Chapter 1
Di Antara Jarak Dan Dosa - 29 Mei 2026 - 1.327 kata
Tahun 2019
Matahari sore itu merayap pelan ke balik barisan padi yang menguning. Cahayanya yang jingga menyelinap melalui celah-celah daun, meninggalkan bayang-bayang panjang di tanah yang retak. Aku melangkah pulang dengan langkah berat, cangkul di bahu kanan, kemeja lusuh menempel di punggung yang basah keringat. Otot-otot lenganku terasa tegang setelah seharian membungkuk di sawah milik Pak Haji. Delapan puluh ribu. Itu yang aku bawa pulang hari ini. Cukup untuk bertahan, tapi tidak pernah cukup untuk bernapas lega.
Rumah kayu kecil kami muncul di ujung gang tanah. Dindingnya sudah menghitam karena usia, lantai pasirnya masih lembab karna hujan siang tadi. Sebelum kakiku menyentuh ambang pintu, suara tangis Bagas sudah menyambut. Tangisan kecil yang pecah-pecah, seperti biasa ketika perutnya mulai keroncongan.
Kudorong pintu yang berderit pelan. Di dalam, Ratih berdiri membelakangiku, tubuhnya sedikit membungkuk. Kain batik panjang melilit pinggulnya, menonjolkan lekuk pinggang yang ramping sebelum melebar ke bawah. Rambut hitamnya diikat asal, beberapa helai terlepas dan menempel di leher yang berkeringat. Bagas berada di gendongannya, tubuh kecil anak kami meronta pelan, tangan mungilnya mengepal kain baju Ratih.
"Bagas... sabar ya, Nak. Ibu lagi siapin susunya," gumam Ratih pelan, suaranya lelah tapi lembut. Ia mengayun tubuhnya perlahan, mencoba menenangkan tangis yang semakin menjadi.
Aku letakkan cangkul di sudut ruangan. Bunyinya pelan mengenai dinding kayu. "Kenapa dia nangis lagi, Tih?"
Ratih menoleh. Matanya yang sayu bertemu dengan mataku sesaat. Wajahnya masih cantik, meski ada lingkar hitam tipis di bawahnya. "Mas Aris udah pulang. Bagas laper sejak tadi, susunya tinggal sedikit, Mas. Aku cuma bisa kasih air tajin tadi siang."
Bagas mendengar suaraku. Tangisannya reda sejenak, lalu tangan kecilnya terulur ke arahku. "Bapak..."
Aku angkat tubuhnya dari gendongan Ratih. Badannya ringan, terlalu ringan. Kulitnya hangat menempel di dada ku yang masih basah keringat. Aku usap punggungnya pelan, merasakan tulang rusuk yang menonjol di balik baju tipis. "Sini, Nak. Bapak bawa pulang sesuatu buat kamu…."
Ratih berbalik sepenuhnya. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Gerakannya membuat baju longgarnya sedikit tertarik, memperlihatkan garis dada yang penuh sebelum ia buru-buru merapikannya. "Makan dulu, Mas. Aku udah masak kangkung sama ikan asin. Nasinya juga masih hangat."
Aku duduk di tikar anyaman yang sudah tipis di tengah. Bagas tetap di pangkuanku, kepalanya bersandar di bahu ku. Bau tanah dan keringat anak kecil bercampur dengan aroma masakan sederhana yang mengepul dari dapur kecil. Ratih menyendokkan nasi ke piring, gerakannya pelan, seperti menyimpan tenaga untuk malam nanti.
Lintang GelapAku perhatikan punggungnya saat ia membungkuk. Lekuk pinggul yang masih kencang meski sudah melahirkan. Aku bisa menikahi Ratih karena sebuah keberuntungan, dimana pada saat itu kedua orang tua Ratih meninggal saat menaiki bus antar kota, dimana Ratih yang baru lulus sekolah hanya bisa hidup sendirian di temani kakek neneknya, kesempatan itulah yang membuatku memberanikan diri melamar Ratih yang masih muda. Aku sangat cekatan sebelum orang lain meminangnya. Di tambah aku sudah sangat dekat dengan kakek neneknya. Sekarang, di rumah ini, aku masih merasa beruntung setiap kali melihat dia bergerak di depanku.
Ratih duduk di sebelahku. Bahu kami bersentuh ringan. Kehangatan tubuhnya merembes melalui kain tipis, kontras dengan angin malam yang mulai masuk dari celah dinding. "Mas capek ya hari ini?" tanyanya pelan, sambil menyodorkan piring.
Aku mengangguk saja. Nasi terasa kasar di lidah, tapi aku kunyah perlahan. Bagas mulai mengantuk di pangkuan, napasnya pelan dan teratur. Di luar, suara jangkrik mulai naik, menyatu dengan hembusan angin sawah. Malam turun pelan, membawa dingin yang merayap ke tulang.
Aku pandang Ratih lagi. Matanya tertuju ke lantai pasir, tapi ada sesuatu di sana—keletihan yang lebih dalam dari sekadar kerja rumah. Aku taruh tangan di lututnya, merasakan kulit yang halus di balik kain. Belum ada kata-kata lebih. Hanya diam yang penuh, seperti api kecil yang masih menyala di antara kami, meski angin kemiskinan selalu berusaha meniupnya redup.
Tiba-tiba Ratih menggeser tubuhnya sedikit. Ia menarik napas panjang sebelum bicara, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
"Mas... ekonomi kita kok ngga kunjung membaik ya…”
“Tiap hari aku lihat bagas nangis karna laper… susunya sering habis sebelum waktunya. dadaku sakit, mas… aku ngga tahan liat anak kita kekurangan gizi begini."
Aku diam. Sendok nasi di tanganku berhenti di udara. Aku rasakan dadaku mulai sesak, tapi aku biarkan dia melanjutkan.
Ratih menunduk, jari-jarinya memilin ujung kain batiknya.
"Beberapa teman sekolah aku dulu yang pergi ke malaysia jadi TKW... sekarang rumah mereka udah pada bagus mas, temboknya tinggi, lantainya marmer mengkilap…”
“Anak-anak mereka bisa makan susu yang bagus tiap hari..”
Ratih menghela nafasnya, lalu kembali meneruskan bicaranya.
“Aku masih muda, mas… kupikir... aku bisa coba ikuti jejak mereka…”
“Tapi aku ngga mau pergi tanpa izin Mas Aris. Aku butuh persetujuan mas dulu."
Kata-kata itu seperti pukulan keras di dada. Aku letakkan sendok dengan kasar. Bagas geliat sedikit di pangkuanku, tapi tetap tertidur. Aku tatap wajah Ratih yang cantik di bawah cahaya lampu. Bibirnya yang penuh, mata yang sayu, lekuk tubuh yang selalu membuat aku diam-diam bersyukur dia milikku.
"Ngga," jawabku pendek, suaraku kasar. "Kamu ngga usah pergi, tih... gimana dengan bagas? dia masih kecil lhoo... masa iya kamu tega ninggalin dia sendirian sama aku yang tiap hari di sawah? aku juga ngga mau hidup sendiri di rumah ini..."
Aku diam sejenak. Pikiranku melayang ke tubuh Ratih yang kini duduk begitu dekat. Kulitnya yang halus, dada yang penuh di balik baju longgar, pinggul yang menggoda setiap kali ia berjalan.
“kalau dia pergi, siapa yang akan menghangatkan malam-malamku? wanita secantik dan seindah ratih ini... ngga, aku ngga rela.”
"kamu di sini saja," lanjutku, nada lebih tegas meski dada masih terasa berat. "kita cari jalan lain, aku bisa kerja lebih keras. Besok aku tanya pak haji, mungkin ada sawah tambahan yang bisa aku kerjain..."
"Aku tetep pengen pergi, mas," katanya pelan tapi tegas. "Bagas bisa diasuh nenek saja. Tiap pagi mas antar dia ke sana sebelum ke sawah.”
“Nenek juga sudah tua, pasti seneng kalau ada cucu yang nemenin.”
“Kita sudah empat tahun hidup begini, mas. Dari dulu sebenarnya aku ingin merantau, tapi aku tahan. Sekarang... ekonomi ngga kunjung membaik. Rumah ini sudah mulai reyot, dindingnya bolong, atap bocor.. aku pengen ngubah nasib mas…"
Aku terpojok. Alasan itu masuk akal, terlalu masuk akal. Aku rasakan dada ku sesak, tapi mulutku sulit membantah. Ratih melanjutkan, suaranya semakin mantap.
"Dari mana duitnya?" tanyaku akhirnya, suara ku kasar. "jadi TKW itu ngga gratis, tih. kamu tahu sendiri."
Ratih mengangguk kecil, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. "Aku sudah pikir matang, mas. Kita bisa hutang ke bank. Jaminannya sertifikat tanah rumah ini. Biaya keberangkatan sekitar dua puluh lima juta.
“Gajinya... teman-teman bilang tujuh sampai sepuluh juta per bulan. Dalam tiga tahun aku bisa lunasi. Cicilan paling cuma satu juta per bulan. Selebihnya bisa aku kirim pulang."
Aku tertegun. Angka-angka itu mengalir begitu lancar dari mulutnya. Semua terdengar sangat matang, seperti rencana ini sudah lama di pikirannya. Aku tidak bisa langsung membantah.
"Lalu... gimana nanti kita berhubungan?" tanyaku pelan, hampir ragu. "Kita cuma punya satu hp… hp yang kamu pegang. Kalau aku kangen, gimana?"
Ratih tersenyum tipis. Senyum yang lembut, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat perut ku terasa dingin. "Dana pinjaman itu bisa ditambah sedikit, mas. Kita beli hp kecil saja, satu juta cukup. Tinggal naikkan pinjamannya. Nanti kita bisa telepon setiap hari. Video call juga kalau sinyal bagus."
Ia menyentuh lengan ku ringan. Jari-jarinya hangat, tapi sentuhan itu terasa jauh. Aku pandang wajahnya lagi—cantik, lelah, penuh harapan. Tubuh yang selama ini hanya milikku, yang kini mungkin- sebentar lagi akan berada ribuan kilometer jauhnya.
Aku diam lama. Angin sawah meniup masuk melalui celah dinding, membawa dingin yang merayap ke tulang. Bagas mendesah pelan dalam tidurnya. Rumah kecil ini terasa semakin sempit, semakin reyot, dan untuk pertama kalinya aku merasa... kecil.
"Aku... pikirin dulu ya, tih," gumamku akhirnya. Suara ku terdengar lemah di telinga sendiri.
Ratih mengangguk lagi. Ia tidak memaksa lebih jauh malam itu. Tapi aku tahu, keputusan itu sudah mulai bergeser. Dan entah kenapa, di balik dada yang sesak, ada bayangan samar yang mulai muncul—sosok orang lain, di negeri jauh, yang mungkin akan melihat apa yang selama ini hanya aku yang boleh lihat.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.