Chapter 1
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 1.899 kata
“kalau saya punya istri kayak Mbak Ayu, nggak bakal saya bolehin kerja.”
Aku belum sempat meletakkan helm ketika kalimat itu terdengar dari balik tirai ruang terapis.
Tanganku berhenti di atas meja kecil dekat pintu. Seragam cokelatku masih lengkap, hanya kancing paling atas yang sudah kulepas sejak keluar dari kantor. Di luar, mesin motor belum sepenuhnya dingin. Di dalam rumah, suara seorang pria sedang membicarakan istriku seolah aku tidak tinggal di sini.
Ayu tertawa kecil.
“lhoooo, terus istrinya disuruh ngapain di rumah, Pak?”
“ya nemenin saya...”
“setiap hari?”
“setiap hari.”
“waduh.. kaya tahanan dong….”
Tawa Pak Danang langsung pecah.
Aku menahan senyum, lalu menaruh helm perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Aroma minyak cendana memenuhi ruangan. Hangat, pekat, menempel di udara sejak pintu dibuka. Di sudut ruang tamu, papan kuningan yang kupasang sendiri tiga bulan lalu memantulkan cahaya lampu.
Sekar Ayu – Traditional Spa & Therapy
Lintang GelapDi samping papan itu terbentang tirai linen tebal. Tiga bulan lalu, ruangan itu masih menjadi kamar utama, tempatku beristirahat bersama Ayu. Sekarang kamar itu kami jadikan ruang terapis, lalu kami pindah ke kamar belakang.
Ayu berhenti dari spa hotel tempatnya bekerja hampir tujuh tahun. Bukan karena tidak laku. Justru pelanggan-pelanggan lama mencarinya ketika tahu ia keluar. Ia bosan memberikan hampir separuh hasil kerjanya untuk komisi, administrasi, dan potongan lain yang tidak ada habisnya.
Di rumah, tarifnya lebih rendah, tetapi uangnya langsung masuk buku kas. Aku mendukungnya. Aku yang mengatur posisi ranjang. Aku yang mengebor dinding untuk memasang papan nama. Aku juga yang memilih tirai linen itu karena menurut penjualnya bahannya tebal dan tidak mudah menerawang.
Penjualnya tidak sepenuhnya benar.
Lampu di dalam ruang terapi jauh lebih terang daripada ruang tamu ataupun ruang dapur. Dari tempatku berdiri, bayangan tubuh Ayu terlihat samar di permukaan kain.
Dari sini Aku bisa melihat Ayu yang sedang membungkuk.
“Aduh, nah... di situ, Mbak Ayu…,” suara Pak Danang terdengar lagi. “bagian situ keras banget.”
“karena Pak Danang kebanyakan duduk,” jawab Ayu. “nyetir, rapat, nyetir lagi... badannya dipakai kerja terus, istirahatnya kapan?”
“kalau istirahatnya sama Mbak Ayu begini, tiap hari juga saya mau.”
“kalau tiap hari.. saya yang masuk rumah sakit, Pak.”
Pak Danang terkekeh dari balik tirai.
Langkahku kuatur sepelan mungkin menuju dapur agar tidak mengganggu. Kubuka kulkas, lalu mengambil gelas untuk dituangi air botol yang masih terasa dingin. Sambil berdiri, kuteguk air itu hingga hampir setengahnya habis.
Aku bisa aja, langsung masuk ke kamar belakang. Bisa mandi, mengganti seragam, lalu menyalakan TV lebih keras agar suara dari ruang depan tidak terdengar. Sebaliknya, aku menarik kursi meja makan.
Posisinya kurang lurus dengan tirai. Kugeser sedikit ke kiri. Kaki kursi bergesekan pelan dengan lantai. Aku membeku sebentar, menunggu apakah Ayu menyadarinya.
Aku masih bisa melihat tangannya yang terus bergerak. Bayangannya naik dan turun di balik kain.
“Mas Wawan tiap pulang kerja dapat jatah dipijit juga ngga, Mbak Ayu?” tanya Pak Danang.
“Mas Wawan kalau minta dipijit suka nawar...”
Aku hampir tersedak air.
“lha, masa sama istri sendiri masih nawar?”
“justru karena sama istri sendiri, Pak… bayarnya pakai janji.”
“janji apa?”
“katanya mau bantu nyuci handuk… tapi yaa tetep aja saya yang nyuci...”
Pak Danang tertawa lebih keras.
Aku menatap pintu kamar mandi, lalu kembali menatap tirai. Aku pernah membantu mencuci handuk. Memang baru sekali, tetapi tetap aja bisa disebut pernah.
Dari balik tirai terdengar bunyi botol diletakkan di atas meja, disusul gesekan telapak tangan yang dilumuri minyak. Bayangan Ayu bergeser ke sisi ranjang. Rambutnya disanggul seadanya. Ia mengenakan kaus kerja berlengan pendek dan kemben batik yang diikat di pinggang. Setiap kali ia menekan, bagian tubuhnya condong ke depan, lalu kembali tegak. Bayangan Pak Danang hampir tidak bergerak. Tubuhnya hanya tampak sebagai bentuk besar yang telungkup di atas ranjang.
Aku menaruh gelas di meja. Embun dingin menempel di telapak tanganku.
“Mbak Ayu kalau kerja di rumah begini kelihatannya beda ya,” kata Pak Danang.
“beda gimana, Pak?”
“lebih seger….”
“lampunya lebih terang kali, Pak.”
“bukan lampunya.”
Tangan kananku berhenti mengusap embun di gelas.
Pak Danang melanjutkan, “Mas Wawan beruntung banget punya istri telaten begini...”
“Alhamdulillah… kalau Mas Wawan ngerasa gitu.”
“kalau saya yang punya istri kayak Mbak Ayu, serius…, nggak bakal saya bolehin kerja…. saya kurung terus di kamar.”
“ya ampun, Pak.” Ayu terkekeh. “jangan gitu…. nanti istrinya kabur lhoo… lewat jendela.”
“kalau Mbak Ayu, saya pasangin teralis biar ngga bisa kabur….”
“makin kayak tahanan dong.”
“tahanan kesayangan….”
Kekehan Pak Danang terdengar rendah, begitu rendah... seolah ia membayangkan hidup bersama Ayu.
Ayu tidak langsung menjawab. Bayangannya berpindah ke sisi lain ranjang, membuat cahaya dari dalam sempat menembus celah sempit di ujung tirai. Hanya beberapa sentimeter. Namun dari sana aku bisa melihat sepotong lengan Ayu yang mengilap oleh minyak dan punggung Pak Danang yang bergerak mengikuti tekanannya.
“kulit Mbak Ayu halus banget,” ujar Pak Danang.
Ayu tertawa pendek. “yang dipijat punggung Bapak, kok yang diperhatikiin kulit saya?”
“yakan.. saya bisa ngerasain….”
“sekarang fokus ke pegelnya dulu, Pak.”
Ayu menekan lebih kuat.
Pak Danang langsung mengerang pendek. “aduh... iya, iya. ampun.”
“katanya mau dikurung…. baru ditekan sedikit sudah minta ampun.” Tawa Ayu terdengar renyah dari balik tirai.
Aku memutar gelas perlahan di atas meja. Lingkaran air terbentuk di permukaan kayu. Dari dapur, jam dinding menunjukkan pukul lima kurang tujuh menit.
Seharusnya sesi Pak Danang berakhir pukul lima.
Ketika jarum panjang melewati angka dua belas, tidak terdengar tanda-tanda sesi selesai.
Aku tidak memanggil Ayu.
Aku juga tidak mengingatkan tentang waktu.
Aku hanya tetap duduk sambil mendengar derit halus ranjang terapi, gesekan minyak pada kulit, dan percakapan yang perlahan mengecil ketika pijatan berpindah ke bagian bawah tubuh.
Tirai di depanku sesekali bergerak terkena hembusan AC.
Setiap kali kain itu bergeser, mataku otomatis mengikuti celahnya.
Lintang Gelap…
Suara mesin SUV Pak Danang akhirnya terdengar dari halaman pukul lima lewat lima belas.
Mobil itu mundur pelan, lalu menjauh melewati ujung gang. Beberapa detik kemudian, pintu depan tertutup dan kuncinya diputar dari dalam.
Ayu muncul di dapur sambil memutar bahunya sendiri.
“eh, Mas?”
Ia berhenti ketika melihatku duduk di meja makan. Beberapa helai rambut menempel di pelipisnya. Kemben batik di pinggangnya sedikit kendur. Aroma cendana mengikuti langkahnya, bercampur wangi parfum Pak Danang yang lebih tajam.
“kok udah pulang?” tanyanya. “nggak manggil-manggil.”
“masa iyaa.. aku teriak-teriak.. ntar kliennya pada kabur, ketakutan.”
Ayu terkekeh sambil menuju wastafel. “Iyaa.. iyaa.. terserah kamu deh….”
Ia menyalakan keran. Sabun antiseptik ditekan dua kali ke telapak tangannya, lalu digosok sampai berbusa.
Aku mengangkat gelas.
“Pak Danang nambah waktu lagi?”
“iya….” Ayu membilas sela-sela jarinya. “minta tambah lima belas menit di paha sama betis. katanya kram habis nyetir dari luar kota.”
“dibayar tambahannya?”
Ayu mematikan keran, lalu menoleh dengan wajah pura-pura tersinggung.
“dibayar dong…. aku ini usaha, Mas. bukan relawan….”
“bagus…. takutnya pelanggan lama dapet hak istimewa.”
“hak istimewanya cuma boleh ngomong terus tanpa aku usir.”
Aku tersenyum.
Ayu meraih kain lap, mengeringkan tangannya satu per satu.
“Mas denger, ya?” tanyanya.
“rumah kita tipe tiga enam, yang….kita ngomong disini aja, tetangga bisa denger hihihihi...” balasku terkekeh.
“aduh...” Ayu menutupi wajahnya sebentar dengan kain lap. “Pak Danang memang begitu dari dulu…. kalau badannya udah keenakan, mulutnya suka lemes….”
“siapa yang bikin enak?”
Kain lap itu langsung dilemparkan ke bahuku.
“ihhhh, Mas!”
Aku tertawa dan menangkapnya sebelum jatuh. “kan pijat….”
“iya, pijat.” Ayu mengambil kembali kainnya sambil menahan senyum. “tapi aku yakin… pikiran mas kemana-mana...”
“Mas nggak ngomong apa-apa lohh….”
“wajahnya ngga bisa bohong...”
“emang wajah bohong kaya gimana?”
“yang jelek.. kaya mas sekarang!”
“jelek-jelek gini… kamunya sukakan…”
Ayu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. Tangannya bergerak merapikan ikatan kemben yang melilit dadanya. Saat ia menarik kain batiknya, sepotong warna merah muda mendadak menyembul dari balik lipatan.
Uang seratus ribuan.
Lebih dari satu lembar.
Mataku berhenti di sana.
Ayu tidak menyadarinya. Ia menarik kain sekali lagi dan uang itu kembali tersembunyi.
“capek ngga?” tanyaku.
“lumayan...” Ia menggerakkan pergelangan tangannya. “tapi Pak Danang kalau kasih tambahan nggak pernah pelit, jadi ya... capeknya masih bisa diajak kompromi.”
“pelanggan unggulan emang beda yaa….”
“jangan bilang gitu…. nanti besar kepala.”
“memangnya sekarang kecil?”
Ayu kembali tertawa.
Ia menyentuh lenganku ketika melewatiku menuju koridor.
“aku mandi dulu, ya.... lengket banget.”
“mau dibantu?”
Ayu menoleh dari ujung koridor, lalu menyipitkan mata.
“nyuci handuk aja belum pernah bantu.”
“pernah.”
“sekali.”
“tetap pernah.”
Ia masuk ke kamar mandi sambil tertawa. Beberapa saat kemudian suara pintu tertutup, disusul aliran air dari pancuran.
Aku masih berdiri di dapur dengan kain lap di tangan.
Aroma parfum Pak Danang belum hilang dari ruangan.
…
Ruang terapi masih hangat ketika aku masuk.
Lampu utama belum dimatikan. Cahaya kekuningan jatuh di atas ranjang yang tertutup seprai putih. Bagian tengahnya kusut. Salah satu ujung handuk menjuntai hampir menyentuh lantai.
Botol minyak cendana berada di atas meja kecil dengan tutup tergeletak di sampingnya.
Aku mengambil tutup itu dan memasangnya kembali.
Seharusnya cukup sampai di sana.
Namun tanganku berpindah ke sprei.
Kainnya masih menyimpan kehangatan.
Aku meratakan bagian yang kusut, lalu berhenti ketika telapak tanganku berada tepat di tempat tubuh Pak Danang tadi berbaring.
Dari kamar mandi terdengar suara air membentur lantai.
Aku menarik tangan, tetapi tidak langsung beranjak pergi.
Bantal wajah di ujung ranjang mengeluarkan bau campuran minyak, keringat, dan parfum mahal. Aku membungkuk sedikit. Aromanya lebih kuat dari jarak dekat.
Di tempat inilah seorang pria baru saja berbaring telungkup sementara istriku berdiri di sampingnya. Di tempat inilah Pak Danang memuji kulit Ayu, menanyakan apakah aku setiap hari mendapat pijatan, lalu meminta tambahan waktu di paha dan betis.
Aku melirik tirai.
Dari dalam ruangan, meja makan terlihat samar melalui kain. Kursi tempatku duduk tadi hanya tampak sebagai bayangan gelap.
Aku berjalan ke sisi tirai dan memeriksa celah di ujungnya.
Dari posisi tertentu, bagian tengah ranjang terlihat cukup jelas.
Suara pancuran berhenti.
Aku segera merapikan handuk, mematikan lampu, lalu keluar sebelum Ayu selesai mandi.
...
Malamnya, Ayu berbaring membelakangiku dengan daster satin tipis berwarna krem.
Rambutnya masih sedikit lembap. Wangi sampo sudah menggantikan aroma cendana, meskipun jejak minyak pijat terasa masih tertinggal di kulitnya.
Aku menggeser tubuh lebih dekat.
Lintang Gelap“Mas belum tidur?” tanyanya tanpa berbalik.
“belum.”
“besok kerja.”
“iyaa.. tahu.”
“jam berapa?”
“seperti biasa atuh….”
“terus kenapa masih melek?”
“lagi ngitung.”
Ayu akhirnya membalikkan tubuh. “ngitungin apa?”
“pendapatan pelanggan unggulan.... aseekk”
Ayu mendengus sambil menahan tawa. “Dari tadi Pak Danang terus....”
Aku tersenyum dan meletakkan tangan di pinggangnya.
Ayu mengangkat alis. “Tumben nempel terus.”
“nggak boleh?”
“Boleh….” Ia mendekatkan wajahnya. “tapi mencurigakan.”
“Apa yang dicurigai?”
“Jangan-jangan Mas cemburu.”
“Sama orang pegel?”
“Iyaaa....” Ujung jarinya menyentuh daguku. “Dari tadi yang dibahas paha sama betis orang.”
Aku menahan senyum.
Ia tertawa kecil, lalu menyandarkan kepala di dadaku.
Tanganku bergerak pelan di punggungnya. Jemari Ayu menyentuh kancing kausku, memainkan benangnya tanpa tujuan.
“Pak Danang memang suka bercanda begitu,” katanya setelah beberapa saat. “dari tempat lama juga sudah begitu.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi aku tahu batas kok, Mas.”
“Mas tahu….”
Ayu mengangkat wajah, menatapku beberapa detik.
“Bener?”
“Bener….”
Ia tersenyum, lalu mencium daguku singkat. “yaudah…. tidur.”
Beberapa menit kemudian napasnya mulai teratur.
Tanganku masih berada di pinggangnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa merasakan hangat tubuhnya dan mencium sisa samar cendana yang belum sepenuhnya hilang meskipun ia sudah mandi.
Aku memejamkan mata.
Suara Pak Danang kembali terdengar di kepalaku.
Bukan kalimatnya.
Bukan tawanya.
Yang muncul justru bayangan Ayu saat membungkuk di atas ranjang, terpotong kain linen yang bergerak pelan terkena udara AC.
Aku membuka mata lagi.
Jemari tangan kananku masih menyimpan sedikit aroma cendana setelah menyentuh seprai ruang terapi tadi.
Di luar kamar, tirai itu pastilah sudah tidak lagi bergerak.
Namun di kepalaku, celah tipisnya masih terbuka.
Dan sebelum akhirnya tertidur, aku mendapati diriku berharap besok celah itu sedikit lebih lebar.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.