Chapter 16
Di Antara Jarak Dan Dosa - 13 Juni 2026 - 3.209 kata
Aku masih berdiri di ambang pintu dapur ketika suara langkah Mas Aris menjauh dari halaman rumah. Derit bambu di teras terdengar pendek, lalu hilang ditelan panas siang. Setelah itu, rumah kami kembali diam. Terlalu diam. Hanya ada suara kayu tua yang sesekali berkerut karena angin, suara api tungku yang hampir mati, dan napasku sendiri yang masih belum bisa teratur sejak tadi. Aku tak langsung bergerak. Tanganku masih menggenggam ujung meja, erat sekali, sampai ruas-ruas jariku terasa kaku. Di paha kiriku, bekas sentuhan Pak Dani tadi seperti masih tertinggal. Bukan luka. Bukan juga rasa sakit yang bisa kulihat. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat kulitku terasa kotor meski kain dasterku masih menutup tubuhku rapat-rapat. Aku menunduk, menatap lantai tanah yang kusam. Di sanalah juga Mas Aris berdiri beberapa menit lalu, dengan mata merah dan suara yang dingin, menatapku seolah aku telah melakukan dosa yang bahkan belum sempat kupahami bentuknya. Dadaku sesak. Bukan hanya karena Pak Dani. Bukan hanya karna tangannya yang berani menyentuhku, atau cara dia menatapku seperti aku miliknya.. Yang paling membuatku sakit justru tatapan Mas Aris. Tatapan suamiku sendiri. Tatapan laki-laki yang dulu meminangku dengan tangan gemetar, yang dulu berjanji tidak akan membuatku menangis seperti bapakku membuat ibu
Chapter ini membutuhkan 3 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.