Chapter 10
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 17 Agustus 2026 - 4.063 kata
Plastik bening dari warung berayun kecil di tanganku saat aku melewati teras lantai bawah.
Pak Seno masih duduk bersantai di kursi plastik depan kamarnya. Sarung kotak-kotak menutupi kedua kakinya sampai betis, sementara kaus oblong abu-abu yang dikenakannya tampak sedikit melar di bagian perut. Secangkir kopi hitam mengepul di atas bangku pendek di sampingnya, dengan sebatang kretek terselip di antara dua jari—belum dinyalakan.
“Abis dari mane, Mas Yuda?” tanyanya.
Aku mengangkat plastik yang kubawa. “Warung, Pak. Beli obat.”
Pak Seno memiringkan kepala. “Lah, siapa yang sakit?”
“Mila kayaknya masuk angin.”
“Oh.” Ia mengangguk-angguk kecil. “Pantes tadi pulangnya mukanya lesu banget.”
Aku berhenti satu langkah. “Bapak lihat dia pulang?”
“Lihat. Lewat depan sini kan.” Pak Seno meraih cangkir kopinya. “Jalannya juga pelan banget. Kirain mah kecapekan kerja.”
Aku melirik tangga sempit menuju lantai dua. Mila memang sudah mengeluh sejak turun dari motor tadi. Badannya pegal-pegal, tengkuknya kaku, perutnya juga terasa penuh dan mual. Kukira hanya kecapekan setelah seharian berdiri di laundry. Namun begitu sampai kamar, ia langsung rebah di kasur tanpa sempat ganti pakaian.
“Nanti saya suruh minum obat dulu,” kataku.
“Iye. Kasih air anget juga biar enak di perut.”
Aku mengangguk, lalu menaiki anak tangga satu per satu.
Begitu pintu kamar nomor tujuh kudorong pelan, suara sinetron dari televisi kecil langsung menyambutku. Layarnya menyala di atas meja kayu dekat dinding, tetapi Mila sama sekali tidak melihat ke sana.
Ia masih berbaring miring di atas kasur busa kami, tepat di bawah kipas angin dinding yang berputar dengan bunyi berdecit ritmis. Kedua lututnya ditekuk agak tinggi. Satu tangannya memegangi tengkuk, sementara tangan lain menyelip di bawah pipi.
“Akhirnya pulang juga…” keluhnya halus tanpa membuka mata.
“Baru lima menit ditinggal, Dek.”
“Rasanya kayak sejam.”
Aku menutup pintu rapat-rapat, lalu duduk di pinggir kasur. Plastik obat kutaruh tepat di dekat bantal.
“Bangun dulu, yuk. Minum obatnya.”
Mila mengerang kecil, tetapi tetap memaksakan diri untuk duduk. Rambut panjangnya sudah digulung asal ke atas dengan jepitan badai. Beberapa helai rambut tipis menempel di pelipisnya yang sedikit berkeringat.
Aku merobek bungkus obat cair kemasan, menuangkannya ke dalam gelas, lalu menyodorkannya.
“Pahit nggak, Mas?” tanyanya menatap gelas dengan curiga.
“Belum aku cobain.”
“Ihhh.., suami macam apa itu.”
“Yang sakit siapa, yang disuruh nyobain siapa.”
Mila mendengus pelan, lalu menenggak obat cair itu sampai kandas. Wajah bahagianya langsung mengerut hebat.
“Ih, manisnya aneh banget!”
“Namanya juga obat cair, Dek.”
“Obat kan biasanya pahit.”
“Kalau dikasih yang pahit nanti kamu makin protes.”
“Yang penting kan aku protesnya sama Mas Yuda.”
Aku terkekeh pelan, mengambil gelas kosong dari jemarinya, kemudian membawanya ke dapur kecil di belakang. Setelah membilas gelas di bawah kucuran keran, aku kembali sambil membawa botol minyak kayu putih yang baru dibeli.
Mila sudah menjatuhkan tubuhnya lagi ke kasur dengan posisi telungkup canggung.
Aku duduk bersila di belakangnya. “Sini, Mas pijitin dulu.”
“Pelan-pelan ya.”
“Iya.”
Kedua ibu jariku menekan lembut bagian atas bahunya. Baru satu kali tekanan ringan, tubuh Mila langsung menegang keras.
“Aduh! Mas Yuda!”
Aku cepat-cepat menarik tangan kembali. “Kenapa? Apaan?”
“Sakit banget, Mas!”
“Padahal baru disentuh pelan.”
“Bukan disentuh itu namanya! Mas kayak lagi remes adonan bakso, tahu nggak?”
Aku mencoba lagi dengan tekanan yang jauh lebih halus. Namun Mila tetap mengaduh dan meringis.
“Pegalnya di sebelah sini?”
“Iya…”
“Kalau yang sini?”
“Ah… iya, itu juga perih!”
“Semua bagian sakit berarti.”
“Makanya dari tadi aku bilang badanku remuk semua.”
Aku mengusap tengkuknya perlahan. Kulit mulusnya terasa lebih hangat daripada biasanya. Bukan panas tinggi, tetapi cukup untuk membuat dadaku sedikit cemas.
“Dikerokin aja kali ya, Dek?”
Mila menoleh sedikit dari atas bantal. “Mas emang bisa?”
Nada pertanyaannya terdengar seperti nada penghinaan kecil.
“Kerokan doang, masa nggak bisa.”
“Terakhir kali Mas bilang 'doang' itu pas mau benerin kipas angin. Ujung-ujungnya panggil tukang service juga kan?”
“Itu kan beda cerita.”
“Bedanya apa?”
“Yang ini nggak pakai mesin sama listrik.”
Mila terkekeh pelan, lalu kembali meringis sambil memegangi pundaknya.
Aku mengambil sekeping uang logam seratus rupiah dari atas meja kayu. Minyak kayu putih kutuang sedikit ke telapak tangan, lalu kuoleskan merata ke punggungnya lewat bagian belakang kaus yang kuangkat sedikit sampai sebatas dada.
“Awas ya, jangan keras-keras,” katanya mengancam ringan.
“Katanya tadi minta dikerokin.”
“Iya, tapi jangan ajang balas dendam juga.”
Aku menempelkan sisi koin ke kulit punggungnya, lalu menariknya perlahan dari atas ke bawah.
Mila langsung melonjak kecil. “Aduh! Mas!”
Tanganku terangkat refleks. “Kenapa lagi?”
“Sakit banget, ya ampun!”
“Padahal belum kelihatan merah juga.”
“Bukan harus tunggu merah dulu baru kerasa sakit!”
Aku memperhatikan punggungnya. Baru ada satu garis merah tipis yang patah-patah dan belum teratur.
“Mungkin awalnya emang agak perih, Dek.”
“Mas pernah dikerokin nggak sih sebelumnya?”
“Pernah lah.”
“Sama siapa?”
“Ibu.”
“Nah! Ibu Mas kan udah berpengalaman. Tangan Mas Yuda mah kaku kayak balok kayu!”
Aku mencoba sekali lagi, kali ini dengan dorongan yang jauh lebih pelan. Koin baru bergerak beberapa sentimeter ketika Mila kembali mengaduh pasrah.
“Aduh, aduh… udah deh, Mas! Udah!”
Aku menarik napas panjang, sedikit kesal. Bukan kepada Mila , melainkan pada jemariku sendiri. Masa mengurus kerokan untuk istri sendiri saja tidak becus?
“Sebentar,” kataku.
“Mau ke mana?”
“Belajar dulu.”
Mila menoleh dengan wajah bingung, tetapi aku sudah keburu berdiri dan melangkah ke luar.
Aku turun melewati anak tangga sempit kost untuk kedua kalinya malam ini.
Pak Seno masih berada di tempat yang sama. Kopinya tinggal setengah, sementara rokok kretek tadi kini sudah menyala dan mengepulkan asap tipis di sela jarinya.
Ia menengok saat melihatku turun membawa koin. “Lah, turun lagi, Mas?”
“Pak, mau nanya dong.”
“Nanya apaan?”
“Bapak bisa ngerokin, nggak?”
Pak Seno mengangkat alisnya, lalu terkekeh pendek. “Bisa lah. Kenape emangnya?”
“Caranya biar koinnya nggak bikin sakit gimana ya, Pak?”
“Emang Neng Mila lagi dikerokin?”
Aku mengangguk pasrah. “Katanya tangan saya kekakuan.”
Pak Seno tertawa lebih lebar. Asap rokok menyembur dari sela bibirnya.
“Ya jangan diteken pake tenaga dalam, Mas! Kerokan itu bukan ngikis kerak panci gosong!”
“Udah pelan banget padahal, Pak.”
“Pelan menurut Mas Yuda belum tentu pelan menurut perasaan orang.” Ia mengulurkan tangannya. “Coba sini duitnya.”
Aku menyerahkan koin seratus rupiah itu kepadanya.
Pak Seno menempelkan sisi koin ke lengan kirinya sendiri, lalu memperagakan gerakan pendorongan pendek beberapa kali dengan santai.
“Koinnya jangan berdiri tegak begini.” Ia memiringkan posisi koin. “Miring sedikit. Pergelangan tangan lemesin, rileks. Jangan semua tenaga ditumpuin ke ujung koin.”
Aku memperhatikan gerakan jemarinya dengan saksama. “Posisi tangannya kayak gini?”
Aku mencoba menirukan gerakan itu di lenganku sendiri.
“Masih kaku itu mah.”
“Bagian mananya, Pak?”
“Semuanya!” Pak Seno terkekeh lagi. “Mas Yuda kalau narik motor setangnya juga pasti dicekik kali ya?”
“Biar nggak kabur motornya, Pak.”
“Pantesan...”
Aku ikut tertawa pelan.
Pak Seno mendadak meraih telapak tanganku, lalu menggoyangkan pergelangan tanganku perlahan. “Lemesin. Nah, begini. Yang gerak pergelangan tangannya, bukan bahunya ikut maju semua.”
Aku mencoba memperagakannya sekali lagi. “Gini?”
“Mendingan lah.”
“Tekanannya?”
“Lihat kulit orangnya juga. Neng Mila kan kulitnya putih bersih. Diteken dikit aja pasti langsung kelihatan merahnya.”
Entah kenapa, kalimat terakhirnya membuat mataku otomatis terangkat menatap wajahnya. Pak Seno masih memandangi lenganku tanpa ekspresi aneh. Wajahnya biasa saja, ia murni sedang menjelaskan teknis pengerokan.
Aku menarik kembali tanganku perlahan. “Oke, Pak. Saya coba lagi di atas.”
“Jangan dipaksa kalau Neng Milanya kesakitan.”
“Iya, Pak.”
Aku kembali menaiki tangga menuju lantai dua.
Mila masih duduk di tempat yang sama, memeluk bantal busa di depan dada sambil menyaksikan televisi dengan wajah kuyu.
“Udah lulus kursusnya, Mas?” tanyanya melihatku masuk.
“Udah dong... Nilai prakteknya bagus.”
“Ujiannya sama aku lagi nih?”
“Ya sama siapa lagi kalau bukan sama kamu.”
Aku kembali mengambil posisi duduk di belakangnya. Minyak kayu putih kuoleskan sekali lagi ke punggungnya, kemudian kumiringkan koin persis seperti instruksi Pak Seno. Pergelangan tanganku kulemaskan.
Aku menarik koin perlahan dari atas ke bawah.
Mila langsung meringis lagi.
“Masih sakit?”
“Masih!”
“Padahal ini udah pelan banget, Dek.”
“Pelan dari mana coba?”
Aku mencoba sekali lagi dengan sapuan lebih tipis.
“Aduh, Mas… jangan ditekan begitu ah!”
“Ini beneran nggak ditekan.”
“Terus yang kerasa nusuk-nusuk punggung aku apa?”
“Koinnya.”
“Ya itu namanya ditekan!”
Aku mengembuskan napas panjang. Koin logam di genggamanku kugenggam erat selama beberapa detik, lalu kuletakkan begitu saja di atas sprei.
Mila menoleh sedikit. “Kok berhenti?”
“Nggak bisa. Tanganku emang kaku.”
“Yaudah, nggak usah dikerokin kalau gitu.”
“Nanti pegal-pegal kamu gimana?”
“Dibuat tidur aja. Besok pagi juga sembuh sendiri.”
Aku menatap tiga garis merah tipis yang baru terbentuk di punggung mulusnya. Hasilnya berantakan, satu terlalu pendek, satu miring ke samping, satu lagi hampir tidak berbekas.
Jelek sekali.
Pak Seno tadi hanya memperagakannya di atas lengannya sendiri, tetapi gerakannya tampak begitu luwes dan tanpa beban. Tangannya tidak gemetar, tidak ragu, seolah koin itu mengalir begitu saja.
Sementara aku… aku bahkan tidak bisa membuat istriku sendiri merasa nyaman.
“Mas?”
Aku menoleh. Mila memperhatikan raut wajahku dari balik bahunya.
“Jangan dipikirin ih. Aku nggak marah kok.”
“Aku tahu.”
“Terus mukanya kenapa melengkung gitu?”
“Kesel aja.”
“Sama aku?”
“Sama tangan sendiri.”
Mila tersenyum tipis. Tangannya yang hangat meraih jemariku, lalu menggenggamnya lembut.
“Mas Yuda kan tangannya buat narik setang motor, bukan buat buka praktik kerokan.”
Justru karena ia menghiburku dengan tulus, rasa ganjil dan kesal di dalam dadaku malah semakin mengganggu.
Aku bangkit dari kasur.
“Mas mau turun lagi.”
“Belajar kerokan lagi?”
“Nggak.” Aku memungut koin dari atas kasur. “Kali ini Mas panggil gurunya langsung.”
Senyum di wajah Mila seketika pudar. “Siapa?”
Aku tidak menjawabnya dan langsung melangkah keluar.
Pak Seno masih duduk di teras ketika aku kembali turun. Namun kali ini cangkir kopinya sudah kosong melompong. Ia sedang mengetuk-ngetukkan ujung rokoknya ke dalam asbak plastik.
“Gimana, Mas?” tanyanya begitu melihatku. “Berhasil?”
Aku menggeleng pelan. “Masih kesakitan, Pak.”
“Ya udah jangan dipaksa kalau gitu.”
Aku berdiri canggung di depannya, menggaruk belakang leher yang tidak gatal.
“Pak…”
Pak Seno menunggu.
Aku mengulurkan koin seratus rupiah tadi. “Bantuin sebentar boleh nggak, Pak?”
Tatapan Pak Seno turun menatap koin di telapak tanganku, lalu kembali terangkat menatap wajahku. “Bantu apaan?”
“Ngerokin Mila.”
Pak Seno langsung tertawa pendek , bukan tawa senang, melainkan tawa heran seperti baru mendengar permintaan ganjil.
“Waduh.”
“Sebentar aja, Pak.”
“Kagak usahlah, Mas.”
“Kenapa, Pak?”
Ia menunjuk ke lantai atas menggunakan dagunya. “Neng Mila kan bukan muhrim.”
Nada suaranya terdengar santai, ujung bibirnya bahkan masih terkembang. “Entar yang masuk angin cuma satu orang, tapi yang masuk omongan malah satu kostan.”
Aku tertawa pendek. “Ah, Pak Seno. Kayak sama siapa aja.”
“Lah, justru karena bukan siapa-siapa, Mas!”
“Saya juga bakalan ada di atas kok, nemenin.”
Pak Seno mematikan puntung rokoknya di asbak. “Tetap aje kagak enak rasanya.”
“Daripada semalaman Mila nggak bisa tidur karena pegal-pegal.”
“Panggil tukang pijet urut perempuan aja.”
“Jam segini nyari di mana, Pak?”
Pak Seno mengangkat kedua tangannya , menandakan ia enggan terlibat. “Mas Yuda coba lagi aja di atas. Tangannya dilemesin benar-benar.”
“Udah dua kali dicoba, Pak. Malah makin sakit dia.”
“Ya berhenti, tidur aja.”
Aku memandangi lelaki paruh baya di depanku selama beberapa detik.
Jika ia langsung mengiyakan ajakanku tanpa ragu, mungkin justru aku yang akan merasa ada yang ganjil. Namun penolakannya saat ini malah membuat permintaanku terasa sangat aman. Pak Seno tahu batas. Ia tidak berusaha mencari kesempatan. Akulah yang meminta.
“Bapak bantu sebentar aja,” desakku pelan. “Saya temenin di dalam. Nanti kalau Mila beneran nggak mau, ya nggak usah.”
Pak Seno menghela napas panjang sambil mengusap kumis tebalnya. “Neng Mila udah tahu belum Mas turun mau panggil saya?”
“Belum.”
“Lah!”
“Nanti saya yang tanya langsung di atas.”
Pak Seno menggeleng-geleng sambil terkekeh kecil. “Main bawa orang dulu baru nanya.”
“Kalau saya nanya sekarang, nanti Bapak keburu masuk kamar terus kabur.”
“Emang saya maling ayam pake kabur segala?”
Aku tertawa.
Pak Seno akhirnya berdiri dari kursinya. Ia merapikan lipatan sarungnya, lalu mengambil botol kecil minyak urut dari dalam kamarnya.
“Ini bukan berarti saya demen ya, Mas,” tegasnya.
“Iya, Pak.”
“Saya cuma kasihan aja liat Neng Mila masuk angin.”
“Iya, Pak.”
“Kalau ntar dia keberatan, saya langsung balik turun.”
“Siap.”
Kami menaiki anak tangga bersama-sama.
Pak Seno berjalan di depan. Tubuhnya yang agak tambun hampir memenuhi lebar lorong tangga. Aku mengikuti tepat satu langkah di belakangnya, memandangi botol minyak yang berada di genggaman tangan kanannya.
Ada sesuatu yang mendadak terasa ganjil.
Bukan karena Pak Seno naik ke kamar kami, ia sudah sering masuk ke dalam. Pernah mengecek meteran listrik, membetulkan engsel pintu yang rusak, atau menambal rembesan plafon dekat dapur. Namun kali ini ia naik bukan untuk mengurus bangunan kamar.
Ia naik untuk mengurus istriku.
Begitu kami sampai di depan pintu kamar nomor tujuh, aku mendorong pintunya hingga terbuka lebar.
Mila langsung menoleh dari kasur. Matanya berpindah dari wajahku kepada sosok Pak Seno yang berdiri tepat di belakangku.
“Lho… Pak Seno?”
“Nah,” sahut Pak Seno cepat. “Saya juga udah bilang sama Mas Yuda dari bawah, kagak enak.”
Aku masuk lebih dulu. “Pak Seno ahli ngerokin, Dek.”
Mila menatapku bingung, seolah menunggu aku meledak dalam tawa dan mengaku kalau ini cuma bercanda. Namun aku tetap berwajah datar.
“Serius, Mas?”
“Daripada kamu pegal-pegal terus semalaman.”
“Nggak usah, Pak.” Mila buru-buru membenarkan posisi kausnya. “Ngrepotin Bapak nanti.”
Pak Seno mengangguk setuju. “Tuh kan. Udah ya, Mas, saya turun lagi.” Ia benar-benar berbalik hendak melangkah pergi.
Aku menahan tangannya refleks. “Pak, bentar dulu.” Lalu aku memandang Mila. “Cuma dikerokin sebentar kok, Dek.”
Mila menatap Pak Seno canggung, lalu kembali menatapku. “Tapi kan, Mas…”
“Mas ada disini nemenin.”
Pak Seno menyelipkan botol minyak ke dalam saku sarungnya. “Kalau Neng Mila emang malu, jangan dipaksa. Saya mah kagak apa-apa.”
“Bukan gitu, Pak…” Mila tersenyum canggung. “Saya cuma nggak enak aja sama Bapak.”
“Pak Seno kan udah kayak orang tua kita sendiri di sini,” kataku santai.
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulutku.
Pak Seno menoleh padaku. Tatapannya agak sulit dibaca selama satu detik, sebelum akhirnya ia terkekeh.
“Waduh! Jangan tua-tuain saya mulu kenapa, Mas. Nanti saya kagak dapet istri lagi.”
Mila tertawa kecil mendengarnya. Ketegangan di raut wajahnya mulai mengendur.
“Yaudah deh,” kata Mila akhirnya. “Tapi Pak Seno jangan diketawain ya kalau nanti punggung saya merah semua.”
“Bapak mah udah biasa lihat orang dikerokin,” jawab Pak Seno. “Dulu almarhumah istri Bapak kalau masuk angin juga mesti dikerokin. Kalau kagak, semalaman ngeluh terus kagak bisa tidur.”
Nada suaranya berubah tipis saat menyebut mendiang istrinya, tidak murung, tetapi terdengar lebih pelan dan lembut.
Mila ikut melembut mendengarnya. “Oh… iya ya, Pak.”
Pak Seno berdeham pelan. “Yaudah. Siapin handuk aja, Neng, biar bagian depannya tetap ketutup rapet.”
Mila mengambil handuk bersih dari gantungan dekat dapur kecil, lalu berjalan ke kamar mandi belakang. Pak Seno menunggu di dekat pintu masuk sambil sengaja membelakangi ruangan, menatap koridor luar.
Beberapa menit kemudian, Mila keluar. Handuk sudah dililitkan rapat menutupi dada hingga bagian depan tubuhnya. Bagian belakangnya sudah terbuka, memperlihatkan punggung mulusnya dari batas pundak hingga pinggang.
Ia cepat-cepat duduk bersila membelakangi kami sambil memeluk bantal busa.
Aku sudah ribuan kali melihat punggung itu. Setiap lekuk dan titiknya kukenal. Namun malam ini, hanya karena ada lelaki lain di dalam kamar kami, kulit yang sama mendadak terlihat sangat berbeda.
Pak Seno mencuci tangannya sebentar di keran dapur. Setelah itu, ia duduk bersila di lantai, tepat di belakang posisi Mila.
“Minyaknya yang tadi mana, Mas?”
Aku menyerahkan botol minyak kayu putih kepadanya.
Pak Seno menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya sendiri, lalu menggosokkannya perlahan ke punggung Mila.
Mila langsung menarik napas pendek. “Dingin ya, Pak?”
“Iya, bentar juga kerasa anget.”
Gerakan tangan Pak Seno terasa wajar, tidak lambat, tidak pula sengaja diulur-ulur. Ia hanya meratakan minyak dari bahu hingga punggung tengah.
Aku duduk di ujung kasur, hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.
Pak Seno memegang koin. “Neng, kalau sakit bilang ya.”
“Iya, Pak.”
Sisi koin menyentuh kulit.
Satu tarikan perlahan dari atas ke bawah.
Mila mengaduh pendek. “Ah…”
Jemariku otomatis mencengkeram kain seprai kasur rapat-rapat.
Pak Seno menghentikan koinnya. “Sakit?”
“Perih sedikit, Pak.”
“Baru juga satu tarikan.”
“Makanya tadi pas sama Mas Yuda malah jauh lebih sakit.”
Pak Seno tertawa pendek. “Mas Yuda mah tangannya tegang bener.”
Aku ikut tersenyum canggung , meskipun mataku tetap terpaku pada garis merah tipis yang mulai terlukis tegas di kulit punggung Mila.
Tarikan kedua.
Mila kembali menghirup napas tajam. “Pelan-pelan, Pak…”
“Iye, ini udah pelan banget.”
Suara koin yang bergesekan halus dengan kulit terasa begitu nyaring di kamar yang sempit itu.
Krek. Jeda.
Krek. Jeda.
Di layar televisi, dua pemeran sinetron sedang beradu mulut dengan nada keras. Namun entah kenapa, telingaku hanya sanggup menangkap hela napas Mila.
“Mas…”
Aku tersentak pelan.
Mila menoleh sedikit ke arahku. “Kenapa?” tanyaku.
“Jangan dilihatin terus ih. Malu.”
Pak Seno terkekeh. “Lah, masa sama suami sendiri malu, Neng.”
“Bukan malu sama Mas Yuda…”
Kalimat itu seharusnya terdengar biasa saja. Memang sangat biasa. Namun ada gelombang panas yang mendadak meletup pelan di dalam dadaku.
Aku bangkit berdiri. Udara di dalam kamar terasa pengap dan makin sempit meskipun kipas angin berputar tepat di atas kami.
“Mas keluar ngerokok sebentar ya, Dek.”
Pak Seno langsung menoleh ke arahku. “Lah, katanya mau nemenin di dalam, Mas?”
“Cuma berdiri di depan pintu kok, Pak.”
Aku mengambil bungkus rokok dari atas meja TV. Mila memandangku selama beberapa saat, tidak curiga, hanya sedikit bingung.
“Jangan lama-lama ya, Mas.”
“Iya.”
Aku melangkah keluar, lalu menarik daun pintu kayu sampai hampir tertutup rapat. Kusisakan celah tipis seukuran dua jari di sisi kusen agar udara tetap mengalir masuk.
Itu alasan yang kuberikan pada diriku sendiri. Agar udara tetap masuk.
Aku berdiri di lorong koridor lantai dua dengan sebatang rokok terselip di bibir yang belum dinyalakan. Koridor sepi. Lampu neon di ujung lorong berkedip-kedip pelan. Dari lantai bawah terdengar denting sendok beradu dengan gelas kaca.
Di dalam kamar, mendadak hening.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Aku menatap celah pintu. Kenapa mendadak diam?
Mungkin Pak Seno sedang menuangkan minyak ke tangannya. Mungkin Mila sedang memperbaiki posisi handuknya. Atau mungkin mereka sama-sama canggung karena aku memilih keluar.
Keheningan di dalam kamar itu justru terasa lebih berisik daripada suara sinetron di TV.
Lalu terdengar suara Pak Seno. “Udah siap, Neng?”
“Iya, Pak.”
Krek.
Mila menarik napas panjang. “Ah…”
Desahan pendek itu membuat bahuku seketika menegang keras.
Aku pernah mendengar desahan dengan nada yang hampir sama. Bukan saat ia sedang sakit. Bukan saat ia dikerok. Namun saat lampu kamar kami dimatikan, saat suaranya sengaja diredam agar tidak terdengar hingga kamar sebelah.
Aku menggelengkan kepala cepat. Bodoh. Dia cuma lagi dikerokin.
Krek.
“Pelan-pelan, Pak…”
“Iye, ini pelan kok.”
Aku mendekatkan wajahku ke celah sempit pintu. Yang terlihat dari sana hanya sebagian kecil sudut ruangan, ujung kasur, bahu mulus Mila, serta lengan kanan Pak Seno yang bergerak naik turun dengan ritme konstan. Wajah keduanya tidak terlihat utuh.
Justru karena visualnya tidak utuh, kepalaku mulai melengkapi sisanya sendiri.
Krek. Krek.
Mila mengembuskan napas. “Yang bagian situ sakit banget, Pak…”
“Sebelah sini?”
“Iya…”
Tangan Pak Seno berpindah posisi. Dari celah sempit itu, aku melihat jemarinya menekan ringan area dekat bahu Mila untuk menahan kulit sebelum koin bergerak kembali.
Sentuhannya wajar, gerakan standar orang mengerok. Tidak kurang, tidak lebih. Namun telapak tangan Pak Seno tampak begitu besar di atas punggung mulus Mila. Kasar, gelap, dan kontras dengan kulit istriku.
Aliran panas mendadak menjalar dari kontolku menuju dada.
Aku mundur setengah langkah. Batang rokok di bibirku hampir jatuh.
Tidak ada yang salah di dalam sana. Pak Seno tidak mengucapkan kalimat yang melenceng. Mila juga tidak menggoda, tidak tertawa manja, tidak memainkan peran seperti yang biasa ia lakukan untukku. Semuanya berjalan normal.
Justru kenormalan itulah yang membuatku sulit memalingkan mata. Mereka sedang tidak bermain peran. Mereka sedang melakukan sesuatu yang nyata.
Krek.
“Lumayan merah ini, Neng.”
“Parah ya, Pak?”
“Masuk anginnya banyak banget ini mah.”
Mila tertawa kecil, lalu meringis lagi saat koin bergeser. “Ah… ampun, Pak!”
Pak Seno ikut tertawa. “Baru segini udah minta ampun aja.”
Kalimat itu sederhana, candaan bapak-bapak yang sedang mengerok penghuni kostnya. Namun di dalam kepalaku, kata-kata itu terdistorsi menjadi wujud yang berbeda.
Aku segera menyalakan rokok. Api korek hampir membakar jariku karena tanganku sedikit gemetar. Kuhisap asapnya dalam-dalam, berharap rasa pekatnya bisa mengusir bayangan liar yang mulai berlarian.
Tidak berhasil.
Aku kembali mengintip. Mila masih duduk memeluk bantal. Pak Seno tetap setia di belakangnya. Tidak ada posisi yang berubah, tidak ada sentuhan yang melenceng. Hanya pengerokan biasa.
Namun untuk pertama kalinya, aku menyaksikan pria lain menyentuh kulit istriku tanpa harus membayangkannya. Bukan lewat cerita fiktif, bukan lewat roleplay di atas kasur, bukan lewat godaan bercanda yang kami susun bersama.
Nyata. Tepat di balik pintu kamarku sendiri.
Aku bisa menghentikannya kapan saja. Tinggal mendorong pintu, tinggal masuk. Tapi anehnya, kakiku kaku di tempat. Aku malah berharap pengerokan itu belum selesai.
“Udah belum, Pak?” suara Mila terdengar dari dalam.
“Dikit lagi, Neng. Sebelah kanan belum rata merahnya.”
“Perih…”
“Tahan dikit.”
Aku memejamkan mata rapat-rapat, ritme napasku ikut berubah.
Sialan!
Aku membuka mata ketika suara botol minyak yang diletakkan ke lantai terdengar.
“Udah,” kata Pak Seno. “Jangan langsung kena kipas angin ya.”
Aku cepat-cepat mundur dari celah pintu. Rokok kuisap sekali lagi agar tampak seolah sejak tadi aku memang hanya berdiri santai merokok di koridor.
Pintu terbuka. Pak Seno muncul lebih dulu sambil menggenggam koin. Ia berhenti saat melihatku berdiri dua langkah dari sana.
“Lah, kagak ke mana-mana, Mas?”
“Ngerokok aja di sini, Pak.”
Pak Seno menyerahkan koin kembali. “Udah selesai. Punggungnya lumayan merah tuh.”
Aku melongokkan kepala ke dalam. Mila sedang mengenakan kembali kausnya. Handuk sudah diletakkan di samping kasur. Wajahnya terlihat jauh lebih rileks dan segar daripada tadi.
“Gimana, Dek?” tanyaku.
“Enak banget, Mas.”
Pak Seno terkekeh. “Tuh kan. Besok-besok Mas Yuda tangannya dilemesin lagi.”
Mila langsung menyahut dari kasur, “Jangan, Pak! Besok-besok kalau masuk angin saya turun aja minta tolong Bapak lagi.”
Kalimat itu diucapkan sambil tertawa lepas jelas bercanda.
Pak Seno mengangkat kedua tangannya. “Waduh, jangan, Neng! Ntar Bapak bisa diusir Mas Yuda dari kost sendiri!”
Mila tertawa lebih lebar. Aku juga ikut tertawa. Suara tawaku terdengar sangat normal, bahkan di telingaku sendiri.
“Tenang, Pak,” kataku. “Kalau hasilnya enakan begini, Bapak malah bisa buka jasa kerokan.”
“Nah, ntar Neng Mila yang jadi pelanggan pertamanya ya?”
“Bayarnya potong uang sewa kost aja ya, Pak!” sahut Mila.
“Enak aje!”
Pak Seno melangkah keluar dari kamar. Sebelum turun tangga, ia menepuk bahuku sekali. “Kasih minum air anget. Kipas anginnya jangan diarahin langsung.”
“Iya, Pak. Makasih banyak ya.”
“Sama-sama.”
Aku berdiri di ambang pintu sampai sosoknya menghilang di belokan tangga.
Begitu aku kembali masuk, Mila sudah rebah tengkurap di kasur, menarik selimut tipis sampai menutupi pinggangnya. Aku menutup dan mengunci pintu.
“Udah enakan beneran, Dek?”
“He-eh, enteng badanku.”
Aku duduk di sampingnya, mengusap lembut rambutnya.
“Malunya udah hilang?”
“Belum…” Mila menutupi wajahnya dengan bantal. “Mas Yuda sih. Masa nyuruh Pak Seno ngerokin aku.”
“Daripada kamu kesakitan seharian.”
“Mas ada-ada aja emang.”
“Tadi biasa aja kan, Dek?”
Mila menurunkan bantalnya sedikit. “Biasa apanya?”
“Pak Seno.”
“Ya biasa aja.”
“Ngobrol apa aja waktu Mas keluar ngerokok?”
Mila mengerutkan dahi heran. “Ngobrol apaan? Nggak ngobrol apa-apa.” Ia kembali meletakkan pipinya di atas bantal. “Pak Seno cuma nanya bagian mana yang perih.”
“Terus?”
“Ya udah, gitu doang.”
Aku menunggu beberapa detik. “Cuma itu?”
Mila mengangkat kepalanya menatapku. “Mas Yuda pengen ada apanya emangnya?”
Pertanyaan polos itu membuatku terdiam seketika.
Mila menatapku sebentar, lalu terkekeh pelan. “Otaknya mulai lagi deh.”
“Nggak kok.”
“Bohong.” Ia meraih tanganku, lalu menempelkannya ke pipinya yang hangat. “Pak Seno tadi biasa aja. Malah lebih banyak diam. Kayaknya beliau juga canggung sama malu.”
“Dia malu?”
“Iya.” Mila tersenyum kecil. “Pas aku bilang perih sedikit, tangannya langsung berhenti. Takut aku marah kali.”
Aku memandangi wajah istriku. Tidak ada binar yang berbeda. Tidak ada rahasia. Mila hanya terlihat lelah dan mengantuk, tetapi tubuhnya memang sudah jauh lebih rileks.
“Tidur ya, Mas.”
“Iya.”
Aku mematikan TV, lalu berbaring di sampingnya. Kipas angin kuarahkan memantul ke dinding sesuai pesan Pak Seno.
Beberapa menit kemudian, napas Mila mulai teratur dan halus.
Aku masih menatap langit-langit kamar. Adegan tadi terus berputar di dalam kepalaku. Bukan saat Pak Seno berada di dalam kamar , bukan pula saat tangannya menyentuh punggung Mila. Melainkan detik ketika aku memilih untuk melangkah keluar.
Selama aku masih duduk di dekat mereka, semuanya terlihat sederhana, koin, minyak, punggung yang memerah.
Namun begitu pintu hampir tertutup, setiap suara berubah makna. Setiap jeda memiliki kemungkinan. Setiap bagian yang tidak bisa kulihat terasa jauh lebih besar daripada apa yang benar-benar terjadi.
Tadi aku hanya meninggalkan mereka selama beberapa menit. Itu pun aku masih berdiri di balik celah pintu, masih mendengar semuanya, masih bisa masuk kapan saja. Namun rasanya sudah berbeda.
Selama ini aku selalu mengawasi dan mengendalikan permainan dari dekat.
Mungkin… justru karena itulah aku tidak pernah benar-benar melihat apa pun.
Kalau aku benar-benar pergi… apa yang akan terjadi?
Aku menoleh menatap Mila yang sudah tertidur lelap, lalu beralih memandangi pintu kamar.
Besok… aku akan memberi mereka ruang dan waktu yang lebih lama.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.