Chapter 2
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 28 Juni 2026 - 1.513 kata
Jika ada tempat di Jakarta yang paling adil dalam membagikan penderitaan, tempat itu adalah perempatan lampu merah Slipi. Di sudut jalan, bernaung di bawah pohon ceri yang tumbuh miring karena berkali-kali disenggol angkot, berdiri sebuah warkop kayu beratap terpal.
Di atas terpal yang sudah kusam oleh jelaga knalpot itu, tertulis sebuah singkatan menggunakan pilox merah menyala:
KOPRAL – Komunitas Pengemudi Radikal (Rakyat Jelata Modal Akun Lokal).
"Aduh Gusti... Bisa gila saya kalau begini terus, Kang!"
Suara panik Kang Asep memecah raung mesin bus kota. Pemuda usia 22 tahun asal Sumedang itu berulang kali mengusap layar HP-nya yang retak seribu dengan ujung jaket hijau Gas-Pol miliknya yang sudah dekil. Keringat sebesar biji jagung bercucuran di pelipisnya.
"Kenape lagi lu, Sep? Pagi-pagi udah komat-kamit kayak mbah dukun lu!" sahut Kang Doyok dari sudut bangku panjang. Senior Betawi kami itu sedang santai menikmati kopi hitamnya, dengan satu kaki kurusnya diangkat ke atas bangku, memperlihatkan sandal jepitnya yang sudah tipis sebelah.
"Ini lho, Kang! Akun Gas-Pol saya kena suspend sepihak! Dituduh pake aplikasi modifikasi ilegal. Padahal boro-boro modif, HP kentang begini buat buka aplikasi ori aja udah megap-megap!" Kang Asep menyorongkan HP-nya ke depan muka Kang Doyok dengan tangan gemetar.
Kang Doyok mengembusen asap rokoknya pelan, lalu menengok layar HP Asep dengan mata menyipit. Dia mendengus sinis.
"Buset dah, ini mah kelakuan orang kantor yang duduk di ruangan AC sambil makan pizza. Lu nyari argo sampai tipes di jalanan, dapet penilaian bintang empat sekali langsung dianyepin ama aplikasi. Sistem aplikasi sekarang mah udeh kayak DPR, Sep!"
"DPR gimana, Kang?" tanya Asep polos, dahinya berkerut.
"Dewan Perwakilan Rezeki!" Kang Doyok menyemprot tawa sampai kopinya hampir tumpah. "Rezeki die doang yang diwakilin — rezeki kita mah nggak pake wakil, langsung raib sendiri!"
Tawa meledak di warkop.
"Ta-Ta-tapi jujur nya mah, Kang," Kang Cecep menimbrung, manggut-manggut sok bijak dengan ciri khas gagapnya. "Sa-sa-salut atuh urang teh ama Pak Bagyo. Udah mau mikirin makan siang anak-anak sekolah. Mu-mulia pisan euy."
"Mulia banget," sahut Kang Doyok, ikut manggut.
"Ngan nya... a-a-agak bingung ieu teh." Kang Cecep menggaruk pelipisnya. "Kemarin beras naik. Minggu lalu cabe naik. Tadi pagi minyak goreng naik." Ia menghitung jari satu-satu. "Tata-tapi anak SD dapet makan siang gratis. Jadi sebenernya... gra-gra-gratisnya buat saha?"
Kang Doyok mengerutkan dahi, pura-pura mikir keras. Lama. Sampai Bimo mulai ragu dia bakal jawab.
Asep mengernyit, ikut mikir sungguh-sungguh. "Buat anak-anaknya, Kang?"
"Nah! Te-terus yang nanggung harga berasnya saha?"
Asep mikir sebentar. "Bapaknya...?"
"Yang nanggung ca-cabenya?"
"Bapaknya..."
"Yang nanggung minyaknya?"
"Bapaknya..." Asep mengangguk pelan, mulai nangkep. "Jadi... jadi ieu program makan siang gratis... a-apa program diet gratis keur bapak-bapaknya?"
Kang Doyok menepuk meja. "Naah! Pinter siah si Asep!"
Kang Cecep manggut-manggut sedih. "Pantesan bapak gue kurus, Yud"
Aku yang duduk di sebelah Kang Doyok hanya bisa tertawa lepas mendengar banyolan itu. Di pangkalan KOPRAL inilah aku bisa melepas penat. Di usiaku yang berjalan 26 tahun ini, beban Jakarta sering kali terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Menjadi driver ojol di usia pertengahan dua puluh sering membuatku merasa tertinggal dari orang-orang mapan di luar sana.
Namun di sini, di bawah pohon ceri miring ini, topeng rumah tangga sebagai "Mas Yuda" yang penyabar dan romantis sejenak hilang. Aku berganti menjadi "Yuda" si driver jalanan yang maskulin, kasar, dan apa adanya. Aku hanya menggunakan bahasa "Lu-Gua" saat berdialog langsung dengan sesama rekan ojol untuk menyetarakan diri dengan aspal jalanan.
"Udah, Sep, ntar sore kita geruduk kantor bareng-bareng. Gua temenin. Kagak usah panik lu," kataku sambil menepuk pundak Asep, mencoba menenangkannya.
"Beneran ya, Mas Yud? Duh, terima kasih banyak ya," Asep bernapas agak lega, meski mukanya masih seputih kain kafan.
Tiba-tiba, suara raung mesin motor matic besar berknalpot standar yang agak mbrebet berhenti di depan warkop. Sosok bertubuh tegap dengan jaket Gas-Pol yang warnanya sudah memudar menjadi hijau lumut turun dari motor.
Bimo.
Matanya merah, sekujur tubuhnya bau angin malam bercampur sisa minyak rambut minimarket. Pria berusia 27 tahun itu baru saja menyelesaikan shift malamnya dari jam delapan malam sampai jam enam subuh tadi.
"Woi, para jawara pangkalan! Belum pada dapet kakap lu?" sapa Bimo lantang. Dia langsung mengempaskan tubuhnya yang lelah di sebelahku, membuat bangku kayu warkop berderit pelan.
"Boro-boro kakap, Bim. Si Asep malah akunnye kena jaring pukat harimau ama pusat," sahut Kang Doyok.
"Aduh, sial bener," Bimo menggeleng. Dia menoleh ke arah pemilik warkop. "Wak! Es teh manis satu, gelas gede! Sama kasih gorengan dua biji tuh buat si Asep, biar kagak pingsan gua liat mukanya."
"Muka saya kenapa, Kang?" tanya Asep polos.
"Pucet kayak tempe yang belum digoreng, Sep," sahut Kang Cecep santai, tanpa menoleh dari kopinya.
"Bener tuh," Kang Doyok menimpali. "Kalo lu pingsan di sini, gua yang repot manggil ambulans. Argo gua ilang sia-sia."
"Ih, Kang Doyok mah teu aya empatinya," gerutu Asep, cemberut.
"Ada, Sep. Gua empati banget. Makanya gua doain lu cepet sembuh biar bisa narik lagi."
Tawa meledak di warkop.
Bimo kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok kretek menthol yang masih utuh, lalu melemparnya tepat ke pangkuanku. "Nih, Yud. Buat amunisi lu narik siang. Semalem gua dapet argo bandara dua kali, lumayan narik subuh."
Aku mengambil bungkus rokok itu dengan rasa tidak enak. "Buset, Bim. Lu baru kelar narik semaleman, malah bagi-bagi rezeki ke gua."
"Halah, kayak sama siapa aja lu," Bimo menepis omonganku sambil menerima segelas besar es teh manis dari Wak. Dia meminumnya setengah sampai tersisa bunyi es batu beraduan.
"Enak bener jadi Yuda," celetuk Kang Cecep, menyikut Asep pelan. "Dikirimin rokok, dikasih info spot kakap. Kurang apa coba."
"Kurang anak," sahut Kang Doyok datar.
Bimo langsung menyenggol lenganku, terkekeh lebar. "Nah, bener tuh! Gua mah heran ama lu, Yud. Punya bini bening.. cakep kayak Mila begitu malah lu tunda-tunda."
Dia meminum es teh manisnya seteguk, lalu mencondongkan badan ke arahku dengan suara agak dipelankan. "Lagian lu kagak waswas apa? Ntu Pak Seno si bangkotan bapak kost kita, matenye udeh kayak laler ijo tiap kali liat Mila lewat depan kamarnye. Makanya buruan punya anak, biar bapak kost lu ntu ngga godain terus tuh si Mila!"
"Buset, ampe bawa-bawa bapak kost lu, Bim," ujarku sambil menggeleng tertawa, berusaha bersikap santai.
"Lah, gua mah ngingetin doang sesama tetangga kamar," Bimo nyengir lagi, matanya berkedip jahil. "Tapi heran gua, tiap malem token listrik kamar nomor tujuh udeh bunyi tit-tit-tit melulu. Lu berdua ngapain aja sih di dalem? Keringetan doang kagak jadi anak, token doang nyang tekor!"
"Kipas angin, Kang," jawab Asep lugu. "Panas kan Jakarta."
Kang Cecep menepuk jidat. "Asep, Asep..."
Aku menyahut sambil tertawa lepas bersama yang lain, meladeni candaan mereka. "Bener juga si Asep. Jakarta lagi panas-panasnya, kipas angin jalan nonstop. Lagian tarikan lagi seret gini, mana berani gua bikin anak. Biaya pampers sama susu jaman Pak Bagyo bisa bikin akun gua jantungan duluan."
"Hahaha! Bener juga lu, tunda dulu dah mendingan, ampe ganti presiden" jawab Bimo tulus sambil menepuk bahuku.
"Tapi kalau ditunda terus, kapan punyanya?" tanya Asep lagi, masih dengan muka serius.
Kang Doyok, Bimo, Kang Cecep — semuanya menoleh ke Asep bersamaan.
"Sep."
"Naon, Kang?"
"Fokus ngurusin akun lu dulu."
Aku tersenyum, memantik rokok pemberian Bimo. Namun di dalam lapisan batin ku yang gelap, ada alasan lain yang tidak akan pernah aku ucapkan pada siapa pun. Aku sengaja menikmati kondisi kami yang belum punya anak. Di usia Mila yang 24 tahun, tanpa beban mengurus bayi, dia bisa tetap tampil prima. Dia punya waktu untuk dandan centil dan menjadi magnet yang digilai pria-pria di Kost Mulia Jaya.
Kehadiran seorang anak akan mengubah Mila menjadi seorang ibu seutuhnya, dan egoisnya, itu akan membunuh bahan bakar fantasi masokistik yang selama ini menghidupkan gairah rahasiaku. Aku sengaja membiarkannya tetap menjadi "tontonan" yang ranum bagi lingkungan sekitar.
Bimo kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku, berbisik pelan agar tidak terdengar driver lain. "Yud, nih gua kasih tahu. Ntar jam sebelas siang, lu mangkal di lobi hotel daerah Slipi Jaya. Di situ ada rombongan pramugari baru mendarat, biasanya orderannya kakap semua. Akun gua udah gagu jam segini, jadi spotnya gua warisin ke lu. Biar token listrik lu buruan diisi, kagak enak gua denger suaranya dari seberang kamar."
Aku menatap Bimo dengan rasa hormat yang mendalam. "Makasih banyak, Bim. Asli, gua utang budi ama lu."
"Santai, kayak sama siapa aja lu," Bimo menepuk lenganku dengan keras, lalu menguap lebar. "Gua mau balik ke kostan dulu ah, mau tidur. Ngantuk bener ini mata udah kayak dilem."
Bimo berdiri, pamit pada Kang Doyok dan Kang Asep, lalu kembali menaiki motornya dan meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju Kost Mulia Jaya.
Aku memandangi kepergian sahabatku itu sambil mengantongi bungkus rokok pemberiannya. Di dalam batin yang dipenuhi labirin penyimpangan psikologis ini, Bimo adalah satu-satunya area suci yang tidak boleh disentuh oleh fantasi kotorku.
Aku bisa membayangkan Pak Seno, atau pria mana pun menyentuh Mila demi memuaskan rasa sakit hati yang merangsangku. Namun aku tidak akan pernah sudi memasukkan nama Bimo ke dalam sana. Bimo terlalu baik. Dia adalah sahabat sejatiku, benteng terakhir tempatku mempercayai arti ketulusan seorang manusia di tengah kerasnya Jakarta.
Aku menarik napas dalam-dalam, menyalakan motor bebekku, dan bersiap memakai topeng jalananku hari ini. Aku tidak pernah tahu, bahwa benteng pertahanan yang paling kuat sekalipun justru dirancang untuk runtuh dari dalam.
bersambung…
Lintang GelapKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.