Chapter 5
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 13 Juli 2026 - 1.246 kata
Lampu merah di perempatan Slipi masih menyala ketika Mila mengulang pertanyaannya dari belakang punggungku.
“Jadi gimana, Mas?”
Suaranya terdengar ringan, hampir tenggelam oleh geraman bus kota dan bunyi klakson yang saling sahut dari segala arah. Namun kedua lengannya yang melingkar di pinggangku justru mengencang, seolah ia sengaja memastikan aku tidak bisa pura-pura tidak mendengar.
Aku menatap angka penghitung mundur di lampu merah. Dua puluh tiga detik.
“Kalau emang ada lemburan, ya ambil aja...”
Mila tidak langsung menjawab. Dari kaca spion, kulihat alisnya terangkat sedikit. Bibirnya mengerucut, lalu kepalanya miring pelan seperti orang yang baru mendengar jawaban salah dalam kuis berhadiah.
“Gitu doang?”
“Emang harus gimana?” Aku menahan senyum, tetap menatap jalan. “Mas harus turun dari motor, terus teriak di tengah lampu merah, ‘Jangan pergi, Mila! Aku nggak sanggup kehilanganmu!’ begitu?”
Mila tertawa keras di belakangku. Bahunya berguncang dan helmnya sempat membentur bagian belakang helmku.
“Ya ampun, Mas!” Ia menepuk perutku dua kali. “Ngapain pakai kehilangan segala? Aku lembur, bukan jadi TKW ke Arab.”
“Lah, kamu sendiri yang nanyanya kayak mau pergi tiga tahun.”
“Kan aku pengen lihat reaksi Mas.”
Lampu berubah hijau. Aku menarik gas perlahan, menyelip di antara dua mobil yang sama-sama tidak sabaran.
“Reaksiku biasa aja.”
“Bohoooong….”
Mila mengucapkannya cepat, mantap, tanpa jeda sedikit pun. Dagunya kembali menempel di bahuku. Dari kaca spion, matanya menyipit jahil.
“Apanya yang bohong?” tanyaku, pura-pura tak paham.
“Jari Mas dari tadi kaku di rem.” Ia menggeser telapak tangannya turun, menepuk punggung tanganku yang menggenggam setang. “Terus pundaknya tegang. Terus pas aku bilang berduaan sama Mas Ivan, napas Mas langsung berat.”
Aku terkekeh kecil. “Kamu sekarang kerja di laundry atau jadi ahli bahasa tubuh?”
“Dua-duanya bisa.” Mila membusungkan dada di belakangku, meski gerakan itu cuma terlihat sedikit lewat spion. “Aku karyawan multitalenta.”
“Kalau multitalenta, kenapa setrika kemejaku kemarin masih ada lipatannya?”
Mila langsung mencubit pinggangku cukup keras sampai motorku sedikit oleng.
“Eh, jangan nyerang hasil kerja profesional!”
“Profesional apanya? Orang Kerahnya miring kok...”
“Biar ada ciri khas.”
“Ciri khas orang belum bisa nyetrika?”
“Ciri khas suami yang punya istri cantik tapi banyak protes.”
Aku tertawa. Mila ikut tertawa, lalu memelukku lebih erat. Untuk beberapa detik, semuanya terasa seperti biasa: kami berdua di atas motor, saling melempar ejekan murahan sambil menembus udara Jakarta yang panas dan berdebu walau sudah malam.
Hanya saja nama Ivan masih tertinggal di antara kami.
Tidak disebut lagi, tetapi belum benar-benar hilang.
Saat motor memasuki gang menuju Kost Mulia Jaya, Mila kembali mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Mas.”
Nada suaranya berubah sedikit. Masih manja, tetapi lebih pelan.
“Apalagi?”
“Kalau aku pulang jam satu gimana?”
Aku sengaja membiarkan jeda beberapa detik. Roda motor melewati lubang kecil, membuat tubuh kami berguncang bersamaan.
“Ya pulang jam satu.”
“Kalau jam dua?”
“Ya jam dua.”
“Kalau dijemput? dianter?”
Aku menahan tawa yang hampir lolos. “Bagus dong.. hemat ongkos.”
Mila memukul bahuku pelan menggunakan ujung jarinya.
“Mas tuh ya...” Ia menggantungkan kalimatnya, lalu menggeleng-geleng kecil. “Nyebelin banget kalau lagi sok santai.”
“Siapa yang sok santai?”
“Kamu.” Mila mencondongkan tubuhnya, mencoba melihat wajahku dari samping. “Aku lagi mancing, tahu.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa nggak kepancing?”
Aku memarkir motor di halaman kost, mematikan mesin, lalu menoleh kepadanya. Mila masih duduk di jok belakang. Kedua tangannya bertumpu di pahaku dan matanya menatapku lurus-lurus dari balik visor helm yang terbuka.
“Siapa bilang nggak?”
Senyumnya perlahan berubah. Bukan senyum lebar yang biasa ia berikan kepada semua orang. Hanya sudut bibir yang naik tipis, cukup untuk membuat wajahnya tampak seperti sedang menyimpan kartu terakhir dalam permainan.
“Berarti Mas juga lagi mancing?”
“Bisa jadi.”
“Wah.” Mila melepas helmnya sambil mengibaskan rambut yang menjadi sedikit lepek. “Bahaya ini. Suami istri sama-sama suka mancing, nanti yang dapat ikan malah orang lain.”
Aku mengambil helm dari tangannya. “Kalau ikannya kamu, mahal umpannya.”
Mila menahan tawa, lalu mencubit daguku dengan dua jari.
“Pinter juga sekarang.”
“Belajar dari kamu.”
“Jangan kebanyakan belajar. Nanti muridnya lebih genit dari gurunya.”
Kami naik ke lantai dua sambil terus saling menyenggol bahu. Di ujung koridor, suara televisi dari kamar Bu Lastri terdengar nyaring. Seorang pembawa acara kuis sedang berteriak menawarkan hadiah puluhan juta rupiah kepada seseorang yang tidak kami kenal.
Begitu pintu Kamar Nomor 7 tertutup, Mila langsung menjatuhkan tas kerjanya ke kursi plastik dekat meja. Ia melepaskan jepitan rambut, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi punggung, lalu berdiri di depan kipas angin sambil menarik-narik bagian depan kausnya agar angin masuk.
Lintang Gelap“Panas banget,” keluhnya. “Kalau aku balik lagi ke laundry, bisa mateng aku malem ini.”
Aku menggantung jaket ojol di paku dinding. “Katanya karyawan multitalenta.”
“Multitalenta juga bisa kali, kegerahan….”
“Ya jangan terlalu deket ama setrika.”
Mila menoleh, memandangku dengan ekspresi datar selama dua detik, lalu mengambil bantal kecil dari kasur dan melemparkannya tepat ke wajahku.
Aku menangkapnya sambil tertawa.
“Galak amat neng….”
“Bukan galak. Menertibkan suami.”
Ia duduk di tepi kasur dan mulai membuka kaus kaki. Gerakannya santai, tetapi beberapa kali matanya melirik ponsel yang baru saja diletakkan di samping paha. Tidak lama kemudian, layar ponsel itu menyala.
Satu getaran pendek.
Mila menoleh.
Ia membaca pesan yang masuk tanpa mengambil ponselnya. Ekspresinya tidak banyak berubah. Hanya alisnya yang bergerak sedikit, lalu ujung lidahnya menyentuh bibir bawah sejenak.
“Mas Ivan?” tanyaku sambil masih memegang bantal.
Mila mengangkat wajah. “Kok tahu?”
“Kan yang ditunggu dia.”
“Siapa bilang aku nunggu?” Ia mengambil ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke dinding. “Bisa aja pesan promo pinjol.”
“Promo pinjol bisa bikin kamu senyum begitu?”
Mila sontak menutup mulutnya menggunakan punggung tangan, seolah baru sadar sedang tersenyum. Matanya membesar pura-pura terkejut.
“Emangnya Aku senyum?”
“Iya.”
“Segini?” Ia mencontohkan senyum kecil yang terlalu dibuat-buat.
“Lebih centil.”
Mila memperlebar senyumnya, lalu mengedipkan sebelah mata. “Begini?”
“Kurang.”
Lintang GelapIa bangkit dari kasur, berjalan mendekat, kemudian berdiri tepat di depanku. Jarak wajah kami hanya beberapa sentimeter. Wangi parfum buah tropis itu kembali terasa dari kausnya.
“Kalau begini?” bisiknya.
Matanya menatapku dari bawah bulu mata, sementara telunjuknya menyusuri ritsleting jaketku yang belum sepenuhnya terbuka. Ia jelas sedang bermain. Dan ia tahu aku tahu.
Aku meraih pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat.
“Kalau begitu bukan senyum buat bos.”
“Buat siapa?”
“Buat suami.”
Mila terkekeh kecil. Ujung hidungnya hampir menyentuh hidungku.
“Pede banget.”
“Harus dong….”
“Kalau ternyata tadi aku senyum karena Mas Ivan bilang aku cantik gimanaa?”
Kalimat itu keluar begitu ringan, seperti ia sedang menanyakan mau makan apa malam ini.
Tanganku yang berada di pinggangnya mengencang sedikit.
Mila langsung menyadarinya. Matanya berbinar puas.
“Nah,” katanya sambil menepuk dadaku pelan. “Ketahuan.”
“Ketahuan apa?”
“Cemburuuu… ya…”
Aku mendengus, mencoba mempertahankan wajah datar. “Siapa juga yang cemburu?”
“Mas Yuda….”
“Buktinya?”
Mila menurunkan pandangan ke tanganku yang masih mencengkeram pinggangnya, lalu mengangkat alis.
“Ini bukti fisiknya.”
Aku langsung melepasnya.
Mila tertawa menang. Ia berbalik, kembali duduk di tepi kasur, lalu mengetik sesuatu di ponselnya menggunakan kedua ibu jari. Cepat. Tidak sampai lima detik.
“Balas apa?” tanyaku.
Ia tidak langsung menjawab. Setelah mengirim pesan, ia mematikan layar dan meletakkan ponsel itu telungkup di kasur.
“Rahasia perusahaan.”
“Memangnya laundry punya rahasia?”
“Punya dong….” Mila mulai mengikat rambutnya lagi. “Misalnya, noda yang katanya kena saus ternyata belum tentu saus.”
Aku tertawa pendek. “Iiihhh… jorok.”
“Fakta mas….”
“Jadi lembur kamu?”
Mila menahan rambut dengan satu tangan. Tangan satunya sibuk mencari jepitan di sekitar bantal. Ia seolah tidak mendengar pertanyaanku, meski jarak kami tidak sampai dua meter.
“Dek?”
“Hmm?” Ia akhirnya menemukan jepitan, lalu menggigitnya sebentar sambil menggulung rambut.
“Jadi balik?”
Mila memasang jepitan itu di belakang kepala. Setelah rapi, ia menatapku melalui cermin kecil yang tergantung miring di dinding.
“Mas maunya aku balik?”
“Lah, kan kamu yang ditawarin.”
“Iya, tapi yang ditanya suamiku.”
“Kalau memang kerjaan, ambil aja.”
“Kalau bukan cuma kerjaan?”
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.