Chapter 19
Kamar Kost Nomor 7 - 14 Oktober 2026 - 2.991 kata
“Jadi gimana?” Pertanyaan Mila menyambutku bahkan sebelum helm kusamku sempat mendarat di atas meja. “Apanya?” Dia yang tadinya bersandar di dinding langsung menurunkan layar ponselnya. Matanya menyipit sebal. “Iihh... apanya. Tempat rukonya, Mas. Yang tadi siang dilihat sama Mas Bimo.” “Ohh...” “Ohh..?!?!” Mila menirukan intonasi ku, namun nadanya lebih tinggi. Aku terkekeh pelan sambil menarik resleting jaket hijau Gas-Pol yang seharian mendekap bau matahari dan sangit knalpot. “Lumayan.” “Lumayan doang?” “Nggak jelek, Dek.” “Mas Yuda!” Mila menegakkan punggung. Dia duduk bersila sekarang, membuat daster tipis tanpa lengan yang dipakainya tertarik kencang di bagian paha, menyingkap betis putihnya sampai ke batas lutut. Rambutnya dijepit jepitan badak warna hitam seadanya, menyisakan anak rambut yang basah oleh keringat leher. Aku menggantung jaket di paku belakang pintu. “Tempatnya cukup luas. Depannya lumayan lebar kalau mau dibikin kanopi buat tempat nongkrong juga bisa.” “Nah, bagus kan?” “Kalau mau ditambah warung kopi kayak omongan Bimo kemarin juga muat.” “Nah! Terus?” Aku merogoh saku belakang, mengeluarkan dompet kulit yang sudah tipis, lalu menaruhnya di samping kunci motor. “Tapi...” Binar antusias di wajah Mila langsung padam separuh. “Tapi apa?” “Belum tahu.” Keningnya berkerut dalam. “Belum tahu apanya lagi?” “Ya... jadi sewa apa nggak.” Hening beberapa detik. Kipas angin
Chapter ini membutuhkan 3 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.