Chapter 13
Di Antara Jarak Dan Dosa - 2 Juni 2026 - 3.419 kata
Mas Aris pernah mengira aku pergi karena tidak tahan hidup miskin bersamanya. Ia salah. Aku tahan lapar. Aku tahan memakai daster yang sama bertahun-tahun, tidur di bawah atap bocor, memasak dengan minyak sisa, dan menelan malu setiap kali harus berutang di warung. Yang tidak bisa kutahan adalah melihat Bagas ikut belajar menelan kekurangan sebelum ia bahkan mengerti arti kata miskin. Itulah bagian yang tidak pernah benar-benar dilihat Mas Aris. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia terlalu sibuk merasa gagal sebagai suami, sampai tidak sadar bahwa aku lebih dulu hancur sebagai ibu. Pagi itu, semuanya bermula dari hal yang sangat kecil: segelas susu yang tidak lagi mampu kubuat dengan takaran semestinya. Aku mengurangi satu sendok susu lagi pagi itu. Sendok plastik kecil itu menggantung ragu beberapa saat di atas gelas, sementara uap air hangat naik pelan dari dalam gelas, mengepul tipis dan mengaburkan pandanganku yang mulai basah. Tanganku tidak langsung bergerak. Ada sesuatu yang teramat berat menahan pergelangan tangan ini, seolah sepotong besi tak kasat mata sedang mengikatnya. Di dapur kecil yang pengap oleh bau asap tungku itu, menakar bubuk putih bukan lagi sekadar urusan membuatkan minum untuk anakku. Itu sudah menjadi cara paling sunyi untuk menghitung kegagalanku sendiri.
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.