Chapter 8
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 22 Juli 2026 - 6.799 kata
Mila sedang mengetik...
Tulisan berwarna abu-abu tipis itu bertahan selama beberapa detik di bawah namanya pada layar ponsel yang menyala temaram. Hilang. Berganti waktu aktif. Lalu muncul kembali.
Aku berdiri di tengah kamar dengan punggung masih bersandar pada pintu. Jempolku menggantung di atas layar, seolah balasannya akan lebih cepat datang kalau aku terus menatap ruang chat itu.
Tulisan itu menghilang lagi. Aku mengernyit, mengembuskan napas panjang lewat hidung.
“Lama amat….”
Kepalaku mulai meraba-raba skenario di luar sana. Apakah dia sedang menyusun kata-kata yang paling pas untuk memanaskan kepalaku? Atau... ada Ivan di sampingnya, membuat jarinya harus buru-buru menghapus kalimat yang terlalu berani sebelum sempat terkirim?
Ponselku akhirnya bergetar.
Mila: Pak Seno nanyain aku?
Hanya itu. Tanpa emotikon tertawa yang biasanya melimpah. Tanpa tanda seru yang manja.
Aku membaca ulang pesan yang kukirim sebelumnya.
Tadi Pak Seno nanyain kamu.
Kalimat itu terlihat begitu datar di atas latar abu-abu layar chat. Namun, setelah obrolan di teras bawah tadi, aku tahu persis berapa banyak paranoia kotor yang sengaja kusembunyikan di balik deretan huruf sederhana itu.
Ibu jariku menekan keyboard dengan cepat.
Aku: Iyaaa
Balasannya datang cepat.
Mila: Nanyain apa?
Aku berjalan perlahan, lalu menjatuhkan bokong di tepi kasur busa kami yang tipis. Kasur itu masih menekuk ke dalam, menyimpan cekungan hangat bekas siluet tubuh Mila sebelum dia berangkat lembur.
Aku menelan ludah yang terasa kesat, lalu mengetik perlahan.
Aku: Katanya kostan sepi kalau Neng Mila nggak ada.
Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik. Menghitung detak jantungku yang mulai memukul rusuk dengan ritme yang tak beraturan, sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Dua centang abu-abu muncul. Berubah menjadi biru dalam sekejap.
Mila: Halaaah 😂
Mila: Bisa aja si pak seno....
Aku tersenyum sendiri. Sudut bibirku terangkat, tetapi dadaku berdesir aneh. Melihat cara Mila menyebut nama Pak Seno dengan tawa lepas di chat justru membuat gema suara berat khas Betawi milik pria tua tadi kembali berputar di kepalaku.
“Neng Mila itu cantik, Yud. Kalau gue masih muda, paling gue suruh lu minggir. Perempuan kayak begitu kalau masuk rumah, rumahnya jadi idup.”
Rasa panas yang sempat mereda ketika aku menaiki anak tangga kayu kost tadi kembali bergerak pelan. Merayap di bawah perutku, memicu ketegangan yang menyiksa sekaligus membuat ketagihan. Aku mengetik lagi.
Aku: Dia bilang kamu cantik.
Kali ini, pesan itu tidak langsung dibaca. Dua centang abu-abu membeku di sana. Aku menunggu dalam sunyi. Satu menit. Dua menit. Suara putaran kipas angin dinding yang berdecit menjadi satu-satunya pengisi kamar. Layar ponsel mulai meredup, bersiap mati. Aku buru-buru mengetuknya lagi dengan ujung jari yang agak basah oleh keringat dingin.
Belum biru.
Untuk mengalihkan rasa sesak yang menggantung di ulu hati, aku mengetuk foto profil Mila. Itu foto kami berdua di Monas setahun lalu. Mila tersenyum begitu lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi sambil memegang kerucut es krim yang mulai meleleh dan mengotori ibu jarinya. Aku berdiri di sebelahnya, mengenakan jaket Gas-Pol yang agak pudar dengan rambut berantakan diterpa angin Jakarta. Tatapannya di foto itu begitu natural. Manis dan penuh kasih sayang.
Ketika aku kembali ke ruang obrolan, dua centang sudah berubah menjadi biru pekat.
Mila: Emang baru tahu? 😌
Aku tertawa pendek, menghembuskan napas berat yang sempat tertahan di tenggorokan. Jawaban yang sangat khas Mila. Asik, percaya diri, centil, dan sama sekali tidak berpura-pura merendah untuk menyembunyikan daya tariknya yang mematikan.
Aku: Katanya kalau dia masih muda, aku disuruh minggir….
Cukup lama tidak ada jawaban. Aku membayangkan Mila membaca pesan itu di dalam laundry. Mungkin ia sedang berdiri di dekat meja setrika uap. Mungkin Ivan ada tidak jauh darinya. Mungkin sudut bibirnya naik sedikit, seperti setiap kali ia berhasil menemukan tombol baru untuk menekan bagian paling gelap di dalam diriku.
Mila: Wah berat juga saingannya Mas Yuda…😂
Aku tersenyum lebih lebar.
Aku: Takut kalah?
Mila: Takut Mas nangissss
Aku: Siapa yang nangis?
Mila: Yang tadi ditinggal sejam aja langsung curhat sama bapak kost.
Aku tertawa pelan hingga bahuku berguncang di atas kasur. Sentuhan kasih sayangnya yang dibalut candaan flirty selalu berhasil membuatku merasa berkuasa, sekaligus tak berdaya di saat yang sama.
Aku: Aku nggak curhat…
Mila: Terus ngapain ngobrolin aku?
Jempolku mendadak berhenti di atas layar.
Pertanyaan itu terlihat ringan. Namun jawabannya tidak sesederhana itu.
Kenapa aku membicarakan Mila dengan Pak Seno?
Kenapa aku terus memancing pria itu supaya mengatakan apa yang dipikirkannya tentang istriku?
Kenapa satu kata cantik dari mulutnya bisa membuat tubuhku bereaksi jauh lebih keras daripada saat Mila sendiri menggodaku?
Aku: Dia yang mulai nanyain.
Lalu kuhapus.
Aku mengetik lagi:
Aku: Ya ngobrol biasaaa
Kuhapus juga.
Akhirnya kukirim jawaban yang paling dekat dengan kebenaran.
Aku: Pengen tahu aja dia merhatiin kamu apa nggak.
Pesanku langsung dibaca dalam hitungan detik. Namun kali ini, Mila tidak menjawab. Dia membiarkan obrolan menggantung.
Aku merebahkan tubuh di kasur, menatap kipas angin yang berputar malas di dinding. Suaranya berdecit ritmis setiap kali kepala kipas bergerak ke kiri.
Kriet... kriet... kriet...
Ponselku bergetar di dada.
Mila: Terus hasil penelitiannya gimana, Pak Profesor?
Aku terkekeh.
Aku: Merhatiin.
Mila: Apanya?
Pertanyaan satu kata itu membuat seluruh persendian jariku mendadak kaku. Aku langsung mengubah posisi menjadi duduk tegak di tepi kasur. Mila tahu. Dia pasti tahu arah permainan psikologis ini. Tapi seperti biasa, istriku yang manipulatif itu tidak pernah memberiku jalan lurus yang aman. Dia justru sengaja berdiri di ujung labirin gelap itu, melambaikan tangan dengan senyum centilnya, membiarkan aku sendiri yang merangkak masuk seberapa jauh yang kuinginkan.
Aku: Katanya kamu rajin... Ramah…. Cantik….
Mila: Wah lengkap juga penilaiannyaaa.
Aku: Katanya tiap kamu nggak ada, kostan jadi sepiii.
Mila: Berarti nanti.. aku harus minta bonus sewa kamar dong.
Mila: Kan aku yang bikin kostannya rame.
Aku tertawa lepas, merasakan ketegangan di dadaku sedikit mencair oleh gaya bicaranya yang asik.
Aku: Bilang langsung aja nanti.
Mila: Mas aja yang bilang..
Aku: Kenapaaa? Maluuu?
Mila: Bukan malu. Nanti Pak Seno salah paham.
Aku menatap baris pesan itu cukup lama. Jantungku kembali memukul tulang rusuk dengan ritme yang lebih cepat.
Aku: Salah paham gimana?
Status Mila sedang mengetik... muncul. Hilang. Muncul lagi. Dua kali dia menggantung jawabannya, sengaja mengulur waktu agar paranoiku naik ke ubun-ubun. Akhirnya, balasannya masuk dengan ketukan yang telak.
Mila: Nanti dikiranya aku seneng digodain…
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga rasa perihnya terasa nyata. Darahku mendadak berdesir panas, memicu gairah masokistik yang selama ini kusembunyikan di bawah jaket ojolku.
Aku: Emangnya enggak?
Pesanku langsung terbaca. Lima detik berlalu tanpa gerakan. Sepuluh detik. Layar ponsel terasa dingin di jemariku yang mulai gemetar.
Mila: Seneng kalau yang nyuruh Mas.
Dadaku langsung berdegup begitu keras hingga rasanya sesak. Aku membaca jawaban itu berulang kali, meresapi setiap kata yang dikirimkannya.
“Seneng kalau yang nyuruh Mas Yuda.”
Bukan Pak Seno yang membuatnya senang.
Tapi Aku.
Permainannya masih milikku. Mila tidak menyerahkan dirinya pada Pak Seno; dia menyerahkan kendalinya kepadaku. Akulah yang mengatur arah labirin ini. Akulah yang memilih siapa yang boleh memandanginya dengan tatapan lapar. Akulah yang menyalakan api, lalu menentukan kapan harus memadamkannya.
Perasaan berkuasa yang semu itu membuat tubuhku kembali terasa ringan dan melayang.
Aku: Kalau aku nyuruh kamu, godain dia sedikit?
Balasan tidak langsung datang. Aku menunggu sambil mengusap ujung layar ponsel dengan ibu jari, mendengarkan suara dari luar kamar.
Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara Pak Seno tertawa terbahak-bahak melihat acara komedi di televisi tuanya. Suara tawanya besar, lepas, dan menggelegar memenuhi teras serta lorong kost yang sunyi. Pria itu tampak begitu hidup, seolah tidak pernah menyimpan luka masa lalu yang kelam.
Aku kembali teringat penuturan lirihnya beberapa menit lalu di teras bawah tentang istrinya yang pergi membawa anak dalam kandungan, tentang rumah besar yang berubah menjadi sekadar bangunan mati, dan tentang suara perempuan yang tidak pernah terdengar lagi di dapurnya.
Lalu, sebuah bayangan mendadak melompat masuk ke dalam kepalaku. Aku membayangkan Mila berdiri di dapur bawah milik Pak Seno. Mengenakan daster batik kuningnya yang longgar di bagian dada, menyeduh secangkir kopi hitam dengan gerakan pinggul yang anggun, lalu mengomel manja karena puntung rokok kretek Pak Seno berceceran di atas meja kayu.
Bayangan itu membuat ulu hatiku terasa sangat panas, perpaduan aneh antara cemburu yang menusuk sekaligus gairah yang meledak-ledak.
Ponsel di tanganku kembali bergetar, membuyarkan visualisasi liar itu.
Mila: Godain gimana dulu?
Aku tersenyum penuh kemenangan di depan cermin kecil yang menggantung miring di dinding kamar. Dia tidak menolak. Aku melangkah mendekat, menatap pantulan wajahku sendiri yang tampak kuyu namun matanya memancarkan kilatan obsesif yang gelap.
Aku: Nanti pas pulang bilang aja, “Katanya Bapak nyariin saya?”
Mila langsung membalas, seolah dia memang sudah menunggu instruksi spesifik itu.
Mila: Cuma gitu?
Aku tidak tahu apakah pertanyaan itu murni menantang atau dia sedang mengejek keberanianku yang tiba-tiba menyusut di depan gerbang realitas.
Aku: Terus senyum.
Mila: Aku tiap hari juga senyum kali, Masss
Aku: Senyum yang beda.
Mila: Beda gimana?
Aku membayangkan senyum Mila di koridor lantai dua pada Minggu pagi kemarin. Senyum tipis, misterius, dengan sudut bibir yang ditarik sedikit ke atas yang dia lemparkan kepadaku setelah sukses membuat Pak Seno menelan ludah dari bawah tangga. Senyum yang terlihat ramah bagi orang luar, tetapi menyimpan kode rahasia yang hanya dipahami oleh kami berdua.
Aku: Senyum yang biasa kamu kasih kalau lagi bikin aku panas.
Tiga titik abu-abu bergoyang di layar cukup lama.
Mila: Pak Seno bisa jantungan…
Aku: Bagus…
Mila: Jahat banget sama bapak kost sendiri 😭
Aku: Jadi mau nggak?
Mila tidak langsung membalas.
Aku kembali duduk di tepi kasur, membiarkan keheningan kamar kembali merayap. Satu menit berlalu. Dua menit. Rasa sesak kembali menyerangku. Aku mulai merasa pertanyaanku sudah melangkah terlalu jauh. Bukan karena memikirkan moralitas Pak Seno, bukan juga karena meragukan Mila. Tapi karena aku sendiri belum siap menghadapi apa yang akan terjadi setelah Mila benar-benar mengeksekusi perintah kotor itu besok pagi.
Aku mulai mengetik kalimat penyelamat: Bercanda, dek.. Jangan dianggap ser…
Belum sempat tombol kirim kutekan, sebuah file foto masuk ke dalam ruang obrolan. Ukurannya cukup besar. Aku langsung mengetuknya dengan jantung yang berdegup kencang.
Lintang GelapFoto itu menampilkan Mila yang sedang berdiri di antara dua troli besi besar berisi gunungan sprei putih bersih yang baru keluar dari mesin cuci. Rambut panjangnya masih dijepit asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badai hitam, namun beberapa helai rambutnya yang basah tampak terlepas, menempel seksi di pelipis dan tengkuknya yang putih. Kaus hitam yang dipakainya tampak sedikit basah di bagian leher, menempel pada lekuk dadanya.
Salah satu tangannya mengenakan sarung tangan karet berwarna kuning terang, sementara tangan yang lain diangkat tinggi-tinggi, dua jarinya membentuk tanda kemenangan (V-sign). Pipinya menggembung lucu karena ditiup angin. Wajahnya terlihat lelah dengan kantung mata tipis, tetapi matanya tetap memancarkan binar cerah yang asik.
Di belakangnya, mesin pengering raksasa menyala dengan lampu indikator merah yang menyala. Tumpukan handuk putih memenuhi meja kayu besar di sudut. Ada dua gelas kopi plastik di sudut meja. Satu gelas sudah hampir kosong, sedangkan satu lagi masih penuh, menyisakan embun air di dinding gelasnya.
Aku memperbesar foto itu. Menggeser jariku ke arah sisi kanan layar.
Jantungku mendadak berhenti berdetak.
Di sisi kanan foto, tepat di batas potongan gambar, terlihat bagian lengan seseorang yang mengenakan kemeja katun hitam berlengan panjang. Tidak ada wajah. Tidak ada siluet tubuh yang utuh. Hanya potongan lengan, jam tangan gelap berserat kasar, serta jari-jari panjang yang bertumpu santai pada sisi meja kasir.
Ivan?
Aku memperbesar lagi bagian jam tangan itu hingga piksel gambar mulai pecah dan buram. Jam tangan itu terlihat mahal, sangat berbeda dengan kronograf perak yang kulihat melingkar di pergelangan tangan Ivan tadi sore saat aku mengantar Mila. Atau mungkin... itu hanya efek bias cahaya lampu neon laundry yang terlalu terang?
Aku mengecilkan foto dengan gerakan panik, kembali ke ruang obrolan. Di bawah foto, ada pesan baru dari Mila.
Mila: Nih kerja beneran. Bukan lagi dugem.
Jemari tanganku mendadak terasa kaku saat mengetik balasan.
Aku: Yang fotoin siapa?
Balasannya tidak langsung datang. Aku kembali membuka foto tersebut, memperbesar kembali bagian lengan misterius di sisi kanan. Jari-jari itu terlihat panjang, dengan kulit yang bersih dan terawat. Kemeja hitam panjang.
Aku mencoba memutar kembali ingatan sore tadi. Saat kami meninggalkan laundry, Ivan mengenakan kaus polo hitam ketat, bukan kemeja lengan panjang. Tapi... bisa saja pria mapan itu berganti pakaian di ruang kerjanya yang ber-AC, bukan?
Ponsel bergetar panjang.
Mila: Mbak Rina.
Aku: Terus tangan cowok itu punya siapa?
Mila sedang mengetik…
Mila: Tangan cowok yang mana?
Aku melakukan tangkapan layar, memotong bagian lengan kemeja hitam itu, mencoret lingkaran merah tebal di sekelilingnya, lalu mengirimkannya kembali ke Mila.
Balasannya datang disertai rentetan emotikon tertawa yang panjang.
Mila: Ya ampun Mas 😂😂😂 Itu tangan boneka manekin buat pajangan seragam hotel.
Aku menatap potongan gambar itu sekali lagi. Aku mengerjap-ngerajapkan mata, lalu mengusap wajah kasar. Benar juga. Jari-jarinya terlalu kaku, lurus sempurna tanpa ada lipatan kulit pada buku jarinya. Posisinya bertumpu pada sudut meja juga terasa terlalu kaku untuk ukuran tangan manusia hidup.
Aku membuang napas kasar, merasa sangat bodoh sekaligus lega.
Aku: Kirain Mas Ivan.
Mila: Ketahuan banget mikirnya ke mana.
Aku: Siapa suruh fotonya begitu.
Mila: Lah, aku mau buktiin lagi kerja malah diinterogasi 😭
Aku: Bukan interogasi.
Mila: Terus?
Aku tidak langsung menjawab. Jempolku menggantung di atas layar. Sebelum aku sempat menyusun kalimat pembelaan diri, Mila mengirim pesan baru yang langsung menohok jantungku.
Mila: Cemburu sama Mas Ivan?
Aku: Ngak.
Mila: Bohong.
Aku: Nggak.
Mila:yang beneeerr…..
Aku tertawa kecil, keteganganku sedikit mencair oleh caranya yang asik dalam memojokkanku.
Aku: Fokus kerja sana.
Mila: Siap, Pak Suami.
Aku menutup ruang obrolan, lalu membuka kembali foto Mila yang tadi kukirimkan. Aku tidak lagi menatap bagian lengan manekin itu. Aku tidak lagi menatap dua gelas kopi plastik di sudut meja.
Aku menatap wajahnya.
Pelipisnya yang berkeringat, beberapa helai rambut basah yang menempel seksi di lehernya, bajuhitamnya yang tampak sedikit kusut di bagian dada. Dia benar-benar terlihat sedang bekerja keras demi membantu keuangan rumah tangga kami yang compang-camping. Sebagian besar diriku merasa sangat lega, namun di sudut batin yang paling gelap, ada rasa kecewa kecil yang merayap senyap.
Aku menekan layar ponsel, menyimpan foto itu ke dalam folder tersembunyi.
Satu pesan baru dari Mila kembali masuk, mengagetkanku.
Mila: Tadi belum jawab.
Aku: Apa?
Mila: Jadi besok aku harus senyum yang beda ke Pak Seno?
Aku menahan napas dalam-dalam. Dadaku mendadak terasa sesak oleh aliran gairah yang kembali tersulut. Jari-jariku bergerak cepat tanpa bisa kucegah.
Aku: Iya.
Dua centang abu-abu langsung berubah menjadi biru pekat.
Mila: Oke.
Hanya satu kata. Tanpa emotikon. Tanpa candaan.
Aku mengernyitkan dahi, menatap kata pendek itu dengan perasaan tidak tenang.
Aku: Oke doang?
Mila: Terus harus pakai surat pernyataan bermeterai?
Aku terkekeh pelan di atas kasur.
Aku: Kamu beneran mau?
Mila: Kan Mas yang nyuruh.
Aku: Jangan keterusan.
Mila: Lho, baru juga mau mulai udah dilarang keterusan.
Aku terdiam. Dadaku berdegup kencang, tidak tahu harus membalas apa. Mila segera mengirimkan emotikon menjulurkan lidah yang nakal, mencairkan ketegangan yang sempat mengeras.
Mila: Tenang aja…. Aku tahu batas kok.
Kalimat itu seharusnya membuatku tenang. Namun, entah kenapa, sebuah pertanyaan kecil yang dingin mendadak muncul di dalam kepala dan menolak untuk pergi.
Batas siapa? Batas Mila? Atau... batas yang kubuat sendiri?
Suara pintu pagar besi di bawah berderit nyaring, memecah kesunyian malam yang kian larut.
Aku menurunkan ponsel, lalu bangkit dari kasur. Aku berjalan perlahan ke luar kamar, melangkah menuju pagar koridor lantai dua. Angin malam Jakarta yang gerah langsung menerpa wajahku, membawa aroma debu jalanan dan asap kendaraan yang samar.
Dari atas sini, aku bisa melihat Pak Seno sedang berdiri di depan gerbang besi yang sudah karatan. Dia memegang sebuah gembok kuningan besar di tangan kanannya. Sarung kotak-kotak hijaunya kini dilipat lebih tinggi hingga ke batas lutut, memperlihatkan betisnya yang berbulu lebat. Kaus kutangnya yang tipis tampak basah oleh noda keringat di bagian punggung dan dada.
Dia mendongak tajam ketika mendengar suara langkah kaki dari atas koridor.
“Belom tidur juga lu, Yud?” tanyanya, suaranya yang berat memecah keheningan gang.
“Belum, Pak. Tanggung,” jawabku sambil menyandarkan kedua lengan pada pagar koridor yang dingin.
Pak Seno menunjuk ponsel di genggamanku dengan dagunya. “Chattingan terus.... Jempol lu bisa keseleo ntar.”
Aku menahan senyum, sengaja menggantung umpan. “Mila, Pak.”
Wajah pria tua itu seketika berubah. Matanya yang agak sayu langsung melebar, memancarkan binar cerah yang tidak bisa disembunyikan. Dia membetulkan posisi sarungnya yang agak melorot di pinggang buncitnya.
“Neng Mila ngomong ape?” tanyanya dengan nada suara yang sedikit dikeraskan agar terdengar jelas ke atas lantai dua.
“Nanyain Bapak,” kataku santai.
“Bujug!” Pak Seno tersentak kecil, tawanya tertahan di tenggorokan. “Ngapain nanyain gue?”
“Katanya Bapak kangen...”
Pak Seno terdiam selama setengah detik. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, sebelum akhirnya tawanya meledak kencang, memenuhi teras bawah dan koridor kost yang sepi.
“Mulut lu kagak ada remnya, Yud! Hahaha!”
Aku ikut tertawa kecil dari atas. “Kan Bapak sendiri yang bilang tadi, kostan sepi kalau Mila nggak ada.”
“Ya emang sepi,” sahutnya setelah tawanya mereda. Dia memasang gembok besar itu pada rantai pagar besi, tetapi tidak menguncinya rapat. “Biasanya jam segini ada yang turun nyari es, nyari air, nyari cemilan. Neng Mila mah kalau jalan sendalnya kedengeran dari ujung gang.”
“Berarti Bapak hafal suara sandalnya?” tanyaku, nadaku sengaja dibuat menyelidik namun santai.
Pak Seno mendongak lagi, menatapku dengan mata menyipit. “Lu mulai lagi.”
Aku terkekeh pelan. “Cuma nanya, Pak.”
“Besok-besok gue bilang suara sandal Bu Lastri juga gue hafal. Biar sekalian lu cemburu setengah mati,” gerutunya sambil menyalakan sebatang rokok kretek baru. Asap tebalnya yang berbau cengkeh pekat segera membubung ke atas, tercium olehku di lantai dua.
“Jangan Bu Lastri, Pak. Saya ikhlas lahir batin kalau yang itu mah,” balasku.
“Kurang ajar lu,” Pak Seno tertawa lebar sambil menunjukku dengan ujung rokoknya yang menyala merah. “Ntar gue aduin ke orangnya biar lu digetok pake panci.”
Aku menyandarkan lengan pada pagar besi koridor, membiarkan dadaku kembali berdesir hangat saat bersiap menjatuhkan umpan berikutnya.
“Tadi Mila bilang, besok dia mau nagih, Pak.”
“Nagih apaan?” dahi Pak Seno berkerut.
“Bonus sewa kamar. Katanya dia yang bikin kostan rame.”
Pak Seno kembali terbahak-bahak hingga bahunya yang buncit naik-turun. “Boleh! Suruh nagih sendiri ke bawah besok pagi. Tapi jangan banyak-banyak, bisa bangkrut gue!”
Aku memperhatikan wajahnya dari atas sini di bawah temaram lampu teras kuning. Ada kesenangan yang sangat tulus setiap kali nama Mila disebut dari mulutnya. Tidak disembunyikan dengan rapi, tidak pula dibuat terlihat cabul yang menjijikkan. Pak Seno hanya tampak seperti seorang lelaki tua kesepian yang menikmati hadirnya sosok perempuan muda, ramah, dan berisik di tengah rumah besarnya yang telah lama mati sejak kepergian istrinya.
Namun, justru karena kesederhanaan dan ketulusan itu, permainan yang sedang kumainkan ini terasa jauh lebih mengganggu batinku. Ada rasa bersalah yang beradu dengan gairah panas di bawah perutku.
Aku tersenyum tipis. “Nanti saya bilangin ke Mila, Pak.”
“Jangan lu tambahin yang macem-macem lagi ceritanye.”
“Takut ya, Pak?”
“Takut kepala gue digetok ama sandal Neng Mila,” sahutnya sambil mengembuskan asap rokok.
“Dia nggak galak kok.”
“Ke lu doang kali kagak galak,” Pak Seno menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. “Perempuan mah kalau udah tahu laki-laki di depannya mulai kelewatan, sandal jepit bisa terbang melayang.”
“Kalau Bapak digetok sandal ama Mila, berarti sempat deket dong,” kataku sengaja memprovokasi batas amannya.
Pak Seno mendongak tajam. Detik berikutnya, dia melepas salah satu sandal jepit karetnya yang sudah tipis, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah lantai dua.
“Lu mau gue lempar dari bawah pake sandal ini?” ancamnya, tetapi matanya tetap berbinar jenaka.
Aku tertawa sambil melangkah mundur satu langkah dari pagar koridor. “Udah, Pak. Damai.”
“Nah, gitu. Sana masuk kamar lu, tidur!” Ia memakai kembali sandalnya dengan gerakan kasar. “Neng Mila masih lama baliknya?”
“Katanya agak malam.”
Pak Seno melirik jam dinding bulat kecil yang tergantung di dekat pintu kamar nomor satu miliknya. “Udeh setengah dua belas lewat ini mah.”
Aku ikut membuka ponsel, memeriksa jam digital di layarnya. Baru kusadari waktu berputar begitu cepat sejak aku kembali ke kamar tadi. “Paling sebentar lagi, Pak.”
“Kalau lewat jam dua belas, pagar gerbang gue tutup rapat.”
“Nanti biar saya yang turun bukain.”
Pak Seno menatapku diam selama beberapa detik. Hening merayap di antara kami, sebelum akhirnya dia tersenyum kecil—sebuah senyuman tipis yang terasa sangat hangat dan tulus.
“Lu sayang banget ama Neng Mila, ya?”
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, tanpa ada persiapan di kepalaku. Aku menatap mata tuanya yang teduh, lalu mengangguk perlahan.
“Sayang banget, Pak.”
“Ya bagus,” sahutnya pelan. Dia menarik sebuah kursi plastik merah yang tadi kami pakai mengobrol sore hari, lalu mendudukinya kembali di bawah lampu teras. Gembok kuningan di gerbang dibiarkan menggantung begitu saja tanpa dikunci rapat.
“Bapak nggak jadi tidur?” tanyaku heran.
“Gerah di dalem,” jawabnya sambil meraih selembar kardus bekas kipas angin untuk mengipasi dadanya yang berbulu. “Sekalian nungguin Neng Mila pulang. Kasihan kalau nyampe gerbang lu udeh tidur, terus dia kudu teriak-teriak manggil dari luar.”
Aku menatap sosoknya dari atas. Pak Seno yang merasa kuperhatikan segera mengangkat sebelah alisnya yang tebal.
“Kenape lu?”
“Nungguin Mila, Pak?” tanyanya pelan.
“Nungguin penghuni kost,” koreksinya cepat dengan logat Betawi yang kembali dikeraskan. “Kalau yang belom pulang Bu Lastri juga tetep gue tungguin di sini.”
“Kalau Bu Lastri yang belom pulang, kunci aja gerbangnya rapat-rapat, Pak,” candaku.
Pak Seno kembali tertawa lebar. “Udah sana lu masuk kamar! Makin malem mulut lu makin rusak kayak knalpot motor bebek lu.”
Aku masuk ke dalam kamar sambil masih menyunggingkan senyum tipis di bibir. Namun sebelum menutup pintu kayu kamar rapat-rapat, aku sempat menoleh sekali lagi dari balik celah pintu.
Pak Seno duduk sendirian di bawah lampu teras kuning yang mulai dikerumuni laron malam. Sarung kotak-kotak hijaunya menutupi lututnya yang gemetar karena angin malam. Satu tangannya sibuk mengipasi dada, sementara tangan yang lain memegang rokok kretek yang terus mengepulkan asap. Sesekali matanya memandang lurus ke arah ujung gang yang gelap gulita.
Menunggu.
Entah sekadar menunggu penghuni kostnya pulang. Atau... menunggu kepulangan Mila.
Pukul dua belas kurang sepuluh menit, ponsel di atas dadaku bergetar panjang. Sebuah pesan baru masuk dari Mila.
Mila: Udah kelaarr. Lagi beres-beres.
Aku: Pulang naik apa?
Mila: Dianter.
Aku: Sama siapa?
Lama tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di atas lutut dengan tidak sabar. Mataku menatap lurus ke arah baris teks terakhir.
Mobil? Siapa yang nyetir?
Ponsel kembali bergetar pendek.
Mila: Mas Yuda…
Aku bisa membayangkan nada suaranya secara nyata saat dia mengetik namaku di layar. Setengah manja, setengah gemas karena sikap protektifku yang mulai kumat.
Aku: Nanya doang…
Mila: Mas Ivan.
Jawaban dua kata itu membuat bagian dalam dadaku langsung berdesir hebat. Rasa panas menjalar kencang dari perut menuju ulu hati. Aku menatap layar ponsel yang menyala terang selama beberapa detik tanpa berkedip.
Aku: Sendiri?
Mila: Sama Mbak Rina.
Aku mengembuskan napas panjang, melonggarkan ketegangan yang sempat mengunci paru-paruku. Namun sebelum aku sempat meletakkan ponsel, Mila mengirim satu baris pesan lagi.
Mila: Tapi Mbak Rina turun duluan di gang depan rumahnya.
Tanganku seketika berhenti bergerak di atas layar. Berarti... dari rumah Mbak Rina menuju kostan, mereka hanya berdua di dalam mobil?
Aku: Iyaaa.
Aku menelan ludah yang terasa sangat kesat di tenggorokan. Kepalaku segera membentuk jalur perjalanan tengah malam yang tidak kukenal di sepanjang jalan raya Slipi yang sepi. Mobil hitam ber-AC yang dingin. Keheningan malam Jakarta yang sunyi. Mila duduk di kursi depan bersisian dengan Ivan yang menyetir dengan satu tangan santai di atas kemudi, aroma parfum mahal Ivan menguasai ruang kabin yang sempit. Hanya mereka berdua.
Mila: Kenapa?
Aku membaca pertanyaan Mila yang tampak begitu polos namun sarat akan pancingan di layar.
Aku: Nggak kenapa-kenapa.
Mila: Yakin?
Aku: Yakinnnnn.
Mila: Nanti pas aku pulang mukanya, jangan kayak kehilangan motor ya 😜
Aku tertawa kecil, meloloskan rasa sesak yang sempat menggantung di dada.
Aku: Cepet pulang.
Mila: Iya, Sayang…
Kata terakhir itu langsung meredakan badai cemburu yang sempat bergolak liar di dadaku. Kasih sayangnya yang tulus selalu berhasil mengembalikan kewarasanku dalam sekejap.
Aku meletakkan ponsel di atas kasur, lalu berdiri di dekat jendela kaca nako tanpa gorden kamar kami. Dari celah kaca, kulihat lampu teras Pak Seno masih menyala benderang. Radio tuanya sudah dimatikan, digantikan oleh kesunyian malam yang kian pekat.
Pria tua itu masih duduk tegak di atas kursi plastik merahnya. Benar-benar menunggu kepulangan Mila.
Aku tidak tahu kenapa pemandangan sederhana itu justru membuat jantungku memukul rusuk dengan debaran yang semakin cepat dan keras.
Beberapa menit kemudian, berkas cahaya lampu mobil menyapu dinding gang sempit depan kost kami. Suara raung mesin mobil yang halus terdengar mendekat.
Aku langsung membuka pintu kamar dan berjalan cepat ke luar menuju balkon koridor lantai dua. Di bawah sana, Pak Seno juga tampak tergesa-gesa bangkit dari kursinya, membuang puntung rokoknya ke tanah.
Sebuah mobil hitam mengkilat, mobil yang sama yang membawa Mila. Mobil itu berhenti perlahan tepat di depan pintu gerbang besi kost. Mesinnya dibiarkan tetap menyala halus, mengeluarkan getaran yang terasa hingga ke atas lantai dua.
Kedua tanganku otomatis mencengkeram erat pagar besi koridor hingga buku-buku jariku memutih.
Mila membuka pintu mobil penumpang depan, lalu turun perlahan sambil menjinjing sebuah kantong plastik putih besar. Rambut panjangnya yang tadi dijepit kini sudah terurai bebas, berantakan menyentuh bahunya yang polos. Kaus hitam ketatnya tampak kusut di beberapa bagian, sementara wajahnya memancarkan gurat kelelahan yang sangat ketara di bawah lampu jalan.
Sebelum melangkah pergi, Mila membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah jendela mobil penumpang yang terbuka lebar. Dia membisikkan sesuatu ke arah Ivan di dalam sana. Ivan membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum tipis yang tampak sangat percaya diri. Mila tertawa pendek, mengibas tangannya genit, lalu menutup pintu mobil dengan ketukan halus.
Mobil hitam itu segera meluncur pergi perlahan, membelah kegelapan gang sempit.
Pak Seno melangkah cepat membuka gerbang besi yang tidak dikunci rapat.
“Waduh, waduh... akhirnya pulang juga tamu agung kita...” sapanya dengan suara ramah yang dibuat ceria.
Mila yang sedang sibuk memasukkan ponsel ke dalam saku celananya langsung mengangkat wajah. Begitu melihat sosok Pak Seno yang masih berdiri menyambutnya di depan gerbang dengan kaos kutang abu-abu tipisnya, dia menghentikan langkahnya sejenak.
“Lho, Pak Seno kok belom tidur?” tanyanya, suaranya terdengar serak-serak basah yang sangat seksi di telingaku.
Mila tertawa renyah, melangkah masuk melewati celah gerbang besi. “Katanya nungguin saya pulang?”
Langkah kaki Pak Seno seketika terhenti di tengah teras. Kepalanya otomatis mendongak tajam ke arah lantai dua, tempatku berdiri mengintai dari kegelapan balkon koridor.
Aku masih berdiri kaku di atas sana, membiarkan tubuhku tersorot lampu teras yang temaram.
Senyum di bibir Mila langsung melebar saat melihat ekspresi bingung dan salah tingkah yang tersirat jelas di wajah Pak Seno yang legam.
“Si Yuda ngomong ape lagi ke lu, Neng?” tanya Pak Seno dengan logat Betawi yang mendadak terdengar canggung.
Mila melangkah mendekat dua langkah ke arah pria tua itu. Kantong plastik putih di tangannya bergoyang ritmis seiring dengan gerakan pinggulnya yang anggun di balik celana kulot hitamnya yang longgar.
“Katanya... kostan sepi kalau Neng Mila nggak ada,” ucap Mila dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, meniru panggilan akrab Pak Seno untuk dirinya sendiri.
Cara Mila menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Neng Mila di depan Pak Seno langsung membuat bagian bawah perutku menegang seketika. Gairah panas menyengat ulu hatiku dengan kejam.
Pak Seno mengusap wajahnya kasar menggunakan telapak tangannya yang lebar dan kasar, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap di pipinya.
“Bujug buneng... mulut laki lu tuh emang bener-bener kagak bisa disekolahin, Neng,” gerutunya salah tingkah.
Mila memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan, menatap Pak Seno dengan binar mata bulatnya yang jenaka dan centil. “Berarti bohong ya, Pak?”
“Nggak juga,” sahut Pak Seno cepat.
Jawaban itu keluar terlalu cepat dari mulut pria tua itu, bahkan sebelum dia sempat menyaringnya di kepala. Mila seketika mengangkat kedua alis matanya tinggi-tinggi dengan ekspresi menggoda yang sangat nakal.
Pak Seno tampak baru menyadari kesalahannya. Dia berdeham keras beberapa kali, lalu sibuk membetulkan letak sarung hijaunya yang sebenarnya sama sekali tidak melorot di pinggangnya.
“Maksud Bapak... ya biasanya kan Neng Mila berisik kalau jalan atau ngobrol di teras. Sekarang Neng Mila kagak ada, jadinya kostan berasa sepi bener kayak kuburan,” kilahnya cepat dengan wajah yang kian memerah.
“Oh...” Mila mengangguk-angguk perlahan dengan gestur yang sangat menggemaskan. “Kirain... Bapak kangen beneran sama saya.”
Aku mencengkeram pagar besi koridor di atas sini dengan cengkeraman yang jauh lebih keras hingga telapak tanganku terasa perih.
Itu senyumnya. Senyum yang tadi kuminta di dalam obrolan chat kami. Senyum tipis, misterius, dengan sedikit lengkungan di sudut bibirnya yang merah basah, disertai tatapan mata bulat yang bertahan setengah detik lebih lama daripada tatapan wajarnya pada orang lain. Sebuah senyuman yang sarat akan pesan tersirat yang hanya dipahami oleh kami berdua.
Pak Seno tertawa canggung, matanya bergerak tidak fokus ke arah tanah teras. “Bisa aje lu godain bapak-bapak tua gini, Neng.”
“Kan Mas Yuda yang bilang sendiri ke saya tadi di chat,” timpal Mila santai.
“Laki lu emang sengaja nyari perkara ama gue,” gumam Pak Seno sambil mendongak kembali ke arah lantai dua.
Mila ikut mendongakkan wajahnya yang lelah namun cerah ke arahku. “Mas!” panggilnya manja dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Aku tertawa pendek dari atas balkon koridor, mencoba menetralkan ketegangan yang mengunci tenggorokanku. “Apa?”
“Bapak kostnya digodain nih!” adunya genit.
“Lho, katanya tadi di chat kamu mau nagih bonus sewa kamar, Dek?” pancingku sengaja menaikkan taruhan permainan ini.
Pak Seno menunjuk wajahku dari bawah dengan jari telunjuknya yang besar. “Nah! Tuh lu denger sendiri, Neng! Laki lu lagi yang mulai!”
Mila kembali memutar tubuhnya menghadap Pak Seno, menyembunyikan wajahnya dari pandanganku ke arah pria tua itu. “Bonus apa sih, Pak?”
“Bonus apaan? Kagak ada bonus-bonusan di sini,” sahut Pak Seno pura-pura judes.
“Katanya saya yang bikin kostannya rame dan hidup?”
“Itu kan kata laki lu doang.”
“Tapi... Bapak setuju nggak?” tanya Mila dengan nada suara yang kian manja, kepalanya dimiringkan manja menatap Pak Seno dari dekat.
Pak Seno memandangi wajah Mila selama beberapa detik. Hanya sekilas saja. Namun dari atas lantai dua, aku bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana bola matanya yang agak sayu bergerak lapar dari wajah Mila, turun ke rambutnya yang terurai berantakan di bahu, meluncur ke leher jenjangnya yang putih berkeringat, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke dalam matanya yang bulat.
“Ya... setuju,” bisik Pak Seno pelan, suaranya terdengar sedikit parau di tenggorokan.
Mila tertawa renyah, tawa khasnya yang sangat asik dan menyenangkan memenuhi sunyinya malam gang. “Berarti sewa kost bulan depan didiskon ya, Pak?”
“Enak aje lu!” Pak Seno ikut tertawa lebar, ketegangannya berangsur mencair oleh gaya bicara Mila yang menyenangkan. “Kalau lu mau diskon sewa, tiap pagi lu kudu bikinin Bapak kopi item ke bawah.”
“Cuma kopi?” tanya Mila cepat dengan nada yang naik satu oktav di ujung kalimat.
Pak Seno langsung mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Mila yang tampaknya baru menyadari kalimatnya bisa terdengar mengarah ke hal yang berbeda di telinga seorang pria dewasa segera tertawa renyah sambil menutup mulutnya rapat dengan telapak tangan kirinya yang bebas.
Aku merasakan aliran gairah panas yang sangat kuat menyengat dadaku hingga ulu hatiku terasa nyeri.
Pak Seno mengusap kumis tebalnya yang kasar dengan ibu jari. “Ya kopi item. Emang Neng Mila mau kasih Bapak apa lagi selain kopi?”
“Kasih omelan tiap pagi,” sahut Mila tangkas, matanya berkedip kocak ke arah Pak Seno. “Biar rumah Bapak yang gede sama sepi ini jadi rame.”
Tawa lebar Pak Seno mendadak mengecil dan meredup di bibirnya. Untuk sesaat yang sangat singkat, raut wajah tuanya berubah drastis. Bukan sedih yang mendalam, melainkan seperti raut wajah seseorang yang tanpa sengaja mendengar kembali suara tawa dari kehidupan masa lalunya yang telah lama hilang ditelan waktu.
Namun perubahan raut wajah itu segera dia kuasai kembali saat Mila mengangkat kantong plastik putih besar di tangannya tinggi-tinggi.
“Nih, Pak. Mau roti nggak?” tanya Mila ceria.
“Roti apaan ntu?” Pak Seno mendekat selangkah.
“Roti sisa konsumsi lembur di laundry tadi, Pak. Masih banyak banget di dalem kantong.” Mila membuka plastik putih itu, lalu merogoh salah satu bungkus roti cokelat berukuran sedang ke luar. Dia menyodorkannya langsung ke arah Pak Seno.
Pak Seno menerima bungkus roti itu dengan kedua telapak tangannya yang besar dan kasar. “Waduh... rezeki anak sholeh tengah malem ini mah.”
“Buat nemenin ngopi hitam Bapak besok pagi,” kata Mila manis.
“Terima kasih banyak ya, Neng.”
“Sama-sama, Pak.”
Mereka berdua saling melempar senyum tipis di bawah temaram teras kuning. Sederhana. Wajar. Tidak ada sentuhan fisik yang intim selain bungkus plastik roti cokelat yang berpindah tangan di antara mereka.
Namun aku yang berdiri mengintai dari atas lantai dua merasa seolah-olah baru saja menyaksikan sebuah adegan yang jauh lebih intim daripada sekadar sentuhan fisik biasa. Mila memberikan makanan kepada seorang duda tua yang hidup kesepian, dan Pak Seno menerimanya seperti menerima kembali bagian kecil dari rumah tangganya yang telah lama hancur.
Dan aku sendiri... adalah orang yang dengan sengaja menghubungkan benang merah di antara mereka berdua demi memuaskan fantasi kotorku.
“Neng Mila,” panggil Pak Seno pelan saat Mila mulai melangkah menaiki anak tangga kayu pertama menuju lantai dua.
Mila menghentikan langkahnya di anak tangga kedua, lalu menoleh ke belakang. “Iya, Pak?”
Pak Seno mengangkat bungkus roti cokelat di tangannya tinggi-tinggi ke arah udara malam. “Besok pagi kopinya jangan sampai lupa ya.”
Mila tersenyum manis, senyuman yang sama persis dengan senyuman yang diberikannya tadi di depan pintu gerbang.
“Kalau diskon sewa kamarnya cocok di dompet saya ya, Pak.”
Pak Seno tertawa lebar hingga deretan giginya yang menguning terlihat jelas. “Dasar si eneng... otaknya pedagang beneran!”
Mila melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga satu per satu sambil terkikik geli.
Ketika sampai di lantai dua, dia tidak langsung melangkah masuk ke dalam kamar nomor tujuh kami. Dia berdiri tegak tepat di depanku, menatap lurus ke dalam mataku selama beberapa detik dalam keheningan koridor yang sunyi.
Sisa uap keringat tipis masih tampak berkilau menempel di sekitar pelipis dan dahi mulusnya. Aroma softener pakaian hotel bintang lima, uap panas dari mesin setrika uap, serta sisa udara malam Jakarta melekat kuat pada serat kaus hitam dan helai rambut panjangnya yang berantakan terurai.
“Gimana?” tanyanya pelan dengan nada suara yang berbisik.
“Gimana apanya?” aku mencoba mempertahankan raut wajahku agar tetap terlihat datar dan tenang.
“Senyumnya tadi di bawah,” Mila memicingkan matanya tajam ke arahku.
“Kurang,” kataku dingin.
“Kurang?” kedua mata bulat Mila seketika membelalak lebar karena terkejut. “Pak Seno sampai salah napas dan salah tingkah begitu di bawah tadi masih Mas bilang kurang?”
Aku tidak bisa menahan tawa kecilku lagi melihat ekspresi menggemaskannya. Aku terkekeh pelan. Mila mendengus gemas, lalu berjalan melewatiku begitu saja memasuki kamar kost kami yang sempit. Dia meletakkan kantong plastik putih berisi sisa roti lembur di atas meja kayu kecil di sudut.
Aku melangkah mengekor di belakangnya, lalu menutup pintu kayu rapat-rapat. Begitu selot besi pintu kugeser hingga berbunyi klik tajam, Mila langsung membalikkan tubuhnya menghadapku.
Dia menyilangkan kedua lengannya di dada, menatapku dengan tatapan menyelidik yang tajam namun geli.
“Kamu beneran aneh tahu nggak, Mas,” ujarnya pelan.
“Aneh kenapa?” aku melangkah mendekat ke arahnya.
“Nyuruh istrinya sendiri godain orang lain di bawah,” sudut bibirnya terangkat sedikit. “Tapi pas aku lagi godain dia tadi di bawah, muka kamu dari atas malah kelihatan tegang banget.”
“Siapa yang tegang?” aku mengelak cepat.
Pandangan mata Mila yang tajam seketika meluncur turun, menatap lurus ke arah gundukan yang menonjol di balik celana bahan tipisku.
Aku yang baru menyadari reaksiku sendiri langsung dengan panik menarik ujung kaus Gas-Polku ke bawah untuk menutupi celana. Mila menahan tawanya sekuat tenaga, namun gagal. Bahunya yang polos berguncang hebat di depan dadaku saat tawa renyahnya pecah tanpa suara.
“Ketahuan kan,” ledeknya nakal sambil mengedipkan sebelah matanya yang bulat.
“Kamu... capek ya kerja lembur tadi?” aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ke topik lain untuk menyembunyikan rasa maluku.
“Jangan coba-coba ganti topik obrolan ya, Mas Yuda,” Mila berjalan mendekat ke arahku dengan langkah yang sangat lambat.
Rambut panjangnya yang agak lembap menempel seksi di sisi lehernya yang putih bersih. Dia berdiri begitu dekat di depanku, hingga aroma manis buah tropis bercampur uap panas mesin laundry dari tubuhnya menguasai sisa oksigen di antara kami berdua.
“Seneng?” tanyanya pelan, matanya menatap lurus ke dalam mataku dengan binar yang sangat intim.
“Apa?” suaraku mendadak terdengar parau dan berat di tenggorokan.
“Lihat aku godain Pak Seno di bawah tadi.”
Aku menatap lurus ke dalam matanya yang jernih. Ada rasa geli yang nakal di sana. Ada rasa ingin tahu yang besar. Namun, aku tahu belum ada ketertarikan nyata dari hatinya ke arah Pak Seno. Semua yang baru saja dia lakukan di bawah tadi murni ditujukan hanya kepadaku, demi memuaskan permainan gila suaminya sendiri.
“Sedikit,” jawabku jujur.
“Sedikit apanya?” Mila mencubit ujung kausku dengan jemarinya yang lentik, menarik tubuhku agar semakin merapat ke arahnya. “Dari atas balkon tadi muka kamu kayak orang lagi nonton babak penalti final bola tahu nggak.”
Aku tertawa kecil, melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya yang ramping di balik kaus jersinya yang ketat. “Dia kelihatan seneng banget tadi di bawah.”
“Siapa?” Mila memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
“Pak Seno.”
“Ya iyalah dia seneng. Orang dikasih roti cokelat gratis tengah malem,” kilahnya santai.
“Bukan karena roti pemberian kamu, Dek.”
“Terus karena apa dong?”
Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya yang hangat. “Kamu tahu sendiri jawabannya.”
Mila tidak mencoba menjauhkan tubuhnya dariku. Dia justru mengangkat kedua lengan putihnya yang polos, melingkarkannya erat di leherku, membuat jarak di antara dada kami terkikis habis tanpa sisa.
“Mas Yuda...” bisiknya panjang, suaranya terdengar sangat manja dan menggoda tepat di depan wajahku.
“Hm?”
“Kalau Pak Seno beneran kepincut sama aku gimana?”
Nada suaranya masih terdengar seperti bercanda biasa di telingaku. Namun pertanyaan satu kalimat itu langsung membuat jantungku memukul rusuk dengan debaran yang sangat kencang dan menyakitkan. Aku merapatkan tubuhnya lebih intim lagi ke dalam pelukanku, membiarkan dadaku mendesir gila.
“Ya bagus,” sahutku parau.
“Bagus?” dahi Mila berkerut tipis.
“Berarti akting kamu di bawah sukses besar bikin dia baper.”
Mila menatapku cukup lama dalam keheningan kamar yang pengap. Detak jantung kami yang saling beradu menjadi satu-satunya suara pengisi malam.
“Kalau... suatu hari nanti itu bukan sekadar akting lagi gimana, Mas?” tanyanya pelan dengan binar mata yang mendadak menggelap oleh gairah permainan psikologis ini.
Cengkeraman tanganku di pinggangnya seketika mengencang hebat sebagai reaksi spontan dari ketakutan sekaligus gairah liar yang menyengat ulu hatiku. Mila langsung menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibirnya saat merasakan reaksiku yang mengeras.
“Nah,” bisiknya manja.
“Nah apaan?”
“Panas lagi kan mukanya.”
Aku hendak membuka mulut untuk membalas kalimat meledeknya, tetapi Mila dengan cepat mendekatkan wajah cantiknya ke arahku. Kali ini dia tidak berhenti sebelum bibir kami bertemu dengan ketukan yang sempurna.
Ciumannya terasa singkat namun sangat hangat dan menuntut. Rasanya seperti kopi manis bercampur sisa udara malam Jakarta yang dingin di ujung lidahku. Ketika dia menjauhkan bibirnya perlahan, ujung hidung mancungnya masih menyentuh ujung hidungku, membiarkan embusan napasnya yang hangat merayap di permukaan kulit wajahku.
“Tenang aja, suamiku sayang,” bisiknya lembut dengan nada penyayang yang sangat tulus, mengusap rahangku yang mengeras dengan ibu jarinya yang halus. “Aku godain Pak Seno tadi di bawah cuma karena Mas Yuda yang nyuruh aku.”
Aku mengangguk perlahan, membiarkan ketegangan di dadaku kian melonggar. Kalimat penenang darinya seharusnya sudah lebih dari cukup untuk mengunci kewarasanku kembali.
Namun sebelum melepaskan pelukan hangatnya di leherku, Mila menambahkan kalimat pendek dengan senyum kecil yang sangat tipis di bibirnya:
“Lagipula... lucu juga ya lihat laki-laki tua kayak dia bisa salah tingkah begitu di depan aku.”
Mila memutar tubuhnya membelakangiku, berjalan santai menuju lemari pakaian kayu untuk mengambil selembar handuk bersih. Dia melangkah menuju kamar mandi di sudut kamar sambil menguap lebar karena kelelahan.
Pintu kamar mandi tertutup rapat. Selot besinya bergeser tajam hingga berbunyi klik. Tak lama kemudian, suara air gayung yang disiramkan ke tubuh terdengar nyaring di balik dinding triplek tipis.
Aku tetap berdiri kaku di tengah kamar yang pengap, menatap lurus ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Bagian pertama dari ucapannya tadi masih bisa diterima dengan baik oleh akal sehatku. Dia menggoda Pak Seno di bawah tadi murni hanya karena aku yang memintanya melakukan itu demi memuaskan fantasiku.
Namun... bagian kedua dari ucapannya terus berputar-putar liar di dalam kepalaku tanpa bisa kuhentikan.
Lucu juga lihat dia salah tingkah.
Untuk pertama kalinya sejak permainan peran kotor ini kami mulai di atas ranjang kamar nomor tujuh, Mila bukan lagi sekadar menjadi bidak pasif yang mengikuti jalannya permainanku dengan patuh demi menyenangkan suaminya.
Malam ini, dia mulai menikmati perannya sendiri. Dia mulai menikmati kuasa atas kendali perasaan pria lain di bawah tangannya.
Aku menolehkan kepalaku perlahan ke arah daun pintu kayu kamar yang tertutup rapat. Di luar kamar kost kami yang sepi, tawa berat Pak Seno kembali terdengar sayup-sayup dari arah teras bawah.
Mungkin dia masih duduk sendirian di sana sambil menonton televisi tuanya dalam kegelapan. Mungkin dia sedang menatap bungkus roti cokelat pemberian Mila di atas meja dengan senyuman lebar. Atau mungkin... dia sedang memutar ulang setiap baris kalimat obrolan genitnya dengan Mila di dalam kepalanya yang sepi.
Sama persis seperti apa yang sedang kulakukan saat ini di dalam kamar.
Akulah orang yang membuka pintu gerbang itu lebar-lebar untuknya. Akulah orang yang meminta Mila melemparkan senyuman tipis misterius itu padanya dari atas tangga. Dan akulah orang yang menaruh nama Pak Seno di antara ruang intim pernikahan kami berdua.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, aku menyadari satu kebenaran mengerikan yang seharusnya sudah kupahami sejak awal sebelum melangkah masuk ke dalam labirin gelap ini.
Permainan gila ini akan tetap terasa sangat aman dan terkendali, selama hanya ada satu orang saja di antara kami yang menikmatinya secara sadar di atas ranjang.
Masalahnya adalah…
malam ini, kami bertiga mulai menikmati permainan panas ini bersama-sama tanpa ada yang mau berhenti.
Bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.