Chapter 17
Di Antara Jarak Dan Dosa - 23 Juni 2026 - 5.169 kata
Rangka besi ranjang periksa itu berdecit pelan setiap kali aku bergeser. Kriet. Kriet. Lapisan kulit sintetisnya terasa dingin di punggungku, licin dan asing, berbeda jauh dari kasur tipis di rumah yang selalu berbau sabun murah dan keringat Bagas. Lampu neon di atas kepalaku menyala putih menyilaukan, membuat ruangan itu terasa terlalu bersih, terlalu terang, seolah tidak ada satu pun bagian dari tubuhku yang bisa bersembunyi. Dokter pria paruh baya bertubuh tinggi besar di hadapanku menghela napas panjang. Matanya dikelilingi lingkar hitam kelelahan. Ia tidak benar-benar menatap wajahku. Ia hanya menatap lembar pemeriksaan di tangannya, lalu menempelkan stetoskop logam ke kulit perutku. Dingin. Aku merinding. Otot-otot perutku otomatis mengeras, seolah tubuhku sendiri sedang berusaha menolak benda asing yang menyentuh kulitku. “Ibu, Tegang banget. Perutnya keras begini,” gumamnya datar, khas dokter yang sudah memeriksa terlalu banyak tubuh hari itu. Ia menoleh sebentar ke arah perawat di sebelahnya, lalu kembali menatap formulir. Perawat di sebelahnya tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, lebih seperti usaha mencairkan suasana. Aku ikut tertawa. Pendek, canggung, dan hampir tidak bersuara. Bukan karena ada yang lucu, tapi karena rasa gugup yang sejak tadi menggumpal di dada akhirnya pecah sedikit. “Iya, Dok. Saya gugup, soalnya belum pernah diperiksa begini,” jawabku pelan,
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.