Chapter 6
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 13 Juli 2026 - 1.017 kata
“Kalau bukan cuma kerjaan?”
Tangannya berhenti di rambut.
Aku menatap bayangannya di cermin. Mila juga menatapku dari sana. Wajahnya tenang, tetapi ada sesuatu pada matanya yang membuat kalimat tadi sulit langsung dianggap lelucon.
Aku memaksakan senyum tipis.
“Kalau bukan kerjaan, bonusnya harus lebih gede.”
Mila terdiam sepersekian detik.
Lalu ia meledak tertawa.
“Ya ampun, Mas Yuda!” Ia meraih bantal lain dan memukul lenganku berkali-kali. “Kok malah nawarin harga, sih? Jahat banget!”
Aku tertawa sambil menangkis pukulannya. “Kamu yang mulai.”
“Suami macam apa ini?”
“Suami realistis.”
“Realistis apanya?” Mila berdiri di depan cermin lagi, masih terkikik. “Nanti kalau aku beneran dibeli orang, baru nangis.”
“Siapa yang nangis?”
“Mas.” Ia menunjuk bayanganku di cermin. “Pasti duduk di pojokan sambil peluk helm.”
“Helmku bau keringat.”
“Ya cocok. Biar dramanya makin sedih.”
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini dua kali.
Mila berhenti tertawa. Ia mengambil ponsel, membaca pesan yang masuk, lalu mengetik balasan lebih panjang daripada sebelumnya.
Aku memperhatikannya dari belakang. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berhenti seperti sedang memilih kata. Saat pesan selesai dikirim, ia memasukkan ponsel ke saku celana kulot dan membuka lemari plastik kami.
Ia mengambil kaus hitam berlengan pendek.
“Lho,” kataku. “Mau ganti?”
“Gerah.”
“Bukannya mau mandi?”
“Kalau mandi nanti wangi parfumnya hilang.” Mila menoleh melalui bahunya, senyum jahil kembali muncul. “Sayang, kan? Mas tadi suka.”
Aku tidak menjawab.
Ia mengganti kausnya di balik pintu lemari yang dibuka sebagai penghalang seadanya. Tidak lama kemudian ia muncul kembali mengenakan kaus hitam yang lebih longgar, tetapi justru membuat kulit leher dan lengannya terlihat lebih terang. Rambutnya tetap dijepit rapi. Ia mengoleskan lip balm tipis sambil bercermin, lalu menepuk-nepuk bibirnya menggunakan ujung jari.
“Biasanya lembur nggak pakai dandan lagi,” kataku.
Mila menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh perlahan, lalu melihatku dari ujung kepala sampai kaki dengan ekspresi seolah sedang menilai barang bekas di pasar loak.
Lintang Gelap“Ini bukan dandan, Mas.”
“Terus?”
“Perawatan aset.”
Aku hampir tertawa, tetapi urung karena ia sudah kembali menatap cermin.
“Biar Mas Ivan semangat ngawasin lembur ya?”
“Nah, itu baru suami suportif.” Mila mengacungkan jempol ke arahku melalui cermin. “Kasih motivasi yang positif begitu.”
“Kamu seneng banget ya bikin aku panas.”
“Lho.” Ia berbalik, menyandarkan pinggul ke meja, lalu menyilangkan kedua tangan di dada. “Bukannya Mas juga seneng dibikin panas?”
Pertanyaan itu dilontarkan sambil tersenyum, tetapi tepat mengenai bagian diriku yang tidak bisa kujawab dengan lelucon.
Kami saling menatap beberapa detik.
Lalu Mila berjalan mendekat. Ia berdiri di antara kedua kakiku, merapikan kerah kausku yang sebenarnya tidak berantakan.
Aku menahan napas, membiarkan dadaku sesak oleh pasang surut emosi yang bertabrakan. Aroma manis softener buah tropis milik Mas Ivan yang mengurung tubuhnya mendadak terasa begitu pekat dan intim menembus rongga dadaku.
Jari-jari Mila yang lentik bergerak sangat lambat, naik dari kerah kausku hingga menyentuh rahangku yang mengeras. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan tekanan yang halus, menuntut kepatuhan penuh dari sisa kewarasanku.
Mila mencondongkan tubuhnya ke depan. Pergerakannya begitu pelan, sengaja mengulur waktu agar aku bisa mengagumi sepasang mata bulatnya yang kini menggelap oleh gairah permainan ini.
Jarak di antara kami terkikis habis hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dan berbau manis merayap di permukaan kulitku. Wajahnya mendongak, bibirnya yang merekah basah bergerak mendekat menuju bibirku.
Aku otomatis memejamkan mata, bersiap menyambut pagutan ciuman yang dalam—sebuah ciuman yang biasanya menjadi tanda kepemilikan mutlak atas dirinya.
Namun, tepat ketika permukaan kulit bibir kami tersisa beberapa milimeter dan bulu kudukku sudah meremang hebat, Mila tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Secara tak terduga, dia memalingkan wajahnya menyamping. Ciuman panas yang sudah berada di ujung tanduk itu menguap begitu saja, digantung tanpa kepastian.
Bibirnya justru mendarat di dekat daun telingaku, mengembuskan bisikan mendayu-dayu yang dingin sekaligus membakar.
“Mas yakin aku boleh pergi?” tanyanya pelan.
Kali ini tidak ada tawa dalam suaranya.
Aku menatap wajahnya. Matanya bulat, tenang, dan terlalu dekat untuk bisa kubaca dengan jernih.
“Yakin.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Jangan nyesel.”
Ia mengatakannya sambil tersenyum kecil. Entah peringatan, entah godaan.
Aku menyentil ujung hidungnya.
“Kerja yang bener.”
Mila langsung kembali ceria. Ia mencium pipiku cepat, lalu mengambil ponselnya.
“Makasih ya, Mas.”
“Buat apa?”
“Udah percaya.”
Ia melangkah menuju pintu.
Aku baru sadar ia tidak mengambil tas kerjanya.
“Dek, tasmu.”
Mila berhenti dengan tangan sudah memegang gagang pintu. Ia melirik tas yang masih tergeletak di kursi plastik, lalu kembali memandangku.
“Nggak perlu.”
“Helm?”
“Juga nggak.”
Ia membuka pintu.
Dari halaman bawah terdengar bunyi klakson pendek. Dua kali.
Tin. Tin.
Mila menoleh kepadaku sekali lagi. Senyumnya tipis, hampir seperti senyum yang ia berikan ketika tahu aku sedang memperhatikannya dari balik pilar koridor.
“Jangan tungguin, ya.”
Lalu ia keluar.
Aku berdiri di tengah kamar selama beberapa detik, mendengarkan langkah sandalnya menjauh sepanjang koridor, kemudian turun melalui tangga semen.
Suara klakson itu terdengar lagi.
Aku berjalan ke luar kamar dan mendekati pagar koridor lantai dua.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang kost. Kacanya gelap. Mesin masih menyala. Dari posisiku, aku tidak bisa melihat siapa yang duduk di balik kemudi.
Mila berdiri di samping mobil itu. Ia membungkuk sedikit ke arah jendela depan yang turun hanya beberapa senti, mengatakan sesuatu yang tidak terdengar sampai ke atas.
Lalu ia tertawa.
Tawa renyah yang kukenal.
Pintu belakang terbuka dari dalam.
Mila sempat mendongak ke lantai dua.
Mata kami bertemu.
Ia mengangkat satu tangan dan melambaikannya kecil kepadaku, seolah benar-benar tahu aku akan berdiri di sana.
Kemudian ia masuk ke kursi belakang.
Pintu tertutup.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman kost sebelum aku sempat melihat siapa pun yang duduk di balik kaca gelapnya.
Aku masih berdiri di depan pintu.
Entah karena memang ingin mengantar pandangannya, atau karena kakiku mendadak terasa berat untuk melangkah kembali ke dalam.
Beberapa detik kemudian aku mengembuskan napas pelan.
Masuk ke kamar.
Sunyi.
Kasur yang tadi masih dipenuhi suara tawa Mila kini terasa terlalu luas.
Aku duduk di tepinya.
Tanganku tanpa sadar masih menyentuh pipi yang tadi sempat diciumnya sebelum pergi.
Lalu…
dadaku mendadak terasa sesak.
Baru kali ini.
Aku mengangkat kepala.
Menatap jam dinding.
Selama hampir dua tahun menikah...
Mila belum pernah sekalipun mengambil lembur.
Bahkan ketika teman kerjanya sakit.
Bahkan ketika laundry sedang ramai menjelang Lebaran.
Dia selalu memilih pulang.
Katanya, malam adalah waktunya untukku.
Aku menelan ludah pelan.
Kalau begitu...
kenapa malam ini...
dia justru pergi?
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.