Chapter 3
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 30 Juni 2026 - 1.965 kata
Siasat Bimo siang itu ternyata manjur betul.
Jam sebelas tepat aku sudah mangkal di lobi hotel daerah Slipi Jaya, dan benar saja — belum lima menit menunggu, notifikasi order langsung masuk. Seorang pramugari, koper besar berderet di trotoar, rambut masih rapi meski wajahnya kelihatan lelah seabis terbang panjang.
"Ke Pondok Indah ya, Mas," katanya sambil naik ke jok belakang, kopernya ditaruh di sela kaki.
Tarifnya kakap. Argo yang biasanya bikin aku mengelus dada, kali ini malah bikin aku mengecek layar dua kali, takut salah lihat.
Belum sampai aku balik ke lobi hotel, notifikasi kedua sudah masuk lagi — masih dari area yang sama, beda penumpang, tujuan beda lagi: Kemang. Rezeki hari itu rupanya memang lagi berbaik hati. Lobi hotel itu jadi semacam ladang panen dadakan, satu pramugari turun, satu lagi sudah menunggu di sana.
Begitu seterusnya sampai tiga kali jalan, masing-masing beda waktu, beda tujuan. Selepas penumpang ketiga turun, aku menepi sebentar di bahu jalan. Membuka jaket, meraih lembaran-lembaran tip yang masih licin itu, lalu menyelipkannya ke kantong dalam — terpisah dari dompet yang isinya recehan dan uang lecek hasil argo harian.
Aku menepuk kantong itu sekali.
“Mantap… gacor kaang!!!”
Lalu tancap gas lagi.
…
Sore harinya, aku pulang membelah kemacetan Jakarta dengan dada membusung. Di tangan kiriku, tergantung sekantong plastik hangat berisi dua puluh tusuk sate ayam bumbu kacang yang dibungkus kertas cokelat berminyak—makanan kesukaan Mila kalau sore hari. Wangi gurih bawang goreng dan uap manis bumbu kacangnya yang bocor dari sela lipatan kertas pembungkus seolah menantang bau sangit knalpot di sepanjang jalan. Aku merasa menjadi pria seutuhnya sore ini, siap membungkam bunyi tit-tit-tit meteran listrik Kamar Kost yang menyiksa telinga.
Aku memarkirkan motor bebekku di halaman bawah Kost Mulia Jaya yang gersang. Suasana kostan agak sepi, mayoritas penghuninya belum pulang kerja. Aku melangkah menuju satu-satunya akses ke lantai dua: sebuah tangga semen sempit yang diapit dinding lembap berlumut.
Baru saja kakiku menginjak anak tangga ketiga, sesosok bayangan bergerak lambat dari kelokan lantai atas.
Langkahku otomatis tertahan. Pak Seno sedang berjalan turun. Dia tidak langsung berjalan cepat; gerakannya janggal, seperti sengaja memperlambat tempo di setiap anak tangga semen yang sempit. Salah satu tangannya meraba saku celana bahan hitamnya—seperti sedang menyembunyikan atau merapikan sesuatu di dalam sana—sementara tangan lainnya memegang sebatang rokok kretek tanpa filter yang asapnya mengepul tebal.
Pria tua itu berhenti tepat tiga anak tangga di atasku. Karena tangga ini lebarnya tak sampai semeter, kepalanya kini berada sejajar dengan wajahku.
"Eh, Mas Yuda. Baru pulang narik, Mas?" sapa Pak Seno. Suaranya berat, serak oleh tembakau, tapi matanya yang agak berair tidak menatap wajahku. Matanya justru bergerak turun, menyapu ritsleting jaket ojolku yang terbuka setengah, lalu beralih ke bungkusan sate ayam hangat di tangan kiriku.
"Iya, Pak. Alhamdulillah baru kelar," jawabku. Aku merapatkan punggungku ke dinding semen yang lembap dan dingin, memberikan ruang agar perut buncitnya bisa lewat.
Pak Seno tidak langsung melangkah. Dia malah menarik napas dalam-dalam dari kreteknya, lalu mengembuskannya perlahan tepat ke arah sela-sela dinding tangga yang pengap. Aroma cengkeh yang sangat pekat, pahit, dan menusuk langsung menyergap hidungku. Dia tersenyum—senyum lambat yang membuat sudut matanya berkerut dalam—lalu menepuk pundakku sekali. Tangannya terasa hangat dan sedikit lembap.
"Wiih, bawa sate… pantesan Mbak Mila udah nungguin," ucapnya setengah bergumam. Ada nada malas yang ganjil dalam suaranya, seolah dia baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan yang melelahkan. "Ya udeh, lanjut, Mas. Tadi saya abis dari atas juga, ngecek... iuran bulanan."
Dia melanjutkan langkahnya turun ke bawah dengan santai, meninggalkan sisa asap cengkeh yang menggantung tebal di koridor tangga yang pengap. Aku mematung sejenak, menatap telapak tanganku yang mendadak terasa dingin.
“Ngecek iuran bulanan? Sore-sore gini?”
Aku mempercepat langkahku menaiki sisa anak tangga, menyusuri koridor lantai dua yang sepi, lalu mendorong pintu kayu tripleks Kamar Nomor 7.
Pintu terbuka tanpa suara. Embusan angin dari kipas angin tua menyambutku, namun pandanganku langsung tertuju pada kasur busa di lantai.
Mila sedang duduk di tepi kasur. Bahunya agak melorot, membelakangiku. Kaus oblong putih tipisnya yang longgar tampak sedikit bergeser di bagian kerah, memperlihatkan kulit tengkuknya yang mulus. Begitu mendengar derit pintu, ada jeda satu detik yang aneh—tubuhnya menegang kaku selama sepersekian detik—sebelum dia membalikkan badan. Gerakannya agak terburu-buru saat lengannya menyapu bantal, menyembunyikan selembar kertas pink kwitansi iuran di bawah lipatan sprei, lalu menyunggingkan senyum lebar yang sangat cepat.
"Eh… Mas Yuda udah pulang!" Mila langsung bangkit.
Wajah polosnya tampak sedikit kemerahan, dengan beberapa anak rambut yang menempel basah di pelipisnya akibat gerah. Namun, binar di matanya sore ini tampak berbeda. Dia tidak langsung menghambur memelukku dengan pelukan erat yang biasa dia berikan saat aku membawa makanan. Dia berdiri diam di tepi kasur selama dua detik, menatapku dengan senyuman tipis yang tertahan di sudut bibir, jemarinya bergerak-gerak kecil memainkan ujung kaos oblongnya.
"Ih, asyik! Bawa sate ayam!" cerocosnya riang, akhirnya melangkah menghampiriku. Tangannya meraih bungkusan kertas cokelat dari genggamanku, lalu menaruhnya di meja kayu kecil dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang mengulur waktu agar matanya tidak perlu langsung beradu dengan mataku.
Mila melingkarkan kedua lengannya di leherku. Lembut, lambat, hampir seperti sedang mengukur detak nadi di tenggorokanku. Aku membalas pelukannya, menenggelamkan wajahku ke ceruk lehernya untuk menghirup wangi kulitnya yang selalu menjadi candu bagiku.
Namun, tepat saat ujung hidungku menyentuh helai rambut hitam di dekat telinga kanannya, dadaku serasa dihantam godam tak kasat mata.
Aroma itu ada di sana.
Bukan sekadar wangi sampo mawar yang biasa dia pakai. Di balik wangi buatan itu, ada sisa aroma pembakaran yang berat, pekat, dan pahit. Bau asap rokok kretek cengkeh tanpa filter yang sangat tajam. Menempel begitu tebal di rambut bagian belakang dekat telinganya—sebuah area yang sangat terlindungi, tempat yang tidak mungkin terkena asap jika hanya berpapasan sepintas lalu di pintu koridor yang berangin.
Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Otot-otot leherku menegang kaku.
Mila merasakan perubahan fisikku. Alih-alih menjauhkan wajahnya, dia justru menarik napas perlahan, membiarkan tubuhnya bersandar semakin berat pada dadaku. Dia menggeser pipinya sedikit, membuat helai rambutnya yang berbau cengkeh itu bergesekan langsung dengan hidungku. Jemari tangannya yang berada di tengkukku mulai memainkan anak rambutku dengan gerakan memutar yang lambat dan berirama.
"Mas... kok leher aku diendusin terus? emangnya aku ikan asin?" bisiknya mendayu-dayu. Nada suaranya sedikit serak, sangat mirip dengan intonasi yang dia gunakan saat kami bermain peran malam itu.
Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak terasa sekering pasir gurun. "Dek... tadi Pak Seno ke sini?"
Mila tidak menunjukkan wajah kesal atau mencerocos marah tentang bapak kost seperti biasanya. Dia justru terkekeh lirih—sebuah tawa kecil yang sengaja diredam di tenggorokannya. Dia melepaskan pelukannya secara perlahan, melangkah mundur dua langkah ke arah kasur dengan gerakan pinggul yang sengaja diperlambat.
Lintang GelapDia duduk kembali di tepi kasur, tepat di atas bantal yang menyembunyikan kertas pink tadi. Dia melipat satu kakinya ke atas, membiarkan paha mulusnya terekspos dari balik celana pendek tipis yang dipakainya di balik kaos oblong. Dia menopang dagu, menatapku lurus-lurus dengan mata bulatnya yang berbinar penuh rahasia yang tak teraba.
"He-eh. Tadi Pak Seno ke atas, nyariin kamu katanya," jawab Mila santai. Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawahnya sendiri—sebuah gestur yang sangat kukenal saat dia sedang memikirkan sesuatu yang nakal di atas ranjang. "Lama banget loh dia berdiri di depan pintu kita, Mas."
"Lama?" Aku melangkah selangkah mendekatinya, kedua tanganku di dalam saku jaket ojol mulai gemetar hebat. Sisi cemburuku berontak, namun rasa panas yang akrab mulai menjalar hebat di selangkanganku. "Ngapain aja dia di depan pintu?"
Mila tersenyum tipis, matanya menyipit misterius. Dia meraba ke belakang punggungnya, menarik kertas pink yang tadi dia sembunyikan di bawah bantal, lalu melipat-lipat kertas itu menjadi persegi kecil dengan gerakan jari yang sangat tenang dan presisi.
"Ya ngobrolin sewa kamar kita yang kurang kemarin. Katanya kalau Mas Yuda lagi anyep, aku sering-sering aja main ke bawah nemenin dia ngopi. Pas dia ngomong begitu, mukanya dekeeet banget sampe… asepnya ke muka aku semua," Mila menjeda kalimatnya. Dia menatapku tajam, mengunci pandanganku, mencari reaksi di mataku. "Terus... aku inget kata-kata kamu semalem."
"Kata-kata... yang mana, Dek?" suaraku bergetar, napas mulai kejar-kejaran.
"Itu... kata Mas, kalau Pak Seno ke sini pas Mas gak ada, aku disuruh pasrah aja biar kosan kita gratis, kan?" Mila mengedipkan sebelah matanya, tersenyum begitu provokatif.
Lintang GelapMila bangkit berdiri, melangkah mendekatiku dengan ritme yang sangat lambat. Dia meraih tangan kananku, lalu menempelkan telapak tanganku ke pinggangnya sendiri, meremas jari-jariku agar mencengkeram kulitnya di balik kaus tipis itu. Di sana, di balik kain katun murah itu, kulit pinggangnya terasa hangat dan sedikit... lembap.
"Tadi pas dia ngasih kertas tagihan ini... tangannya gak sengaja nyenggol pinggang aku di bagian sini loh, Mas. Kulitnya kasar banget… terus aku... diem aja. Aku nurut sama omongan mas semalem," bisiknya tepat di depan bibirku, menyisakan jarak tipis yang membuat napas manisnya beradu dengan napasku.
Deg.
Kepalaku pening luar biasa. Sisi masokis di dalam batinku bersorak riuh rendah, membayangkan visual mesum Pak Seno yang sedang memandangi dan menyentuh tubuh ranum istriku di ambang pintu yang sepi. Penisku seketika menegang hebat di balik celana jeans dekil ojolku. Aku terangsang gila-gilaan, hingga seluruh tubuhku bergetar.
Namun, di detik yang sama, rasa dingin yang mencekam menghantam ulu hatiku.
Tunggu.
Mengapa kertas kwitansi ini kusut?
Mengapa dia tadi menyembunyikannya di bawah bantal saat aku masuk?
Dan mengapa... kulit pinggangnya terasa sehangat ini, seolah baru saja bersentuhan dengan telapak tangan seseorang yang besar dan kasar?
Apakah ini hanya bagian dari roleplay lanjutan yang dia buat untuk memuaskan fantasiku, atau... dia benar-benar membiarkan Pak Seno masuk dan menyentuhnya demi toleransi sewa kost?
Mila memperhatikan tatapan mataku yang bergerak gelisah, menatap liar ke arah matanya lalu turun ke leher dan pinggangnya yang masih kugenggam. Kepuasan yang sulit diartikan terpancar dari wajah cantiknya karena berhasil mengacaukan seluruh sistem sarafku.
Tiba-tiba, Mila terkekeh kecil—sebuah kekehan yang terdengar sedikit dipaksakan, sebelum dia melepaskan tanganku dari pinggangnya dengan sekali hentakan ringan. Dia berbalik, berjalan santai menuju kasur.
Lintang Gelap"Ihhhhh! Mukanya langsung tegang gitu! Pucat banget mas… kayak tempe belum digoreng!" ledek Mila, suaranya kembali ceria, namun matanya sama sekali tidak menatapku. Dia sibuk membuka bungkusan kertas cokelat, mengambil satu tusuk sate ayam yang bumbu kacangnya masih mengepulkan uap hangat, lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri dengan gerakan acuh tak acuh.
"Bercanda, Mas Yuda sayang! Lagian kamu sensitif banget sih kalau denger nama bapak kost. Tadi pas dia mau modus, langsung aku judesin terus pintunya aku banting! Brak! Mampus tuh Aki-aki!"
Lintang GelapAku menarik napas sedalam-dalamnya, mencoba meredakan debaran gila di dadaku yang hampir membuatku sesak napas. "Beneran cuma bercanda, Dek?"
Mila memiringkan kepalanya sedikit. Dia perlahan menjilat sisa bumbu kacang yang gurih manis di ujung jari telunjuknya, menatapku dari bawah bulu matanya yang lentik dengan tatapan yang sangat, sangat sulit kutebak. Dia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya yang tampak lelah.
"Iyaaa... emang menurut Mas gimana? Mau beneran atau cuma bercanda?" tanyanya menggantung, suaranya berbisik tipis di antara deru kipas angin.
Dia menutup kembali bungkusan sate itu dengan ketukan jari yang berirama, lalu berjalan melewatiku menuju kamar mandi. Sambil berjalan, dia mulai menggumamkan bait lagu dangdut dari pagi tadi dengan tempo yang jauh lebih lambat, terdengar sensual sekaligus mengganggu di telingaku.
Pintu kamar mandi plastik itu tertutup, disusul suara selot kunci yang digeser, lalu suara guyuran air gayung yang monoton.
Aku berdiri mematung sendirian di tengah kamar kost. Aroma dua puluh tusuk sate ayam bumbu kacang yang hangat di atas meja mendadak terasa hambar, kalah telak oleh misteri yang ditinggalkan Mila di koridor kamar ini.
Penjelasannya terdengar seperti lelucon ranjang kami yang biasa, tetapi entah kenapa, bau cengkeh yang membandel di sela rambut di belakang telinganya, kertas tagihan merah jambu yang kusut dan sempat dia sembunyikan di bawah bantal, serta bagaimana tangannya bergetar sangat tipis saat memandu tanganku ke pinggangnya tadi...
...terasa terlalu presisi untuk sebuah kebohongan yang dirancang hanya demi sebuah candaan.
Mila memang se-asyik itu meladeni fantasiku, namun di sore yang gerah ini, aku mulai menyadari.
Aku tidak pernah tahu mana yang akting, dan mana yang dosa. Bagaimana jika fantasiku justru menjadi tameng sempurna untuk pengkhianatannya?
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.