Chapter 9
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 25 Juli 2026 - 3.347 kata
Kling! Kling! Kling!
Suara sendok stainless beradu ritmis dengan dinding cangkir keramik tipis membuka pagi. Uap tipis beraroma biji kopi hitam murah membumbung, beradu dengan hawa pengap kamar yang disapu angin malas dari kipas dinding.
“Mas, gulanya habis nih,” celetuk Mila tanpa menoleh.
Dia berdiri membelakangiku di depan meja kayu kecil. Daster abu-abu tipis yang dipakainya tampak kusut di bagian punggung, sisa rebahan beberapa jam setelah kepulangannya tadi malam. Rambut panjangnya digulung asal menggunakan jepitan badai besar, menyisakan leher belakangnya yang mulus.
Lintang GelapAku mengangkat kepala dari layar ponsel, memperhatikan lekuk pinggulnya yang bergoyang pelan mengikuti irama sendok.
“Terus?”
“Ya kopinya jadi pahitlah, oneng!,” jawabnya manja. Sendok kecil di tangannya mendadak berhenti. Dia berbalik setengah badan, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja sambil memegang cangkir. “Beli gula sana.”
“Pakai uang siapa?”
“Pakai uang suamiku dong….”
Aku menatapnya datar. “Suami yang mana?”
Mila seketika membelalakkan mata bulatnya, lalu tawa renyahnya pecah. Dia melangkah mendekatiku, ujung jarinya yang lentik mendarat di pipiku lalu mencubitnya gemas.
“Mulai deh! Maksudnya Mas Yuda, suamiku yang paling ganteng sejagad Kost Mulia Jaya! Puas?” godanya sambil mengerlingkan mata centil.
“Pagi-pagi udah cari perkara kamu,” gumamku sambil menahan senyum.
“Biar Mas langsung melek, nggak merem-melek mikirin argo,” balasnya riang.
Dia mengangkat cangkir keramik itu ke depan bibirnya, meniup permukaannya pelan, lalu mencicipinya sedikit menggunakan ujung sendok. Dahi mulusnya seketika berkerut tajam, bibir tipisnya mengerucut.
“Pahit banget, asli. Kayak janji manis politikus.”
“Itu punya Mas?” tanyaku sambil melirik cangkir plastik polos lain di dekat termos.
“Bukanlah... Punya Mas mah yang di cangkir plastik, udah tak kasih setengah sendok gula sisa kemarin,” sahutnya santai.
“Terus yang pahit itu punya siapa?”
Mila tidak langsung menjawab. Dia mengaduk ulang cangkir keramik di tangannya, mempermainkan rasa penasaran di wajahku dengan senyuman misterius yang amat kukenal.
“Punya orang tua yang semalam setia nungguin aku sampai tengah malam di teras...”
Darah di dadaku berdesir hangat. Aku menahan senyum. “Pak Seno?”
“Siapa lagi kalau bukan, Bapak Kost kita yang paling perhatian?”
“Kirain buat Mas Ivan,” pancingku pelan.
Gerakan tangan Mila terhenti seketika. Dia menatapku lurus, memiringkan kepalanya dengan tatapan menghakimi yang dibuat-buat.
“Mas... mulai lagi kan penyakit kumatnya?”
“Lho, kan cuma nanya.”
“Mas Ivan mah sukanya Americano dingin dari kafe mahal, Mas. Mana doyan kopi sachet tanggal tua yang diseduh pakai air termos dispenser begini,” cerocosnya tanpa beban, menyindir halus ketimpangan sosial kami.
“Ooh... berarti hafal banget nih… selera bosnya?”
Mila mendengus geli. Dia menyambar bungkus kopi kosong di meja, meremasnya jadi bola kecil, lalu melemparnya tepat ke dadaku. Puk!
“Cemburunya belum kelar dari semalam, hah?” celetuknya sambil menyilangkan tangan di dada. “Yang nanyain siapa yang fotoin, siapa yang nyetir mobil, duduknya di depan atau belakang... itu siapa coba kalau bukan Pak Driver Yuda?”
“Aku cuma mastiin aja kok…,” sahutku membela diri.
“Mastiin apaan?”
“Mastiin istriku pulang dalam keadaan lengkap.”
Mila menahan tawa sampai kedua pipinya menggembung lucu. “Lengkap gimana maksudnya?”
Aku menyapu pandanganku dari rambut berantakannya turun ke dada, pinggang, hingga betis mulusnya. “Ya... lengkap. Enggak ada yang kurang, enggak ada yang lecet.”
Mila mengikuti arah tatapanku. Bukannya risih, dia justru melakukan pemeriksaan tubuh dengan gerakan komikal.
“Tangan... dua,” ujarnya sambil mengangkat kedua lengan halus ke udara. “Kaki... dua.” Dia mengangkat satu kakinya, nyaris hilang keseimbangan sebelum cepat-cepat berpegangan pada paha atasku. “Mulut... satu.”
“Mulut kamu kayaknya ada tiga deh,” selutukku.
Mila tertawa renyah, tubuhnya condong ke depanku. “Banyak amat! Yang dua lagi buat apa?”
“Satu buat ngeledek suami. Satu lagi... buat bapak kost.”
Kalimat itu keluar dari mulutku dengan nada tenang, namun sarat dengan pancingan gairah yang terselubung.
Mila terdiam sejenak. Tatapannya mendadak berubah jenaka, penuh kilat provokatif yang membuat jantungku berdegup satu kali lebih kencang. Ujung bibirnya ditarik ke atas.
“Masih mau dilanjutin nih permainannya?” bisiknya.
“Apanya?”
“Mainan kita…. Yang semalam Mas minta.”
Aku menatap cangkir kopi hitam di tangannya. “Kan kamu sendiri yang nawarin.”
“Ya soalnya semalam aku sudah terlanjur janji.”
“Janji sama siapa?”
“Sama Pak Seno di bawah,” jawabnya ringan, seolah-olah janji itu adalah hal paling wajar di dunia.
Sentuhan kepemilikan di dadaku meremas pelan. Perih, tapi membakar.
“Mas nggak ikut turun?” tanya Mila sambil membenarkan letak jepitan badainya.
“Ngapain?”
“Nemenin aku lah. Biar makin seru.”
“Ah, jangan…. Nanti Pak Seno malah canggung, nggak berani ngomong.”
Aku mengangkat bahu. “Ya terserah dia mau ngomong apa.”
Mila memandangiku selama beberapa detik penuh. Jarinya mengetuk-ngetuk sisi cangkir. Tatapannya makin nakal.
“Nanti Mas mau ngintip dari koridor atas lagi?”
“Siapa yang ngintip?”
“Mas Yuda lah! Siapa lagi pengintip handal di kostan ini?”
“Buktinya mana?”
“Belum ada.” Mila mengambil tatakan plastik kecil, menaruh cangkir di atasnya dengan gerakan anggun. “Makanya ini aku mau cari buktinya.”
Dia berbalik melangkah menuju pintu kayu kamar. Tanganku reflek meraih ponsel di kasur, berpura-pura sibuk menggeser layar aplikasi ojol.
Tangan Mila sudah memegang gagang pintu. Sebelum memutarnya, dia menoleh sekilas ke balik bahu.
“Mas...”
“Hmmm?”
“Kalau nanti Pak Seno komplain kopinya kurang manis... gimana?”
“Ya bilang aja gulanya habis.”
Mila tersenyum tipis, matanya menyipit penuh godaan. “Kalau Pak Seno bilang... yang nganterin kopinya yang kemanisan, gimana?”
Aku menoleh tajam.
Mila menahan tawa sampai bahunya berguncang pelan. “Belum turun aja Mas udah tegang gitu mukanya. Lumayan kan, buat bahan Mas panas siang nanti pas narik?”
Tanpa menunggu jawabanku, dia memutar gagang pintu dan menghilang ke luar.
Klek. Tap... tap... tap…
Suara sandal jepitnya menjauh di sepanjang koridor lantai dua, beradu halus dengan lantai semen sebelum ketukannya mengecil menuruni anak tangga.
Aku membeku di tepi kasur. Lima detik. Sepuluh detik. Layar ponselku hanya menampilkan peta jalanan Slipi yang sepi, tapi otak sama sekali tak di sana.
Aku bangkit. Ponsel kuselipkan cepat ke dalam saku celana, lalu melangkah keluar kamar tanpa suara.
Koridor lantai dua masih lengang. Kamar-kamar tetangga masih tertutup rapat. Di tali jemuran koridor, sehelai handuk mandi lebar berwarna merah milik Bu Lastri tergantung melambai-lambai ditiup angin pagi, menghalangi pandangan langsung ke teras bawah.
Aku mengambil posisi rapat di balik pilar, berlindung di belakang celak kain handuk merah itu. Dari celah sempit di antara serat kain dan pagar besi koridor, mataku mengunci area teras bawah.
Pak Seno sedang di sana. Pria paruh baya itu sedang mengayunkan sapu lidi, membersihkan daun-daun kering di dekat pot bunga. Sarung kotak-kotak hijaunya dilipat tinggi hingga batas betisnya yang berbulu. Kaos oblong cokelatnya yang melar membungkus perut buncitnya. Sebatang rokok kretek terselip di sudut bibirnya, mengepulkan asap tipis.
“Pak Seno~”
Suara mendayu khas Mila memecah keheningan teras. Sapu lidi di tangan Pak Seno mendadak berhenti berayun.
Pria tua itu mendongak. Begitu matanya menangkap sosok daster abu-abu Mila yang menuruni anak tangga terakhir sambil membawa nampan kecil, alis tebal Pak Seno langsung terangkat tinggi. Matanya yang sayu mendadak berbinar terang.
“Waduh! Bujug buneng!” seru Pak Seno dengan suara Betawi beratnya. Pria itu buru-buru membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya. “Neng Mila! Pagi-pagi udeh bikin teras Bapak wangi aje nih!”
Mila berjalan mendekat, melangkah penuh percaya diri dengan sedikit goyangan pinggul yang sangat natural.
“Ini, Pak. Kopinya sesuai janji semalem…,” ujar Mila ceria, menyodorkan cangkir keramik itu dengan kedua tangan.
Pak Seno memandangi cangkir itu, lalu menatap wajah Mila bergantian. Wajah tuanya tampak terkejut bercampur tidak percaya.
“Beneran dibawain ini, Neng? Kagak salah?”
“Lho, kan semalam Bapak sendiri yang nyariin saya, nanyain kenapa kostan sepi. Ya udah, saya bikinin kopi biar Bapak nggak kesepian lagi,” goda Mila, melemparkan senyuman manis dengan kepala sedikit dimiringkan.
Pak Seno tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya. "Waduh! Si Eneng ini bisa aje! Bapak kira mah cuma basa-basi aja…!"
"Saya mah orangnya menepati janji, Pak. Meskipun bikinnya sambil setengah merem," sahut Mila centil, mengibaskan tangannya pelan.
Lintang GelapPak Seno menyandarkan sapu lidinya ke pilar teras, lalu menerima tatakan cangkir dari tangan Mila. Aku memperhatikan dari atas dengan napas tertahan, jemari mereka tidak bersentuhan, tapi jarak berdiri mereka kini amat dekat. Hanya terhalang nampan plastik.
"Makasih banyak ya, Neng Mila... Waduh, mimpi apa Bapak semalam dibawain kopi ama kembang kostan," puji Pak Seno, matanya tak lepas menatap garis leher dan pelipis Mila yang sedikit berkeringat.
Dia mendekatkan cangkir ke hidungnya, menghirup uapnya dalam-dalam. "Hmm... wangi bener…"
Mila memiringkan kepala, memasang wajah polos. "Kopinya yang wangi, Pak?"
Pak Seno menghentikan cangkirnya tepat di depan bibir. Matanya melirik Mila dari balik uap kopi. Ada kejutan manis di matanya mendengar pertanyaan nakal itu.
"Ya... kopinya wangi," ujar Pak Seno, membuang napas pelan dengan kekehan canggung. "Tapi yang nganterin... jauuh lebih wangi."
Mila tertawa renyah. Tawa lepas yang memenuhi teras bawah.
Dari balik handuk Bu Lastri, dadaku mendadak berdesir panas. Kalimat Pak Seno masih aman, tapi nada suaranya, jelas memperlihatkan pertahanannya yang mulai goyah.
Pak Seno menyeruput kopi itu pelan. Srooopt. Namun, begitu cairan hitam itu melewati tenggorokannya, wajah Pak Seno langsung mengernyit hebat. Alisnya bertaut rapat, bibirnya tertarik ke belakang.
Mila menahan tawa, memperhatikan perubahan ekspresi itu dengan mata berbinar puas. "Pahit ya, Pak?"
Pak Seno menelan kopi itu dengan susah payah, lalu terkekeh. "Buset dah, Neng! Ini mah pahit bener! Gula di dapur Si Eneng kemana? Hahaha!"
"Gulanya habis, Pak," jawab Mila polos tanpa berdosa. "Tapi kan yang nganterin udah manis? Masa masih kurang manis juga?"
Uhuk!
Pak Seno mendadak tersedak ludahnya sendiri. Pria tua itu terbatuk pelan sambil memegangi dadanya, wajahnya merona kemerahan karena salah tingkah yang amat sangat.
"Bujug buneng... Neng Mila kalau ngomong suka bikin jantung orang tua mau copot!" seru Pak Seno sambil membetulkan posisi sarungnya yang agak melorot. Matanya berbinar kegirangan. "Tua-tua begini dibercandain mulu ama Si Eneng. Tapi beneran pahit ini, Neng. Di dapur Bapak mah masih ada gula seplastik noh, kalau mau manis bentar Bapak ambilin di dapur."
Mila memiringkan kepalanya, melempar senyuman centil yang manja dengan sudut bibir terangkat.
"Duh, enggak usah repot-repot ambilin, Pak," sahut Mila mendayu. "Daripada cuma ambil gula... gimana kalau besok saya bikinin kopinya langsung di dapur Bapak aja? Sekalian nemenin, biar Bapak kalau pagi-pagi enggak kesepian sendirian di dapur..."
Pak Seno seketika membeku. Matanya melebar, napasnya tertahan sesaat sebelum tawa bahagianya pecah berhamburan. Pria tua itu memegangi dadanya yang berdegup kencang, wajahnya makin merah padam dipenuhi rasa kegirangan yang tak bisa disembunyikan.
"Waduh... Neng Mila jangan suka ngomong gitu, ntar Bapak ketagihan beneran ini mah! Bisa kagak tidur Bapak nungguin besok pagi!" seru Pak Seno sambil tertawa lepas, bahunya berguncang kegirangan.
Mila mengedipkan sebelah matanya. "Lha, beneran Pak. Lagian kalau enggak dibawain, nanti kata Mas Yuda… saya cuma berani godain doang tapi kagak ada buktinya."
Lintang GelapPak Seno mendongak sekilas ke arah tangga lantai dua, seolah mencari keberadaanku. Aku buru-buru menarik kepalaku sedikit lebih dalam ke balik pilar.
"Si Yuda emang dasar! Laki Neng Mila tuh demen banget provokasi orang tua!" omel Pak Seno, meski tawa lebarnya tak bisa disembunyikan. "Ntar Bapak aduin ke RT kalian!"
"Bukan provokasi, Pak. Mas Yuda mah lagi promosi," sahut Mila santai.
"Promosi apaan?"
Mila menunjuk hidungnya sendiri dengan jempolnya, membusungkan dada sedikit. "Promosiin penghuni kesayangan Bapak dong."
Tawa Pak Seno meledak lagi, lebih keras dari sebelumnya sampai perut buncitnya berguncang. "Bisa aje Si Eneng! Mana ada penghuni kesayangan! Semua sama di mata Bapak mah!"
"Masa sih? Berarti bulan depan sewa kamar saya enggak dapat diskon nih?" pancing Mila, mengedipkan sebelah matanya dengan gaya kocak yang amat menggemaskan.
Pak Seno memandangi Mila. Tatapannya tertahan selama dua detik, meneliti wajah cerah Mila, rambut berantakannya, hingga senyum centilnya yang tak pernah gagal mencuri perhatian.
"Kalau mau diskon sewa... kopi pahit begini mah kagak mempan, Neng," ujar Pak Seno sambil mengambil sedikit kopi lagi pakai sendok, kali ini tampak menikmati rasa pahit itu karena temannya yang menyenangkan.
"Terus harus dibawain apa dong biar diskonnya tembus?" tanya Mila, menopang dagu dengan satu tangan di atas nampan.
Pak Seno terkekeh pelan. "Jangan sering-sering dibawain..."
"Kenapa, Pak?"
"Nanti Bapak kebiasaan."
Atmosphere di teras bawah mendadak berubah tipis. Keheningan merayap selama dua detik. Mila terdiam, menatap Pak Seno dengan sudut bibir yang ditarik pelan, senyuman tipis yang sama persis seperti yang sering dia berikan padaku di atas kasur.
"Kalau Bapak sampai kebiasaan... terus yang salah siapa dong?" bisik Mila pelan, nadanya berubah sedikit lebih dalam.
Pak Seno tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ya salah Bapak sendiri... mulut suka macem-macem ama bini orang."
"Berarti besok-besok enggak usah dibawain lagi nih?"
Lintang Gelap"Ehh, Bapak kagak ngomong begitu ya!" potong Pak Seno cepat, tak mau kehilangan momen.
Mila langsung menunjuk Pak Seno dengan jarinya. "Tuh kan! Ketahuan!"
"Ketahuan apaan?"
"Bapak beneran nagih mau dibawain lagi besok!"
Tawa mereka pecah bersamaan. Pak Seno menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah berbinar puas, benar-benar terhibur oleh kelakuan santai istriku.
Pria tua itu berjalan menuju meja kayu di dekat pintu kamarnya, menyibak tudung saji plastik di atas meja. Di sana terpampang beberapa potong singkong goreng empuk yang masih mengepulkan uap hangat. Pak Seno mengambil dua potong besar, membungkusnya rapi dengan lembaran kertas nasi.
"Nih, Neng. Bawa ke atas," ujar Pak Seno menyodorkan bungkusan itu.
Mila menerimanya dengan mata berbinar. "Wah! Ada imbalannya nih! Makasih, Pak!"
"Buat Neng Mila ama si Yuda tuh sarapan."
"Kalau buat saya sendiri boleh nggak?" tawar Mila manja.
"Nanti laki Neng Mila protes, cemburu lagi ama Bapak!"
Mila terkekeh pelan. "Mas Yuda mah enggak gampang cemburu, Pak. Dia mah santai orangnya."
Pak Seno menatap Mila lurus. Raut wajahnya mendadak agak serius. "Justru yang begitu yang bahaya, Neng."
"Bahaya gimana, Pak?"
"Bahaya gimana, Pak?"
"Orang yang ngatain dirinya kagak cemburu... biasanya paling sering pendem di hati."
Mila tersentak pelan. Dia melirik sekilas ke atas koridor lantai dua, tepat ke celah handuk tempatku bersembunyi.
Aku cepat-cepat menarik kepala sepenuhnya dari celah, menempelkan punggungku erat-erat ke dinding pilar. Jantungku memukul dada dengan kencang.
Apakah Mila tahu aku di sini sejak tadi?
Di bawah, suara tawa riang Mila kembali terdengar, menyamarkan ketegangan singkat tadi.
"Ya udah, Pak! Singkongnya saya amankan dulu sebelum Mas Yuda sadar! Makasih ya, Pak Seno ganteng!"
"Sama-sama, Neng Mila. Besok kopinya jangan lupa pake gula dikit!" panggil Pak Seno sambil tertawa lebar dari bawah.
Langkah kaki Mila menaiki tangga. Aku cepat-cepat setengah berlari tanpa suara menuju kamar kami, melompat ke tepi kasur, dan kembali menyambar ponsel. Jempolku berpura-pura menggeser layar dengan panik.
Klek.
Pintu kamar terbuka. Mila masuk sambil membawa bungkusan kertas nasi yang beraroma gurih singkong goreng.
"Dapat sarapan gratis nih," ujarnya santai.
Aku pura-pura tidak mengangkat kepala dari layar. "Dari siapa?"
"Dari Mas Ivan," jawabnya asal.
Aku mendongak cepat. "Hah?"
Mila seketika tertawa lepas sampai matanya menyipit. "Bercanda! Dari Pak Seno, Mas Yudaaa!"
Lintang Gelap"Nggak lucu… diih," gumamku sambil membuang muka.
"Lucu ah, mukanya Mas langsung tegang gitu," ledeknya. Dia menutup pintu kamar menggunakan tumit kakinya, lalu berjalan mendekatiku. Bungkusan singkong ditaruhnya di atas meja kecil. Tanpa ragu, dia mengambil satu potong, meniupnya pelan, lalu menggigitnya kenyang.
"Katanya Pak Seno buat kita berdua," gumamnya sambil mengunyah.
"Terus kenapa kamu makan duluan?"
"Biar tak tes dulu, ada racunnya apa enggak. Kalau ada racunnya kan aku duluan yang kena, Mas selamat," sahutnya manis tanpa beban.
"Baik banget ya istriku."
"Jelas, istri pengertian nomor satu."
Aku memperhatikan bibirnya yang mengunyah gurihnya singkong. Ada kepuasan aneh yang merayap di dadaku.
"Mila..."
"Hm?"
"Tadi... ngobrol apa aja sama Pak Seno di bawah?"
Mila menghentikan kunyahannya. Dia menoleh kepadaku, lalu tersenum sangat lebar, senyuman kemenangan yang membuat dadaku deg-degan.
"Ketahuan kan..."
"Apanya?"
"Mas Yuda ngintip dari balik handuk merah Bu Lastri."
Aku berusaha memasang wajah datar. "Aku enggak ngintip."
Mila mengangguk-angguk pelan dengan ekspresi pura-pura percaya. "Iyaa iyaa... enggak ngintip kok."
"Beneran…"
"Iya, Suamiku. Percaya kok."
"Kok iya-iya terus sih?"
"Soalnya kalau dibantah, nanti Mas Yuda ngambeknya panjang," cerocosnya sambil tertawa geli. Dia mengambil potongan singkong kedua. Tanganku dengan cepat menyambar tangannya, merebut singkong itu.
"Ini punyaku," kataku tegas.
Mila tertawa makin keras. Aku menggigit singkong hangat itu sambil tetap mengunci tatapannya.
"Pak Seno tadi bilang apa aja?" tanyaku lagi, tak puas.
"Banyak."
"Contohnya?"
"Katanya kopinya pahit banget kayak obat."
"Terus?"
"Katanya dia mau ambil gula di dapurnya, terus tak tawarin mending besok tak bikinin kopi di dapur Bapak aja biar pagi-pagi kagak kesepian."
"Terus?"
"Katanya Mas Yuda demen banget provokasi orang tua."
"Terus?"
"Katanya... aku cantik banget pagi ini."
Gigitanku pada singkong mendadak berhenti. Mataku menatapnya tajam.
Mila menahan tawa selama dua detik, lalu pertahanannya jebol. Dia menepuk pahanya sendiri sambil tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.
"Bohong ding! Hahaha! Ya ampun Mas Yuda! jangan cemburu yaaa!"
Aku mendengus kesal, kembali mengunyah. "Apaan sih. Biasa aja..."
"Biasa apanya? Singkong di mulut sampai kagak ketelen gitu!" godanya habis-habisan.
Mila menggeser duduknya, merapat di sampingku hingga bahunya menempel erat di lenganku. Aroma sabun aromaterapi dan wangi rambutnya yang khas menyergapku.
"Pak Seno ngga bilang aku cantik kok," bisiknya lebih lembut.
"Terus bilang apa?"
"Rahasia dong."
"Katanya istri pengertian?"
"Pengertian bukan berarti harus bocor semua, Pak Driver," balasnya sambil mencubit pinggangku pelan. "Lagian rahasia kecil begini kan yang bikin Mas penasaran setengah mati?"
Aku menatap mata bulatnya. "Jadi sekarang kamu punya rahasia sama bapak kost?"
"Cuma rahasia seputar takaran gula kopi," kekehnya.
Aku menyenggol bahunya. Mila membalas menyenggolku lebih keras sampai tubuhku bergeser.
"Mas tadi... panas enggak pas ngeliat aku godain Pak Seno dari atas?" bisiknya mendadak, menurunkan nada suaranya menjadi sangat intim.
"Panas karena cuaca Jakarta," kilihku.
"Bo’ooong."
"Gerah, kipasnya mati."
"Bohong lagi."
"Aku cuma ngeliat kalian ngobrol biasa kok."
"Tuh kan! Ngaku kan kalau ngintip!" seru Mila penuh kemenangan, menunjuk wajahku dengan jari lentiknya. "Kena kan!"
Aku terdiam, mengutuk kecelobohanku sendiri.
"Mas tahu dari mana aku ngelihat ke atas?" tanya Mila dengan mata berbinar.
"Kamu sengaja lirik ke lantai dua ya?"
"Iyalah! Handuk merah Bu Lastri gerak-gerak mulu, aku udah tahu Mas Yuda berdiri di situ sambil nahan napas," akunya jujur tanpa rasa salah.
Aku menoleh ke arah pintu. "Kelihatan banget ya?"
"Banget, Mas! Kayak intel gagal!"
"Pak Seno tahu?"
"Nggak lah... Pak Seno mah fokusnya ke kopi... sama ke dasterku," kelakarnya santai.
Aku kembali menatapnya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku, campuran antara gairah yang meledak dan rasa terancam yang sangat halus.
"Kenapa kamu enggak kasih tahu Pak Seno kalau aku di atas?"
"Biar Mas seneng," jawabnya ringan. "Kan Mas sendiri yang nyuruh aku bikin Pak Seno senang? Aku cuma jalanin peran yang Mas kasih."
Jawaban itu diucapkannya begitu polos dan manja. Bagi Mila, semua ini masih merupakan permainan peran kami di atas ranjang yang dibawa ke dunia nyata. Dia turun karena aku yang meminta. Dia menggoda Pak Seno karena tahu aku sedang memperhatikannya. Senyum centilnya dibuat untuk memancing reaksiku.
Aku merengkuh pinggangnya erat, menarik tubuhnya mendekat. Mila tidak menolak. Dia justru bergeser pasrah, menyandarkan dagunya di bahuku, membiarkan dadanya menempel di dadaku.
"Seneng nontonnya?" bisiknya halus di dekat telingaku.
"Lumayan," jawabku dengan suara yang memberat.
"Cuma lumayan? Pak Seno sampai tersedak batuk gitu masih bilang lumayan?"
"Pak Seno kurang berani."
"Lho, Bapak mah sopan... Kasihan kalau dikagetin terus, nanti jantungan beneran."
Mila mengusap dadaku dengan satu jarinya, melingkar-lingkar pelan di atas kain kausku. "Tapi... Pak Seno lucu ya kalau lagi salah tingkah."
Tanganku di pinggangnya mendadak mengencang.
Mila merasakan dorongan posesif itu. Dia mendongak, menatap mataku dengan senyuman kecil yang penuh kemenangan.
"Nah..." bisiknya mendayu.
"Nah apaan?"
"Mulai panas lagi kan?"
Aku mendengus pelan, mencoba menetralkan detak jantungku. "biasa aja..."
"Iya, biasa banget. Tapi Mas langsung tegang gitu pegangannya," ledeknya penuh rasa puas.
Mila melepaskan diri dari pelukanku, berdiri anggun lalu berjalan menuju meja untuk membereskan sisa bungkus kertas nasi.
"Aku seneng godain Pak Seno... karena ngeliat reaksi Mas Yuda yang kayak begini. Seru!," tambahnya sambil menoleh, memberikan kedipan mata paling centil yang dimilikinya.
Namun di dalam batin maskulinku yang dipenuhi labirin hitam, ada satu pertanyaan yang mulai berputar liar:
Sampai kapan Mila melakukan ini hanya demi aku?
Dan kapan batas itu mulai kabur saat dia benar-benar menikmati perhatian dari pria lain?
Mila meraih dompet kecilnya di atas rak, mengambil beberapa lembar uang receh, lalu menyelipkannya ke dalam saku daster abu-abunya.
"Mau kemana lagi?" tanyaku.
"Ke warung Bu Minah di depan gang."
"Beli apa?"
"Beli gula pasir sekilo," jawabnya sambil memasang sandal jepit.
Aku menatapnya lurus. "Buat kopi kita?"
Mila menoleh di ambang pintu. Dia menyunggingkan senyum paling manis, paling centil, dan paling berbahaya pagi ini.
"Buat Pak Seno lah. Kan kasihan kalau besok kopinya masih pahit."
Dia tertawa renyah sebelum aku sempat membalas, lalu melangkah keluar kamar dengan ceria. Ujung dasternya menghilang di belokan koridor menuju tangga bawah.
Aku berdiri sendirian di tengah Kamar Kost Nomor 7 yang pengap.
Kali ini... aku sama sekali tidak menyuruhnya turun membeli gula. Tapi Mila tetap pergi. Dan permainan tiga sudut ini resmi bergulir tanpa perlu lagi kukendalikan.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.