Chapter 1
Aroma Kamar Kost di Tubuh Istriku - 25 Juni 2026 - 1.545 kata
Kriet...
kriet...
kriet…
“Ah…”
“Mpph…”
"Ah... Pak... “
“Pak Seno, jangan..."
Bisikan setengah mendesah itu lirih, nyaris tak terdengar, tenggelam di antara derit pegas kasur busa nomor dua di Kamar Kost Nomor 7. Di tengah malam Jakarta yang gerah, bunyi besi berkarat itu menjadi satu-satunya pengisi kesunyian, beradu dengan deru kipas angin dinding yang berputar malas di sudut plafon.
Aku melepaskan napas berat yang tertahan. Sebuah erangan pelan, panjang, dan tuntas lolos dari tenggorokanku bersamaan dengan tetesan keringat yang jatuh dari dahiku, mendarat tepat di atas tulang selangka Mila.
Gelap membungkus kami, tetapi dalam jarak sedekat ini, aku bisa merasakan dada Mila yang naik-turun dengan ritme yang berangsur tenang. Peran yang baru saja kami mainkan selesai seiring dengan tuntasnya pelepasan batin kami.
Aroma tubuh Mila—campuran antara sisa bedak bayi, keringat tipis yang manis, dan wangi minyak telon—langsung menyergap indra penciumanku.
Wangi yang sangat familier. Wangi yang selalu menjadi candu bagiku.
Aku berguling ke samping, telentang menatap langit-langit kamar yang remang-remang oleh sisa cahaya lampu jalan yang menerobos celah ventilasi. Skenario gila malam ini berhasil. Darahku masih berdesir gila-gilaan, bukan cuma karena aktivitas fisik, tapi karena fantasi yang baru saja kami wujudkan lewat kata-kata.
Mila bergerak pelan, menggeser tubuhnya mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidangku. Rambut panjangnya yang agak berantakan menggelitik leherku.
"Capek, Mas?" bisiknya lembut. Suara seraknya kembali normal, manja, beralih dari panggilan "Pak Seno" yang dipaksakannya tadi.
Aku tersenyum dalam kegelapan, merengkuh bahunya yang polos. "Capek tapi enak, Dek. Tadi... pas kamu manggil nama Pak Seno, kok kayak menghayati banget?"
Mila seketika mendengus remeh, lalu sebuah cubitan mendarat di pinggangku. Cukup keras hingga membuatku mengaduh pelan.
“Aw… sakitt” erangku karena cubitannya beneran sakit.
"Hih! Mas Yuda mah ngaco! Kan Mas sendiri yang minta dari kemarin-kemarin, katanya pengen denger kalau aku digrepe bapak kost bawah!" seru Mila, disusul tawa renyah yang tertahan agar tidak terdengar sampai ke kamar sebelah. "Otaknya mulai deh, kebanyakan nonton pekob sih"
"Lho, kan seru, Dek," kataku lagi, menahan senyum. Ada rasa panas yang menjalar di dadaku—sebuah perpaduan aneh antara rasa cemburu yang menyengat sekaligus gairah masokistik tersembunyi yang membuat jantungku berdegup kencang.
"Pak Seno kan dari dulu kalau ngeliat kamu kayak mau nelan hidup-hidup. Makanya Mas bayangin, gimana kalau suatu hari dia ngetuk pintu pas Mas lagi narik, terus kamu pasrah aja karena takut kita diusir..."
Mila justru tertawa lebih lebar. Dia menopang dagunya di dadaku, menatapku dengan mata bulatnya yang berbinar jenaka, bahkan dalam kegelapan. Dia selalu tahu cara meladeni fantasi aneh suaminya ini tanpa membuat situasi jadi canggung.
"Yaaa... kalau Pak Seno beneran yang di sini gantiin Mas Yuda, berarti sewa kost kita bulan ini gratis dong? Nggak usah pusing mikirin tagihan yang ditagih tiap tanggal satu," balas Mila, nadanya sengaja dibuat mendayu-dayu, nakal, sengaja mengompori paranoiku.
"Beneran mau kamu kalau dia minta?" tanyaku, memancingnya lebih dalam, menikmati sensasi perih yang nikmat di dalam dada.
"Ya tergantung dong," Mila mencubit daguku gemas. "Kalau Pak Seno-nya cuma minta ditemenin ngopi, ya aku ladenin. Tapi kalau sampai minta jatah... hmmm, emang Mas Yuda rela? Emang Mas Yuda ga cemburu kalau aku di godain cowo lain? Nanti kalau aku beneran jatuh ke pelukan bapak-bapak berkumis tebal itu karena ketagihan, Mas Yuda cuma bisa nangis di pangkalan ojol sambil megangin stang motor."
"Sialan," umpatku pelan, memeluknya semakin erat.
Mila tertawa geli, mengecup dadaku sekilas sebelum kembali merebahkan kepalanya dengan santai. "Makanya, Mas Yuda kerjanya yang rajin. Biar Gas-Pol-nya dapet argo kakap terus. Jangan biarin istri cantiknya ini digodain ama cowo lain. Paham?"
"Paham, Dek," bisikku.
Di dalam kegelapan, aku menatap langit-langit kamar dengan mata yang mendadak terjaga sepenuhnya. Bayangan Mila yang sedang tertawa di bawah kendali Pak Seno asli—bukan aku yang menyamar—berputar di kepalaku. Sialan. Rasa sakitnya begitu nyata di dada, tetapi anehnya, ada bagian dari diriku yang justru merasa sangat hidup karena bayangan kotor itu.
"...Berdiri bulu romaku~~ Melihat kau tersenyum~~"
Suara cempreng namun berenergi milik Mila yang menyanyikan lagu dangdut lawas menyentakku dari tidur.
Aku mengerjap-ngerjap, menghalau silau matahari hari Minggu yang menerobos masuk dari jendela kaca nako tanpa gorden yang memadai.
Kamar Kost Nomor 7 sudah bermandikan cahaya yang terik. Jakarta selalu terbangun dengan matahari yang siap membakar kulit sejak pukul tujuh pagi.
Lintang GelapAku menoleh ke arah sumber suara. Mila sudah rapi, mengenakan daster berwarna kuning terang menyala yang kontras dengan kulit langsatnya. Rambutnya dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan tengkuknya yang jenjang dan masih menyisakan wangi sabun mandi murah aromaterapi. Dia sedang sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam ember plastik merah.
"Eh, udah bangun suamiku yang ganteng kaya bang jepri nikol? Yuk, bangun yuk, matahari udah tinggi. Rezeki dipatok ayam nanti," sapanya ceria, menghentikan goyangan pinggulnya sejenak demi memberiku senyuman paling manis.
“Arrgghhhhh…” Erangku merentangkan tangan yang kaku. "Jam berapa, Dek?" dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam delapan, Mas. Hari Minggu ini. Noh diluar udah pada rame… buru gih bangun..," jawab Mila sambil mengangkat ember cucian ke pinggangnya.
Apa yang dikatakan Mila tidak berlebihan. Begitu aku duduk di tepi kasur, dinding batako tipis kamar kami langsung menghantarkan segala jenis kebisingan luar biasa dari Kost "Mulia Jaya". Karena ini hari libur, hampir seluruh penghuni dari 10 kamar berada di tempat.
Dari arah luar, sayup-sayup terdengar suara rentetan tembakan game online dari kamar Rian si anak warnet di Kamar 2, disusul suara bentakan Bu Lastri dari Kamar 6 yang sedang memarahi anaknya karena belum mandi. Di koridor bawah, suara dentum ember beradu dengan langkah kaki yang terburu-buru berebut kamar mandi umum. Kostan ini terasa sangat penuh, berisik, dan penuh warna yang berdesakan.
Mila membuka pintu kamar lebar-lebar, membiarkan angin panas luar masuk, lalu melangkah keluar menuju area jemuran di ujung koridor lantai dua. Aku berdiri, berjalan perlahan mengekor di belakangnya, bersandar pada pilar koridor sambil memperhatikan istriku yang langsung menjadi pusat perhatian begitu kakinya melangkah ke luar.
"Pagi, Bu Lastri! Wah, masak apa pagi ini? Wanginya ampe bikin Mas Yuda kebangun!" sapa Mila riang kepada Bu Lastri yang sedang menjemur keset kaki.
"Eh, Neng Mila. Cuma goreng asin sama sambal korek, Neng. Biasa, tanggal tua," sahut Bu Lastri, wajahnya yang biasanya judes mendadak melembut berganti senyum ramah. Siapa pun di kost ini sulit untuk ketus pada Mila.
"Aduh, sambal korek mah malah bikin boros nasi, Bu! Bikin gagal diet saya," balas Mila asyik, diiringi tawa renyahnya yang khas.
Di ujung koridor bawah, dekat tangga, pintu Kamar Nomor 1 terbuka. Sesosok pria paruh baya bertubuh tambun keluar hanya dengan mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos kutang putih yang longgar. Pak Seno. Di sela jarinya, sebatang kretek hitam sudah mengepulkan asap pekat. Pria yang namanya baru saja kami pinjam di atas ranjang beberapa jam yang lalu.
Begitu melihat sosok daster kuning di lantai dua, mata Pak Seno yang agak sayu langsung melebar. Senyumnya terkembang, memperlihatkan deretan gigi yang agak menguning akibat nikotin.
"Waduh, waduh... pagi-pagi lantai dua udeh silau bener. Ade matahari kembar ini mah!" goda Pak Seno dari bawah tangga, suaranya yang berat dan khas Betawi sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke atas.
Mila yang sedang mengibas selembar kemeja ojol Gas-Pol milikku langsung menengok ke bawah. Bukannya risih atau menghindar, dia justru bersandar di pagar koridor, melemparkan senyum terbaiknya yang membuat lawan bicaranya kegirangan.
"Pak Seno bisa aja! Makanya, Pak, rumah gede dan sepi begitu buruan diisi, cariin dong Bu Seno yang baru! Biar matanya nggak kesilauan mulu tiap liat daster kuning saya di atas," sahut Mila tangkas, meledek status duda pria tua itu dengan gaya yang sangat santai dan jenaka.
Pak Seno tertawa terbahak-bahak, memegangi perut buncitnya yang dibalut kaos kutang. Ujung kreteknya sampai bergetar.
"Waduh, waduh... nyari nyang spek kayak Neng Mila mah langka, susaaah! Kagak bakalan ade lagi!" balas Pak Seno kegirangan dengan logat Betawi medoknya karena merasa mendapat lampu hijau. "Makanya, daripada Bapak kesepian aje di bawah, mending Neng Mila sering-sering maen ke bawah nemenin Bapak ngopi. Khusus buat Neng Mila mah, kasbon sewa kamar juga Bapak kasih!"
"Ah, beneran ya, Pak? Nanti kalau Mas Yuda males narik, saya langsung ketuk pintu kamar bapak lho!" timpal Mila, mengedipkan sebelah matanya dengan gaya kocak yang terkesan main-main. Sebuah candaan instan yang langsung membuat Pak Seno menelan ludah dan membenarkan letak sarungnya yang melorot.
Dari balik pilar, aku menyaksikan seluruh interaksi itu.
Darahku mendadak berdesir hangat. Rasa panas dari fantasi semalam merayap lagi, berbenturan dengan realitas pagi ini. Aku melihat bagaimana Pak Seno menatap betis Mila yang sedikit mengintip dari balik daster kuningnya saat tertiup angin koridor. Aku melihat bagaimana pria tua itu begitu bergairah menatap istriku.
Ada rasa cemburu yang menusuk, rasa sakit yang membuat dadaku sesak melihat istriku digoda secara terang-terangan seperti itu di depan mataku. Namun, di saat yang bersamaan, sisi masokisme di dalam diriku bersorak riuh. Aku menikmati rasa sakit ini. Aku bangga, sekaligus terangsang secara gila-gilaan melihat betapa cantiknya istriku, betapa dia menjadi magnet bagi pria lain, dan betapa asyiknya dia memainkan batas permainan sosial ini.
Mila tahu aku memperhatikannya dari balik pilar. Dia menoleh sedikit ke arahku, melempar senyum tipis seolah berbisik, Lihat kan, Mas? Persis kayak permainan kita semalam.
Lintang GelapNamun, tepat setelah membuat Pak Seno kegirangan setengah mati, Mila langsung membalikkan badan dengan gerakan anggun, membelakangi tangga, dan kembali sibuk dengan jemurannya—memasang benteng tinggi yang tak kasat mata, menyisakan Pak Seno yang hanya bisa memandangi punggungnya dengan tatapan lapar yang tak tersampaikan. Dia memang se-asyik itu, namun tak pernah semudah itu untuk didapatkan.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.