Chapter 14
Kamar Kost Nomor 7 - 14 September 2026 - 3.810 kata
Empat hari berlalu semenjak handuk itu melorot di lantai dapur Pak Seno. Anehnya, tak ada apa-apa, setelahnya. Tak ada ketukan misterius di pintu kamar kami. Tak ada Pak Seno mendadak jadi nekat naik ke lantai dua. Tak ada pula alasan aneh untuk memanggil Mila turun. Pak Seno malah kembali persis seperti biasa. Pagi-pagi ia sudah nongkrong di teras sambil menjepit sebatang kretek di sela jari. Kalau aku pamit narik, ia tetap menyambar dengan celetukan santai soal aspal atau cuaca Jakarta yang sumuk. Kalau Mila lewat, candaan recehnya masih keluar, meski sesekali matanya terlihat buru-buru membuang pandangan ke arah jalan gang saat Mila membalas senyumnya agak lama. Semuanya terlihat normal. Padahal di kepalaku sendiri, sama sekali tidak normal. Bayangan dapur malam itu terus berputar. Kulit langsat yang licin oleh butir air mandi, lekuk tubuh yang terpampang telanjang bulat di bawah neon putih, sampai sarung kotak-kotak Pak Seno yang mendadak membentuk tenda kaku. Aku sudah dapat jawabannya: orang tua itu pasti punya nafsu juga pada istriku. Masalahnya, jawaban itu justru melahirkan rasa penasaran baru di kepalaku. Kalau kuberi celah lagi, seberapa jauh dia berani melangkah? "WOI, YUD!" Sebuah tamparan keras mendarat telak di pundak kiriku. Aku tersentak sampai cangkir kopi hitam di
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.