Chapter 7
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 22 Juli 2026 - 2.609 kata
“Arrrggggghhh……”
Aku mencoba merebahkan tubuh.
Kipas angin tua berputar menghadap dinding, menghembuskan udara panas yang cuma memindahkan gerah dari satu sudut ke sudut lain. Di kamar sebelah, suara tembakan dari game terdengar bertubi-tubi. Bu Lastri berteriak menyuruh anaknya tidur. Dari bawah terdengar seseorang tertawa, disusul batuk berat yang langsung kukenal.
Pak Seno.
Aku membuka mata.
Batuk itu terdengar lagi.
Aku lalu bangkit.
Bukan karena ingin bertemu Pak Seno. Aku hanya merasa kamar ini semakin pengap. Itu saja yang kukatakan pada diriku sendiri saat mengambil rokok, mengenakan sandal, lalu keluar menuju tangga.
Pak Seno sedang duduk di teras depan kamarnya. Tubuh tambunnya tenggelam di kursi plastik hijau yang sudah memutih dimakan usia. Ia mengenakan kaus oblong putih tipis dengan bagian kerah yang melar, dipadukan sarung kotak-kotak yang digulung sampai betis. Satu kakinya selonjoran di bangku pendek. Tangan kirinya memegang kretek, sementara tangan kanan mengipasi dada menggunakan kardus bekas dus mi instan.
Di meja kecil sebelahnya ada gelas kopi hitam, asbak penuh puntung, radio tua yang memutar lagu Betawi dengan volume pelan.
Begitu melihatku, Pak Seno langsung menyeringai.
“Lah, tumben turun malem-malem lu yud?”
Aku terkekeh, lalu menghampirinya. “Gerah, Pak.”
“Gerah ape gelisah?”
Langkahku sempat tertahan.
Pak Seno tertawa puas melihat wajahku.
Aku menarik satu kursi plastik dari dekat dinding, lalu duduk berhadapan dengannya. Pak Seno menggeser gelas kopi sedikit menjauh agar asap rokoknya tidak masuk ke sana.
“Jakarta makin kagak ada akhlaknye…,” gerutunya sambil terus mengipasi dada. “Siang panas... malem juga panas….”
Aku tertawa kecil. “Bapak aja pakai kaus gitu masih keringetan.”
“Ini kaus paling adem di lemari gue padahal...” Pak Seno menarik bagian depannya, memperlihatkan kain tipis yang nyaris menerawang. “Kalau dilepas lagi, ntar penghuni kost pada pindah semua.”
“Yang pindah paling Bu Lastri.”
“Bu Lastri mah malah betah… liat dada gue yud hahahaha….”
Pak Seno tertawa lebar sampai perutnya berguncang. Aku ikut tertawa, lebih lepas daripada yang kuduga. Untuk sesaat, gelisah yang mengikutiku dari kamar sedikit mengendur.
Ia meraih bungkus rokok di atas meja, lalu menyodorkannya.
“Nih.”
“Saya bawa, Pak.”
Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusku sendiri, lalu meminjam koreknya. Pak Seno memperhatikan tanganku yang berkali-kali gagal menyalakan api karena tertiup angin kecil dari kipasan kardusnya.
“Buset, tangan lu kenape gemeter begitu?”
“Angin…, Pak.”
“Angin dari mane? Ini Jakarta, Yud… Dari tadi gue ngipas kagak dapet-dapet.”
Aku tertawa hambar. Api akhirnya menyala. Aku mengisap rokok dalam-dalam, berharap asapnya bisa menutup sesuatu yang sudah terlanjur terbaca dari wajahku.
Pak Seno membuang abu rokok ke asbak, lalu menatap koridor lantai dua.
“Neng Mila belum balik?”
Pertanyaan itu sebenarnya biasa saja.
Namun dua kata itu—Neng Mila—keluar dari mulutnya dengan suara berat yang serak oleh kretek. Ada keakraban di sana. Seolah nama istriku memang sudah sering melintas di kepalanya.
Dadaku mengencang sedikit.
“Tadi sih udah-” belum sempat aku menyelesaikan, Pak Seno sudah memotongnya.
“Lembur yak?”
“Iya...”
“Waduh….” Pak Seno menggeleng pelan. “Padahal siang udah kerja.”
“Katanya cucian dari hotel lagi numpuk…. sprei sama handuk banyak banget.”
“Oh, cucian hotel.” Pak Seno mengangguk-angguk paham. “Pantesan…. Hotel kalau lagi penuh, yang mabok bukan tamunya doang…. orang laundry juga yee….”
Aku terkekeh.
Pak Seno kembali mengipasi lehernya.
“kerjaan berat…. terus bau orang dari mana-mana nempel semua. Neng Mila kuat juga ye...”
“Mila mah kuat, Pak.”
“Kelihatannya doang kecil begitu, tenaganya boleh juga.”
Aku menoleh cepat kepadanya.
Pak Seno sedang menatap asap rokoknya sendiri. Tidak ada senyum nakal. Tidak ada nada aneh. Ia sekadar berbicara seperti tetangga yang mengenal penghuni kostnya.
Tetapi kepalaku sudah lebih dulu menyusun bayangan lain.
Mila sedang menarik sprei putih besar dari dalam mesin. Kaus hitamnya menempel di tubuh karena keringat. Ivan berdiri di belakangnya, membantu mengangkat sisi yang terlalu berat.
Aku mengubah posisi duduk.
Pak Seno melirikku.
“Kenape?”
“Kesemutan...”
“Baru duduk juga.” Ia terkekeh. “Umur lu dua puluhan apa tujuh puluhan?”
Aku ikut tertawa, lalu mengisap rokok lagi. “Bapak merhatiin Mila juga ya….”
Pak Seno berhenti mengipas. Ia menatapku, kemudian tertawa pendek.
“Lah, orang tiap hari mondar-mandir depan kamar gue.”
“Berarti sering diliatin?”
“Ya kalau orang lewat depan mata, masa gue tutup mata?” balasnya cepat. “Ntar nabrak tiang.”
Aku tertawa lebih lebar. Pak Seno ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Lu kenape dah?” tanyanya. “Baru sejam bini pergi, udah nyari bahan ribut.”
“Enggak…. Saya cuma nanya.”
Aku menunduk, menahan senyum. Justru candaan itu membuat dadaku terasa semakin hangat. Pak Seno belum mengatakan apapun yang jelas-jelas genit, tetapi setiap kali ia menyebut nama Mila, kontolku menegang.
Aku cuma duduk di kursi plastik.
Tidak ada Mila.
Tidak ada tubuhnya.
Tidak ada sentuhan apa pun.
Namun nama istriku di mulut lelaki lain ternyata cukup membuat celanaku mulai terasa sempit.
Aku menekan kedua paha agar rapat, lalu bersandar lebih dalam.
“Pak.”
“Hm?”
“Menurut Bapak, Mila itu orangnya gimana?”
Pak Seno mengernyit. “Gimana apanya?”
“Ya... gimana aja.”
“Buset.” Ia menatapku lama, lalu tertawa.
“Jawab aja.”
“Kenapa harus gue?”
“Kan Bapak sering lihat.”
Pak Seno menunjukku menggunakan rokoknya.
“Nah… Tadi katanya enggak nyari ribut.”
Aku tertawa. “Serius, Pak.”
Ia mengisap kreteknya, lalu membuang asap ke arah halaman.
“Neng Mila mah orangnya baik.”
“Cuma baik?”
“Ya ramah.”
“Terus?”
“Rajin.”
“Terus?”
Pak Seno menoleh lagi kepadaku. “Lu mau gue bikin biodata lengkap sekalian?”
Aku tertawa sambil mengangkat bahu. “Ya siapa tahu ada penilaian lain.”
Ia menepuk pahanya sendiri.
“Cakep…. puas lu?”
Satu kata itu langsung menekan sesuatu di dadaku.
Aku mencoba mempertahankan ekspresi santai. “Cakep biasa apa cakep banget?”
Pak Seno terbatuk karena tertawa saat asap masih berada di tenggorokannya. Ia menunduk, menepuk-nepuk dada, kemudian menatapku dengan mata berair.
“Bujug buneng, Yud….. Lu malem-malem turun kesini cuma mau nyuruh gue ngerating bini lu?”
“Kan cuma ngobrol.”
“Ngobrol pala lu….” Ia kembali tertawa. “Ntar kalau gue jawab kelewat jujur, lu ngamuk.”
“Saya enggak bakal ngamuk.”
“halaaah… omdo lu yud….”
Aku tersenyum.
Pak Seno mengangkat kedua alisnya, lalu menunjuk wajahku menggunakan ujung rokok.
“Neng Mila itu cantik... orang sekost juga punya mata.”
Darahku terasa mengalir lebih cepat.
“Kalau Bapak masih muda, bakal berani deketin ngga?”
Ia memandangi wajahku beberapa detik. Tidak langsung tertawa kali ini. Matanya menyipit, berusaha memastikan apakah aku sedang bercanda atau benar-benar mencari jawaban.
Kemudian sudut bibirnya terangkat.
“Kalau gue masih muda, paling gue suruh lu minggir.”
Aku tertawa keras.
Pak Seno ikut tertawa sampai perutnya berguncang. Kipas kardus di tangannya hampir jatuh.
“Wah, galak juga Bapak...”
“Ya lu yang nanya.” Ia mengusap sudut matanya. “Tapi dulu waktu muda gue ganteng, Yud. Jangan salah.”
“Kayaknya nggak jauh beda dah...”
“Kurang ajar.” Ia mengangkat sandal jepitnya seolah hendak melemparku. “Dulu rambut gue klimis... perut juga kagak begini…. cewek satu gang mahh… ampe rebutan.”
“Terus kenapa sekarang enggak cari lagi?”
“Cari apaan?”
“Bini!”
Pak Seno mendengus. “Tadi ngomongin Neng Mila, sekarang nyuruh gue kawin. Lu mau jadi mak comblang?”
“Kan Bapak sendiri bilang kalau masih muda bakal nyuruh saya minggir.”
“Itu bercanda.”
“Kalau sekarang saya yang minggir?”
Pak Seno yang semula hendak mengisap rokok berhenti di tengah jalan. Ia menatapku lurus-lurus. Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi seringai bingung.
“Lu ngomong apaan sih?”
Aku tertawa kecil. “Ya misalnya.”
“Misalnya apa?”
“Kalau saya ngizinin Bapak deket ama Mila.”
Kali ini Pak Seno benar-benar diam.
Radio di meja kecil masih memutar lagu lawas. Dari lantai atas terdengar Bu Lastri membentak anaknya yang belum juga mematikan televisi. Seorang penghuni kost melintas di depan kami sambil membawa handuk, menyapa Pak Seno, lalu masuk ke kamar mandi umum.
Setelah orang itu pergi, Pak Seno mengembuskan asap rokok perlahan.
“Yud....”
“Iya, Pak?”
“Bini itu bukan motor.”
Aku tersenyum. “Saya tahu.”
“Bukan barang yang bisa lu pinjemin kalau lagi bosen.”
“Saya nggak bosen.”
“Nah, terus ngapain lu ngomong begitu?”
Aku mengangkat bahu. “Cuma pengin tahu aja hahaha….”
Pak Seno tertawa pendek sambil menggeleng.
“Lu aneh.”
Ia mengusap kumisnya menggunakan ibu jari. Tatapannya kembali jatuh ke koridor lantai dua, tepat ke arah kamar kami.
“Neng Mila mah perempuan bagus.”
“Bagus gimana?”
“Ya bagus.” Pak Seno menatapku lagi. “Cakep iya... Rajin iya... Kalau ngomong bikin orang ketawa. Kalau die kagak kelihatan sehari aja, kostan rasanya sepi.”
Aku menahan napas.
Pak Seno melanjutkan tanpa menyadari apa yang terjadi di tubuhku.
“Perempuan kayak begitu kalau masuk rumah, rumahnya jadi idup Yud….seger aja liatnya”
Kontolku semakin tegang ketika mendengarnya.
Yang dikatakannya bahkan tidak vulgar. Tidak ada satupun kata kotor. Namun entah kenapa, justru itu yang membuatnya terasa lebih intim.
Pak Seno tidak sedang membayangkan Mila di ranjang.
Ia membayangkan Mila berada di rumahnya.
Tertawa.
Mengomel.
Menyeduh kopi.
Mengisi ruangan yang selama ini kosong.
Aku menelan ludah.
“Kalau saya beneran ngasih kesempatan?”
Pak Seno terkekeh, tetapi kali ini tawanya lebih pelan.
“Lu jangan suka ngetes orang, Yud.”
“Takut kepancing?”
“Takut lu nyesel.”
Kalimat itu menghantam tepat ke dadaku.
Aku menatapnya. Pak Seno sudah kembali mengisap rokok, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Aku mencoba tertawa. “Berarti Bapak mau?”
“Gue enggak bilang begitu.”
“Tapi nggak nolak.”
“Bujug.” Pak Seno melempar kardus kipas ke pangkuanku. “Nih, kipasin diri lu. Otak lu mulai seklek...”
Aku tertawa sambil mengambil kardus itu, lalu mengipasi dada sendiri. Pak Seno menyalakan rokok baru menggunakan bara dari rokok lamanya.
Untuk beberapa menit kami membicarakan hal lain. Tentang penghuni Kamar Nomor 3 yang sering telat bayar sewa. Tentang pompa air yang mulai berbunyi kasar. Tentang harga rokok yang terus naik meski batangnya makin pendek.
Tapi pikiranku masih tertinggal pada kalimat tadi.
“Takut lu nyesel”
Aku menatap Pak Seno dari samping. Wajahnya terlihat santai, tetapi ada sesuatu yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya. Setiap kali berbicara tentang Mila, senyumnya selalu bertahan sedikit lebih lama.
Entah sejak kapan.
Mungkin aku yang baru menyadarinya malam ini.
Atau mungkin karena aku sendiri yang sengaja mencarinya.
“Pak.”
“Apaan lagi?” Pak Seno langsung tertawa. “Jangan-jangan sekarang lu mau nawarin Bu Lastri.”
Aku ikut tertawa. “Enggak…. Saya serius.”
“Dari tadi juga katanya serius.”
“Kenapa Bapak nggak kawin lagi?”
Senyumnya masih ada, tetapi gerakannya melambat.
Pak Seno menggeser tubuh, menurunkan kaki yang sejak tadi selonjoran. Ia mengambil gelas kopi, menyesap sedikit, lalu meringis karena kopinya sudah dingin.
“Udah kagak laku.”
“Ah, bohong.”
“Lah, muka begini siapa yang mau?”
“Kalau punya kost sepuluh kamar, banyak yang mau.”
“Berarti yang dinikahin kostan gue, bukan gue.”
Kami sama-sama tertawa. Namun sesudah itu, Pak Seno terdiam cukup lama. Ia menatap halaman depan yang sempit, tempat beberapa motor terparkir berdesakan di bawah lampu kuning.
“Istri Bapak dulu orang mana?” tanyaku.
“Betawi juga. Kampung sebelah.”
“Dijodohin?”
“Enggak…. gue pepet sendiri.” Sudut bibirnya terangkat bangga. “Dulu die jualan kue cucur tiap pagi tuh…. gue beli terus meski kagak doyan.”
Aku tertawa. “Sampai kawin?”
“Ampe diabetes… hampir.”
Pak Seno ikut tertawa. Wajahnya mendadak terlihat lebih muda ketika mengingat masa lalu.
“Namanya Nur,” lanjutnya. “Orangnya cerewet…. Gue pulang malem dimarahin… Ngerokok dimarahin…. Naruh sarung sembarangan dimarahin…. Pokoknya hidup tiap hari isinya omelan… terus.”
“Mirip Mila.”
Pak Seno melirikku, lalu tersenyum tipis.
“Sedikit….”
Satu kata itu kembali mengirimkan panas ke perutku.
Namun sebelum aku sempat memancing lagi, Pak Seno sudah menatap rokok di tangannya.
“Waktu itu kandungannya masuk delapan bulan.”
Nada suaranya tidak berubah drastis. Tidak dibuat berat. Ia masih terdengar seperti lelaki yang sedang bercerita soal tetangga lama.
“Malem-malem die pendarahan. Gue bawa ke rumah sakit naik bajaj... jalanan macet…. sampe sono...” Ia mengangkat bahu kecil. “Udah kagak ketolong.”
Aku tak langsung menjawab.
Pak Seno mengetuk abu rokok ke asbak.
“Anaknya juga?”
Ia mengangguk.
“Dua-duanya…”
Tidak ada musik sedih. Tidak ada hujan. Tidak ada suara tangis.
Hanya radio tua, dengung kipas dari kamar penghuni, serta asap kretek yang terus naik ke udara malam.
Pak Seno mengembuskan napas melalui hidung.
“Gue berangkat bertiga… pulangnya sendirian.”
Dadaku terasa seperti ditekan sesuatu.
“Maaf, Pak. Saya enggak tahu.”
“Ya emang gue kagak pernah cerita.” Ia terkekeh kecil. “Ngapain juga tiap ada penghuni baru gue ceritain? Ntar orang mikir kostan gue angker dong...”
Aku tersenyum tipis, tetapi tak sanggup tertawa.
Pak Seno justru tertawa lebih dulu.
“Bener, Yud… dulu ada yang bilang suka denger bayi nangis. Padahal suara kucing birahi. Ehh… langsung pindah.”
Aku akhirnya ikut tertawa. Tidak lepas, tetapi cukup untuk membuat suasana kembali bernapas.
“Terus sejak itu Bapak nggak pernah coba nikah lagi?”
“Pernah dikenalin beberapa kali.” Pak Seno mengusap perutnya. “Ada janda…. ada perawan tua... ada yang umurnya lebih muda dari gue... tapi ya… begitu.”
“Begitu gimana?”
“Gue kagak bisa.”
“Masih sayang sama almarhumah?”
“Iya... Tapi bukan cuma itu.”
Pak Seno menatap pintu kamarnya yang terbuka. Dari tempat kami duduk, bagian dalam rumah terlihat gelap dan kosong. Hanya cahaya televisi yang berkedip-kedip dari ruang tengah.
“Gue takut mulai lagi.”
“Takut kehilangan?”
Ia tertawa pendek.
“Dulu gue kira laki itu harus takut miskin, takut nggak punya kerjaan, takut kalah ama laki lain.” Ia menggeleng. “Ternyata yang paling bikin takut itu pulang ke rumah, terus orang yang biasa nyambut lu udah nggak ada.”
Aku menatap pintu rumahnya.
Pak Seno mengisap rokok sekali lagi.
“Yang gue kangenin bukan kasurnya, Yud…. suara piring…. suara orang ngomel…. ada yang teriak nyuruh gue mandi…. rumah kalau nggak ada suara cewe, lama-lama bukan rumah… cuma bangunan Yud...”
Mataku tanpa sadar bergerak ke lantai dua.
Ke kamar Nomor 7 yang pintunya masih terbuka sedikit.
Untuk pertama kalinya malam itu, panas di tubuhku bercampur dengan sesuatu yang lain. Aku membayangkan kehilangan Mila bukan sebagai permainan, bukan sebagai fantasi yang bisa kuhentikan kapan pun aku mau.
Benar-benar kehilangan.
Tidak ada tawa.
Tidak ada suara langkah sandalnya.
Tidak ada orang yang menyambutku pulang.
Aku menelan ludah.
“Saya kayaknya nggak sanggup kalau kehilangan Mila, Pak.”
Pak Seno menoleh.
Aku tidak tersenyum kali ini.
Ia menatapku beberapa detik, lalu menepuk lututku menggunakan telapak tangannya.
“Ya jangan dilepas.”
Kalimat itu sederhana.
Namun justru akulah yang sejak tadi membicarakan bagaimana rasanya bila Mila dilepas kepada orang lain.
Aku menunduk, memperhatikan bara rokok yang tinggal separuh.
Pak Seno kembali bersandar. “Lagian Neng Mila mah sayang banget sama lu.”
“Kelihatan?”
“Kelihatan lah.” Ia terkekeh. “Setiap ngomong isinya Mas Yuda, Mas Yuda. Kadang gue eneg dengernya.”
Aku ikut tertawa.
“Tapi...” Pak Seno mengangkat jari telunjuk. “Jangan mentang-mentang die sayang, lu tes terus.”
Aku menatapnya.
“Tes apa?”
“Ya apa aja.” Ia mengangkat bahu. “Orang kalau ditarik-ulur mulu, lama-lama talinya putus.”
Pak Seno mengatakannya sambil tersenyum santai, lalu meraih gelas kopi lagi. Mungkin baginya itu cuma nasihat orang tua kepada penghuni kost yang sedang gelisah.
Bagiku, kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Ponsel di sakuku bergetar.
Aku langsung merogohnya.
Pesan dari Mila.
“maaaas, cucian hotelnya lebih banyak dari perkiraan”
“aku pulang agak malem yaaaa.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada panggilan sayang.
Tidak ada emotikon.
Tidak ada foto.
Pak Seno mengintip ekspresiku.
“Neng Mila?”
Aku mengangguk.
“Masih lembur?”
“Iya.”
Pak Seno terkekeh. “Tuh…. Baru juga diomongin, udah nongol.”
Ia mengulurkan tangan meminta kembali kardus kipas yang masih berada di pangkuanku. Aku menyerahkannya, lalu berdiri.
“Mau naik?”
“Iya, Pak.”
“Udah sono... Tidur…. Jangan duduk di kamar sambil meluk helm.”
Aku tertawa. “Kok tahu?”
“Kelihatan dari muka lu.” Pak Seno kembali mengipasi dadanya. “Kalau Neng Mila pulang, bilang Bapak nanyain.”
Aku berhenti.
Menoleh kepadanya.
“Bapak kangen?”
Pak Seno tertawa lebar.
“Kangen berisiknya... Kostan sepi kalau Neng Mila kagak ada...”
Aku ikut tertawa, lalu menaiki tangga.
Namun setiap anak tangga yang kuinjak terasa membawa kembali satu demi satu kalimat Pak Seno.
“Neng Mila cantik.”
“Kalau gue masih muda, gue suruh lu minggir.”
“Rumah jadi hidup kalau ada perempuan kayak dia.”
“Takut lu nyesel.”
Begitu masuk kamar, aku menutup pintu, lalu bersandar di baliknya.
Tubuhku masih panas.
Bukan karena Mila sedang berada di hadapanku.
Bukan karena aku melihatnya bersama laki-laki lain.
Mila bahkan tidak ada di sini.
Aku hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam di teras, mendengarkan seorang duda menyebut nama istriku berulang kali.
Tetapi itu sudah cukup.
Aku membuka kembali pesan Mila.
Jempolku mulai mengetik.
“Tadi Pak Seno nanyain kamu…”
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Masih bisa kuhapus.
Masih bisa kusimpan sendiri.
Namun entah dorongan apa yang bekerja di dalam kepalaku, jempolku justru menekan tombol kirim.
Dua centang abu-abu muncul.
Aku menunggu.
Beberapa detik kemudian, layar berubah.
Mila sedang mengetik…
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.