putus asa."
Lintang GelapDani tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat puas. "Ah, jangan panggil Pak, Bu Ratih. Panggil saja Dani, biar enak. Saya bantu ini juga karena saya percaya Ibu Ratih pasti bisa sukses di Malaysia. Nanti kalau sudah cair dan sudah di sana, jangan lupa yaa," ucapnya sambil melirik Ratih dengan binar yang sulit diartikan.
Ia lalu menepuk pundakku sekali lagi—sebuah tepukan yang terasa sangat berat. "Sudah ya, Ris. Prosedur lapangannya sudah selesai. Besok lusa aku buatkan rekomendasinya. Doakan saja lancar di meja pimpinan."
Aku hanya bisa mengangguk kaku dan menggumamkan terima kasih yang terasa hambar di lidah. Dani berjalan keluar menuju motornya dengan langkah tegap seorang pemenang, sementara aku tetap berdiri di tengah rumahku yang baru saja "ditelanjangi", merasa berhutang nyawa pada seorang pria yang baru saja menatap istriku seolah-olah ia adalah bagian dari jaminan hutang tersebut.
Suara deru motor itu perlahan lenyap, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Debu jalanan masih menggantung di udara, bercampur dengan sisa aroma parfum mahal Dani yang seolah menempel di dinding-dinding kayu kami yang lembap.
Ratih membalikkan badan, matanya berbinar menatapku. Ia tampak seolah baru saja melihat gerbang surga terbuka sedikit.
“Mas, dengar tadi kan? Pak Dani mau bantu. Semuanya bakal lancar,” ucapnya dengan nada riang yang justru terasa seperti sembilu di telingaku. Ia mendekat, hendak menyentuh lenganku, tapi aku refleks mundur selangkah.
“Dia bukan penolong kita, dek,” gumamku dengan suara yang nyaris hilang.
Ratih terhenti, senyumnya sedikit memudar. “Maksud Mas apa? Diakan teman lama Mas sendiri. Kalau bukan karena dia, bank mana yang mau minjamin uang untuk rumah kita ini?”
Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada kartu nama putih bersih yang tergeletak di atas meja kayu—sebuah benda yang terlihat sangat suci di tengah kotoran dan kemiskinan rumah kami. Aku teringat bagaimana jari Dani sengaja berlama-lama menyentuh kulit Ratih saat bersalaman. Aku teringat bagaimana ia menguliti aib rumah ini dengan lensanya, seolah setiap retakan di dinding adalah alasan baginya untuk merasa lebih berkuasa.
Malamnya, rumah itu terasa lebih dingin. Bagas sudah terlelap, namun napasnya yang teratur terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung mundur keberangkatan ibunya. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, aku melihat Ratih mulai menyusun pakaiannya ke dalam tas plastik besar. Ia melakukannya dengan sangat rapi, seolah setiap lipatan adalah langkahnya meninggalkan tempat ini. Setelahnya ia tidur menyamping di kasur memeluk bagas.
Lintang GelapAku berbaring memunggungi Ratih, memejamkan mata rapat-rapat. Namun, bayangan Dani yang menatap lekuk tubuh istriku tidak mau hilang. Ia tidak hanya menyetujui pinjaman itu; ia sedang membeli jalan masuk ke dalam hidup kami.
Tiba-tiba, ponsel tua Ratih di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk. Di tengah kegelapan, cahaya layarnya memantul di langit-langit kamar yang bocor.
Aku menoleh sedikit, cukup untuk melihat nama pengirim yang muncul di layar: Pak Dani Bank.
“Sudah tidur, Bu Ratih? Besok lusa saya mampir lagi sebentar. Ada berkas tambahan yang harus Ibu tanda tangani sendiri. Tanpa Aris juga tidak apa-apa, biar tidak repot.”
Dadaku seketika terasa kosong, seolah jantungku baru saja dicabut paksa. Aku tidak bergerak. Aku tidak bersuara. Aku hanya menatap punggung Ratih yang perlahan meraih ponsel itu, sementara di luar sana, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dinding rumah kami yang semakin miring—seolah sedang bersiap untuk runtuh sepenuhnya.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.