Chapter 11
Kamar Kost Nomor 7 - 9 September 2026 - 3.756 kata
Aku tidak bisa tidur setelah keputusan gila itu mengendap di kepalaku.
Mila sudah lebih dulu terlelap di sampingku, membelakangiku dengan selimut tipis yang hanya menutupi pinggangnya. Sesekali tubuhnya meliuk kecil, merintih halus saat kain kausnya menggesek kulit punggung yang semalam merah membara dihantam koin Pak Seno.
Aku sendiri masih membisu menatap daun pintu kostan.
Satu pikiran terus memukuli dadaku: Aku masih terlalu dekat. Aku masih bisa mendengar helaan napasnya. Masih bisa mengintip dari celah kusen. Masih bisa mendobrak masuk kapan saja kalau cemburuku meledak.
Kalau begitu, apa bedanya dengan semua permainan yang selama ini kami lakukan di atas kasur? Aku masih memegang kendali penuh. Aku masih menjadi sutradara yang aman di balik panggung.
Tanganku meraba kasur, mengambil ponsel di samping bantal. Layarnya menyala redup, menampilkan jam tiga pagi.
Ruang obrolan dengan Mila terbuka. Jempolku menggantung kaku di atas kaca. Ingin rasanya mengetik sesuatu, padahal perempuan yang membuat dadaku sesak ini sedang tertidur lelap kurang dari setengah meter di sampingku.
Aku mematikan layar. Mengembuskan napas panjang.
Besok aku tidak mau berdiri di balik celah pintu lagi. Besok aku mau benar-benar melangkah jauh. Menyerahkan imajinasiku pada takdir dan deru jalanan.
Pagi harinya, aroma minyak kayu putih bercampur keringat tipis menyapa inderaku.
“Mas.”
Aku menoleh dari depan cermin kecil. Mila berdiri membelakangiku, menarik bagian belakang kaus oblongnya ke atas hingga memperlihatkan pinggang mulus dan punggung bahagianya.
“Masih merah banget nggak?” tanyanya, menolehkan wajahnya dengan bibir yang sedikit memanyun manja.
Aku yang sedang menyelipkan dompet ke saku jaket ojol melangkah mendekat. Jalur-jalur merah kehitaman hasil gosokan koin Pak Seno semalam masih terlukis tegas di sana. Kontras sekali dengan kulit langsatnya.
“Masih,” jawabku pelan. Tanganku refleks mengusap pinggir jalur merah itu. Kulitnya terasa hangat.
“Parah ya?”
“Lumayan. Tangan Pak Seno emang kayak balok.”
Mila mencoba menoleh ke belakang, memutar tubuhnya yang lentik namun jelas tidak mungkin melihat punggung sendiri. “Yang sebelah sini gimana? Masih perih tau.” Tangannya menunjuk sembarangan ke arah bahu.
“Mana aku tahu kamu nunjuk apa.”
“Ya yang rasanya kayak ditusuk-tusuk koin!”
“Semua garisnya juga merah pekat, Dek.”
Mila menjatuhkan kausnya kembali, menutupi punggungnya. “Ih, berarti Pak Seno sadis banget ngerokinnya! Tangan bapak-bapak mah nggak ada lembut-lembutnya.”
Aku memandangi pantulan wajahnya di cermin. Mila yang sedang merapikan rambutnya menggunakan jepitan badai mendadak menangkap tatapanku lewat kaca.
Sudut bibirnya naik perlahan. Sebuah senyuman centil yang sangat kukenal.
“Nah.”
“Apaan?”
“Mukanya mulai deh.”
“Mulai apa?”
“Mulai melengkung aneh begitu.”
“Begitu gimana?”
Ia berbalik penuh menghadapku, menyelipkan karet rambut di pergelangan tangannya. “Tiap kali nama Pak Seno disebut, Mas pasti langsung bengong. Otaknya traveling ke mana-mana, kan?”
Aku berbalik mengambil helm di atas meja. “Ge-er kamu.”
“Emang!” Mila tertawa renyah, tawa yang selalu berhasil memancing detak jantungku memburu.
Aku melangkah ke dekat pintu kamar, memegang gagangnya, tetapi kakiku tertahan. Dadaku mendadak berdesir keras. Keberanian kotor yang semalam mengendap kini menuntut untuk disuarakan.
“Dek.”
“Hmm?” sahutnya santai sambil memoleskan lipbalm tipis di bibirnya.
“Nanti sebelum kamu berangkat kerja ke laundry…”
Mila berhenti mengoleskan lipbalm. “Kenapa, Mas?”
Kalimat itu rasanya mendadak seberat batu di tenggorokanku. Semalam, saat Mila tertidur, merancang skenario ini terasa begitu mudah. Tapi mengucapkannya secara telanjang di depan matanya yang bulat bening membuat ujung jariku gemetar.
“Nanti turun dulu ke bawah.”
Mila memiringkan kepalanya sedikit. “Turun?”
“He-eh.”
“Ke mana? Mau beli sarapan?”
Aku menatap matanya rapat-rapat. Mila balas menatapku lewat cermin, lalu memutar tubuhnya.
Dua detik keheningan menggantung di kamar sempit kami.
Lalu, sudut mata Mila menyipit. Ekspresinya berubah, campuran antara terkejut, geli, dan pemahaman yang kilat.
“Oalah…” gumamnya pelan.
Aku mendengus canggung. “Oalah apaan?”
Mila melangkah satu titik mendekat, melipat kedua tangan di bawah dadanya yang tercetak di balik kaus. “Pak Seno?”
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya lurus.
Mila malah tertawa kecil, tawa mendesis yang nakal. “Mas beneran mau main lagi?”
Kata 'lagi' itu menempel telak di ulu hatiku. Semalam bukan cuma khayalan liar di kepalaku. Kami berdua tahu ada permainan yang baru saja dimulai. Bedanya, semalam permainan itu masih bersembunyi di balik alasan masuk angin dan kerokan.
Hari ini, akulah yang memotong talinya sendiri.
“Temenin dia ngobrol aja,” kataku, mencoba mempertahankan suara datarku.
“Ngobrol apa?” pancingnya, melangkah semakin dekat hingga aroma sabun mandinya menabrak dadaku.
“Ya terserah kamu.”
“Lah, katanya Mas Yuda yang punya ide? Terus aku diapain di bawah?”
“Kok kamu yang diapain?”
Mila menyenggol pinggulku dengan pinggulnya yang padat. “Ya tugas aku apa, Bos? Masa cuma berdiri kayak patung?”
Aku hampir tertawa mendengar nada centilnya yang tak bersalah itu. “Tanyain Bapak.”
“Nanya apaan?”
“Tanya… kenapa sendirian terus di kostan.”
Mila mengangkat sebelah alisnya, matanya berbinar jenaka. “Terus?”
“Kenapa nggak nikah lagi.”
“Terus?”
Aku diam membisu. Ujung celana ojolku mendadak terasa makin menyempit.
Mila langsung menyeringai lebar, menunjuk wajahku dengan telunjuknya. “Nah! Ketahuan! Pasti ada terusnya kan?”
“Ya lihat aja nanti arah ngobrolnya ke mana…” gumamku.
Mila menyilangkan tangan lagi, menatapku dari bawah ke atas dengan tatapan penuh power play. “Mas ini sebenernya pengen aku godain Pak Seno, kan?”
Itu bukan pertanyaan. Itu vonis.
Aku memalingkan wajah sedikit, tersenyum tipis tanpa membantah.
“Tuh kan! Bener!” Mila menepuk bahuku gemas. “Gila ya suamiku. Terus godainnya gimana?”
“Pelan-pelan aja.”
“Pelan apanya?”
“Jangan langsung aneh-aneh.”
Mila membelalakkan mata, pura-pura tersinggung dengan gaya yang sangat teatrikal. “Siapa yang mau aneh-aneh? Yang semalem berdiri nguping di balik celah pintu siapa coba? Aku tahu ya!”
Aku tersentak, menatapnya kaget. “Kamu tahu?”
“Mas kira aku buta?” Mila tertawa geli, bahunya berguncang. “Pas Mas masuk lagi ke kamar, mukanya melas banget kayak habis ketahuan maling mangga tetangga!”
Aku terkekeh pasrah, meraup wajahku yang memerah. Ternyata istriku sadar sepenuhnya saat ia mendesah di bawah koin Pak Seno semalam.
Mila maju satu langkah lagi. Jarak kami kini tak tersisa. Tangannya terangkat, merapikan kerah jaket ojolku. “Tapi hari ini Mas mau ke mana?”
“Narik. Cari argo.”
“Beneran pergi jauh?”
“He-eh.”
Untuk pertama kalinya pagi ini, binar candanya sedikit menyusut. Wajahnya berubah agak serius. “Terus… kalau Mas pergi jauh, Mas tahu aku ngomong apa sama Pak Seno dari mana?”
Inilah bagian yang paling membuat darahku mendidih sejak tadi malam.
Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel murahku. “HP.”
Mila menatap ponsel di tanganku, lalu beralih menatap mataku. “HP?”
“Panggil Mas sebelum kamu melangkah turun tangga.”
Logika permainan ini mendadak tercetak utuh di kepalanya. “Terus sambungannya jangan dimatiin?”
Aku menggeleng.
Mata bulat Mila melebar sempurna. “Mas mau dengerin dari jalanan?”
“Hmm.”
“Sambil bawa motor? Bawa penumpang?”
“Iya.”
Mila menahan napasnya, lalu tawa renyahnya pecah lagi, kali ini lebih keras hingga ia harus menutupi mulutnya. “Mas Yuda… kurang kerjaan banget asli! Sakit!”
“Ya kalau kamu nggak mau, nggak usah—”
“Mau!” potongnya cepat.
Jawabannya meluncur terlalu lancar. Tanpa ragu.
Kami berdua mendadak terdiam. Mila sendiri seolah kaget mendengar betapa cepatnya mulutnya menyetujui ajakan kotor ini. Pipinya merona merah seketika.
Plak! Sebuah cubitan keras mendarat di lenganku. “Bukan mau Pak Senonya ya!” serunya menyembunyikan canggung.
Aku tertawa meloloskan napas. “Mas juga nggak bilang gitu.”
“Mata Mas Yuda tuh yang ngomong!”
“Mata Mas dari tadi meram.”
Mila menengadah, menatapku rapat-rapat. “Berarti… Mas cuma dengerin aja?”
“Iya.”
“Nggak boleh ikut nyamber atau ngomong?”
“Jangan. Biar Pak Seno mikirnya kamu beneran sendirian sama dia.”
Mila menelan ludah halus, tenggorokannya bergerak anggun. “Kalau… kalau aku keterlaluan gimana? Kalau becandaanku kelewatan?”
Aku menatap bibir basahnya yang merekah. Sensasi masokistik yang gila berulur melilit jantungku. “Mas dengerin semuanya.”
“Itu bukan jawaban, Mas Yuda.”
“Lihat nanti seberapa jauh kamu bisa bikin dia salah tingkah.”
Mila mendecak pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Enak banget ya jadi suami,” gerutunya dengan nada manja yang dibuat-buat. “Yang disuruh kerja keras godain duda kan aku, tapi yang menikmati sensasinya Mas sendiri.”
Aku terkekeh pelan, menyapu lembut pipinya. “Udah ah… Mas narik dulu. Keburu siang, nanti keburu sepi penumpangnya.”
Aku mendekatkan wajah, mendaratkan satu kecupan hangat di keningnya. Aromanya yang harum bercampur minyak kayu putih memenuhi inderaku. Namun, tepat ketika aku hendak menarik diri, jemari lentik Mila menahan kerah jaket ojolku.
Ia menengadah. Tatapan matanya yang bulat bening mengunci mataku rapat-rapat.
“Hati-hati di jalan ya, Mas…” bisiknya halus, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling tipis dan mematikan. “…nanti jangan nyesel lho, kalau istrinya beneran diambil laki-laki lain.”
JASSS!
Kalimat itu meluncur begitu telanjang, menembus tepat ke ulu hatiku. Sensasi dingin mendadak menjalar ke seluruh saraf dada. Walau aku tahu Mila hanya melempar pancingan bercanda khasnya, sebuah cermin realitas yang mengerikan baru saja ditegakkan di depan wajahku: itu adalah risiko nyata yang siap menelanku kapan saja.
Mila yang menangkap perubahan raut wajahku yang mendadak kaku dan membisu langsung meledakkan tawa renyah.
Lintang Gelap“Engga, Sayang~ Aku cuma bercanda!” serunya sambil menepuk dadaku gemas, memamerkan senyuman paling manis dan tanpa dosa. “Udah sana narik! Keburu siang!”
Aku hanya sanggup membalasnya dengan senyuman pahit yang dipaksakan. Mila terkikik geli melihat reaksiku, begitu puas berhasil mengacak-acak isi kepalaku dalam hitungan detik.
Namun, itulah Mila. Dan yang paling gila dari semua ini, akulah yang sengaja mendorongnya ke tepi jurang permainan ini. Aku tidak punya hak untuk menyalahkannya.
Aku membalikkan badan, melangkah menuruni anak tangga semen satu per satu. Di setiap pijakan, detak jantungku memburu kencang, bersiap memacu motor bebekku membelah pagi Jakarta yang membakar.
Ponsel di dudukan stang bergetar sekali.
Nama Mila muncul memenuhi layar kaca yang sedikit berdebu. Aku langsung menyapu tombol hijau dengan ujung jempol yang agak basah oleh keringat sebelum getaran kedua sempat memutus panggilan.
“Mas?”
Suaranya masuk hanya ke telinga kiriku. Earphone kanan sengaja tidak kupakai, biar telinga kanan tetap mendengar deru klakson, dengung mesin angkot, atau teriakan orang di jalanan Slipi yang gila.
“Hmm.”
“Udah siap?” bisiknya.
Aku melirik kaca spion. Penumpang perempuan di belakangku masih sibuk mengusap layar ponselnya. Tujuannya tinggal dua kilometer lagi. Jalan di depanku padat merayap, jadi kubiarkan motor bebekku merayap pelan mengikuti arus.
“Udah,” jawabku pelan.
Mila menahan tawa. Tawa renyah, centil, dan mendesis yang selalu berhasil memancing bagian bawah tubuhku. “Jangan banyak ngomong ya.”
“Tau.”
“Kalau Mas ketawa gimana?”
“Ya jangan bikin ketawa.”
“Lah, yang nyuruh siapa?”
Sudut bibirku naik. Seluruh saraf di tubuhku mendadak tegang. “Udah sana.”
“Siap, Bos~”
Langkah sandalnya beradu halus dengan semen terdengar samar dari sambungan telepon. Aku langsung tahu Mila sedang menuruni tangga kost.
Semua ini memang idenya atau lebih tepatnya, eskalasi dari ide kotor yang semalam menetes di kepalaku. Aku tidak mau mengintip dari celah pintu lagi. Kalau kemarin aku masih harus berdiri menahan napas di luar kamar , hari ini aku ingin berada jauh di atas aspal jalanan, pasrah, dan tidak punya pilihan selain menyerahkan imajinasiku pada indra pendengaran.
Dan Mila tahu persis apa yang kuminta. Bukan sekadar menemani Pak Seno. Tapi menggodanya. Sedikit lebih berani, lebih jalang, dan lebih telanjang dari biasanya. Melihat sejauh mana pria tua duda itu bisa dibuat salah tingkah dan bernapas berat ketika aku benar-benar dianggap tidak ada di sekitar mereka.
Suara sandal Mila berhenti. Langkah berdecit. Lalu terdengar bunyi kursi plastik bergeser.
“Lho, Neng Mila.”
Suara berat, serak, dan khas Betawi milik Pak Seno masuk penuh ke telinga kiriku. Dadaku langsung mengencang seketika. Otot perutku menegang keras, mengirim desiran panas beracun yang merayap cepat menuju selangkanganku.
“Sendirian aja, Pak?” sapa Mila. Nadanya manja, renyah, dan sengaja diperlambat.
“Iyeee… emangnya kayak lagi rapat RT?”
Mila tertawa. Tawa lepas yang membuat bayangan dada dan pinggulnya yang bergoyang di balik daster tipis langsung meledak di kepalaku. Aku ikut hampir tertawa, tapi kutahan kuat-kuat.
“Kirain lagi nungguin siapa.”
“Nungguin siapa?”
“Ya siapa tahu.”
“Siape?”
“Bu Seno baru.”
Pak Seno menghembuskan tawa pendek berdahak. “Aduh, Neng.... jangan dibahas mulu ntu.”
“Kenapa Pak? Malu?”
“Bukan malu. Orang kagak ada nyang mau.”
“Ah, masa...”
Suara bangku plastik kembali bergeser kasar. Aku membayangkan Mila menarik satu kursi, lalu duduk sangat dekat di depan Pak Seno. Dasternya yang agak tersingkap memamerkan paha mulusnya yang langsat.
Aku tidak bisa melihatnya. Dan ketidakmampuan untuk melihat itulah yang membuat birahiku liar, menanjak drastis hingga cengkeramanku pada setang motor mengeras.
“Neng Mila belum kerja?”
“Nanti.”
“Mas Yuda?”
“Udah narik dari pagi.”
Aku menahan napas rapat-rapat. Mila sengaja menekankan kata itu. Ia melemparkan sinyal bahwa aku berada sangat jauh, tak berdaya, dan tidak akan bisa mengganggu mereka. Padahal, aku meminum setiap embusan napasnya tepat di dalam lubang telingaku.
“Tumben duduk sini.”
“Emangnya nggak boleh?”
“Boleh, boleh... bapak mah seneng ada yang nemenin.”
“Nah~”
Ada jeda kecil. Desah napas Mila terdengar begitu dekat dengan mikrofon ponselnya, seolah bibir basahnya berada persis di depan telingaku.
“Berarti bener dong.”
“Apaan?”
“Kesepian...”
Pak Seno tertawa lagi, tetapi kali ini nadanya tidak selepas tadi, ada getaran canggung yang tertahan. “Siapa bilang?”
“Bapak sendiri.”
“Kapan?”
“Barusan... katanya seneng ditemenin.”
“Lah, orang diajak ngobrol mah siapa juga yang nggak seneng.”
“Beda~” pancing Mila mendayu-dayu.
“Bedanya di maneeee?”
“Kalau orang yang nggak kesepian mah biasa aja.”
Pak Seno mendecak. “Neng Mila ini kalau udah ngomong muter-muter yak...”
“Biar Bapak mikir.”
“Bapak udah tua, jangan disuruh mikir berat-berat.”
Mila terkekeh renyah. Aku membelokkan motor mengikuti truk di depan. Penumpang di belakangku masih diam. Darahku makin mendidih. Otot-ototku menegang.
“Pak.”
“Iye?”
“Beneran nggak pernah kepikiran kawin lagi?”
Jeda cukup lama sampai deru mesin motor lain di sekitarku terdengar makin samar.
Pak Seno akhirnya menjawab, suaranya memberat. “Ngapain?”
“Ya kawin.”
“Iye, ngapain?”
“Biar ada yang nemenin.”
“Udah biasa sendiri.”
“Biasa bukan berarti suka.”
Aku refleks melirik layar ponsel di setang. Kalimat itu tidak pernah kurancang dengannya. Mila mengimprovisasinya sendiri. Dan fakta bahwa istriku begitu mahir memainkan emosi pria lain membuat bulu kudukku meremang hebat.
Pak Seno terdiam lama. “Neng Mila kalau jadi sales asuransi laku nih.”
Mila tertawa. “Kok malah asuransi?”
“Pinter ngomong.”
“Bapak menghindar.”
“Kagak.”
“Nah, kenapa nggak kawin lagi?”
Pak Seno menghembuskan napas panjang beraroma kretek yang seolah menembus sambungan telepon. “Ya… susah aja, Neng.”
“Susah apanya?”
“Mulai lagi.”
“Mulai apa?”
“Ya semuanya.”
Nada suaranya berubah, pagar humornya mulai runtuh. Suara Mila mendadak melembut, berubah menjadi suara hangat khas yang biasanya ia gunakan saat membelai dadaku di atas kasur.
“Masih kepikiran almarhumah?”
“Hidup bertahun-tahun sama orang, Neng. Masa ilangnya cuma butuh seminggu.”
Mila diam. Aku menelan ludah yang terasa kesat. Ujung celanaku terasa semakin sempit dan mengencang.
Lalu Pak Seno sendiri yang memecahnya dengan batuk kecil. “Udah ah... Kok jadi ngomongin begini.”
“Bapak yang baper.”
“Lah...”
“Kan saya cuma nanya.”
“Nanyanya nusuk.”
Mila tertawa kecil. “Makanya kawin lagi.”
“Siape yang mau?”
“Cari… atuuh..”
“Di mane?”
“Ya… banyak.”
“Bapak keliling kost bawa tulisan ‘dicari istri’?”
Tawa Mila pecah. “Bisa, Pak. Bikin banner. Tempel depan gerbang. Paket kost sama bapak kost. Diskon bulan pertama.”
“Kurang ajar….” Pak Seno tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar puas.
Aku bisa membayangkan mata Pak Seno yang sayu kini menatap lekat bibir Mila yang merekah merah, menilai leher dan lekuk tubuh istriku dengan rasa lapar yang tertahan. Rasa cemburu yang menyengat dan gairah masokistik beradu liar di dalam dadaku.
“Serius, Pak,” Mila kembali bicara, suaranya sengaja diturunkan setengah oktav. “Bapak kan masih sehat begitu.”
“Sehat dari mane?”
“Ya sehat.”
“Lutut Bapak aja kalau jongkok bunyinya udah kayak kerupuk.”
“Masih kuat ngerokin saya semalam.”
DEG! Jantungku seperti dihantam palu. Aku menelan ludah berat. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Mila! Pak Seno langsung batuk tersedak.
“Ya… ya itu mah beda.”
“Bedanya?”
“Ngerokin doang.”
“Lumayan kuat lho tangannya …” gumam Mila pendek.
Sret!
Motor di depanku berhenti mendadak. Aku refleks memencet rem depan-belakang. Penumpang di belakangku terdorong ke depan, dadanya menabrak punggungku.
“Maaf, Mbak!”
“Iya, Mas. Hati-hati dong!”
“Iya, maaf.”
Napasku memburu. Ereksiku di balik celana jeans makin menegang dan nyeri. Fokusku buyar. Suara Pak Seno kembali masuk dengan nada yang makin gugup.
“Neng Mila kok ngomongnya jadi aneh sih …”
“Apanya yang aneh?”
“Nggak ada.”
“Nah~” Mila memanjangkan desahannya. “Pak.”
“Apaan lagi?”
“Bapak kalau malam ngapain?”
“Tidur.”
“Cuma tidur?”
“Ya paling nonton TV.”
“Terus?”
“Ya tidur.”
“Masa hidup Bapak sesimpel itu?”
Pak Seno terkekeh canggung. “Mau diapain? Dugem?”
“Bisa.”
“Bapakmah kalau masuk diskotek disangka satpam.”
Mila tertawa. Tapi detik berikutnya, nadanya berubah menjadi sangat intim, seperti bisikan rahasia di tempat gelap.
“Ya maksud saya… nggak pernah merasa sepi banget?”
Hening. Hanya terdengar detak korek api atau cangkir beradu.
“Ya pasti pernah.”
“Terus diapain?”
“Dibawa tidur.”
“Masa bisa?”
“Kalau capek mah bisa.”
“Kalau nggak capek?”
“Neng…” Suara Pak Seno berubah memohon, berat, dan tertahan. Pria tua itu mulai terpojok.
“Bapak kok takut banget sama pertanyaan saya?”
“Bukan takut.”
“Terus?”
“Pertanyaannya makin lama makin nggak jelas.”
“Jelas kok.”
“Yaudah saya bikin jelas.”
Aku mencengkeram setang motor sampai buku-buku jariku memutih. Mila menarik napas halus. Suaranya turun menjadi desahan tipis yang sangat berbahaya.
“Bapak kalau lagi kangen punya istri gimana?”
Pak Seno diam membisu. Lama.
“Neng… jangan nanya begitu.”
“Kenapa emangnya?”
“Nggak enak.”
“Sama siapa?”
“Ya sama Mas Yuda.”
Mendengar namaku disebut oleh duda yang sedang diujung tanduk itu membuat tengkukku merinding hebat. Seluruh darah serasa mengalir deras ke bawah.
Mila tertawa pelan, terkikik manis. “Lho, saya cuma nanya.”
“Pertanyaannya kagak kayak pertanyaan orang cuma nanya.”
“Kan normal, Pak. Kangen. Pengen ditemenin. Pengen ada perempuan di rumah …”
Pak Seno berdeham berat, tengorokannya terdengar sangat kering. “Iye …”
Mila tidak memberikan napas. Ia melancarkan serangan pemungkasnya.
“Terus kalau…” Mila menggantung kalimatnya.
“Kalau apa?” suara Pak Seno bergetar halus.
“…kalau lagi pengen?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara bising knalpot di telinga kananku, berpadu dengung tipis sambungan telepon yang menempel di kiri. Aku menelan ludah, membiarkan rasa pahit mengendap di tenggorokan. Mila melontarkan pertanyaan itu begitu enteng, seolah baru saja menanyakan takaran gula di cangkir kopi Pak Seno, padahal kami berdua tahu persis ke mana arah jeratannya.
Tawa kecil Pak Seno akhirnya terdengar. Pendek, canggung, dan kehilangan nada lepas yang sempat mengudara beberapa menit lalu.
“Neng Mila… Bapak jadi takut ngobrol sama Neng.”
“Lho, kenapa?”
“Nanyanya makin ngawur.”
“Emang nggak pernah?”
“Udah, nggak usah dibahas.”
Terkikik pelan, Mila menyambar tanpa jeda, “Berarti pernah...”
“Neng…”
“Berarti bener, dong…”
Pak Seno mengembuskan napas panjang. “Mas Yuda tahu Neng nanya begini?”
Cengkeramanku pada setang motor refleks mengencang. Namun di ujung telepon, Mila menjawab dengan santai tanpa setitik pun keraguan.
“Kalau tahu kenapa?”
“Ya… kagak enak aja...”
“Mas Yuda mah santai kok…”’
Sebuah dengusan geli hampir lolos dari bibirku.
Santai.
Kalau Pak Seno tahu aku sedang menyimak setiap patah kata dari atas motor sambil membawa penumpang, definisi kata santai di kepalanya pasti langsung buyar.
“Neng Mila… udah. Ganti topik.”
“Belum dijawab...”
“Apaan lagi?”
Suara Mila merendah satu oktaf, terdengar lebih intim, “Kalau lagi pengen…”
Hening menggantung. Pak Seno tertahan, membuat deru mesin di sekitarku mendadak terdengar lebih bising saat aku menajamkan telinga kiri.
“Ya diapain lagi…” desah pria itu pasrah.
“Nah, diapain?” Mila memburu cepat.
“Neng!”
Tawa Mila meledak renyah. “Penasaran doang, Pak. Ya saya kan perempuan…”
“Justru itu...”
“Bapak malu?”
“Kagak...”
“Berarti jawab.”
Derit kursi plastik bergeser terdengar jelas. Aku membayangkan Pak Seno sedang serba salah di terasnya, entah membetulkan letak duduk, mengusap wajahnya yang merona, atau sibuk mengetuk rokok ke asbak demi menyibukkan tangan. Bayangan yang tidak bisa kulihat itu justru membuat dadaku kian berdesir panas.
“Apa Bapak… yaa gitu sendiri?” bisik Mila pelan.
Satu detik… dua… tiga detik berlalu tanpa sanggahan. Aku melajukan motor di belakang kendaraan lain tanpa benar-benar memperhatikan nomor pelat di depanku.
“Ya kalau kepepet…” gumam Pak Seno, nyaris tenggelam oleh suara klakson yang memotong dari sisi kananku.
“Oalah…” Mila kembali terkikik geli.
“Neng, jangan ketawa!”
“Saya nggak ketawa…”
“Itu apaan?”
“Batuk.”
“Batuk apaan begitu.”
“Sering, Pak?”
“Nggak usah tahu.”
“Berarti sering.”
“Kagak Neng...”
“Seminggu berapa kali Pak?”
“Neng Mila!”
Tawa Mila meledak semakin puas. Aku terpaksa menggigit bagian dalam pipiku agar tidak ikut terbahak di tengah jalan raya.
“Sumpah, Pak. Saya pengen lihat muka Bapak sekarang.”
“Neng ini ya…” Pak Seno terdengar kehabisan akal. “Mas Yuda kuat juga punya istri beginian.”
“Ya karena Mas Yuda kuat,” tanggap Mila seketika, lalu melanjutkan dengan nada manja yang sengaja dilembutkan, “Bapak mah kayaknya nggak kuat~”
Tidak ada sahutan dari Pak Seno. Udara di seberang sana terasa mendadak membeku. Deru angin jalanan kembali memenuhi telinga kananku, sementara dari kiri hanya tersisa hembusan napas berat yang tertahan.
Mila membiarkan kesunyian itu merayap sebelum berbisik, “Tuh kan… Berarti Bapak ngaku.”
“Ngaku apaan?”
“Gampang digodain...”
Pak Seno terkekeh pendek. “Siapa yang godain?”
“Saya...”
Lelaki itu tak lagi tertawa. Dadaku bergetar kencang. Mila baru saja merobek batas candaan dan menyebut permainannya secara terang-terangan.
“Bapak dari tadi anggap Neng cuma bercanda,” ujar Pak Seno, suaranya jatuh begitu dalam.
“Kalau nggak bercanda?”
“Neng… jangan.”
Dua kata itu cukup membuat bulu kudukku meremang. Itu bukan amarah, melainkan peringatan genting seorang pria yang sedang bersusah payah menahan kewarasannya sendiri.
Bunyi derit bangku kembali terdengar saat Mila beranjak. “Yaudah... bapak takut saya serius?”
Langkah sandalnya mulai beradu santai dengan semen teras. Kupikir sandiwara paginya telah usai, namun gesekan sandal itu mendadak terhenti.
“Pak...”
“Iyeee?”
Suara Pak Seno terdengar sedikit berjarak. Nada bicara Mila meluncur begitu ringan, terlalu manis untuk diabaikan:
“Kalau kapan-kapan lagi pengen banget… bilang aja.”
Refleks, jari-jariku menegang dan memutar tuas gas terlalu dalam. Motor melesat menyentak ke depan.
“Mas! Lampu merah!”
Teriakan panik penumpang di belakang menyentak kesadaranku seketika. Rem kutarik mendadak, menghentikan ban depan tepat melewati marka jalan hingga tubuh penumpang menabrak punggungku cukup keras.
“Maaf, Mbak! Maaf banget...”
“Fokus dong, Mas!”
“Iya, maaf…”
Jantungku berdegup kencang menghantam rusuk. Keringat dingin merembas di pelipisku. Namun di telinga kiri, bisikan Mila yang tertinggal justru menuntaskan kalimatnya tanpa ampun:
“…siapa tahu saya bisa bantu.”
Gila. Benar-benar gila. Aku yang merancang ide ini, tetapi Mila baru saja melempar umpan jauh melampaui dugaanku.
“Neng…” sahut Pak Seno parau, terdengar seperti orang yang lidahnya mendadak kelu.
“Kenapa, Pak?”
“Kagak usah bikin Bapak mikir macem-macem!”
Tawa Mila kembali membuncah seiring derap sandalnya yang bergegas menaiki anak tangga. “Bantu cariin istri maksud saya! Makanya jangan ngeres, Pak!”
“Kurang ajar!” gerutu Pak Seno, diiringi tawa tertahan yang terdengar kaku.
Suara riuh di bawah perlahan lenyap saat Mila tiba di lantai dua.
“Mas?”
Aku menghela napas, mengatur detak jantungku. “Hm...”
“Kok diem?” godanya sambil menahan kekeh. “Kepikiran sendiri sama yang terakhir tadi?”
“Mas nggak nyuruh sampai ngomong gitu, Dek.”
“Kan Mas bilang bikin Pak Seno salah tingkah. Berhasil, kan?”
“Nggak usah ditanya lagi,” bisikku menyerah.
Mila tertawa riang di seberang sana. “Udah ya, fokus narik dulu. Nanti masuk berita: driver ojol nyungsep gara-gara istrinya godain bapak kost.”
Sebelum sambungan benar-benar tertutup, nada suaranya sempat berubah pelan, “Mas… menurut Mas, Pak Seno beneran kepikiran nggak?”
“Entahlah,” jawabku lirih. Pertanyaan yang sama persis seperti yang kini tertancap di kepalaku.
Setelah menurunkan penumpang di depan minimarket, ponsel di kantongku bergetar beruntun. Tiga pesan dari Mila masuk ke layar:
Mila: massss 😭
Mila: aku tadi ngintip dari atas, pak seno masih duduk di terasss
Mila: kopinya udah habis dari tadi, tapi masih bengong aja 😭😭😭
Mila: kasiaaann 😭😭😭
Aku memandangi pesan itu dalam diam. Pak Seno tidak mengejar ke atas ataupun memanggil Mila kembali. Ia hanya terpaku di bawah, membiarkan kalimat pancingan istriku merayap ke sudut-sudut pikirannya yang paling sunyi. Dan untuk pertama kalinya, rasa panas di dadaku bukan lagi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, melainkan membayangkan sejauh mana isi kepala pria itu melayang malam ini.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.