Chapter 21
Kamar Kost Nomor 7 - 15 Oktober 2026 - 2.932 kata
Layar ponselku sudah kembali menampilkan beranda WhatsApp sejak beberapa menit lalu, tapi aku masih berdiri di tempat yang sama. Motor terparkir miring di sampingku dengan standar samping menahan seluruh bebannya. Helm bahkan belum kubuka, sementara earphone masih menyumpal telinga meski yang terdengar sekarang hanyalah deru kendaraan dari jalan raya dan bunyi notifikasi aplikasi Gas-Pol yang sesekali memotong kesunyian. Satu orderan masuk. Kubiarkan saja sampai layarnya meredup dan hilang sendiri. Jempolku mengetuk ruang percakapan Mila. Tidak ada pesan baru di sana, hanya baris riwayat panggilan video yang baru saja berakhir. Kuketik layarnya sekali, tentu saja tidak ada apa-apa yang bisa diputar ulang. Aku menghembuskan napas panjang sambil menatap foto profilnya. Sebelum panggilan tadi terputus, Mila sempat berbaring cukup lama di atas dada Pak Seno sebelum akhirnya bangkit mengambil ponsel dari atas rak TV. Gambarnya sempat berguncang ke mana-mana—menyorot plafon, sudut televisi, lalu helaian rambutnya sendiri—sebelum wajahnya memenuhi layar. Pipinya merah, rambutnya berantakan. Dia cuma berbisik tanpa suara, "aku naik dulu ya," lalu sambungan langsung mati. Itu saja. Tidak ada penjelasan tadi cuma begini , atau tenang aja, Mas . Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu di parkiran minimarket ini. Menunggu apa, aku sendiri kurang jelas. Pesan susulan mungkin, atau telepon balik,
Chapter ini membutuhkan 3 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.