Chapter 12
Kamar Kost Nomor 7 - 9 September 2026 - 3.431 kata
Roda depan motorku berhenti terparkir di kostan. Gemerisik dedaunan mangga tertiup angin sore beradu dengan derit pagar besi yang kututup rapat. Di teras bawah, Pak Seno duduk di kursi plastik hijaunya. Asap kretek mengepul tipis dari sela jarinya. Biasanya, sapaan kerasnya langsung menyambar tanpa permisi. Namun sore ini, ia hanya mendongak sedikit lalu mengangkat dagunya sekilas ke arahku. Gerakan itu pendek, kaku, dan sunyi. Matanya melirik ragu sebelum buru-buru dialihkan kembali ke ujung puntung rokoknya. Pesan Mila di ponselku tadi siang langsung melintas di kepala: “Pak Seno masih duduk di teras. Kopinya udah habis dari tadi, tapi bengong aja…” Sudut bibirku berkedut menahan senyum. Pancingannya di telepon tadi pagi rupanya benar-benar menancap. Ketika menaiki tangga, pandanganku tertuju pada koridor atas. Mila sedang berdiri di dekat pagar besi menjemur dua helai kaus. Terdengar suara gesekan kursi dari bawah. Pak Seno tanpa sengaja mendongak. Tepat pada detik itu, matanya bertubrukan langsung dengan Mila. Pak Seno tersentak kecil, lalu buru-buru memalingkan muka ke arah pot bunga sambil batuk canggung membetulkan sarungnya. Mila menangkap gestur panik itu. Ia menoleh padaku, menarik senyuman tipis penuh rahasia. Tidak perlu bicara di koridor; senyumnya sudah menceritakan segalanya. Pintu kamar kututup rapat. Mila langsung melempar jepitan baju ke
Chapter ini membutuhkan 1 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.