Chapter 35
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 4.427 kata
Dalam keheningan yang mendadak jatuh itu, udara di ruang tamu terasa semakin berat dan panas. Tawa Ana mulai menghilang, menyisakan napas yang masih tersengal pendek. Di bawah temaram cahaya televisi, wajah Ana berubah merah padam—bukan lagi karena geli, melainkan karena gejolak yang jauh lebih hebat di dalam dadanya. Merasa tidak sanggup menahan intensitas tatapan Pak Sano yang seolah sedang menguliti setiap rahasia di jiwanya, Ana mencoba memalingkan wajah. Ia menunduk malu, membiarkan rambut hitam panjangnya yang masih lembap jatuh menjuntai, menutupi sebagian pipinya yang sudah memerah padam. Ia berusaha mencari perlindungan di balik helai-helai hitam itu, sebuah cadar alami untuk menyembunyikan rasa haus yang mulai ia rasakan kembali. Di tengah ketegangan itu, sebutir keringat dingin mulai muncul di pelipis Ana . Bulir kecil itu merayap sangat lambat, melewati pipinya yang panas, lalu menetes ke leher jenjangnya yang kini berdenyut kencang mengikuti irama jantung. Suhu udara di ruangan itu seolah naik beberapa derajat, membuat kulit Ana terasa mengkilap dan lembap di bawah daster kremnya. Namun, Pak Sano tidak membiarkan Ana bersembunyi. Tangan besar Pak Sano yang tadinya berada di pinggang, kini bergerak naik. Dengan perlahan namun pasti, ia menyelipkan jari-jarinya di bawah dagu Ana. Sentuhan kulitnya yang kasar namun hangat membuat
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.