Chapter 14
Di Antara Jarak Dan Dosa - 4 Juni 2026 - 2.459 kata
Sudah dua hari sejak kami pulang dari kantor bank di kota kecamatan. Dua hari sejak berkas-berkas kusam itu diserahkan ke tangan dingin pegawai bank, sejak beberapa lembar kertas bermaterai ditandatangani dengan tangan yang gemetar menahan takdir, dan sejak harapan yang semula hanya berani kami bisikkan laksana mantra di kegelapan malam mulai terasa seperti sesuatu yang mungkin benar-benar mewujud jadi nyata. Namun sampai sore itu, belum ada tanda-tanda petugas yang datang. Hawa di dalam gubuk terasa lengket dan pengap, dipenuhi kecemasan yang menggantung pekat di antara kepulan asap dapur. “Katanya nanti ada survei ke rumah, kan, Mas?” tanyaku pelan, jemariku mencengkeram erat centong kayu, mengaduk perlahan nasi yang mengepul di atas tungku batu. Uap panasnya menyengat wajahku, menyamarkan mataku yang mulai perih. Mas Aris duduk di amben dekat pintu kayu yang terbuka, menghela napas panjang laksana melepas sebongkah beban dari dadanya. Ia melepas caping anyamannya yang basah kuyup oleh rembesan keringat sawah, lalu meletakkannya begitu saja di atas lantai tanah. “Iya. Katanya begitu,” sahutnya pendek, suaranya terdengar begitu lelah dan serak. “Kapan?” tanyaku lagi, mendesak pelan tanpa menoleh. Ia menggelengkan kepala lambat, jemarinya memijat tengkuknya yang legam terbakar matahari. “Nggak tahu. Mungkin besok. Mungkin lusa.” Aku kembali menunduk, menatap dalam-dalam ke
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.