Chapter 4
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 8 Juli 2026 - 1.412 kata
Uap panas mengepul dari moncong setrika uap, mengaburkan kaca besar berstiker toko Laundry "Clean & Fresh" di pinggir jalan raya Slipi. Dari seberang jalan, di atas jok motor bebekku yang masih terasa panas setelah seharian mengejar argo Gas-Pol, aku mematikan mesin. Jam digital di stang motor menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit. Toko itu sudah memasang papan 'Closed', tetapi lampu neon putih di dalamnya masih menyala terang benderang.
Dan di sana, di balik sekat kaca yang buram oleh uap, duniaku kembali berputar pada porosnya.
Mila. Istriku.
Dia sedang berdiri di balik meja kasir panjang yang dipenuhi tumpukan pakaian yang sudah rapi terbungkus plastik mika. Malam ini dia mengenakan kaus jersi ketat berwarna merah muda yang mencetak jelas lekuk tubuhnya, dipadukan dengan celana kulot hitam kasual. Rambutnya digulung ke atas menggunakan jepitan badai, menyisakan tengkuknya yang putih bersih—dan sedikit berkeringat karena hawa mesin pengering.
Lintang GelapDi depannya, seorang pelanggan pria—berpakaian necis, tipikal orang kantoran Slipi yang baru pulang kerja—sedang berdiri bersandar di meja kasir. Jarak mereka dekat. Terlalu dekat untuk sekadar transaksi mengambil cucian jas.
"Aduh, Mas Tomo bisa aja... Ini jasnya udah wangi banget, kalau dipakai besok buat rapat, sekretarisnya bisa salah fokus loh," tawa Mila pecah.
Tawa renyahnya yang khas, tawa yang biasanya memenuhi Kamar Kost Nomor 7, malam ini terdengar samar menembus kaca toko, beradu dengan bising raung mobil di jalan raya. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu Mila sedikit berguncang jenaka. Dia mengibaskan tangannya ke udara dengan gestur centil yang sangat natural, seolah meremehkan rayuan pria itu, namun matanya yang bulat berbinar menatap lurus ke dalam mata si pelanggan.
Pria bernama Tomo itu jelas kegirangan. Dia memajukan tubuhnya, tangannya pura-pura hendak mengambil nota di atas meja, tetapi jemarinya sengaja bergerak lambat, mencoba menyentuh ujung kelingking Mila yang berada di dekat mesin kasir.
Jantungku berdegup satu kali lebih kencang. Darah jalananku berdesir hangat. Aku mencengkeram stang motor, membiarkan rasa panas yang familiar itu mulai merayap dari perut menuju dada. Aku cemburu, dadaku sesak melihat pria lain mencoba menjamah kulit istriku. Namun, di saat yang bersamaan, sisi masokismu bersorak riuh rendah. Aku terangsang gila-gilaan menyaksikan bagaimana duniaku diinginkan secara lapar oleh orang lain di bawah lampu neon yang terang.
Namun, Mila adalah Mila. Tepat ketika jarak kulit mereka tersisa beberapa milimeter, Mila menarik tangannya dengan gerakan halus yang sangat anggun. Dia membalikkan badan, berpura-pura mengambil kantong kresek besar di rak belakang, membelakangi pria itu. Sebuah benteng pertahanan yang tak kasat mata langsung tegak berdiri.
Pria itu hanya bisa menelan ludah, menatap lekuk pinggang Mila yang terekspos dari belakang dengan tatapan lapar yang tak tersampaikan. Mila membalas godaan dengan asyik, membuat pria itu merasa punya kesempatan, namun dia memasang batas permainan yang sangat mahal. Dia tidak semudah itu untuk didapatkan.
Setelah pelanggan itu pergi dengan wajah lesu yang tertahan, sebuah bayangan lain keluar dari ruangan kaca di bagian dalam toko.
Sosok bertubuh tegap, mengenakan kemeja polo hitam mahal, jam tangan kronograf yang berkilau di bawah lampu, dan rambut yang tertata rapi oleh pomade impor. Mas Ivan. Bos pemilik laundry ini. Pria mapan berusia awal tiga puluhan yang diam-diam menjadi hantu baru di dalam labirin pikiranku.
Ivan berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi plastik dari kafe waralaba terkenal. Dia menaruh salah satu gelas di depan Mila. Cara Ivan menatap Mila jauh berbeda dengan Pak Seno yang mesum dan kasar. Tatapan Ivan lebih elegan, intens, dan dipenuhi rasa percaya diri seorang pria yang tahu cara menggunakan uang untuk menaklukkan wanita.
Mila mendongak, menerima kopi itu dengan senyuman yang sedikit lebih "lembut" dan manis. Mereka mengobrol. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi bahasa tubuh mereka mengirimkan sinyal yang sangat bising ke kepalaku.
Ivan mencondongkan badannya ke depan, berbicara dengan suara yang tampaknya rendah. Mila mendengarkan sambil sesekali memainkan sedotan kopinya, jemarinya memutar-mutar plastik gelas dengan gestur yang malas namun memikat. Tiba-tiba, Ivan merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, dan menaruhnya di atas meja. Uang lembur. Atau mungkin bonus instan.
Lintang GelapMila tidak langsung mengambilnya. Dia menatap lembaran uang merah itu, lalu menatap Ivan dengan mata yang menyipit jenaka, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Ada sesuatu yang berjalan senyap di antara mereka. Mila tahu Ivan tertarik padanya, dan dia sengaja menunda memberikan lampu hijau, membiarkan Ivan tetap penasaran agar keuntungan finansial itu terus mengalir ke dompetnya.
Akhirnya, Mila mengambil uang itu dengan dua jari, menyelipkannya ke dalam saku celana kulotnya sembari melemparkan tawa lepas yang membuat Ivan tersenyum puas.
Aku menarik napas dalam-dalam, melepaskan cengkeraman dari stang motor. Aku memakai topeng domestikku kembali, membenarkan letak jaket hijau Gas-Polku, lalu melangkah menyeberangi jalan.
Kring!
Bel pintu toko berbunyi saat aku mendorongnya.
"Eh, Mas Yuda udeh jemput!" Mila langsung menoleh. Wajah misteriusnya yang abu-abu di depan Ivan sedetik lalu lenyap, berganti menjadi Dek Mila-ku yang lincah dan manja. Dia menghambur dari balik meja kasir dan langsung memeluk leherku erat-erat.
"Capek ya, Mas? Tadi dapet argo kakap lagi gak?" cerocosnya riang, menenggelamkan wajahnya di dadaku tanpa memedulikan keberadaan Ivan yang kini berdiri tegak di belakang meja kasir.
"Lumayan, Dek. Buat nambahin token listrik," ujarku, mencoba tersenyum sealami mungkin sembari melirik Ivan.
Ivan mengangguk sopan ke arahku. "Malam, Mas Yuda. Untung dapet ojol rajin kayak Mas Yuda ya, Mila jadi gak usah pusing mikirin biaya kosan," ucapnya dengan nada yang sangat ramah, namun entah kenapa terdengar seperti sebuah pukulan halus yang meremehkan isi dompetku.
"Mari, Pak Ivan. Duluan," pamitku sopan, menjaga hierarki sosial luar.
Begitu kami keluar dari toko dan berjalan menuju motor, aku merengkuh pinggang Mila mendekat. Namun, tepat saat tubuh kami merapat di bawah temaram lampu jalan, indra penciumanku yang tajam langsung menangkap sesuatu.
Ada aroma baru yang asing.
Bukan bau bedak bayi atau minyak telon yang biasa menempel di tubuhnya. Bukan juga bau asap kretek pekat milik Pak Seno. Ini adalah aroma uap softener premium yang sangat wangi, dipadukan dengan wangi buah-buahan tropis yang manis, segar, dan mahal. Wangi parfum impor yang maskulin.
Aroma itu mengurung seluruh tubuh Mila, menempel permanen di serat kaus jersinya, seolah menceritakan bahwa dia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam di dalam ruangan yang dikuasai oleh udara milik Mas Ivan.
Jantungku berdegup gila-gilaan di dalam dada. Matriks aroma baru telah tercatat di dalam kepalaku. Sakit, cemburu, namun masokisme di dalam batinorku kembali merayap, membayangkan bagaimana uap wangi itu berputar di antara Mila dan Ivan saat mereka berdiri sangat dekat di balik sekat kasir tadi.
Mila naik ke boncengan motor bebekku, memeluk pinggangku erat saat motor mulai meluncur membelah kemacetan malam Jakarta.
"Dek..." panggilku di sela deru angin jalanan, mataku meliriknya dari kaca spion.
"Hmm?"
"Wangi banget badan kamu malam ini. Bau parfum baru ya?" tanyaku dengan nada kasual yang dipaksakan.
Mila tertawa geli di belakang punggungku, kepalanya bersandar di pundakku. "Oh, ini? Itu tadi Mas Ivan habis buka segel sample parfum laundry baru dari distributor luar negeri, Mas. Katanya wangi buah tropis, biar pelanggan hotel pada suka. Tadi aku disuruh nyoba nyemprotin ke baju contoh, makanya ikut ketempelan. Kenapa? Mas Yuda suka ya?"
Dia memajukan wajahnya ke dekat telingaku, mengembuskan napasnya yang hangat, membuat bulu kudukku meremang. Gesturnya terasa sangat sengaja, seolah dia tahu persis wangi itu sedang mengacaukan isi kepalaku.
"Mas..." bisik Mila lagi, nadanya mendadak berubah menjadi mendayu-dayu, persis seperti gaya bicaranya saat kami melakukan roleplay di atas kasur.
"Kenapa, Dek?" Suaraku memberat.
"Tadi... pas Mas Yuda belum dateng, Mas Ivan nawarin aku lembur malam ini. Katanya ada tumpukan sprei dari hotel bintang lima yang harus disetrika uap sampai rapi banget. Dia bilang, kalau aku mau nemenin dia di toko sampai tengah malam... bonusnya gede banget, Mas. Cukup buat bayar token listrik kita bulan depan tanpa Mas harus narik sampai tipes."
Aku terdiam di atas motor, menahan napas. Tanganku agak gemetar memegang stang.
Mila mengeratkan pelukannya di pinggangku, jemarinya mencubit perutku pelan dengan gaya yang sangat nakal. Dia sedang melemparkan umpan. Dia dengan sengaja membakar fantasi masokistikku, menantang garis batas aman di dalam rumah tangga kami.
"Gimana, Mas? Kamu rela enggak kalau malam ini aku balik lagi ke toko, berduaan sama Mas Ivan sampai subuh demi token listrik kita?"
Suara Mila terdengar begitu asyik, penuh kemenangan karena tahu dia berhasil memancing paranoiku naik ke tingkat yang paling ekstrem.
Siapa pun yang mendengar ucapannya tidak akan pernah bisa menebak:
Apakah istriku ini murni sedang bercanda nakal untuk memanaskan ranjang kami nanti malam, atau dia sebenarnya sedang meminta izin secara tersirat untuk mulai menjual harga dirinya pada pria mapan itu?
Aku menelan ludah yang terasa kesat, menatap lampu merah perempatan Slipi di depan yang menyala pekat, seperti monster yang siap menelan sisa kewarasanku.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.