Chapter 18
Istriku Sang Terapis - 20 Juli 2026 - 4.422 kata
“Wan, reservasi istri lu susah amat dapetnya.” Rudi menjatuhkan tubuhnya ke kursi kosong di samping mejaku. Ponselnya masih terbuka di tangan, menampilkan percakapan singkat dengan Ayu. Aku berhenti mengetik. “kenapa?” “mertua gue sakit pinggang dari kemarin… gue suruh bini gue chat Ayu, katanya baru bisa Minggu sore.” “ya.. palingan Sabtu udah ada reservasi.” “cuma nambah satu, Wan.. masa ngga bisa.” “kalau terapinya lama, Ayu emang ngga mau ambil kebanyakan… lagian kalau sabtu istri gue pengennya nempel gue terus..” Rudi memiringkan layar ponselnya ke arahku, seolah-olah hendak membuktikan bahwa istriku baru saja menolak sebuah permohonan penting dari kerabat dekatnya. “katanya, ‘maaf ya, Mbak. Sabtu sudah ada dua sesi. kalau Minggu sore bagaimana?’ gitu... sopan banget nolaknya, gue malah ngga bisa marah.” “ya jangan marah ama istri gue...” “siapa yang marah?” Rudi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. “gue cuma heran aja...” Bu Endang yang duduk dua meja dari kami menolehkan kepalanya dari balik layar monitor komputer. “bagus malah… kalau semua pelanggan diterima, tangannya Ayu yang bisa kecapekan...” “nah, Bu Endang ngerti,” kataku mendukung. Rudi mendecakkan lidahnya pelan. “solidaritas sesama perempuan.” “bukan solidaritas.” Bu Endang kembali mengetik dokumen rekapitulasi. “kalau tangan Mbak Ayu keseleo, nanti yang mijat dia siapa?” “Wawan...” Aku langsung
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.